
Ucapan Mama Helen masih terngiang-ngiang dipikiran Shinta. Permintaan agar dirinya bersedia menjadi istri dari Wira tentu saja membuat gadis itu syok bukan main. Itu murupakan hal yang mustahil. Bagaimana bisa ia yang hanya anak dari seorang pembantu menjadi menantu dari keluarga Ghazala yang terpandang. Siapalah dirinya yang seorang art ini. Shinta cukup tahu diri. Bahkan Wira tak meyukainya ditambah lagi dengan kejadian semalam yang membuat laki-laki itu semakin membencinya.
"woi–Shinta, ngelamunin apa sih, dari tadi bibi lihat kamu sama sekali ngak konsentrasi kerja. Lah itu tempenya hampir gosong, Shinta."
Shinta tersentak kaget dan refleks menunduk dan melihat masakannya yang benar saja hampir kematengan alias gosong. " Astagfirullah, maaf-maaf ya bi." Shinta buru-buru mengankat dan meniriskannya. Sedangkan bi Darmi menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa sih, Shin. Memangnya tadi nyonya bilang apa sama kamu, apa kamu habis dimarahi nyonya?" Shinta menggeleng.
"Lalu, apa ? Kamu sedang ada masalah apa bagaimana, barangkali bibi bisa bantu." Bi Darmi memang sangat baik dan Shinta menghormatinya seperti ibunya sendiri.
"Enggak ada apa-apa kok, bi. Udah ah...ayo kita selesaikan masaknya, bi. Nanti bisa kena marah nyonya kalau masakannya ngak rampung-rampung karena kebanyakan ngobrol."
"Mana ada nyonya marah-marah, Shin...Shin, beliau tuh lembut dan bijaksana ngak cerewet kayak kamu." Bi Darmi malah meledek Shinta.
"Ish, bi Darmi bisa aja."
Merekapun melanjutkan acara masak memasaknya hingga satu jam kemudian semua hidangan makan malam telah tertata rapi diatas meja makan.
Waktu telah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Kekuarga kecil Liam bersama bi Arum baru saja tiba. Mama Helen langsung meraih sang cucu dan menggendongnya sambil menciumi pipi gembil balita montok tersebut.
"Ma, memangnya mau ngerembuk soal apa ya. Kok, mendadak sekali?" Vania memang belum diberitahu perihal apa yang akan dibicarakan.
"Masuk dulu, nanti kalian juga akan tahu!" Vania tak lagi bertanya ia pun mengikuti langkah ibu mertuanya menuju ke ruang keluarga.
Tepat pukul 19.30 WIB. Seluruh anggota keluarga telah berkumpul dan mereka langsung menuju ke ruang makan. "Loh, bi Arum dan Shinta mana?" Tanya Mama Helen ketika tak melihat keberadaan ibu dan anak itu.
Vania pun ikut celingak celinguk mencari bibi dan adiknya. "Mereka pasti ada di belakang Ma, biar aku yang memanggilnya." Vania beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju ke belakang tepatnya di kamar para pembantu.
__ADS_1
"Shin, kamu ngak bikin ulah kan? Ngak biasanya loh nyonya Helen sampai memanggil ibu begini. Kalau begitu mending kamu ikut ibu saja atau kamu ngekos, nanti untuk biaya hidup kamu ibu yang tanggung dari pada nanti ibu dan mbak mu yang malu. Keluarga Ghazala sudah sangat baik pada keluarga kita bahkan menerima mbakmu sebagai menantu meskipun kita ini miskin. Sekarang cerita sama ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" Bi Arum ternyata sedang menginterogasi anak perempuannya. Wanita paruh baya itu tak sabar jika harus menunggu sang majikan yang mengatakannya.
Shinta menunduk takut pada ibunya, membuat bi Arum semakin yakin jika ada yang tidak beres dan itu melibatkan putrinya.
"Kenapa malah diam, ayo cepat katakan yang jujur sebenarnya ada apa? Baru juga beberapa bulan kamu bekerja disini sudah bikin masalah saja, Shinta kamu ini terlalu pecicilan sih." Bi arum sampai gemas dengan kelakuan putrinya yang memang kadang-kadang suka pecicilan tak bisa diam bukan nakal tapi kadang suka terlampau manja.
Tapi, kini Shinta tinggal dikediaman Ghazala untuk bekerja apalagi tanpa pengawasan dari bi Arum sendiri. Makannya bi Arum sangat was-was putrinya akan melakukan kesalahan dan membuat majikannya kecewa.
"Anu–itu bu, Nyonya dan Tuan telah salah paham. Itu–." Shinta gugup dan bingung harus bagaimana menceritakannya.
"Salah paham bagaimana maksudmu, cerita yang jelas Shinta jangan anu itu anu itu!" Bi Arum gemas pada putrinya yang bercerita mencla mencle tidak jelas.
Menghela nafas panjang, Shinta pun melanjutkan ceritanya pada sang bunda. Shinta mengatakan jika dia juga tidak tahu kronologis kejadian disaat ia tidak sadarkan diri dan tahu-tahu ketika sadar ia sudah berada didalam kamarnya bersama dengan Wira. "Begitu ceritanya bu. Tapi, nyonya Helen malah meminta aku untuk menikah dengan tuan muda Wira. Aku bingung bu, apa yang harus aku lakukan."
Bi Arum begitu terkejut dengan ungkapan putrinya, bagaimana bisa hal itu bisa terjadi. Keluarga terpandang dan kaya raya seperti mereka tidak akan mungkin mau mengambil calon menantu dari kalangan awah seperti anaknya, Shinta. "Lalu, kamu menjawab apa pad nyonya?"
