Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
35. Kata sepakat


__ADS_3

Suara getaran ponsel Vania yang tergeletak diatas meja mengalihkan perhatian mereka. Vania pun bergegas meraih ponselnya. "Tuan Dariel–."


Mendengar Vania menyebut nama Dariel seketika membuat Liam yang tadinya tersenyum kini rona wajahnya berubah merah padam. Untuk apa Dariel seorang Ceo sampaii menelpon bawahannya dihari libur seperti ini. Liam tak suka, sebagai sesama pria ia tahu pasti gelagat tak biasa yang di tunjukkan Dariel pada Vania. Liam tidak akan membiarkannya.


"Ekhem–."


Suara deheman Liam menyadarkan Vania yang tengah terpaku melihat layar ponselnya. Vania segera mengangkat panggilan tersebut.


"Ha–halo. Iya, ada apa ya Tuan?" Tanya Vania agak sungkan. Apalagi melihat sorot mata tajam milik Liam semakin membuatnya kikuk.


"Oh, tidak ada apa-apa. Aku hanyaingin memastikan apakah semalam kamu pulang dengan selamat. Semalam aku ingin menelponmu tapi, aku berpikir kamu juga pasti sangat lelah jadi baru sekarang aku menelponmu."


"Iya Tuan. Saya baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian anda."


Liam begitu kesal sampai ia meletakkan Kiano di atas kasur dan bayi itu pun seketika langsung menangis. Sepertinya Kiano tak ingin lepas dari gendongan ayahnya.


"owee oowee ooeee–."


"Itu bayi siapa yang sedang menangis?" Dariel mendengar dengan jelas suara tangis bayi dari sebrang sana.


"Oh, i–itu bayi...ah maksud saya itu suara tangis bayi yang berasal dari televisi, Tuan."


"Begitu. Aku kira itu suara bayimu. Tapii, tidak mungkin kan. Bukankah kamu masih lajang. Sorry jika aku terlalu banyak bertanya membuat kamu tidak nyaman."


"Maaf Tuan, maksudnya apa ya?" Vania tidak paham mengapa boss nya sampai seperhatian itu pada dirinya yang hanya seorang karyawan bagian cleaning service.


"Tidak-tidak masalah kok, Tuan." Vania takut boss nya itu akan tersinggung dan pekerjaannya yang akan m3njadi taruhannya. Bisa dipecat nanti.


"Owee owee oowee." Tersengar kembali suara Kiano yang menangis. bibir mungilnya mengecap-ngecap seperti mencari sesuatu. Dan pastinya adalah sumber makanannya karena memang sejak bangun tidur belum mendapatkan jatah mimik asi nya.


"Ma‐maaf Tuan. Jika tidak ada yang dibicarakan apa boleh saya tutup. Ada hal yang harus saya lakukan. Sekali saya mohon maaf."


"Tidak apa-apa nona.Vania. Selamat berakhir pekan. Samoai jumpa di kantor esok hari."

__ADS_1


Dan Vania pun langsung menutup sambungan telepon tersebut. Lalu, beranjak mengangkat Kiano dan mendekatkanya pada. "Anak bunda apa sudah haus , nak. Ayo...ayo.mimik cucu dulu ya ganteng." Baru saja.ia akan membuka kancing bajunya namun, ia baru ingat bahwa ada Liam berada di ruangan yang sama dengannya. Vania menoleh kearah Liam yang benar saja, laki-laki itu tengah folus memandangnya.


"Ehem–Tuan, bisa anda keluar dulu...saya mau menyusui Kiano."


Liam tersentak kaget, wajahnya bersemu merah karena ketahuan memperhatikan Vania yang akan memberikan asi nya untuk Kiano. Ia sampai gelagapan." oh...i–iya. Sorry." Dengan menahan rasa malu, Liam pun beranjak keluar dari kamar Vania.


Selang setengah jam kemudian Vania telah selesai dengan kegiatannya. Stock asi untuk Kiano dirasa sudah cukup. Setelah itu Liam dan Vania pamit pada bu Wulan. Sebenarnya Vania agak tak rela meninggalkan putranya. Apalagi ini adalah hari liburnya. Harusnya ia bisa bersantai dirumah menghabiskan waktu dengan putra nya yang kini tumbuh semakin menggemaskan dan mulai bisa diajak berinteraksi.


Sepanjang jalan hening tak satu pun diantara mereka mengeluarkan suara. Sesekali Liam menoleh dan melihat Vania yang fokus menatap jalan melalui kaca jendela mobil di sampingnya. Liam menghela nafas dalam, kemudian ia pun berinisiatif memulai percakapan mengurai kecanggungan diantara mereka.


"Ekhem–mau kemana tujuan kita sekarang?"


Mendengar Liam yang bersuara, Vania mengerutkan keningnya. " Loh, bukannya Tuan yang mengajak saya keluar. Kenapa malah bertanya seperti kepada saya? Bukankah Tuan yang meminta bicara." Jawabnya masih dengan wajah datarnya.


"Oke, bagaimana kalau kita bicara di hotel tempat aku menginap?" Kali ini Liam bahkan menebarkan senyuman pada Vania. Namun, Vania hanya bersikap biasa saja.


