
Wira melangkahkan kakinya memasuki rumah yang telah ia tinggalkan lebih dari satu tahun. Pria berparas tampan itu pun seketika tersenyum bahagia melihat sang mama yang menyongsongnya lalu memeluknya dengan erat. Bahkan air mata bahagia tak terbendung di wajah cantik mama Helen.
"Sayang, akhirnya kamu pulang nak. Mama kangen banget sama kamu, Wira."
"Iya Ma, aku juga kangen sama Mama."
Ibu dan anak itu pun saling berpelukan melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Setelah itu Wira beralih menyapa sang Papa dan kakaknya. "Apa kabar Pa? Maaf ya aku baru pulang sekarang." Memeluk papa Bisma.
"Kak Liam, apa kabar?" Wira juga memeluk sang kakak. Namun, arah matanya seperti mencari seseorang dan Liam tahu siapa itu.
"Vania ada dikamar sedang mengeloni Kiano." Wira hanya menjawab dengan anggukkan kepala dan tersenyum canggung.
Setelah acara temu kangen usai. Kini mereka menuju ke meja makan. Namun, Wira pamit ingin ke kamarnya ingin membersihkan diri dan berganti baju. Mama Helen pun mengizinkannya.
Sementara itu di halaman belakang rumah tepatnya di sebuah gazebo. Tampak Shinta yang tengah melamun entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis Mànis itu. Bayangan wajah tampan nan rupawan Wira terus berputar. "Ish–kamu mikirin apa sih Shin? Ngehalu jangan ketinggian nanti kamu bakalan jatuh dan kesakitan sendiri. Sadar...sadar, Shinta!" Gadis itu memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Shinta, sedang apa kamu malah melamun disini.Ayo cepat masuk sebentar lagi para majikan akan memulai acara makan malamnya. Kalau kerja jangan malas-malasan dan bikin malu ibu."
Ditengah-tengah lamunannya, tiba-tiba muncul bi Arum dan langsung menegur putrinya yang bukannya bekerja malah sedang asik melamun. Gadis manis bertubuh mungil itu pun mematuhi perintah ibunya dan bergegas masuk kedalam menuju ke ruang makan untuk melayani para majikan jika membutuhkan sesuatu. "Iya iya bu, mosok melamun wae ra oleh."
Bi Arum tak menanggapi gerutuan putrinya dan ia pun melangkah menyusul Shinta yang telah melangkah lebih dulu masuk kedalam rumah.
Wira sudah tampak segar dan wangi. Saat ia keluar dari kamarnya dan hendak berjalan menuju kebawah, baru saja Wira menutup pintu kamarnya dan membalikkan tubuhnya sontak ia begitu terkejut ketika berpas-pasan dengan Vania yang juga berniat akan turun kebawah dan bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya.
"Eh–Wira.Kamu sudah datang. Em...apa kabar?" Vania merasa canggung bertegur sapa dengan Wira yang kini berstatus sebagai adik iparnya itu. Setelah mengetahui perasaan Wira, Vania jadi merasa tidak enak dan merasa bersalah karena waktu itu ia tidak jujur tentang ayah kandung Kiano. Hingga kesalahpahaman semakin berlarut-larut.
__ADS_1
Wira menatap sendu Vania. Oh...tepatnya sang kakak ipar. Sebenarnya Wira sudah bertekad dan berusaha untuk bisa move on dari wanita yang pernah mengisi relung hatinya. Gadis impiannya yang ternyata telah menjadi milik kakaknya sendiri. Makanya Wira memutuskan pulang dan akan membuktikan bahwa ia bisa melupakan rasa cintanya pada Vania." Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya balik Wira.
"Baik juga. Alhamdulillah. Syukurlah akkhirnya kamu pulang dan mama pasti sangat bahagia.Selamat datang."
"Terima kasih." Wira sama sekali tak bisa mengalihkan tatapannya pada Vania. Membuat Vania jadi salah tingkah harus bersikap bagaimana. Hingha suara deheman Liam memutus tatapan Wira yang tampak jelas masih memuja sang istri.
"Ekhem–apa Kiano sudah tidur, sayang? Oh, Kamu sudah ditunggu sama mama dan papa. Sebaiknya kita segera turun. Ayo sayang...kami duluan ya, Wir." Sikap posesif Liam pada Vania jelas saja memperlihatkan kecemburuannya. Suami mana yang rela istrinya di tatap sedalam itu oleh pria lain meskipun orang itu adalah adiknya sendiri.
"Sudah mas. Iya ini juga aku sudah mau turun, cacing-cacing didalam perutku sudah berdemo ria minta untuk diberi makan." Vania memberikan senyum termanisnya untuk Liam. Ia tidak ingin suami bucinnya itu salah paham.
"Kamu bisa aja sih, sayang." Liam mencubit gemas pipi lembut nan empuk Vania.
Wira hanya menatap keduanya yang tampak begitu bahagia apa lagi melihat Vania yang bergelayut manja di lengan suaminya. Wira menghela nafas panjang menggeleng pelan lalu menyusul turun kebawah menuju ke ruang makan.