Tok tok tok
"Bibi, Shinta. Apa boleh aku masuk?"
"Masuklah Van!"
Vania sejak tadi telah mencuri dengar perbincangan bi Arum dengan Shinta. Vania juga tak kalah terkejut mendengar apa yang diceritakan oleh Shinta. "Bi, maaf....aku tadi mendengar semua apa yang kalian bicarakan dan aku juga tak mengerti kebapa Mama menginginkan Shinta dan Wira menikah. Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Mama Helen. Tapi, kita lihat saja bagaimana nanti ya bi. Oh ya, Mama dan yang lainnya sudah menunggu kita untuk makan malam bersama. Ayo, bi...kamu juga Shin."
"Van, kami tidak bisa makan bersama dengan para majikan. Walaupun kamu adalah keponakan bibi tapi, tetap saja tidak merubah status bibi dan Shinta yang hanya seorang pembantu." Benar apa yang dikatakan bi Arum, ia dan Shinta memang hanya berstatus sebagai art.
"Ya ngak gitu juga, bi. Ini Mama sendiri yang menginginkan bibi dan Shinta ikut bergabung untuk makan malam. Untuk masalah Shinta dengan Wira nanti kita akan mencari jalan keluarnya ya, bi. Sekarang aku mohon kalian turuti keinginan Mama Helen."
__ADS_1
Bi Arum dan Shinta saling bertatapan seakan meminta persetujuan antar satu dengan yang lainnya. "Baiklah Van, ayo–!."
Makan malam bersama berlangsung dengan hikmat, hanya bi Arum dan Shinta yang tampak tak nyaman. Apalagi Shinta yang sesekali mendapatkan tatapan sinis dari Wira. Gadis itu sadar bahwa ia dan ibunya sama sekali tak pantas duduk disatu meja apalagi sampai makan bersama dengan keluarga mereka.
Dan kini mereka telah berkumpul di ruang keluarga termasuk bi Arum dan Shinta.
"Ekhem–baiklah, karena semuanya telah hadir di sini maka, kita akan mulai saja apa yang akan kita rundingkan mengenai masalah Wira dan Shinta." Papa Bisma yang memulai perbincangan.
"Wira dan Shinta? Maksudnya apa ini, Pa?" Liam yang belum tahu pun jadi heran dan bertanya-tanya ada apa dengan Wira dan Shinta. Apa telah terjadi sesuatu antara adiknya dan Shinta. Itulah yang ada di pikiran Liam.
Bukan Papa Bisma yang menjawab melainkan Mama Helen. "Iya, kita berkumpul malam ini memang hendak membicarakan tentang rencana pernikahan Wira dengan Shinta. Dengan kejadian kemarin malam, kami tidak ingin kedepannya terjadi sesuatu pada Shinta. Jadi, secepatnya Wira harus menikahi Shinta sebagai bentuk dari tanggung jawabnya atas perbuatan yang telah dilakukannya pada Shinta."
"Apa-apaan sih ini Ma, Pa. Bukankah sejak kematin malam aku sudah menjelaskan bahwa tidak terjadi apapun pada kami berdua dan bahkan aku sama sekali tidak menyentuhnya apalagi menodainya. Mama kan sama-sama perempuan pasti tahu kan seperti apa jika seorang gadis itu sudah tidak suci lagi.Tanyakan dan periksa Shinta, aku jamin pasti dia masih perawan karena memang aku tidak melecehkannya." Wira seketika berdiri dan meluapkan emosinya. Dia sudah mengatakan dengan jujur tapi, kedua orang tuanya masih tidak mempercayainya juga bahkan sekarang malah ingin dia menikahi gadis yang bahkan belum ada satu bulan mengenalnya.
"Wira—duduklah dulu, kita selesaikan permasalahan ini bersama-sama dengan kepala dingin. Ini juga demi masa depanmu, nak!" Papa Bisma mencoba menenangkan sang putra.
Wira melengos tak malas menanggapi perkataan sang Mama." Sudahlah, terserah Mama dan Papa. Aku ngomong apapun ngak akan berpengaruh juga." Wira langsung menyelonong pergi dengan kesal.
"Tuan, Nyonya– apa yang dikatakan oleh tuan mufa Wira memang benar. Kemarin malam tidak terjadi apapun diantara mereka. Shinta bahkan sama sekali tidak ingat apa yang terjadi padanya karena dia tidak sadarakan diri dan menurut Shinta pun dia tak merasakan apa-apa, misalnya sakit...Nyonya pasti mengerti kan apa yang saya maksud. Jadi, tolong batalkan rencana untuk menikahkan mereka berdua. Tuan muda sepertinya sangat marah dan tidak menerimanya. Sekali lagi maafkan kami Nyonya, Tuan. Jika di izinkan biar Shinta ikut bersama saya saja atau dia bisa ngekos di luar agar kehadiran Shunta disini tidak mengganggu kenyamanan tuan muda Wira." Panjang lebar bi Arum menjelaskan dan memberi jalan keluar atas kesalah pahaman ini.
Mama Helen menggeleng dan menolak permintaan bi Arum. "Tidak, bi. Wira akan tetap menikahi Shinta. Karena kami yakin jika Shinta adalah gadis yang cocok untuk Wira. Semoga mereka berjodoh."
"Baiklah, keputusan akhir sudah diambil dan rencana pernikahan mereka akan tetap dilaksanakan. Masalah Wira, biar Mama nya yang akan mengurusnya."
Semua yang hadir tak bisa berkata apa-apa lagi. Begitu pun Liam dan Vania. Liam diam-diam tersenyum samar, dia berpikir mungkin ini lah jalan keluarnya agar adiknya itu bisa move on.
Bersambung
__ADS_1