
Vania melihat berkas yang berisi tentang data diri Inara yang di bawa oleh gadis itu dari perusahaan yang menyalurkannya.
"Inara Damayanti, umur 17 tahun, pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama, asal daerah Jogjakarta. Jadi, kamu berasal dari Jogja." Vania menyunggingkan senyumannya karena ternyata gadis tersebut berasal dari daerah yang sama dengannya.
"Iya, nyonya."
"Lalu, apa kamu tidak melanjutkan pendidikanmu ke jenjang SMA.Apa orang tuamu mengijinkan kamu bekerja? Kamu masih sangat muda."
"Iya, Nyonya. Saya bekerja juga untuk membantu perekonomian keluarga. Jadi, orang tua saya sudah mengizinkan saya untuk bekerja."
Vania pun mengangguk, ia mengerti bagaimana rasanya menjadi tulang punggung keluarga dan mengorbankan masa depan demi kelangsungan hidup. Seperti dirinya dulu. "Iya, aku mengerti. Baiklah. Bi Kokom....tolong antarkan Inara kekamarnya ya dan jelaskan apa saja tugas yang akan dikerjakannya!'
"Baik, Bu." Jawab Bi Kokom.
"Baik, Nyonya. Saya permisi." Inara mengangguk lalu beranjak dari duduknya hendak mengikuti bi Kokom.
Namun, langkahnya terhenti ketika Vania kembali memanggilnya. "Oh....tunggu sebentar, Inara!"
"I‐iya, Nyonya."
"Begini–panggil Ibu saja, bukan Nyonya. Dan ini....aku hampir lupa memperkenalkan anggota keluarga yang lain. Ini Pak Liam, dan mereka anak-anak kami, Kiano dan Kirena. Vania menunjuk satu persatu seluruh anggota keluarganya. Dan Inara pun mengangguk memberi rasa hormat pada para majikan barunya.
Waktu telah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Inara masih berkutat diarea daput membantu bi Kokom beberes dapur setelah para majikan selesai makan malam. Bi Kokom pamit duluan untuk beristirahat dikamarnya karena wanita paruh baya itu mengeluhkan rasa pusing dikepalanya. Dan akhirnya Inara yang menyelesaikan pekerjaannya.
"Ternyata majikanku kali ini sangat ramah dan baik. Semoga aku memang berjodoh bekerja di rumah mewah ini."
Saat ia telah menyelesaikan pekerjaannya Inara baru saja hendak menuju kekamarnya yang berada diarea belakang rumah utama. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara riak air dari arah samping rumah tepatnya di area kolam renang. Kening Inara mengkerut, ia penasaran kira-kira siapa yang sedang berenang malam-malam begini. "Siapa sih yang berenang malam-malam? Coba aku lihat." Inara melangkah mendekat kesamping rumah. Dan terperangah melihat pemandangan yang sungguh melenakan. Sosok anak majikannya yang berparas tampan dengan tubuhnya yang kekar dan berotot membuat gadis muda itu langsung terpana. Matanya tak berkedip dengan mulut yang menganga sampai tak menyadari ada orang lain yang tengah memperhatikannya.
PUK
"Hei–ngapain kamu ngintip-ngintip mas Kiano berenang?" Ternyata orang itu adalah Kirena yang baru dari dapur untuk mengambil air putih dan sekilas ia melihat Inara, pembantu barunya yang tengah memperhatikan sang kakak yang sedang berenang.
__ADS_1
"Eh, m–maaf non. Saya ngak ada maksud apa-apa. Tadi saya mendengar suara deburan air dari kolam renang. Jadi, saya cuma mau mengecek saja " Inara kembali menundukkan kepalanya.
"Alasan saja kamu tuh. Bilang saja kamu tertarik kan sama mas Kiano? Ingat, kamu itu siapa di rumah ini. Ya sudah, sana!" Kirena mengibas-ngibaskan telapak tangannya mengusir Inara dan gadis itu pun menuruti perintah dari anak majikannya itu.
"Baik, non. Maaf....permisi!"
"Hemm– dasar cewek kampung, ngak pernah lihat cowok ganteng kali ya." Kirena pun beranjak pergi untuk kembali ke kamarnya dengan membawa segelas air putih ditangannya.
Keesokkan paginya, keluarga Liam sedang menikmati sarapan pagi bersama. Kiano tampak begitu menikmati mebu sarapan pagi ini. Ia makan dengan begitu lahapnya, begitupun dengan Liam, Vania dan Kirena. "Wow....nasi goreng ini enak sekali, rasanya tidak seperti biasanya." Itu Liam yang berkomentar.
"Hem....iya, Mas. Bi Kokom, tolong kesini sebentar!" Vania pun membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya.Karena penasaran, Vania memanggil Bi Kokom ingin menanyakan siapa yang membuat menu sarapan pagi ini.
Bi Kokom berjalab tergopoh-gopoh dari arah belakang dan langsung menghadap pada sang majikan. "Iya Bu, ada apa ya?"
