Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
56. Membawa kabur anak gadis orang


__ADS_3

Sejak malam itu Wira sama sekali tidak pulang kerumah. Sudah tiga hari dan akhirnya Wira pun muncul juga. Mungkin emosinya sudah mulai mereda. Selama ini Wira menginap di apartemen pribadinya. Kedua orang tuanya pun mengerti mungkin putra mereka ingin menenangkan diri dulu dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.


Wira turun dari mobilnya lalu, melangkahkan kaki panjangnya dengan santai hingga ia tanpa sengaja berpas-pasan dengan Shinta yang baru saja selesai menyiram tanaman di halaman depan. Wira tampak cuek seakan Shinta tak ada, bahkan terkesan membuang muka. Melihat itu Shinta hanya menghela nafas dalam. "Ah, sudahlah...masa bodo." Shinta lalu, beranjak masuk kedalam rumah melewati samping rumah.


Tok tok tok


"Wira, boleh mama masuk?"


"Masuk saja Ma, tidak dikunci!"


Mama Helen pun memutar handle pintu dan segera masuk kedalam kamar sang putra bungsu.


"Iya Ma, ada apa lagi? Kan Wira sudah bilang terserah Mama dan Papa saja. aku sebagai anak akan menuruti semua keinginan orang tua asal Mama dan Papa bahagia." Wira langsung menyerocos dengan perkataan-perkataan yang seakan menyindir kedua orang tuanya.


Mama Helen paham maksud dari ucapan putranya itu. Tapi, mau bagaimana lagi ia dan suami sudah sreg dengan pilihan mereka. Shinta adalah gadis yang baik dan pintar juga rajin serta mengerti sopan santun. Gadis itu tak pernah sedikitpun membantah atau pun menolak segala perintah majikannya. Selalu melakukan pekerjaan dengan baik dan telaten. Itulah yang Mama Helen suka dari gadis muda itu.


"Ya ngak gitu juga, Wira. Ini semua kami lakukan demi kebaikan dan masa depan kamu kelak. Shinta gadis yang baik dan juga pintar, calon sarjana lagi." Puji Mama Helen pada Shinta.


"Terus kalau dia calon sarjana kenapa? dia tetap saja statusnya sebagai pembantu kan dirumah ini. Mama dengan seenaknya mau menjodohkan putra Mama sendiri dengan seorang anak pembantu seperti Shinta. Memangnya Mama pikir aku tidak becus mencari calon pendamping yang lebih baik dan setara dengan keluarga kita. Masih banyak gadis di luar sana yang jauh lebih dari pada si Shinta itu." Wira malah memandang rendah Shinta yang memang anak dari bi Arum yang pernah bekerja sebagai art di rumah mereka yang kini ikut dengan Liam dan Vania.


Tanpa mereka sadari Shinta mendengar semuanya. Gadis itu baru saja ingin kekamar Mama Helen namun, ketika melintasi kamar Wira yang pintunya tidak tertutup rapat dan mendengar namanya disebut-sebut Shinta pun jadi penasaran dan sedikit mencuri dengar. Dan hal itu sangat disesalinya ketika mendengar kenyataan jika Wira sebegitunya tak suka pada dirinya. Akhirnya Shinta pun urung menemui sang majikan dan memilih langsung berangkat pergi ke kampus. Menghela nafas panjang "Hhh...sudah kuduga, dia tidak akan pernah mau menerimaku menganggapku ada saja mustahil."


"Kamu mau kekantor? Bukankah hari ini libur." Mama Helen mengernyitkan keningnya ketika melihat Wira telah rapi dengan stelan jas nya.


"Aku ada urusan, Ma. Aku pergi dulu." Wira mencium tangan dan pipi sang mama lalu, lekas beranjak keluar dari dalam kamarnya. Mama Helen pun mengikuti langkah putranya.


Shinta akhirnya tiba dikampus dan kini sedang duduk di bawah pohon rindang yang berada di taman kamous dengan Tari sahabat karibnya. "Shin, aku lihat akhir-akhir ini kamu sering bengong deh. Ngelamunin apa sih, kayaknya galau banget?" Tari yang sejak datang tadi memperhatikan Shinta yang tak fokus ketika diajak bicara.


"Woyy–Shinta, hello...ada apa bestie?" Tari mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat diwajah Shinta dan sontak Shinta pun langsung tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Oh–ada apa sih Tari, kamu bikin kaget aja deh?"


"Kamu yang ada apa, dari tadi melamun saja diajak ngobrol ngak nyambung sama sekali. Katakan padaku ada apakah gerangan, masalah cowokkah?" Tari menaik turunkan alisnya menggoda sang sahabat.


Digoda seperti itu membuat wajah Shinta merona seketika dan itu malah membuat Tari semakin ingin mengerjai Shinta." Cie cie...siapa nih yang bikin my bestie sampai galau begini?"


"Apaan sih kamu, Tar. Ngak ada cowok-cowok'an. Aku hanya memikirkan ingin ngekos saja. Gimana menurut kamu?" Shinta akhirnya mengungkapkan apa yang diinginkannya, waktunya bercurhat ria.


Mendengar Shinta yang ingin ngekos seketika Tari mengernyit penuh tanya. "Kok, tiba-tiba sekali. kamu lagi ada masalah apa Shin di rumah majikanmu?" Tari menebak jika Shinta sedang ada masalah di tempatnya bekerja sekaligus tempatnya tinggal.


"Sebenarnya sih bukan masalah besar, cuma terjadi kesalah pahaman saja. Tapi, malah semakin bertambah ruwet karena...ah, sudahlah Tar, ngak usah dibahas bikin aku mumet saja. Mending kita kekelas yuk, tadi kamu bilang hari ini akan ada dosen tamu dari kalangan usahawan." Shinta malas membahas persoalan pribadinya, ia mengalihkan topik perbincangan mereka.


