Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
16. Bertunangan


__ADS_3

Vania pun menurut karena kepalanya memang terasa pusing sekali dan badannya juga rasanya lemas tak bertenaga. Hingga tiba-tiba kepalanya serasa berputar-putar dan pandangannya mulai menggelap lalu–.


BRUKK


"VANIAA–!"


Sontak bi Arum menoleh kearah suara keras seperti bemda terjatuh dan betapa kagetnya ia melihat Vania sudah terkapar di atas lantai. Gadis itu bahkan baru beberapa langkah meninggalkan area dapur.


Bi Arum pun berhambur menghampiri sang keponakan lalu, meletakkan kepala Vania di pangkuannya. Menepuk-nepuk pelan pipinya.


"Vania–nak, sadarlah...kamu kenapa?ayo bangunlah Vania!"


"Bi, ada apa? Hah...Vania, apa yang terjadi pada Vania?" Nyonya Helen sampai panik, ia berteriak-teriak memanggil suami dan kedua putranya.


"Papa, Liam, Wira...cepat kesini, tolong kami."


Yang muncul pertama kali dan langsung menghampiri adalah Liam. Laki-laki itu tak kalah paniknya. Liam langsung membopong Vania dan ingin membawanya kerumah sakit. Namun, langkahnya dihentikan oleh Bi Arum.


"Tuan Muda, tolong bawa Vania kekamarnya saja. Dia mungkin hanya kelelahan sehingga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. saya mohon Tuan Muda Liam." Bi Arum mengatupkan kedua telapak tangannya didada.


"Loh memangnya kenapa bi kalau dibawa kerumah sakit, bukankah itu lebih baik agar Vania bisa tertangani dengan baik oleh dokter dan petugas kesehatan.


"Jangan Tuan, saya mohon...kasihan nanti Vania kalau ditanya mengenai suaminya. Sedangkan dia–." Bi Arum tak bisa melanjutkan perkataannya lagi.


Akhirnya Liam pun mengalah lalu, membawa Vania menuju kekamar gadis tersebut.


"Terima kasih Tuan Muda sudah membantu membopong Vania. Pasti tubuh Vania sangat beeat ya, Tuan. Maaf...habis bingung mau meminta tolong siapa lagi, Liamlah yang pertama kali muncul disaat genting seperti kejadian tadi.


"Tidak masalah bi. Aku akan memanggil dokter."


Setelah merebahkan Vania diatas tempat tidur, Liam beranjak keluar hendak menelpon dokter.


"Kak, apa yang terjadi dengan Vania?" Wira yang baru saja muncul langsung bertanya pada sang kakak, namun tak mendapatkan jawaban karena Liam sedang menelpon dokter.


Tak berapa lama dokter pun tiba dan langsung memeriksa keadaan Vania.

__ADS_1


"Bagaimana dokter keadaannya? Tidak terjadi apa-apa kan,dok pada Vania dan bayinya?" Tanya.Nyonya Helen khawatir.


dokter itu pun tersenyum dan mengatakan bahwa bayi yang berada dalam kandungan Vania baik-baik saja. " Nona Vania hanya kelelahan saja dan juga agak stress, apa saya bisa berbicara dengan suaminya?"


Semua yang berada ruangan tersebut terdiam tak tahu harus menjawab apa. Itulah yang ditakutkan bi Arum, dokter pasti akan menanyakan keberadaan suami dari Vania. Yang sebenarnya sama sekali belum menikah.


"A–maaf dok, suami Vania sedang tidak berada disini. Maksud saya sedang bekerja di tempat lain, di kota lain." Jawab bi Arum berbohong.


"Begitu, baiklah...tidak masalah. Tolong dibantu ya bu, jangan sampai nona Vania banyak pikiran. Sangat riskan wanita hamil jika terlalu stress bisa mempengaruhi kesehatannya dan juga si dedek bayi." dokter memberikan saran dan nasehat.


Semua orang sudah meninggalkan kamar Vania, termasuk Liam yang tadi terlihat begitu panik dan khawatir ketika mendapati Vania tak sadarkan diri.


Sebenarnya sudah sejak tadi Vania sadar namun, ia sengaja pura-pura tertidur. ia mendengar semua apa yang dibicaran mereka termasuk saat dokter menanyakan soal suami. Sungguh sebenarnya Vania sangat malu tapi, ia bisa apa...kenyataannya memang ia hamil diluar nikah dan yang lebih parahnya lagi laki-laki itu tak akan pernah mau bertanggjng jawab. Vania sudah pasrah dan ikhlas menerimanya.


"Maaf kan bunda ya, nak.Walaupun nanti kamu tidak memiliki seorang ayah tapi, bunda janji kamu tidak akan kekurangan kasih sayang."