"APAA? Saya tidak salah dengar, kan. Tuan ingin kita berbicara di kamar hotel? Maaf, saya tidak bisa. Memangnya tidak ada tempat lain apa? Jangan-jangan anda berencana mau memperkosa saya lagi." Vania yang sekarang berbeda dengan Vania si gadis lugu dan polos yang mudah di tindas. Kehidupan yang keras telah menempanya menjadi wanita dan ibu muda yang kuat dan tangguh.


Liam merutuki ucapanya yang membuat Vania jadi salah paham kembali padanya. Ia sama sekali tidak ada niatan apapun, apalagi ingin berbuat hal tak senonoh pada Vania. Liam berpikit keras bagaimana caranya agar Vania tidak marah dan mau mendengarkan penjelasannya.Ia benar-benar serius ingin bertanggung jawab dan menikahi Wanita yang telah menjadi ibu dari anaknya itu. Semoga saja pembicaraan mereka nanti tidak akan ada kesalah pahaman lagi seperti sebelum-sebelumnya.


Namun, pemikirannya dengan Vania sangat jauh berbeda. Dalam benak Vania, ia berpikir bahwa Liam mempunyai niatan terselubung."Ck...bilang saja mau modus, iya kan?" Vania melirik Liam sambil berdecak sebal.


"Oke-oke, aku minta maaf. Yang jelas aku tidak ada punya niatan apapun terhadapmu. Apalagi ingin melakukan hal itu lagi. Apakah kau maaih belum percaya akan keseriusanku ini. Aku benar-benar ingin menikahimu,Vania. Berilah aku kesempatan untuk membuktikannya." Lagi dan lagi Liam berusaha meyakinkan Vania agar mau menerima dirinya.


Vania menoleh dan menatap Liam. Liam yang sadar jika sedang tentu saja langsung menoleh dan manik mata keduanya pun sejenak saling bersitatap.


"Ada apa?" Liam yang bertanya lebih dulu.


"Eum–ini berarti kita sudah berbicara, kan dan permasalahan kita sudah selesai.. Jadi setelah ini kita bisa.putar balik pulang ke rumah. Begitupun dengan anda. Tuan bisa kembali ke


"Hah–." Kening Liam mengkerut, seenaknya saja Vania memutuskan. Mereka bahkan belum sampai ditempat tujuan. " Siapa bilang sudah selesai? Kata sepakat bahkan belum diputuskan. No, kita akan tetap bicara serius dan di tempat yang tepat bukannya di dalam mobil dlseperti ini. Sudah...kamu manut saja apa kata calon suamimu ini, oke sayang." Liam kembali menatap ke arah depan fokus menyetir.


"Hemm–dasar si tuan muda pemaksa. Seenaknya saja dia." Akhirnya Vania pun pasrah dan Liam terntu saja tersenyum bahagia karena akhirnya bisa menahlukkan sang gadis.

__ADS_1


"Good girl. Oh...sorry, maksudku good Kiano's mommy."


"Apa sih, lebay." Vania tak ingin menimpali ucapan absurd Liam. Bisa panjang urusannya.


Sepukuh menit kemudian akhirnya mobil Liam berhenti tepat didepan sebuah restauran mewah. Vania terbengong-bengong ketika memasukinya. "Tuan, kenapa mesti ketempat semewah ini? Bukankah sangat–."


"Sudah ayo masuk, kamu pikir calon suamimu ini tidak akan mampu makan ditempat ini."


"Iya iya, saya percaya Tuan sangat kaya dan tak diragukan pasti mampu membayar di restauran termewah manapun." Sindir Vania.


"Itu kamu tahu.Makannya menurutlah pada calon suami tampanmu ini." Entah kenapa saking senangnya Liam berubah menjadi laki-laki super pede dan narsis.


Liam telah memesan ruangan private agar obrolan mereka tak akan terganggu oleh para pengunjung lainnya. Setelah perbincangan yang alot, akhirnya mereka telah mendapatkan kata sepakat. Vania setuju ikut pulang ke kediaman keluarga Ghazala dan bersedia menikah dengan Liam. Itu semua Vania lakukan demi masa depan sang putra teecinta.


Orang tua boleh berselisih paham namun, jangan sampai mengorbankan sang anak. Liam dapat bernafas lega karena usaha kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Dapat membujuk Vania untuk pulang saja sudah membuatnya bahagia setengah mati. Apalagi nanti kalau mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.


"Terima kasih Vania, aku berjanji akan menjaga dan melindungi kalian. Menjadi suami dan daddy yang baik.Aku sayang padamu Vania."


"Uhuk uhuk–."


Vania yang baru saja ingin meneguk segelas air putih di tangannya seketika tersedak mendengar ucapan Liam kepadanya.


"Hati-hati, sayangku." Liam menepuk-nepuk punggung Vania.


"Tuan apa-apaan sih...ish, menyebalkan."


Mereka memutuskan untuk segera pulang karena sudah cukup lama meninggalkan Kiano. Bayi itu pasti sudah kehausan dan kangen pada bundanya.


Ketika mereka baru saja keluar dan sedang menunggu mobil mereka. Tiba-tiba ada seorang pria yang baru turun dari dalam sebuah mobil mewah.Dan ternyata laki-laki itu adalah Dariel Lawrence.


"Vania–."


"Tuan Ghazala–sedang apa kalian disini?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2