
Pertemuan mereka yang tidak disengaja membuat Vania jadi salah tingkah.Pasalnya saat ini ia sedang bersama dengan Liam.
Tampak raut wajah Dariel seketika berubah melihat tangan Liam yang mengapit pinggang Vania posesif seakan ingin menunjukkan bahwa Vania adalah miliknya. Sedangkan Vania merasa sedikit risih akan perlakuan Liam padanya apalagi didepan boss nya.
"Oh, iya kebetulan sekali kita bertemu Tuan Lawrence. Apa anda hendak makan juga di restauran ini?" Liam yang menjawab pertanyaan Dariel.
Bukannya menjawab pertanyaan Liam, Dariel malah fokus menatap Vania dengan sorot mata tak dapat ditebak.
"Ekhem–maaf Tuan Dariel. Kalau begitu kami duluan. Permisi." Liam tak ingin berbasa basi lagi karena ia tahu Dariel ada rasa dengan Vania, calon istrinya.
Lamunan Dariel buyar ketika menyadari Vania dan Liam telah melangkah menuju ke sebuah mobil yang telah berhenti di depan restauran dan wajah Dariel kembali terlihat muram ketika melihat tengan Liam merangkul mesra pinggang Vania. Sedangkan sang gadis terlihat tak berkeberatan akan hal itu.
"Tuan–Tuan Dariel, mari kita masuk Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu anda." Bobby sang asisten memanggil atasannya yang masih terbengong menatap mobil Liam yang telah berangsur menjauh dari restauran.
"Apa? Hmm...iya, aku tahu." Dan dengan tak bersemangat Dariel pun memasuki restauran untuk menemui kedua orang tuanya.
Sepanjang perjalanan Vania tampak terdiam, gadis itu seperti tengah memikirkan sesuatu. Dari raut wajahnya yang tampak risau. Liam bisa menebak jika itu pasti karena pertemuan mereka dengan Dariel Lawrence. Liam jadi penasaran sebenarnya ada hubungan apa antara Vania dan Dariel. Bukankah mereka itu hanyalah seorang atasan dan bawahannya. Bahkan posisi Vania di perusahaan besar itu hanyalah seorang karyawan cleaning service.
"Ehem–vania, aku harap secepatnya kita akan pulang. mama dan papa pasti akan senang dapat berkumpul lagi dengan cucu pertama mereka."
Vania menoleh sekilas lalu, kembali mengalihkan pandangannya kearah samping kaca mobil. Ia masih bergelut dengan berbagai pikirannya. Terutama soal pekerjaannya di Lawrence Group. Bagaimana tidak kepikiran, Vania bahkan belum sampai dua bulan bekerja. Sedangkan ia telah menandatangani kontrak kerja selama satu tahun kedepan.
Dan jika ia sampai memutuskan kkntrak secara sepihak maka, ia harus menanggung konsekiensinya dengan membayar pinalti sebesar sepuluh kali lipat dari gaji yang ia terima.Ia bingung dari mana ia bisa mendapatkan uang sebesar itu. Sungguh kepalanya jadi semakin pusing. Belum lagi si tuan pemaksa itu mendesak agar secepatnya untuk imut dengannya.
"Tidak bisa semudah itu,Tuan. Saya masih mempunyai kewajiban menyelesaikan pekerjaan saya. Karena saya telah menandatangani kontrak kerja dan saya akan menyelesaikan kontrak tersebut selama satu tahun."
__ADS_1
Sontak Liam menepikan kendaraannya dan berhenti sejenak ingin lebih mendengarkan dengan jelas apa yang di ungkapkan oleh Vania mengenai pekerjaannya. Tentu saja Liam tidak akan membiarkan halitu terjadi. Ia harus menunggu satu tahun lagi agar dapat berkumpul dengan anak dan istrinya.Ralat belum sah tapi masih calon istri.
"Apa kamu bilang? kamu menyuruhku menunggu satu tahun lagi dan setelah itu kita baru bisa menikah dan bersama?no way...berapa uang pinalty nya, sebutkan jumlahnya?" Liam langsung to the point tak ingin berbasa-basi lagi. Sudah cukup penantiannya selama ini. Ia tidak akan pernah melepaskan Vania dan Kiano lagi. Mereka adalah segalanya bagi Liam.Ya, Liam yang sekarang telah berubah 180 derajat tidak seperti Liam yang dulu lagi.
Karena tak mendapatkan jawaban dari Vania. Liam pun mengulangi pertanyaannya." Cepat katakan berapa? Aku yang akan membayarnya."