"Begini Bi, yang membuat nasi goreng siapa?rasanya enak sekali loh." Vania langsung bertanya ke intinya. Bi Kokom yang tadinya berpikir jika masakan Inara tidak sesuai selera dari para majikannya malah ternyata justru sangat menyukainya.
Menghela nafas lega, Bi Kokom pun tersnyum lalu mengatakan jika yang memasak sarapan pagi ini adalah Inara.
"Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu kebelakang." Bi Kokom pun pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan Inara, gadis muda itu sedang menyapu taman belakang sambil bersenandung ria. Bi Kokom yang melihatnya pun turut tersenyum. Gadis muda itu sepertinya sangat bahagia dan menikmati pekerjaannya. "Inara....kesini sebentar!" Bi Kokom melambaikan tangannya memanggil Inara.
Inara yang merasa di panggilpun menoleh lalu, bergegas menghampiri Bi Kokom." Iya Bi, sebentar."
Seampainya didepan Bi Kokom, Inara langsung menanyakan apa ada tugas lain yang harus dikerjakannya. Namun, Bi Kokom mengatakan jika tidak ada dan malah memberitahu bahwa semua majikan begitu menyukai nasi goreng buatannya itu. "Benarkah Bi? Wah....syukur alhamdulillah kalau mereka suka."
"Bibi juga ngak nyangka kalau kamu ternyata bisa masak juga." Bi Kokom mengusap kepala Inara.
"Alhamdulillah Bi, ini kan berkat ibu Nara yang mengajari memasak. Kata ibu anak wedok itu harus pintar masak ya minimal bisa lah, kan demi masa depan juga kalau sudah berumah tangga. Benar kan, Bi?" Inara begitu antusias menceritakan tentang ibunya.
"Iya, benar itu. Masakan ibumu juga pasti enak-enak ya." Inara tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Memang benar, masakan ibunya adalah masakan terlezat baginya.
__ADS_1
Usai berbincang sebentar, mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Para majikan sudah berangkat dan kini hanya tinggal Vania yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil membaca beberapa majalah. Melihat Inara yang melintas dari arah samping rumah dan tertangkap dalam penglihatannya. Vania pun spontan memanggil gadis itu. "Inara....sini!"
Setelah sampai tepat dihadapan sang majikan. Inara pun langsung duduk di atas lantai dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh majikan cantiknya itu. "Iya, Nyonya. Apa ada yang harus saya kerjakan?"
"Tuh kan sudah berapa kali aku bilang. Jangan panggil Nyonya. Ibu saja!" Protes Vania yang memang tidak begitu suka di panggil dengan sebutan Nyonya baginya itu terlalu kaku dan terkesan tidak luwes.
"Eh, iya Bu. Maaf, saya belum terbiasa." Inara tersenyum canggung. Lagi-lagi ia melupakan apa yang di katakan olehsang majikan.
Vania menyuruh Inara duduk di atas sofa. Rasanya ia tidak nyaman melihat seseorang yang duduk di lantai seperti itu sedangkan dia duduk nyaman di atas."Inara, ayo....duduklah diatas!'
"Terima kasih, Bu. Saya duduk disini saja." Jawabnya menolak dengan halus.
Vania pun mengerti Inara merasa sungkan jika, harus duduk sejajar dengannya yang bagi gadis itu adalah majikannya. "Ya sudah. Begini. Berhubung tugas Bi Kokom begitu banyak, makannya kami menambah satu orang lagi untuk membantu pekerjaan Bi Kokom. Nah, rencananya kamu akan aku tugaskan untuk mengurus segala kebutuhan Kiano dan Kirena.Nanti Bi Kokom yang akan menjelaskan apa- apa saja yang mesti kamu kerjakan. Dan saya berharap kamu kerasan bekerja di rumah ini."
"Baik Bu. Insyaallah saya akan melakukan semua pekerjaan yang diberikan dengan baik. Terima kasih ibu telah menerima dengan baik kehadiran saya." Inara menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dada.
"Iya, sama-sama."
Usai mendapatkan pengarahan dari Bi Kokom tentang apa-apa saja yang harus di kerjakannya. Siang harinya Inara pun mulai melakukan tugas pertamanya yaitu membersihkan kamar Kiano.
Tok tok tok
"Permisi, assalamuallaikum." Meskipun tak ada si empunya kamar. Inara tetap mengetuk pintu ruangan tersebut dan tak lupa memberi salam. Ya itulah yang diajarkan oleh ibunya.
Inara memasuki kamar tersebut dan langsung terpana dengan pemandangan kamar yang tampak begitu megah dan terkesan maskulin. Dengan interior yang didominasi warna hitam dan abu-abu. Perlahan Inara melangkah mengelilingi kesetiap sudut ruangan sambil mulai membersihkannya. Matanya menangkap sebuah vigura yang berada di atas meja nakas tepat disamping temoat tidur. "Wah....tampannya!"
"Belum pernah lihat cowok ganteng ya?"
Bersambung
__ADS_1