Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
86. Main bola bertiga


__ADS_3

Hari ini mood Wira menjadi buruk karena kedatangan Regina yang selalu saja berbuat suatu hal yang menyebalkan. Ia mengira jika, wanita itu sudah menyerah dan tak akan melakukan perbuatan licik lagi. Tapi, sepertinya wanita itu kelakuannya malah semakin menjadi saja.


Sore harinya Wira pulang dan ketika masuk kedalam unit apartemennya ia melihat Shinta dan juga sang mama yang ternyata sedang asik mengobrol diselingi dengan tawa riang. "Assalamuallaikum."


"Wa'allaikumsalam."


"Wira–."


"Mas–."


Jawab kedua wanita cantik beda generasi itu secara bersamaan ketika mendengar salam dari laki-laki tampan yang tersenyum walaupun tampak jelas kelelahan diwajahnya.


"Mama kapan datang?" Wira pertama-tama menyapa Mama Helen dan mencium punggung tangannya. Setelah itu ia mencium kening sang istri tak lupa mengelus perut besar Shinta.


"Baby boy hari ini tidak rewel kan, ngak nakalin mama?" Wira malah mengajak bicara anaknya yang masih berada didalam rahim Shinta.


"Enggak Papa, dedek ngak nakal kok." Shinta yang menjawab dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil membuat Mama Helen dan Wira terkekeh geli.


"Lagian Mas nih ada-ada saja, masa' bayi masih didalam perut dibilang nakal? Ya ngak mungkin lah."


"Lah benar kan? Kamu pernah merasakan tendangan si boy saat dia sedang bermain bola didalam, iya kan boy?" Wira mengusap perut Shinta lagi dan langsung mendapatkan tendangan dari baby boy.


Wira terperangah lalu detik itu juga ia tertawa karena mendapatkan reaksi tak terduga dari baby boy. "Haha....sepertinya si boy mau ngajakin Papa main bola ya. Oke, nanti malam ya boy kita main sama Mama." Wira mengedipkan matanya genit ke arah sang istri. Hal itu tentu saja membuat Shinta sangat malu, ia mengerti maksud dari ucapan suaminya itu.


Plakk


"Heh, istrimu itu sedang hamil besar. Jangan terlalu sering kamu ajak bermain nanti Shinta bisa kelelahan!" Seketika kepala Wira dikeplak sang mama yang gemas melihat kelakuan nyeleneh dari putra bungsunya itu.


"Aww–sakit Ma. Yee, dokter bilang juga malah disuruh sering di jenguk baby boy nya supaya lancar saat dilahirkan nanti. Kalau tidak percaya tu tanya saja sama Shinta. Iya kan, sayang?" Wira mencari pembenaran atas perkataannya pada sang istri. Dan Shinta punenjawab dengan menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.

__ADS_1


'Masa' soal begituan pake dibahas di depan Mama sih? Ish...Mas Wira bikin malu aja deh.' Shinta menggeruyu dalam hati.


"Dasar memang kamu nya yang ngak mau ngalah. Awas ya kalau sampe menantu dan cucu Mama kenapa-napa." Ancam Mama Helen pada sang putra.


Wira mengacungkan jari jempolnya dan tersenyum penuh arti. "Beres Ma, santuy saja. Aku ngak akan srudak sruduk kok, kita mainnya slow aja yang penting aman dan nyaman." Menaik turunkan alis matanya.


"Mas ih, malu tahu....ada Mama." Shinta refleks mencubit paha Wira.


"Aduh! Sayang, sabar dong ah. Ini masih sore loh. Nanti saja kalau Mama sudah pulang kita mainnya." Tingkah Absurd.Wira malah semakin menjadi. Sudah tak terbayangkan wajah Shinta sekarang, bersemu merah terasa panas sampai ke telinga-telinganya.


Mama Helen hanya menghelengkan kepalanya melihat tingkah di luar nurul Wira yang berubah 180 °." Ya sudah, kalau begitu Mama pulang saja deh. Dari tadi suamimu agak error,Shin. Udah ngak tahan apa gimana? Dasar bocah tua nakal."


"Ma, makan malam dulu ya. Omongan Mas Wira jangan didengakan. Memang dia selalu begitu. Ya Ma....kita makan sama-sama?" Shinta yang merasa tak enak hati langsung membujuk sang ibu mertua untuk makan malam bersama.


Mama Helen tersenyum hangat mengusap lengan Shinta. "Enggak, sayang. Beneran...Mama mau langsung pulang sekarang saja. Mama akan makan malam sama Papa Bisma saja. Nanti si kakek merajuk kalau ngak ditemani makan malam. Oke, Mama balik dulu ya." Setelah bercipika cipiki dan mengelus perut Shinta. Mama Helen pun beranjak pergi.


"Sayang, katanya mau main bola?" Wira berbisik lembut tepat didaun telinga Shinta. Membuat si empunya kegelian lalu, membuka matanya karena merasa terganggu dengan kejahilan sang suami.


