
Dengan langkah lunglai, Vania menghampiri bi Arum yang tengah bersih-bersih di area dapur. gadis itu pun langsung mengambil kain lap untuk membantu sang bibi.
"Loh, katanya mau menyapu halaman depan. Kok, malah kembali kesini?" Tanya bi Arum heran.
"Nanti saja bi, aku mau membantu bibi dulu beberes dapur." Alasannya, padahal hatinya sedang galau merana karena tak sengaja mendengar perbincangan nyonya Helen dan kedua tuan muda. Mana mungkkn ia akan memjnta pertanggung jawaban dari Liam sang tuan muda yang telah menghamilinya.Siapa dirinya, tentu saja hal itu mustahil.
Keluarga kaya dan terpandang seperti mereka tidak akan pernah menerima seorang pembantu dari kasta rendah sepertinya. Vania sudah pasrah dan ikhlas menerima takdirnya.
"Bi, kira-kira sampai berapa bulan lagi aku disini?" Mereka bekerja sambil sedikit berbincang ringan.
Bi Arum menghentikan kegiatannya lalu, menatap intens Vania. Wanita paruh baya itu mengerti akan apa yang tengah dirasakan oleh keponakannya itu.
"Ya, paling sampai tiga bulan kedepan, memangnya kenapa Van?" Tanya kembali bi Arum.
Seketika Vania tersenyum ceria memamerkan deretan gigi putihnya. "Ah, ngak kenapa-kenapa bi. Aku cuma ngak sabar aja ingin cepat pergi dari sini." Bi Arum tahu jika senyum Vania hanyalah senyum kepalsuan untuk menutupi kesedihan di hatinya.
"Iya, bibi mengerti. Sabar ya, nak!" Mengusap sayang kepala sang keponakan. Dan Vania mengangguk sambil kembali tersenyum.
"Kasihan kamu, nak. Umurmu bahkan belum sampai 20 tahun taoi, sudah mengalami berbagai cobaan hidup yang sangat berat untuk gadis seusiamu." Bi Arum sedih bila memikirkan nasib dan masa depan Vania.
"Ya sudah sana, katanya mau bersih-bersih halaman depan!"
"Iya bi, aku lewat samping saja.di ruang tengah masih ada Nyonya dan Tuan muda." Bi Arum pun tersenyum mengerti mengapa tadi Vania kembali ke dapur ternyata tuan muda Liam pasti juga ada disana.
Vania segera bergegas menuju kedepan lewat jalan samping mansion dengan menenteng peralatan kebersihan. Wira tanpa sengaja melihat Vania yang melintas walaupun dari arah luar.
"Itu Vania kan, Ma? Mau kemana dia?" Tanya Wira
"Memangnya kamu ngak lihat apa, dia sedang membawa apa?" Kali ini Liam yang menjawab pertanyaan sang adik.
"Sapu, iya ya. Dia mau menyapu pastinya, bodohnya aku." Wira menepuk jidatnya sendiri. Liam hanya menatapnya malas.
"Ya apa lagi yang akan dilakukan oleh seorang pembantu kalau membawa sapu ya mau bersih-bersih lah, dia disini kan untuk bekerja bukannya mau tebar pesona." Komentar Liam sinis sambil melirik Vania yang sudah terlihat menghilang dari pandangan mereka.
"Kaka kenapa sih, aku perhatikan kayak sinis banget sama Vania? Apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua?" Wira jadi curiga akan sikap sang kakak yang sangat anti pati pada Vania.
"Apaan, aku ada hubungan sama tu pembantu? No way...kalau bicara jangan sembarangan kamu, Wira. Sudah ah, Aku mau berangkat ke kantor. Ma, aku pamit."
Manik mata keduanya saling bertemu pandang namun, Vania seketika membuang muka dengan ekspresi datarnya sedangkan Liam sangat kesal karena tidak diindahkan oleh gadis itu. Sorot matanya menatap tajam kearah Vania dan Vania tampak cuek seakan keberadaan sang tuan muda tak kasat mata. (setan kali si Liam?)
__ADS_1
"Kurang ajar, beraninya dia membuang muka seperti itu.Awas saja kau gadis–." Liam misah misuh sendiri lalu, ia pun lekas menaiki Mercedez Benz mewahnya bergerak meninggalkan mansion utama keluarga Ghazala.
"Huh, dasar laki-laki brengsek dan menyebalkan."
"Siaoa laki-laki yang menyebalkan itu? Apakah yang kamu maksud itu adalah kak Liam?" Wira tiba-tiba sudah berada di dekatnya dan berbisik sampai bibrnya menyentuh telinganya membuat Vania merinding.
"Akhh, Tu–an muda Wira. Anda membuat saya kaget." Vania memegang dadanya karena ia memang benar-benar terkejut akan kemunculan Wira yang begitu tiba-tiba tanpa disadarinya sama sekali.
Wira terkekeh geli melihat Vania yang tampak salah tingkah. "Kamu belum menjawab pertanyaanku loh. Siapa..hem, apakah kak Liam?"
"Bu–kan kok, Tuan. Saya tadi hanya kesal sama tukang sayur yang barusan lewat. Orangnya genit dan suka menggoda–"
"Menggoda kamu? kalau aku yang melakukan hal itu, bagaimana?habis kamu itu manis, tahu. Apakah aku juga akan dianggap menyebalkan seperti laki-laki itu."
Vania jadi semakin salah tingkah, bisa-bisanya si tuan muda pagi-pagi sudah menggombalinya. Ataukah Vania yang terlalu ge'er.
"Tuan muda Wira bisa bercanda juga ya." Tersenyum canggung.
"Siapa yang bercanda, aku serius...kamu memang manis dan cantik. Tapi, sayang sekali aku harus segera berangkat ke kantor. Sampai jumpa nanti sore, oke manis."