"Tidak usah. Tuan tidak perlu melakukannya, saya akan menyelesaikan sendiri." Vania tetap kekuh dengan pendiriannya yang akan menyelesaikan kontrak kerjanya.
Liam semakin geram dan gemas dengan Vania yang begitu keras kepala itu." Cepat katakan jika tidak aku akan menciummu saat ini juga dan ditempat ini.Pilih mana?"
Mata Vania membulat sempurna mendengar ancaman Liam yang tak pernah main-main itu. Terpaksalah ia mengatakan jumlah uang pinalti yang harus dibayarnya. "Iya iya, jumlah 40 juta." jawabnya lesu.
"Ternyata cuma segitu. Ya sudah, besok kita akan mengurusnya dan setelah selesai urusanmu disini kita akan langsung berangkat." Titahnya lagi.
"Hah–kenapa buru-buru sekali sih? saya bahkan belum–"
Vania menghela nafas kasar, belum juga sah menjadi istrinya sudah di cemburui sedemikian rupa. "Apa anda sedang cemburu dengan Tuan Dariel?"
Liam memicingkan matanya."Aku cemburu...sama si Dariel itu. Sorry ya ngak level. Aku cuma tidak ingin apa yang sudah menjadi milikku di inginkan oleh orang lain. Kamu dan Kiano hanya milik Liam Tarendra Ghazala."
"Hem–terserah anda lah. Ayo cepat jalan, Kiano pasti sudah sangat kehausan. Aku takut asi nya sudah habis."
"Masa' sih sudah habis? Memangnya biasanya kamu menyetok berapa botol? Apa asi mu tidak cukup untuk Kiano." Liam melirik kearah dada Vania. Sontak Vania memelototi Liam dan menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Ish–dasar mesum. Kurang kerjaan sekali sih anda mengurusi hal-hal begituan. Tak tahu malu." Vania mendumel sebal.
__ADS_1
Sedangkan Liam sama sekali tak merasa tersindir dengan memasang wajah tak berdosanya daddy dari Kiano itu malah mesam mesem tak jelas. " kita lihat saja nanti, kamu pasti yang tidak tahu malu. Malah menawarkan diri untuk di–."
"Stop–bisakah anda tidak berpikiran mesum terus? Bikin merinding saja."
"Merinding-merinding nikmat, ya kan mommy nya Kiano?" Liam semakin ingin menggoda Vania.
Sepanjang perjalanan keduanya selalu saling sindir menyindir. Namun, hubungan Liam dan Vania malah tak sekaku biasanya. Mereka terlihat seperti pasangan romantis yang menggemaskan.
Akhirnya merekapun tiba di rumah setelah sebelumnya Liam mengajak Vania berbelanja segala kebutuhan rumah dan Kiano. Sebenarnya Vania merasa tak enak menerima pemberian dari Liam. Namun, Liam mengatakan jika apa yang ia lakukan sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang ayah.Dan akhirnya Vania pun menuruti apa yang diinginkan Liam.
Setelah menyusui dan menidurkan Kiano Vania kembali bergabung dengan Liam dan bu Wulan untuk melanjutkan obrolan mereka.
"Jadi bagaimana keputusan kalian.Ibu harap Vania mengambil keputusan yang tepat."
"Iya bu, Vania sudah memutuskan akan ikut pulang bersama Tuan Liam. Semua itu aku lakukan demi masa depan Kiano. Aku tidak boleh egois ada Kiano yang begitu berharga untuk kuperjuangkan, bu.Maka dari itu Vania harus pergi dan mohon maaf karena selama ini selalu merepotkan ibu." Kedua manik mata Vania mulai berkaca-kaca ada rasa tak rela meninggalkan wanita yang begitu baik itu.
"Bagaimana jika ibu ikut kami saja? rencananya kami akan tinggal di rumah kami sendiri dan seandainya nanti Vania hamil lagi, Kiano–"
Plakk
"Tuan ngomong apa sih? Siapa juga yang mau hamil lagi. Jangan ngadi ngadi ya anda."
Bukannya malu dengan kehaluannya, Liam malah menyengir kuda tak perduli Vania yang sudah memasang wajah jutek padanya. Sedangkan bu Wulan mengulum senyumannya dan menahan agar tidak tertawa mendengar keabsurd tan Liam.
"Iya iya, dengan senang hati ibu pasti akan membantu Vania. Malah ibu seneng akan mendapat cucu lagi."
__ADS_1
"Ibu–." Vania merajuk manja.
bersambung