"Mas–geli ah, berhenti....aku ngantuk banget. Main bolanya besok pagi aja ya." Shinta berbalik badan menghadap Wira. Mengelus lembut rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tak terlalu lebat. "Maaf ya, Mas. Aku benar-benar capek. Mau kan besok pagi saja, saya janji." Wira malah terkekeh geli mendengar ucapan Shinta yang blak-blakkan. Sungguh polos sekali istri kecilnya itu.


Mendengar Shinta yang mengeluh kecape'an akhirnya Wira pun tak tega dan ia pun mengangguk lalu, mencium tangan Shinta yang masih mengelus pipinya.


CUP


"Iya, sayang. Mas ngerti. Oke, kita tidur sekarang. menghadap sana!" Wira menyiruh Shinta membalikkan badannya menghadap kearah samping kiri. Karena menurut dokter posisi tersebut baik untuk janin.Mereka pun tertidur dengan nyaman dengan Wira yang memeluk erat Shinta.


Pagi harinya sesuai perjanjian. Akhirnya mereka pun bermain bola sebentar cukup satu ronde saja. Karena dikehamilan Shinta yang semakin tua, Shinta mudah merasa lelah. Usai mandi bersama mereka pun melakukan aktifitas seperti biasanya. Ketika Shinta keluar dari kamar tak lama terdengar dering ponsel yang ternyata milik Shinta. Wira pun mendekat dan meraih ponsel itu yang tergeletak diatas nakas.


Matanya memicing tajam ketika melihat id si penelpon. "Anton....mau apa diapagi-pagi nelponin istri orang?" Wira sengaja tak mengangkatnya ia membawa ponsel Shinta keluar kamar dan ketika di meja makan ia pun langsung menyerahkannya pada pemiliknya. "Ini, tadi Anton menelpon tapi, tidak sempat Mas angkat. Ada apa dia tumben nelpon kamu?" Tanya Wira dengan mimik wajah tak suka.

__ADS_1


"Kak Anton?saya juga ngak tahu Mas kenapa dia menelpon." Shinta memang tidak mengerti apa maksud Anton yang tiba-tiba menelponnya. Jangan sampai suaminya jadi salah paham.


"Masa' sih kamu ngak tahu? Coba kamu telepon balik dia siapa tahu ada hal yang penting!"


"Ngak usah Mas. Palkng juga cuma iseng saja dia. Mas tahi sendiri kan gimana kelakuan teman mas yang satu itu." Shinta mencoba mencairkan ketegangan dengan candaan.


Sedang Wira hanya teesenyum tipis tak menanggapi ucapan Shinta. Seketika suasana di meja makan menjadi dingin. Wira hanya diam dan fokus dengan sarapannya. sedangkan Shinta rasanya sudah tak nafsu untuk makan melihat sikap dingin Wira apalagi setelah tahu jika, Anton menghubunginya. 'Mas Wira sepertinya marah. Lagian ngapain sih kak Anton pake nelponin aku?' Shinta menatap sendu pada Wira yang sama sekali tak mau menatapnya.


"Aku berangkat sekarang." Tanpa mengucapkan kata mesra seperti biasanya ketika akan berangkat bekerja, Wira malah langsung melangkah pergi bahkan tanpa memberikan kecupan hangat untuk istri dan baby boy nya.


Shinta mengusap matanya yang sudah menitikkan caiiran bening. Hormon kehamilan yang membuatnya semakin sensitif. Hatinya benar-benar terluka dengan sikap diam Wira. Ponselnya pun tiba-tiba berdering kembali dan tertera nama Anton. Shinta pun bergegas mengangakat panggilan tersebut. "Ya Hallo, assalamu'allaikum. Ada apa ya Kak?"


"Wa'allaikumsalam. Maaf ya Shin, pagi-pagi sudah ganggu. Apa Wira sudah berangkat ke kantor?"


"Sudah Kak. Ada perlu apa ya kak tiba-tiba menelpon saya?" Dengan malas Shinta menjawab tampak jelas suaranya yang agak berbeda di pendengaran Anton.


"Shin, kamu baik-baik saja kan? Suaramu agak aneh, kamu habis nangis ya?" Anton curiga kalau Wira marah karena tahu tadi ia menelpon Shinta.


"Ah, enggak kok Kak. Iya, ngomong-ngomong ada apa ya,kak?" Shinta langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan maksud dan tujuan Anton menelponnya.


Anton pun tak lagi banyak bertanya. Ia langsung mengungkapkan maksud dan tujuannya menghungi Shinta. Ia ingin meminta tolong sesuatu pada Shinta. Dan Shinta pun bersedia membantu Anton.


"Hem–gitu ya. Tapi, saya ngak bisa lama-lama ya,kak. Setelah kalian bertemu saya langsung pulang."


"Iya, siap. Makasih ya Shinta. Sampai bertemu nanti."


Dan percakapan mereka pjn berakhir. Shinta menghela nafas panjang. Kemudian ia beranjak masuk kedalam kamar untuk bersiap-siap.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2