Tubuh Vania masih mematung sampai punggung tegap dihadapannya menghilang dari pandangannya." Ya tuhan, apakah barusan itu nyata? Ataukah hanya mimpi belaka?" Vania kemudian mencubit pipinya sendiri dan–"
Dikejauhan Murni dan Erna terus mengawasi gerak gerik Vania." Hei, kau lihat itu. Bagaimana menurutmu Er?"
"Dasar perempuan penggoda. Beraninya dia ingin menggaet tuan muda Wira. Lihat saja nanti, akan kubuka kedoknya di depan para majikan kita." Erna tampak geram melihat keakraban antara Vania dan Wira, sang tuan muda yang telah menjadi idolanya sejak lama.
"Iya, kita tunggu tanggal waktunya saja, Vania tidak akan bisa berkutik lagi dan secepatnya dia akan diusir oleh Nyonya Helen." Keduanya menatap Vania sinis.
Waktu tanpa terasa telah berlalu begitu cepat.Tiga bulan sudah Vania ikut sang bibi bekerja pada keluarga Ghazala. Dan kandungan Vania pun akan memasuki bulan keempat. Karena tubuhnya yang mungil, Vania masih bisa menutupi perutnya yang sebenarnya sudah tampak membuncit.
Kalau saja ia tidak mengenakan pakaian yang agak besar mungkin saja semua orang akan tahu jika gadis itu tengah berbadan dua. Vania bersyukur janin yang ada didalam rahimnya sama sekali tidak pernah rewel, ia menjalani hari-hari dengan nyaman dan tenang tanpa harus di pusingkan dengan yang namanya mengidam.
Tok tok tok
"Van, Vania...apa kamu sudah tidur?"
"Belum bi, masuk saja tidak dikunci."
Setelah mendapat sahutan dari dalam bi Arum pun segera membuka pintu lalu masuk kedalam kamar Vania.
__ADS_1
"Sedang apa kamu Van, kenapa belum tidur. Tidak baik wanita hamil begadang loh." Sebenarnya waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam Namun, bagi seorang ibu hamil tentu saja itu sudah waktunya untuknya beristirahat.
Sejak hamil Vania memang selalu tidur cepat. Bukan karena perintah dari sang bibi taopi juga mungkin bawaan dari sang jabang bayi yang membuat Vania gampang lelah dan mengantuk. Tapi anehnya jika menjelang tengah malam perutnya pasti akan terasa lapar. Makanya Vania selalu menyiapkan berbagai camilan. Misalnya seperti biskiit dan buah-buahan.
"Belum bi, ngak tahu kenapa rasanya mataku sama sekali tidak mengantuk."
"Ya sudah, asal jangan begadang. Begini Vin, bibi.dapat telepon dari kampung bahwa Siska sedang sakit dan bibi rencananya ingin meminta izin cuti untuk pulang kampung melihat keadaannya.Mungkin bibi akan.disana sampai kesehatan Siska telah pulih. Siska adalah anak bungsu bu Arum.
"Lalu berapa lama bibi akan berada.dikampung?"
"Hemm–paling sekitar satu mingguan atau lebih tergantung keadaan Siska sudah bisa ditinggal atau tidaknya.Dan selama bibi tidak ada jaga dirimu dan cucu bibi ini dengan baik ya, hati-hati!" Mengelus perut Vania.
"Ya sudah, itu saja yang ingin bibi bicarakan. Tidurlah sudah malam, Vania!"
"Iya Bi, sebentar lagi aku pasti akan tidur."
Seperti yang sudah direncanakan, pagi harinya usai para majikan sarapan pagi. Bi Arum pun berbicara pada Nyonya Helen meminta izin untuk pulang ke kampung. Dan setelah mendapatkan izin wanita paruh baya itu pun bergegas berangkat ke terminal untuk menuju ke kampung halamannya. Vania menatap kepergian sang bibi dengan rasa sedih, entah mengapa ia merasa bahwa tidak akan bertemu dengan bibinya lagi.
"Heh Vania, sedih ya ditinggal pelindungmu? Kamu jadi tidak bisa berlagak lagi karena sudah tidak akan ada yang membelamu."
"Maksud mbak Murni apa? aku hanya sedih karena sepupuku sakit dan aku tidak bisa ikut menjenguknya."
"O begitu. Boleh kami tanya sesuatu dan kamu harus menjawabnya dengan jujur."
Vania mengangguk." Iya mbak, tentu saja boleh. Apa yang ingin mbak tanyakan padaku?"
'Kamu–sebenarnya kamu itu sedang hamil kan? Ayo mengaku!" Murni dan Erna menunjuk perut Vania yang tertutup oleh pakaian kedombrongnya (kebesarannya).
Refleks Vania memegang perutnya, ia berwaspada pada kedua wanita yang memang sejak pertama kali ia datang sama sekali tak menyambutnya dengan baik. Mereka sekan tak suka akan kehadirannya ditempat ini.
"Aha, lihat itu Murni. Dia memegangi perutnya dan itu berarti benar ada yang tidak beres dengannya. Dasar perempuan murahan. Ayo kita bongkar rahasianya sekatang juga."
Murni dan Erna kemudian mulai mendekat dan sontak Vania pun otomatis memundurkan langkahnya menghindari serangan dari kedua rekan kerjanya sesama pelayan itu.
Keduatangan Vania yang tengah menutupi perutnya ditarik oleh kedua perempuan itu dengan cara paksa. Namun, sekuat mungkin Vania memberontak dan tiba-tiba saja sebuah kaki bergerak dan melesat tepat di perut Vania, dan–"
" Auwww–sakit!"
"Hei, apa yang kalian berdua lakukan padanya?"
__ADS_1
Bersambung