
Setelah menerima panggilan telpon dari sang ostri, Liam bergegas pulang dan menyuruh sang asisten agar menghandle meeting yang baru saja akan dimulai. Mendengar suara Vania yang menagis membuat Liam tak tenang.
Asesampainya dirumah Liam segera mencari keberadaan sang istri yang masih berada.diruang keluarga bersama dengan Kiano.
"Bunda, ada apa hemm?" Menghampiri Vania lalu, duduk disebelahnya dan menatap lekat mata cantik sang istri yang memerah sehabis menangis.
Vania langsung memeluk Liam menumpahkan kesedihannya. Melihat kesedihan istri cantiknya tentu saja membuat Liam ikut merasakan apa yang tengah di rasakan Vania. "Sebenarnya ada apa? Siapa yang telah menyakiti bunda?"
"Tanyakan saja sama putra kebanggaanmu itu, apa yang telah dia pwrbuat."
Liam beralih menatap Kiano dengan seringai penuh tanya. "Apa yang telah kamu lakukan boy, hingga membuat bunda mu menangis?"
"Itu Yah, Kiano telah menodai Inara dan dia hamil." Kiano kembali menundukkan wajahnya tak berani menatap mata sang ayah yang seketika terpancar kilat penuh amarah.
"Apa yang barusan kau katakan? Kau telah menghamili Inara?" Kiano pun mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan sang ayah.
PLAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sebelah kiri Kiano hingga meninggalkan bekas kemerahan dan juga setetes cairan merah yang keluar dari sudut bibir Kiano. "Brengsek....siapa yang mengajarimu memperlakukan seorang wanita sekeji itu,hah?"
"Maaf, Yah. Waktu itu Kiano tidak sengaja melakukannya." Kiano memegangi pipinya yang terasa kebas akibat tamparan keras dari sang.Ayah. Bahkan Vania sampai memekik karena begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"MAS–sudah hentikan! Kasihan...Kiano adalah putra kita." Vania menghampiri sang putra lalu, mengusap pipi yang terkena tamparan Liam.
Pembelaan dari Vania pada sang putra tidak mempengaruhi emosinya yang kini kian meledak. " Katakan, kapan kejadian itu terjadi dan dimana kau menodai gadis itu,hah!"
Kiano yang sudah duduk dan didampingi Vania sontak mendongak dan menatap Liam yang masih dalam posisi berdiri sambil berkacak pinggang menatap tajam sang putra.
"Saat di Villa waktu itu Yah." Jawab Kiano jujur.
"Apa? Di Villa....itu sudah beberapa bulan yang lalu, bukan? Artinya kandungan Inara saat ini telah memasuki bulan keempat.Ya Allah, nak. Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang. Kasihan Inara, dia pasti begitu kalut dan ketakutan karena bingung tentang nasibnya dan janinnya. Calon cucu bunda dan ayah. Tega sekali kamu nak. Sekarang Inara telah pergi membawa calon anakmu sendiri. Bunda curiga apa jangan-jangan kamu telah mengatakan sesuatu yang membuat Inara sampai nekat seperti itu."
__ADS_1
"Aku cuma meminta waktu padanya untuk menunggu sampai aku memberitahukan hal itu pada bunda dan ayah. Mungkin Inara tidak sabar menunggu dan salah paham mengira jika aku tidak ingin bertanggung jawab." Kiano mencoba membela diri agar orang tuanya tidak berpikir jika dia bukanlah laki-laki pengecut.
"Tidak. Kamu pasti telah mengatakan sesuatu yang membuat Inara sampai mengambil keputusan untuk pergi dari rumah ini. Kiano....bunda tidak pernah mengajarkan anak-anak bunda untuk berbuat hal yang tidak baik pada orang lain. Benar kan apa yang bunda katakan? Kamu telah menyakiti hatinya." Vania sudah bisa menebak apa yang telah diperbuat putranya pada Inara, gadis itu pasti juga merasa rendah diri karena statusnya yang hanyalah seorang pembantu dirumahnya.
