Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
58. Pernikahan Wira & Shinta


__ADS_3

Semua anggota keluarga bersuka cita karena akhirnya Wira telah mengabulkan permintaan kedua orang tuanya dan menerima Shinta sebagai calon istrinya.


Kini persiapan acara pernikahan Wira dan Shinta sudah hampir 95 %. Tinggal kesiapan fisik dan mental calon kedua mempelai. Shinta tampak sedang melamun di kamarnya. Ia masih belum mempercayai tentang apa yang terjadi pada kehidupannya yang tiba-tiba saja berubah drastis. Namun, bila mengingat perjanjian yang telah ia sepekati dengan Wira membuat gadis itu semakin nelangsa. Masa depannya akan semakin tak jelas juntrungannya. Nasibnya sungguh miris menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak menganggapnya ada.


"Shin–Shinta, apakah kamu didalam? Boleh mbak masuk?" Vania sejak tadi mencari keberadaan sang adik dan ia diberitahu oleh bi Darmi jika, sejak pagi tadi setelah sarapan Shinta belum juga keluar dari dalam kamarnya.


"Iya mbak, masuk saja tidak dikunci."


Melihat wajah Shinta ya tampak murung dan tak seceria biasanya. Vania sudah bisa menebak pasti adiknya itu masih belum bisa menerima rencana pernikahannya. Vania pun duduk di sisi ranjang menatap Shinta yang tersenyum yang tampak dipaksakan. "Kamu kenapa, Shin?"


Shinta menggelengkan kepalanya. "Aku ngak apa-apa,Mbak.Cuma gugup saja menghadapi hari H lusa nanti." tersenyum


"Beneran ngak apa-apa. Kamu ngak sedang menyembunyikan sesuatu kan dari kami? Katakan jika, ada yang mengganjal di pikiranmu agar ngak jadi beban di hari bahagiamu nanti."


Hari bahagia apa, yang ada adalah hari yang paling tak diharapkannya. Perkawinan sah berkedok kepalsuan. Itulah yang terbersit di pikirannya. Meskipun nantinya Shinta dan Wira tetap akan menjalani biduk rumah tangga layaknya pasangan suami istri normal lainnya tapi, tetap hal itu hanyalah sebatas memenuhi kewajiban saja. Dan Shinta merasa tak tenang menghadapi kenyataan yang akan dijalaninya nanti. Demi ibu san juga kedua orang tua Wira, Shinta pun hanya bisa menerima dengan lapang dada.


"Iya Mbak, ngak ada rahasia apapun yang aku sembunyikan. Percayalah,Mbak." Jawab Shinta meyakinkan sang kakak.


"Baiklah kalau benar begitu. Mbak cuma takut kalau kamu merasa tertekan dengan pernikahan paksa ini. Ya sudah, Mbak mau kedepan dulu ya, melihat persiapan tempat acara besok sudah ramoung atau belum. Kamu istirahat saja dan tenangkan pikiranmu. Calon manten ngak boleh berpikir yang aneh-aneh." Vania pun beranjak keluar dari kamar Shinta.


Selepas kepergian sang kakak Shinta kembali larut dalam lamunannyai. angan-angan masa depan kehidupan masa depannya yang jauh dari ekapektasi. Semoga dia kuat menjalaninya. "Ya Allah, kuatkanlah hati hamba dalam menjalani semua ini."


Akhirnya hari yang dinanti pun tiba, prosesi ijab qobul akan segera dilakukan. Calon mempelai pria telah siap dihadapan penghulu dan para saksi. Untuk Wali nikah Shinta di wakilkan oleh wali hakim dikarenakan ayahnya sudah meninggal. Tak berapa lama menunggu, Sang pengantin perempuan muncul dengan diapit oleh sang ibunda dan Vania, kakaknya. Wajah Shinta yang manglingi dengan kebaya putihnya membuat para tamu yang hadir berdecak kagum. Cantik dan anggun serta tampak dewasa tidak seperti Shinta yang berpenampilan biasa saja.


SAH


SAH


Acara berlangaung sederhana itu pun atas permintaan dari Wira dan setelahnya pasangan pengantin baru itu akan pindah dan tinggal di apartemen milik Wira. Sebagai orang tua Papa Bisma dan Mama Helen tentunya akan mendukung apapun keputusan sang putra dan menantu mereka. Hal itu juga salah satu syarat yang di lberikan Wira sebab ia menerima pernikahan tersebut.


Sore harinya pasangan suami istri baru itu langsung menuju ke apartemen. Sekitar empat puluh lima menit-an akhirnya mereka pun tiba di unit apartemen milik Wira.


"Masuklah–!" Wira membukakan pintu dan masuk lebih dulu lalu, Shinta mengekorinya di belakang dengan menyeret dua koper miliknya dan sang suami.

__ADS_1


Shinta mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan mencari letak kamar Wira karena ia ingin meletakkan koper milik suaminya tersebut.Hingga ia pun memberanikan diri untuk bertanya. " Tuan. Maaf...ini koper Tuan saya taruh dimana?"


"Oh, taruh saja dikamar...itu, disana!"


