
Rasanya sangat nyaman bisa tidur diatas kasur empuk dan selimut yang begitu lembut. Sebenarnya Shinta tidak keberatan jika ia harus tidur di kamar yang lain. Namun, Wira melarangnya dengan mengatakan mereka telah menjadi pasangan suami istri yang sah jadi, mereka memang seharusnya tinggal dalam satu kamar dan tidur seranjang.
Walaupun mereka tidak saling mencintai tepatnya belum dan seperti yang dibilang Wira jika, mereka akan menjalani kehidupan pernikahan layaknya pasangan suami istri normal lainnya termasuk juga dalam urusan ranjang. Mereka akan melakukan kewajiwan untuk yang satu itu. Dan Shinta tidak boleh menolaknya.
Wira dan Shinta kini sudah bersiap untuk tidur. Shinta meletakkan guling ditengah sebagai pembatas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh Shinta. Apa yang dilakukan istrinya itu membuat Wira tidak suka. Ia pun langsung meraih guling tersebut lalu melemparnya kesembarang arah dan sontak membuat Shinta terlonjak kaget tak mengerti kenapa Wira bersikap seperti itu.
"Tuan–kenapa gulingnya dibuang?" Tanya Shinta.
" Untuk apa disekat pakai guling segala. Lagi bocor juga memangnya mau ngapain?" Jawab Wira mencibir.
Shinta pun akhirnya hanya terdiam, ia malas untuk berdebat lagi dengan suami dinginnya itu. "Ah, masa bodo. Lebih baik tidur saja." Membalikkan tubuhnya dengan posisi menyamping membelakangi Wira.
Pagi harinya Shinta telah berkutat didapur memasak untuk sarapan pagi seperti yang biasa ia lakukan di kediaman Ghazala." Akhirnya rampung juga. Sekarang tinggal membangunkan tuan muda." Kemudian Shinta melangkah masuk kedalam kamar berniat untuk membangunkan suaminya karena jika sampai kesiangan bisa-bisa ia akan kena semprot lagi.
"Hhh—." Menghela nafas panjang, sebenarnya ia malas untuk membangunkan Wira. Tapi, bila tak ia lakukan resikonya akan jauh lebih besar.
"Ehem, Tuan muda bangun, sudah jam setengah tujuh nanti anda akan kesiangan." Namun seruan Shinta tak ada respon dan matanya masih terpejam. Perlahan tangan Shinta menyentuh lengan Wira dan mencoba memanggilnya lagi. "Tuan muda, ini sudah pagi. Bangunlah nanti anda bisa telat kekantor!' Tetap tak ada reaksi apapun.
"Aduh, susah amat ni orang dibangunin. Bisa kesiangan nanti aku kekampusnya." Shinta kesal karena ternyata tidak gampang membangunkan Wira.
"Bagaimana ya caranya agar dia mau bangun? Apa perlu disiram pakai air, yang ada malah aku yang kena damprat tuan muda. Aku akan coba srkali lagi."
Ia kembali mengguncang-guncang lengan Wira dan bersuara agak keras. Dan–.
Srettt
Malah tangan Shinta yang ditarik hingga ia terjatuh tepat diatas tubuh Wira dan bukan itu saja, tubuh mungil Shinta di dekapnya erat seperti bantal guling yang empuk. Tiba-tiba gadis itu merasakan sesuatu yang terasa menonjol dan keras.
__ADS_1
Gadis itu tersentak kaget dan terbelalak ketika menyadari apa itu, refleks Shinta pun memberontak ingin melepaskan diri namun, hal itu justru membuat Wira terbangun dan tak kalah terkejutnya ia menyadari tengah memeluk istri mungilnya itu. Wajahnya pun seketika memerah ketika sadar jika senjatanya yang sedang on. Itu biasa dialami oleh laki-laki normal di pagi hari.
"Hei, ngapain kamu peluk-peluk aku. Jangan-jangan kamu sengaja ya ingin menggodaku? Ck...ngak nyangka ya ternyata kamu tidak sepolos itu. Minggir, aku mau mandi." Wira melepaskan pelukannya dan mendorong Shinta hingga gadis itu jampir saja terjengkang jatuh dari atas tempat tidur.
"Aakh– dasar kurang ajar." Shinta menyiapkan satu stel pakaian formal untuk sang suami. Ia menjalankan tugasnya sebagai seorang istri sesuai dengan isi dari perjanjian yang telah mereka sepakati. Usai menyiapkan segala kebutuhan sang suami.Kemudian Shinta beranjak keluar kamar menuju ke meja makan menunggu sampai suaminya selesai bersiap-siap.
Setengah jam kemudian Wira muncul dan tampak telah rapi dan gagah dengan stelan jasnya yang berwarna biru dongker. Shinta sempat terpana namun, sedetik kemudian ia pun tersadar jika tak seharusnya ia mengangumi suaminya itu. Shinta sadar diri siapa dirinya.
"Ekhem–kenapa kamu malah berdiri saja disitu? Duduklah.... apa kamu tidak ingin sarapan." Wira menarik satu kursi lalu mendudukinya. Matanya melirik Shinta yang tak juga duduk. "Kamu tidak dengar apa yamg aku bilang barusan?"
