Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
46. Bertemu Wira


__ADS_3

Cuaca pagi ini di kota Paris terasa dingin menusuk kepermukaan kulit. Dua sejoli yang tengah dimabuk kasmaran itu masih bergelung manja dibalik selimut tebal yang makin terasa hangat dengan saling berpelukan.


Pantulan sinar matahari yang masuk melalui bias kaca dan menembus tirai jendela membuat Vania mengerjapkan matanya merasakan hangat diwajahnya. Pada saat matanya telah membuka sempurna Vania terlonjak kaget karena tepat dihadapannya ada sosok tampan yang masih tertidur pulas dengan nyamannya bahkan tak terganggu dengan gerakan Vania.


Namun, baru saja Vania hendak beringsut turun dari atas ranjang tiba-tiba tangannya di tarik dan Vania kembali terjerembab dan jatuh tepat diatas tubuh Liam.


"Aakkhh–."


"Mau kemana sayang....hem? Udara masih terasa dingin ayo kembalilah tidur!" Liam kembali mendekap erat tubuh Vania dan tak membiarkan istrinya itu melarikan diri.


Sekuat apapun Vania mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri dari keposesif-an sang suami, tetap saja Vania tak bisa karena kekuatan tenaga mereka tidak sebanding. "Mas, aku mau kekamar mandi." Vania sejenak terdiam lalu ia memberitahukan keinginannya walupun ia masih merasa malu bila mengingat kejadian tadi malam yang membuat wajah cantik Vania kembali ber-blushing ria."Mas...badanku rasanya lengket dan tidak enak. Aku mau mandi duluan ya."


"Apa–mau mandi ya? Kalau begitu ayo....mas juga mau mandi. Kita mandi bareng saja, oke."


"Hah, a‐apa yang mas katakan. Aku mandi duluan dan mas setelahnya."


Liam memasang wajah memelas penuh permohonan membuat Vania jadi serba salah. Sungguh, Vania masih merasa malu jika harus memperlihatkan tubuh polosnya disaat mandi. Mengingat apa yang telah ia dan suaminya lakukan saja sudah membuat pipinya memanas. "Sayang...ayolah."


Akhirnya Vania pun mengangguk mengiyakan permintaan Liam yang mengajaknya mandi bersama. Mengela nafas panjang sedetik kemudian Liam langsung membopong Vania ala bridal style memasuki kamar mandi. Vania hanya bisa pasrah dan membiarkan Apapun yang dilakukan oleh suami tampannya yang semakin mesum itu.


Sesampinya didalam kamar mandi Liam mendudukkan Vania diatas kloset yang tertutup. Karena ia yang akan menyiapkan air hangat untuk mereka berendam di bathub. Setelah siap Liam kembali menghampiri Vania dan berniat ingin membantu istrinya itu menanggalkan selimut yang membalut tubuh Vania. Namun, tangan Vania refleks menyentuh tangan Liam agar berhenti bergerak. "Mas....jangan, aku malu."


Liam tahu jika Vania masih merasa malu dengan apa yang telah mereka lakukan semalam. Ia masih mengjngat dengan jelas suara rintihan dan lengguhan yang keluar begitu saja dari bibir sang istri. Sudah dipastikan jika Vania juga sangat menikmati penyatuan mereka disepanjang malam. Begitu pun dengan Liam yang sangat-sangat terpuaskan.Vania sekarang bagaikan candu baginya.


" Jangan malu sayang. Mas sudah melihat semuanya dari kepala hingga ujung kaki dan bahkan mas sudah merasakannya...sungguh nikmat." Liam kembali melancarkan aksinya setelah meletakkan tubuh Vania kedalam bathub kemudian Liam pun ikut masuk dan mereka sama-sama naked. Tanpa meminta persetujuan dari sang istri Liam pun langsung menerkam Vania dan bergumulan untuk yang kesekian kalinya pun akhirnya terjadi lagi.


Pasangan suami istri yang baru saja selesai mandi diselingi dengan adegan dewasa kini telah tampak rapi karena mereka akan keluar untuk sarapan pagi. Tidak, tepatnya makan menjelang siang. Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 siang. Sepanjang jalan menuju ke bawah wajah Vania tampak cemberut.


Bukan apa-apa, ia sangat kesal karena suaminya itu tak ada puas-puasnya bergelut ria. Padahal tubuhnya sudah tak karuan rasanya ..pegal-pegal semua. Liam yang menyadari istrinya tengah merajuk langsung mengeluarkan jurus andalannnya bergombal ria untuk membujuk sang istri agar tidak ngambek lagi. Bisa gawat kalau ngambeknya sampai malam bisa-bisa si john nganggur.