"Wira–bagaimana cewek-cewek London? Pasti cantik-cantik dan sexy, bukan. Apakah ada satu saja gadis yang menyentuh hatimu. Oh...sorry maksudku yang cocok denganmu." Liam sengaja membuka pembicaraan karena sejak tadi ia merasa tak suka Wira yang menatap penuh damba pada istrinya.
"Uhuk uhuk–."
"Pelan-pelan sayang, Shinta...tolong kamu ambilkan air putih lagi untuk Wira!" Mama Helen yang tengah menikmati makanannya sontak menoleh kearah Wira.yang tersedak. Ia pun segera meminta tolong Shinta untuk mengambilkan segelas air putih lagi untuk Wira.
Sedangkan Vania langsung mencubit paha Liam karena gemas dengan sikap suaminya yang seakan sedang menyindir Wira. Ternyata setelah sekian lama berpisah tak merubah apapun diantara mereka masih saja tak akur.
"Aww–sakit sayang, kenapa kamu mencubit mas. Masih sore kok sudah ngasih kode begitu,sih. Malu sama Mama dan Papa, eh....Wira juga." Bukannya intropeksi diri ini malah tambah ngawur suaminya itu dan kini Vania yang malu bukan main. Dikira ia serius menginginkan hal itu. Dasar suami super mesum. Merutuki kelakuan suamunya dalam hati.
"Liam, kamu itu ya usil banget sih. Tadi adiknya sekarang malah Vania yang kamu jahili. Ck, kayak anak kecil aja kamu Liam." Mama Helen yang tahu jika putra sulungnya.yang sedang kambuh keusilannya atau mungkin Liam masih was-was jika adiknya itu masih mempunyai keinginan untuk merebut Vania.
__ADS_1
Usai makan malam dan berbincang ringan di ruang keluarga. Kini semua penghuni rumah telah memasuki kamar masing-masing termasuk Liam dan Vania. Mereka memutuskan menginap karena sudah terlalu malam kasihan dengan putra mereka yang telah tertidur.
"Mas itu jahil banget sih. Kasihan kan Wira sampai tersedak gitu. Aku tahu tadi mas berkata seperti itu ingin menyindirnya kan? Masih curigaan saja sama adik sendiri. Wira tidakk akan melakukan hal yang akan merusak hubungan persaudaraan diantara kalian."
Vania memberi wejangan pada sang suami sudah seperti orang tua yang tenhah memarahi anaknya. Bukannya kesal Liam justru semakin gemas dan ingin menjahili bunda-nya Kiano itu.
"Benarkah? Ah, sok tahu kamu sayang. Tapi, benar juga sih.Mas itu tidak bisa dibodohinya ya. Apa kamu tidak melihat bagaimana cara dia menatapmu tadi. Mas yakin kalau Wira itu masih belum move on sama kamu. Kami ini sesama pria jadi mengerti. Sudahlah tidak usah membahas si Wira terus. Mas, jadi kesal. Ngomong-ngomong soal yang tadi kamu beneran sedang kasih kode ya, kan? Ayuk...mumpung Kiano masih pulas dan belum nglilir."
Plakk
"Apaan sih mas, malu tahu kita ini lagi dirumah orang tua loh. Risih tahu kalau sampai mereka tahu kita habis begituan."
" Begituan? Kamu itu kalau bicara selalu pakai bahasa kode-kodean. Memangnya kalau ketahuan habis nganu kenapa, wajar saja kita ini suami istri jadi ngak masalah, kan?" Liam tetap ngeyel dengan jalan pikirannya.
"Ayolah istriku, kiita main satu ronde saja. Mas lagi kepjngin ini." Liam mulai melancarkan misinya untuk mendapat jatah tambahan dari sang istri.
"Ngak mau, ngantuk ah mau tidur. Hoamm...besok aja dirumah kita sendiri."
Vania menguap dan langsung memejamkan matanya berpura-pura sudah sangat mengantuk.Namun, bukan Liam namanya jika tidak memaksa. Ia tahu istrinya itu sedang mengerjainya dan ia akan membalasnya saat ini juga. Dengan gerakan secepat kilat Liam langsung menyerang Vania. Vania tersentak kaget tapi, sudah terbiasa dengan kelakuan suaminya yang seperti itu. Dengan taktiknya, akhirnya Liam pun mendapatkan jatah tambahan dari istrinya.
Sementara itu dikamar sebelah, Wira sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Bertemu kembali dan melihat wanita pujaannya yang telah berbahagia bersama dengan sang kakak membuat hatinya terasa nyeri. Ya, Wira masih belum bisa menghilangkan rasa itu didalam lubuk hatinya.Wira pun beranjak menuju ke balkon kamarnya dan menyulut sebatang rokok. Sebenarnya Wira bukanlah seorang perokok aktif hanya saja jika hatinya sedang galau rokoklah salah satu yang bisa membuatnya mengalihkan pikirannya. Hingga matanya menangkap bayangan seseorang yang tengah melakukan sesuatu, tepatnya didepan kamar para pelayan.
"Sedang apa dia malam-malam begini?"
Bersambung.
__ADS_1