"Maafkan Kiano, Bunda." Kiano menggenggam tangan sang bunda memohon untuk dimaafkan.
Vania melepas tangan Kiano dari tangannya. Kemudian menatap nanar wajah putra kesayangannya itu. "Kalau kamu ingin bunda maafkan. Maka, carilah Inara sampai dapat lalu bawa dia pulang kembali kerumah ini. Setelah itu nikahi Inara!"
"Baik Bunda, akan Kiano lakukan. Kalau begitu Kiano pergi dulu."
Sementara itu Inara yang berjalan tanpa arah dan tujuan. Tanpa terasa ia telah berjalan cukup jauh sejak turun dari angkot. Ia bingung akan pergi kemana, apa lagi tak ada satu kerabatpun yang ia miliki di ibu kota ini.Inara tidak mungkin pulang ke kampung halamannya dalam keadaan dirinya yang hamil seperti ini. Bisa-bisa ibu nya bakal kena serangan jantung mendadak melihat putrinya yang sudah tidak utuh lagi apalagi dengan adanya janin di rahimnya, tentu saja sang bunda tidak akan bisa menerima kenyataan bahwa Inara hamil diluar nikah. Dan apa lagi kata para tetangga didesanya yang lidahnya lebih tajam dari pada silet. Sungguh, Inara tak akan tega melihat ibu yang sangat di sayanginya terluka karena dirinya.
Perutnya sudah terasa keroncongan, ia bahkan tidak sempat sarapan karena terlalu fokus dengan pelariannya. Inara takut jika, rencananya akan ketabuan oleh majikannya.
KRUKKK
"Kamu sudah lapar ya, nak? Maafkan ibu ya.Ayo, kita cari makan dulu." Inara mengusap-usap perutnya, merasa bersalah karena ceroboh tidak mengingat jika ada anaknya yang juga butuh makan. "Ah, itu dia ada warteg. Kita makan disana saja ya, nak."
"Hei–stop stop, Jay! Itu....lihat! Bukankah itu si Inara?" Erwin yang duduk di samping Jay menunjuk kearah depan tepat dimana Inara hendak menyeberang jalan.
Mobil yang dikendarai Jay juga sedang melintas dijalan itu dimana Inara berada. Jadi, ketiga pria muda tampan itu sedang dalam perjalanan menuju ke kampus. Hingga tanpa sengaja penglihatan Erwin menangkap sosok gadis yang sangat mereka kenal yaitu Inara seorang asisten rumah tangga di rumah Kiano, sahabat mereka. "Eh, iya Jay. Beneran itu Inara. Tapi, ngapain dia disini?" Tony juga membenarkan jika yang mereka lihat saat ini adalah Inara.
"Mau kemana dia? Bentar ya guys gue samperin dia dulu." Keduanya pun mengangguk setuju.
Ketika Inara baru akan melangkah masuk kedalam warteg tersebut, tiba-tiba ia merasakan ada yang menepuk pundaknya. Refleks Inara menoleh dan betapa terkejutnya ia bahkan sampai syok bukan main saat melihat Jay yang telah berdiri di belakangnya dengan tersenyum hangat pada nya.
"Ma–mas Jay! Se-sedang apa mas Jay disini?" Tanya Inara berusaha meyembunyikan kegugupannya. Bagaimana tidak, laki-laki yang saat ini.berada dihadapannya adalah teman dari Kiano, laki-laki yang ingin ia jauhi.
Kening Jay mengkerut, "Loh, seharusnya aku yang bertanya sedang apa kamu di tempat ini? Lalu, tas itu....apa kamu–?"
"Oh, iya mas. Saya sudah tidak bekerja lagi di rumah pak Liam. Saya ingin pindah kerja ke tempat lain saja. Maaf, Mas. Saya mau ke warung ini."