__ADS_1


"Sayang–jangan cemberut gitu dong, nanti cantiknya bisa hilang loh!" Liam menghentikan langkah sang istri lalu, menarik tangan Vania sampai mereka saling berhadapan bahkan Liam semakin merapatkan tubuh keduanya.


"Habis mas sihh nyebelin. Badanku rasanya remuk...nih boyokku rasanya mau potol." Jawab Vania masih dalam mode ngambeknya.


Sedangkan Liam yang tidak mengerti arti perkataan Vania mengernyitkan dahinya. "Kamu ngomong apa sih sayang, terjemahkan dong!"


"Pinggangku rasanya mau patah, remuk semua badanku dan itu gara-gara mas Liam. Pokoknya aku mau rehat dulu."


Seketika mata Liam membeliak ketika mendengar kata rehat yang keluar dari bibir istrinya. Dan itu artinya malam ini ia akan gigit jari tak dapat jatah berikutnya. Tiba-tiba tubuhnya langsung lesu dan lemas seperti kekurangan darah dan asupan vitamin.


"Iya iya, mas minta maaf. Janji mas ngak akan seperti itu lagi. Tapi, tolong jangan lama-lama ya rehatnya. Kan mas masih kangen sama–"


"Stopp–ish, mas malu tahu kalau sampai ada yang dengar!" Vania menutup mulut Liam dengan telapak tangannya.


"Ngak akan sayang, mereka mana mengerti bahasa indonesia. Jangan khawatir...mau ngomong apapun ngak akan ada yang paham.Tersenyum penuh tipu muslihat.


"Oke, no problem...kamu mau makan apa, sayang?"


"Yang sehat dan bergizi. Ada sayuran dan proteinnya juga."


Liam tersenyum mendengar perkataan Vania. Membuat Vania memicing curiga menatap Liam. "Kenapa senyam senyum gitu?"


"Habisnya kamu ini sudah seperti di posyandu saja. Pake acara makanan sehat dan bergizi sudah seperti balita saja."


"Ish–ngece aja terus mas. Fix nanti malam ngak ada jatah. Sebel."


"Jangan dong sayang, kasihan nanti si john kan baru semangat-semangatnya bekerja."


Ingin rasanya Vania tertawa ketika suaminya yang malah mengkhawatirkan senjata pamungkasnya yang terancam tak bisa dipakai untuk berperang di atas kasur. Sekali-kali bolehlah memberi pelajaran pada suami mesumnya itu.

__ADS_1


"Aduh John bagaimana nasib masa depanmu nanti?" Liam menunduk menatap bagian bawah tubuhnya.


Vania semakin terkekeh geli melihat kelakuan super aneh sang suami. Padahal Vania hanya mengerjai Liam saja. "Biar rasa si John jadi pengangguran."


"Siapa yang jadi pengangguran? John...siapa dia?"


Vanua pun menghentikan tawanya lalu mendongakkan kepalanya menatap sosok pria yang berdiri tepat di samping Liam.


"Tu–eh, Wira–."


Liam pun menoleh dan tentu saja mengenali suara Wira, adiknya. "Oh, kamu sudah datang.Duduklah!"


"Baik kak, terima kasih." Ya, Wira memang telah membuat janji temu dengan Liam tanpa memberitahu Vania. Tentu saja Vania terkejut karena tak menyangka akan bertemu secepat ini dengan adik iparnya itu.


"Apa kabar Vania. Oh...sorry, maksudku kakak iparku.yang cantik." Wira meralat ucapannya ketika mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.


"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?" Tanya balik Vania. Keduanya tampak canggung mungkin karena cukup lama tak bersua.


"Ya seperti inilah, masih tetap sama. Bagaimana...apakah kamu suka liburan di Paris?" Tatapan mata Wira begitu dalam jelas sekali jika pria tampan itu masih menyimpan rasa untuk Vania yang telah menjadi kakak iparnya.


Liam tampak gemas dan tak suka dengan interaksi yang terkesan keduanya begitu dekat. Liam kembali terbakar api cemburu.


"Ekhem–kami kesini bukan liburan tapi untuk berbulan madu. Catat ya Wira...honeymoon. Kamu pasti tahu kan perbedaannya.


Wira mengulum senyumannya. Ia mengerti jika sang kakak tegah cemburu kepadanya. "Iya iya kak, Kalian kesini sekalian mau memproduksi anak lagi, kan?"


"UHUK."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2