"Eh, bukan itu. Saya dengar kok, Tuan. Anda sarapan duluan saja, saya nanti saja setelah Tuan selesai."
"Kenapa begitu. Kamu itu sekarang istriku bukan pembantu seperti dulu. Duduk dan kita sarapan bersama. Mulai hari ini kamu harus menyesuaikan diri dan tinggalkan kebiasaan lamamu itu."
Akhirnya Shinta pun duduk menemani suaminya sarapan. "Baik, Tuan muda."
Usai sarapan Wira pun bergegas berangkat ke kantor. Sedangkan Shinta harus membereskan meja makan dan mencuci peralatan bekas mereka makan tadi. Shinta menghela nafas berat."Hh...akhirnya aku bisa melewati hari pertama menjadi istri seorang Wira Bheru Ghazala. Pria dengan sejuta pesona. Aku harap kedepannya bisa bertahan demi ibu. Aku tidak boleh mengecewakannya."
Wira mendengus sebal dengan ucapan sang papa."Ngapain sih Pa, lagian buat apa juga kami berduaan wong ngak bisa ngapa-ngapain juga. Lagi bocor dia." Jawab Wira dengan jujur dan tanpa malu.
Mendengar penjelasan Wira, Papa Bisma tersenyum samar. Ia ingin mentertawakan Wira namun, melihat wajah suram putranya itu dia jadi tak tega. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya dimalam pertama pernikahan mereka tidak bisa na ni nu. Pasti kepala atas dan bawahnya pusing. Itulah bayangan Papa Bisma tentang nasib Wira. Zonk di malam pertama.
"Ehem–sudah tidak apa-apa, namanya juga sudah panggilan alam. Nanti juga kalian bisa melakukannya. Sabar ya Son!" Papa Bisma menepuk pundak Wira memberi support pada putranya.
Saat keduanya tengah asik berbincang mengenai perusahaan. Tiba-tiba muncul Liam dan ia juga terkejut melihat keberaan adiknya itu. "Wira, kamu datang. Lalu, Shinta kamu tinggal sendiri setelah semalam... " Liam tidak melanjutkan perkataannya karena mendapatkan kode gerakan menyilangkan tangan dari sang papa dan Liam pun paham. Jadi, dia tak lagi bertanya.
"Sabar ya bro, ngak lama kok. Paling juga cuma seminggu!" Memang dasar si Liam. Sudah di peringati malah langsung bicara blak-blakan seperti itu pada adiknya.
__ADS_1
"Hemm–." Jawab Wira malas.
Akhirnya Bapak dan kedua putranya itu terlibat dalam perbincangan serius mengenai perusahaan dan jabatan yang akan di sandang Wira selaku penerus tampuk pimpinan di perusahaan keluarga Ghazala.
Sekarang kita beralih ke kampus dimana Shinta tengah menimba ilmu. Gadis itu tampak tak bersemangat. Pernikahannya yang begitu cepat dan mendadak membuat hatinya tak tenang. Menyandang status sebagai seorang istri saat ini tak pernah terpikirkan olehnya.
"Woyy—melamjn aja? Shinta, aku perhatikan belakangan ini sering sekali melamun. Ada apakah gerangan, bestie?" Tari tiba-tiba datang dan mengagetkan Shinta. Tentu saja Shinta sangat terkejut.
"Astagfirullah, Tari. Kamu itu bikin kaget aja sih. Untuk aku ngak punya riwayat penyakit jantung. Jika iya, dah semaput aku."
Tari pun ikut duduk tepat disamping Shinta.Menatap penuh selidik wajah sang sahabat yang tampak lesu."Ada apa bestie, ayo ceritalah sahabatmu ini akan selalu setia mendengarkan curhatmu."
"Ih, apaan sih kamu Tar. Nga ada apa-apa kok. Aku cjma lagi ngak mood aja. Biasa hari pertama." Jawab Shintadan Tari pun paham dan hanya menggut-manggut saja.
"Eh, Shin. Kira-kira dia bakal datang lagi ngak ya kekampus kita ini?Kalau ada dia bagaikan oasis ditengah.padang pasir sungguh adem rasanya, Shin." Tari senyum-senyum sendiri tidak jelas membuat Shinta heean kenapa sahabatnya itu jadi berubah alay begitu.
"Ah, alay kamu Tar. Dia....siapa yang kamu maksud?" Ternyata Shinta masih beljm ngeh siapa orang yang dimaksud oleh Tari.
Tari mencebik sebal pada sang sahabat. "Ck, gitu aja ngak paham juga kamu Shin Shinta. Siapa lagi kalau bukan Pak Wira Bheru Ghazala. Pria dengan sejuta pesona."
"Uhukk–."
"Ya ampun Shinta, kamu itu kenapa? Jangan bilang kamu juga terpesona dan ingin mengincarnya."
"Ngapain juga aku ngincarnya, wong dia juga udah jadi milik aku, kok." Jawab Shinta dan ia malah keceplosan.
"Apa kamu bilang, menjadi milikmu?Siapa....Wira?"
__ADS_1
"Aduh, mati aku." Shinta merutuki kecerobohannya.
Bersambung