Setelah menaruh koper milik Wira, Shinta pun kembali keluar dan berdiri didekat kopernya.Gadis itu bingung dimana kamar yang akan ia trmpati jadinya ia hanya berdiri saja menunggu perintah dari suaminya.


Wira yang sejak tadi duduk disofa dan tengah sibuk dengan ponselnya tak memperhatikan Shinta yang masih berdiri tak jauh darinya. Menyadari hal itu Wira pun menoleh dan langsung menegurnya. "Loh, ngapain kamu masih berdiri disitu, dan itu kenapa kopernya tidak dimasukkan kedalam kamar sekalian?"


"Maaf, Tuan.itu juga yang ingin saya tanyakan. Kamar yang akan saya tempati dimana ya?" Tanya Shinta yang agak takut kalau suaminya itu marah.


"Kamarku ya kamarmu juga. Kita ini kan sudah menjadi suami istri. Sudah sana masukkan dan rapikan sekalian pakaian-pakaianku kedalam lemari!" Wira memberi perintah dengan mengibaskan tangannya. Shinta pun patuh lalu, bergegas masuk kekamar Wira.


"Ini jadi beneran kami akan menjalani kehidupan pernikahan selayaknya suami istri pada umumnya dan itu artinya kami akan melakukan itu? Ya tuhan, bagaimana ini aku belum siap kalau tuan muda meminta itu." Sambil memasukkan dan merapikan pakaian Wira dari koper kedalam lemari. Pikiran Shinta berkecamuk antara takut dan kewajiban yang harus ia tunaikan sebagai seorang istri.


"Sudah selesai beres-beresnya? kamu mandi duluan sana, setelah itu kita makan malam lalu bersiaplah untuk melakukan malam pertama!"


DEG


"Tidak. Persiapkan dirimu baik-baik!" Wira langsung meninggalkan Shinta yang terdiam mematung


Menghela nafas panjang lalu, Shinta bergegas masuk kekamar mandi dengan membawa baju ganti. "Apa yang harus aku lakukan agar itu tidak terjadi? Tapi, jika aku menolaknya pasti tuan muda akan marah."


Hampir setengah jam Shinta berada didalam kamar mandi dan Wira tak sabar karena ia harus menjntaskan panggilan alam dan Shinta malah tak keluar-keluar. "Ck...ni bocil ngapain sih lama banget didalam. Semedi apa gimana."


Dug dug dug


"Hei, Shinta. Ngapain sih didalam .Cepat keluar, aku sudah tidak tahan!" Wira menggedor-gesor pintu kamar mandi.


Sementara didalam sana Shinta bertambah kalut, mendengar perkataan ambigu Wira membuat pikiran gadis itu jadi travelling kemana-mana. Terutama adegan malam pertama yang akan mereka praktekkan secara langsung.


"Hei Shinta, kamu tidur apa gimana? Cepat buka sekarang juga...aku hitung sampai tiga. Satu....dua....ti–."


Ceklek

__ADS_1


"Ma–maaf Tuan Muda. Tadi perut saya agak sakit dan sepertinya saya tidak bi–."


"Sudah-sudah,minggir kamu....aku sudah kebelet sejak tadi!" Wira menarik tangan Shinta agar keluar lalu, ia langsung menerobos masuk kedalam kamar mandi. Mentup pintunya dengan kencang.


BRAKK


Memegang dadanya, Shinta dapat bernafas lega karena apa yang ia kira ternya tidak terjadi. "Wuhh...syukurlah, aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Ternyata dia cuma mau kebelakang." Shinta terkekeh geli sendiri akan pikiran anehnya.


Makanan yang dipesan Wira telah terhidang diatas meja makan. Kini mereka tengah menikmati makan malam berdua untuk pertama kalinya sebagai pasangan pengantin baru. Shinta masih merasa canggung harus duduk semeja dan makan bersama dengan suami yang masih ia anggap sebagai majikannya.


"Makan yang banyak, kamu akan memerlukan tenaga super extra nanti saat kita bercinta!"


Uhuk uhuk


"Kalau makan tu hati-hati, ini minumlah!" Melihat Shinta tersedak, sontak Wira menyodorkan gelas yang berisi air putih pada sang istri.


"Terima kasih, Tuan Muda."


Usai makan malam, Wira masuk kedalam kamar sedangkan Shinta membereskan meja makan lalu, mencuci peralatan makan bekas makan tadi. Shinta sengaja berlama-lama dan ketika masuk nanti ia berharap suaminya telah tertidur. "Semoga saja dia sudah tidur duluan." Do'a Shinta.


Shinta melangkahkan kakinya perlahan-lahan memasuki kamar yang tampak tamaram hanya lampu tidur saja.yang menyala. Mengedarkan pandangannya dan berpikjr dimana ia harus tidur. Sedangkan hanya ada sofa yang tidak terlalu besar. Bahkan tubuh Shinta yang mungil tak muat jika rebahan sofa itu.


Samar-samar ia bisa melihat jika Wira telah memejamkan matanya dan itu membuat Shinta merasa lega. "Syukurlah dia sudah tidur." Shinta agak mendekat ingin memastikan apakah suami barunya itu benar-benar sudah tertidur. Namjn, tiba-tiba–.


SRETT


BUGH


"Aakhh–!"


"Ayo, lakukan malam pertama kita!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2