Tanpa Vania tahu, ada seseorang yang mendengar semua perkataannya. Ya, dia adalah Liam. Entah mengapa dadanya terasa sesak mendengarnya. Ia memang laki-laki brengsek yang tak berguna.


"Dasar laki-laki brengsek kau Liam, kejam sekali kau telah menghancurkan masa depan seorang gadis muda yang kini tengah mengandung darah dagingmu sendiri."


Telah lewat dua minggu sejak kejadian Vania pingsan. Kini keadaan sudah kembali normal seperti biasanya. Vania dan bi Arum bekerja saling bantu membantu. Bi Arum hanya mengizinkan Vania melakukan pekerjaan yang tidak terlalu berat.


"Bi Arum, Vania.Untuk acara besok malam kita akan memesan jasa cathering jadi, bibi dan Vania hanya bersih-bersih saja karen akan ada pihak dari dekorasi yang akan menghias ruangan tempat acara."


"Baik Nyonya." Jawab bi Arum.


Setelah kepergian Nyonya Helen dari dapur, Vania yang memang belum mengerti langsung bertanya pada sang bibi.


"Bi, memangnya besok malam mau ada acara apa? Sepertinya acaranya sangat spesial sampai memesan jasa Cathering dan dekorasi peata segala."


Bi Arum mengangguk, " Iya benar, acara yang sangat penting. Karena Tuan Muda Liam akan bertunangan dengan nona Elma. Bibi lupa belum memberitahumu."


Srettt


"Auww–!"

__ADS_1


"Ya ampun Vania, hati-hati...kamu jangan banyak melamun jadi celaka begini, kan." Bi Arum langsung membuka salah satu laci dan mengambil kotak p3k lalu, menghampiri Vania yang terkena sayatan pisau.


Vania tersenyum sambil meringis menahan rasa perih di jari telunjuknya yang terluka. "Ngak mikirin apa-apa kok, bi. Tadi ngak sengaja meleset aja pisaunya."


Padahal didalam hatinya entah mengapa Vania merasa sedih. tidak seharusnya ia berpikir hal yang aneh-aneh tentang Liam. Vania merasa bodoh dan tak tahu diri berharap pada sesuatu yang tak mungkin.


"Hh–apa sih yang aku pikirkan? Jalanilah kehidupanmu sendiri Vania dan juga berjuang demi buah hatimu.ya, hanya dia lah satu-satunya penyemangat dihidupku." Vania menyadarkan dan menyemangati dirinya sendiri.


Keesokkan harinya, kesibukkan dimulai.Para pekerja dekorasi pesta telah berdatangan. Vania hanya bisa melihat dari kejauhan. Ia mencoba mengenyahkan semua pikiran yang tak sepatutnya ia hadirkan.


"Sedang melamunkan apa...hem?"


"Ah–Tuan Muda Wira mengagetkan saya saja." Vania tersentak kaget ketika sebuah sentuhan dan suara lembut tepat di sebelahnya. Sangat dekat hingga ia dapat merasakan hembusan nafas Wira di telinganya. Membuat bulu kuduknya meremang.


"Oh, sorry sorry, apa dedek bayi juga terkejut? Maafkan Papa juga ya, nak."


"Papa–?" Tanya Vania bingung dengan panggilan Papa yang disematkan Wira untuk bayinya.


"Ups, maaf keceplosan. Habis kan aku memang kepingin banget jadi papa nya baby boy. Tapi, sayang mama Vania nya kayaknya ngak mau, apakah karena aku kurang tampan, ya?"


Wira masih saja modus dan berusah meyakinkan Vania jika ia memang serius ingin memperistri gadis itu. Memasang wajah sedih dan menatap sendu sang gadis pujaan hati. Ya, sejak pertama kali berjumpa laki-laki itu memang telah jatuh hati pada Vania. Gadis manis dan sederhana. Tipe wanita idaman wira.


"Tuan Wira, saya ti–"


"Stopp!" Jangan katakan, aku tidak mau mendengar kata tidak. Aku maunya kamu mengucapkan kata ya aku mau menjadi istri mas Wira.itu saja yang ingin kudengar darimu, Vania. Dan aku akan tetap menunggu kata-kata itu."


Vania.tampak kikuk dan canggung dengan Wira yang selalu mengejarnya, pria tampan itu begitu gigih dan.pantang meyerah. Andai saja dia mengetahui hal yang sebenarnya. Apakah Wira masih mau dengannya.


Walaupun telah di tolak beberapa kali namun, Wira tetap bersikap manis dan tidak sakit hati. Bahkan selalu bersikap lembut dan manis. Sungguh pria yang sangat baik.


"Hey, itu Elma....calon kakak ipar! Dan ternyata dia datang bersama dengan kak Liam. Pasangan yang sangat serasi, bukan? Ya tak jauh berbeda lah dari kita."


"Vania–loh, kemana dia?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2