__ADS_1
"Kamu belum makan? Ayo, ikut aku saja. Itu dimobil juga ada Erwin dan Tony. Kita makan bareng yuk." Tanpa menunggu persetujuan dari Inara, Jay langsung mengambil alih tas jinjing milik Inara. Lalu, menggandeng tangan Inara kembali menyeberang jalan menuju ke mobil Jay yang terparkir di pinggir jalan.
Jay membukakan pintu depan dan menyuruh Erwin untuk pindah ke kursi belakang. Erwin pun segera pindah lalu, mempersilahkan Inara untuk masuk dan duduk tepat di samping kursi pengemudi. "Hai....Nara, ayo masuklah!" Erwin menyapa dengan tersenyum ramah begitu pun Tony melakukan hal yang sama. Sikap ketiganya memang begitu bersahabat dengan Inara meskipun gadis itu hanyalah seorang pembantu.
"Mas Erwin dan Mas Tony."
Jay kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tak berapa jauh, mobil itu pun berbelok memasuki sebuah restauran.Ya, seperti yang dikatakan Jay tadi bahwa mereka akan makan bareng. Padahal Inara tahu pasti jika, ketiganya pasti juga sudah sarapan pagi. Dan saat ini juga belum masuk waktunya makan siang. Karena masih jam sepuluh pagi. "Emm...mau apa kita ketempat ini, mas?"
Ketiga pria tampan itu pun terkekeh mendengar pertanyaan Inara. "Ya ampun ,Nara. Ini kan restauran tempat untuk makan. kita mau makan lah masa' mau menari." Kelakar Erwin sekaligus mengajak bercanda Inara agar gadis itu tidak tegang. Karena tampak jelas jika Inara saat ini tengah gugup dan tak nyaman.
"Sudah-sudah, lo pada jangan nggodain Inara terus. Ayo kita makan....perut gue juga dah keroncongan ini." Jay menegur kedua sahabatnya.
' Kenapa kamu bisa berkeliaran dijalan seperti ini, Nara? Apakah kamu diusir oleh mereka. Ah, sepertinya kalau tante Vania tidak akan tega melakukan hal itu.Aku akan mencari tahu apa yang telah terjadi.' Jay bermonolog dalam hati. Penasaran dengan keadaan Inara saat ini.
Usai makan, mereka pun bergegas menjnggalkan reatauran tersebut. "Nara, setelah ini tujuanmu mau kemana?" Tanya Jay.
"Emm–belum tahu, Mas. Saya rencananya mau mencari pekerjaan baru. Tapi, ya gimana nanti saja." Jawab Inara jujur.
"Begitu ya. Lalu, sekarang kamu mau pergi kemana?" Erwin pun ikut penasaran dan bertanya juga.
Inara mengatakan jika, ia akan mencari kontrakan atau kos-kosan sederhana untuk nya menetap sementara dan segera akan mencari pemerjaan. Ketiganya pun merasa iba dengan nasib gadis malang itu. Mereka bisa melihat dengan jelas perut Inara yang tampak membuncit. Ya, kandungan Inara memang sudah memasuki bulan keempat. Mereka tidak tega melihat Inara berkeliaran sendirian dijalan. Akhirnya Jay menawarkan diri agar Inara tinggal di apartemen miliknya saja.
"Jangan sungkan Nara, aku tidak akan ikut tinggal di sana kok. Kamu santai saja."
"Tapi, Mas. Saya tidak enak terus merepotkan Mas Jay." Inara merasa tak enak hati dan juga sungkan menerima bantuan dari Jay.
"Sudahlah, Nara. Terima saja. Kami juga tidak ingin kamu berada ditempat yang belum tentu aman. Apalagi dengan keadaanmu yang–." Erwin tak melanjutkan perkataannya karena tidak ingin membuat gadis itu bersedih.
Akhirnya Inara pun menerima tawaran dari Jay. Dan mereka bertiga mengantarkan Inara ke apartemen Jay.
Bersambung
__ADS_1