"Oh iya Shin, hampiir lupa. Katanya sih pria itu seorang pengusaha muda yang sukses di dunia bisnis baik didalam negeri maupun diluar negeri. Yang lebih menarik adalah dengar-dengar orangnya super ganteng dan pokoknya perfect banget deh. Kita harus cepet-cepet yuk, kita cari tempat duduk yang strategis agar bisa memandang ketampanannya." Tari langsung menggeret tangan Shinta menuju keruang kelas mereka. Gadis itu begitu antusias ingin menyambut kedatangan dosen tamu tersebut.


"Dasar Tari centil. Biasa aja kali Tar...jangan tarik-tarik kayak gini. Ngak sabar banget."


Seluruh mahasiswa dan mahasiswi telah masuk kekelas dan tak lama masuklah seorang pria tampan berpostur tinggi dan berbadan kekar. Semua mata menatap takjub sang pria yang ternyata adalah sang dosen tamu. Para mahasiswi tampak bersuka cita dengan kedatangan pria itu. Mereka sampai tak berkedip menatap mahluk ciptaan tuhan yang bak pangeran berkuda dari negeri dongeng.


Bisik-bisik para mahasiswi dan mahasiswa cukup mengganggu pendengaran laki-laki itu. "Ekhem...Assalamuallaikum."


Mendengar suara berat nan sexy dari dosen itu membuat semua seketika terdiam dan fokus kembali kearah depan dan membalas salamnya.


"Wa'allaikum salam, Pak."


"Baiklah. Selamat pahi menjelang siang. Perkenalkan nama saya Wira Bheru Ghazala. Slam kenal semua."


DEG


Shinta yang sejak tadi menunduk dan tak fokus kearah depan, begitu mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya dan nama yang sangat ia tahu yaitu Wira Bheru Ghazala yang berarti pria yang saat ini berada didepan adalah sang tuan muda anak dari majikkannya yang belum lama ini dikenalnya dan bahkan sebentar lagi mereka akan menikah, tepatnya dipaksa untuk dinikahkan. Shinta terlonjak kaget dan sontak mengangkat kepalanya lalu, melihat sosok pria yang beberapa hari ini begiitu membencinya.

__ADS_1


"Tu–tuan muda Wira–!?"


"Kamu barusan bilang apa, Shin? Tuan muda...jadi, dosen tamu itu adalah‐."


"Iya Tar, dia adalah anak dari majikan di tempatku bekerja. Tapi, aku takut dengannya. Dia sangat menyeramkan."


Tari menggelengkan kepala menatap aneh Shinta. Apa kamu bilang, menyeramkan? matamu sedang bermasalah apa gimana, wong gantengnya nganti koyo ngono ki di bilang menyeramkan. Bagaimana sih kamu? Sudah sekarang kita folus melihat wajah tampannya...eh, maksudku kita mendengarkan dengan seksama ilmu yang akan diberikan oleh Pak Wira. gantengnya, Shin."


"Ya ampun Tari, kayak ngak pernah lihat cowok ganteng aja."


Tari tidak tahu saja jika saat ini degup jantung Shinta bertalu-talu tak henti. Tegang bercampur takut bak sedang menaiki rollercoaster."Konsentrasi Shinta, jangan tatap wajahnya. Lihat saja kearah lain cukup mengdengarkan suaranya saja." Shinta mencoba menenangkan diri dan berharap jika Wira tak menyadari keberadaannya.


Wira pun memulai presentasinya memberikan bimbingan dan pengarahan tentang dunia usaha. Hingga akhirnya setelah hampir 1 jam setengah akhirnya selesai. Semua bertepuk tangan dengan semangat karena merasa senang telah mendapatkan ilmu dari orang yang begitu kompeten dibidangnya. Satu persatu para peserta meninggalkan ruang kelas. Hingga saat Shinta dan Tari hampir saja melewati pintu tiba-tiba sebuah suara menegur salah satu dari mereka. " Hei...kamu yang berbaju hijau, tunggu! Saya ada perlu dengan kamu."


Yang merasa berbaju hijau tentu saja langsung menoleh dan tiba-tiba degup jantung Shinta berpacu semakin cepat. Ada apakah gerangan sang tuan muda memanggilnya. "Iya, Tu–eh...Pak, ada apa ya?"


"Kamu ikut saya!"


Tanpa basa basi Wira langsung meraih tangan Shinta dan menariknya keluar ruangan. Sepanjang jalan Shinta begitu kesusahan mengimbangi langkah panjang Wira dlsedangkan kakinya pendek. Tentu saja Shinta sampai terseok-seok dan Wira tak perduli akan hal itu.


"Masuk!" Wira membuka pintu mobilnya lalu, menyuruh Shinta untuk masuk. Namun, gadis itu hanya terdiam. Ia masih tidak percaya akan apa yang dilakukan Wira saat ini. Mereka bahkan menjadi tontonan orang banyak. Apakah Wira tak sadar akan hal itu?


"Kenapa malah bengong? Ayo cepat masuk....kita harus bicara serius dan kamu tidak boleh membantah satu katapun. Mengerti–?!" Tak sabar, Wira pun mendorong tubuh Shinta hingga jatuh terjerembab di atas jok mobil yang berada di samping kursi kemudi.


"Akhh–anda kasar sekali, Tuan."


Dan lagi-lagi Wira sama sekali tak memperdulikan protes yang di tujukan kepadanya. Wira pun melajukan kendaraannya keluar dari wilayah kampus, entah kemana ia membawa kabur anak gadis orang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2