
Suara interterupsi seseorang menghentikkan obrolan mereka. Refleks Jay dan Inara menoleh kearah orang itu dan betapa terkejutnya Inara karena ternyata orang yang berdiri tepat di hadapannya adalah Kiano.
"Inara–sedang apa kamu disini? Bukannya langsung pulang malah pacaran."
"Tu–tuan Muda! ?Maaf, saya tidak pacaran sama Mas Jay. Kami hanya–." Jawab Inara terbata. Ia begitu takut jika Kiano akan mengira yang tidak-tidak dirinya dan Jay. Dan kalau sampai Vania tahu tentu saja ia merasa tak enak hati dan tak tahu diri. Hanya seorang pembantu tapi, terlalu banyak gaya pakai acara jalan berduaan dengan seorang laki-laki.
"Hanya pacaran, kan dan apakah kamu sudah meminta izin pada Bunda?" Kiano membawa-bawa nama sang bunda untuk menekan Inara.
Mendengar Kiano menyebut sang bunda sontak saja membuat Inara jadi semakin kalut dan takut jika, Vania akan marah dan yang lebih parahnya lagi ia bisa sampai di pecat. 'Aduh....bagaimana ini? Kenapa juga sih Tuan Muda Kiano bisa kebetulan berada disini juga.'
Tanpa meminta persetujuan dari keduanya, Kiano langsung menarik salah satu kursi lalu duduk dengan santainya. Ia masih menatap lekat Inara yang mimik wajahnya tampak jelas tak tenang. Dan Kiano merasa senang melihatnya. "Hei Inara, ditanya bukannya menjawab ini malah melamun. Kenapa? Bingung ya mau mencari alasan apa jika, sampai bunda tahu apa yang kamu lakukan di luar rumah." Lagi dan lagi Kiano menelan Inara hingga gadis itu tak berkutik dan bingung harus beralasan apa.
"Tuan Muda, tolong jangan beritahu bu Vania. Saya benar-benar cuma mngobrol saja dan bukan pacaran. Anda salah paham. Tanyakan saja sama Mas Jay."
Kiano beralih melihat kearah Jay dengan tatapan dinginnya. "Eh, Jay....lo main ngajak Inara pergi aja. Dia itu kan masih harus bekerja di rumah. Ngak sebebas cewek-cewek lain. Dia itu punya tanggung jawab yaitu bekerja sesuai dengan kontrak yang telah ditandatanganinya."
"Ya ampun Ki, kok lo ngegas banget sih. Inara juga manusia biasa kali dan dia masih sangat muda jadi, wajar saja kalau dia mempunyai keinginan seperti remaja-remaja putri yang lain. Ngak usah sekaku iti deh. Yuk, Nara mendingan aku anterin kamu pulang aja. Males dengerin pidato orang sombong." Jay lama-lama muak juga dengan sikap semena-mena Kiano terhadap Inara. Ya memang benar Inara bekerja dirumah sahabatnya itu tapi, tak sepantasnya Kiano seenaknya sendiri. Mentang-mentang punya kuasa.
Baru saja Jay hendak menggandeng tangan kanan Inara dan mengajaknya pergi namun, langsung dicegah oleh Kiano dengan menarik tangan kiri Inara sehingga terjadilah tarik menarik diantara ketiganya. "Lepasin ngak? kan dah gue bilang Inara itu ngak bisa keluyuran seenaknya dan dia harus segera pulang. Ayo....kamu pulang sama aku!"
Akhirnya Jay pun mengalah dan membiarkan Kiano membawa Inara pergi."Nara cantik, nanti aku hubungi kamu ya. Aku sangat berharap kamu mau." Jay berteriak dan sengaja memperpanas suasana.
"Ck–sudah ayo, tidak usah menghiraukan ucapannya." Kiano menarik paksa Inara keluar dari cafe lalu, menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir.
"Masuklah!" Kiano membukakan pintu depan mobilnya tepat di samping kursi kemudi.
"I‐iya Tuan Muda. Terima kasih."
Sepanjang perjalanan pulang, Kiano dan Inara sama-sama terdiam. Mereka bergelut dengan pemikiran masing-masing. Inara merasa bingung dan tak tahu harus bagaimana.Laki-laki disampingnya adalah ayàh biologis dari janin yang dikandungnya. Itu jika, memang ia telah benar-benar telah terbukti hamil.Sebab, hanya Kiano lah satu-satunya pria yang telah menyentuhnya. Sedangkan Kiano juga merasa bingung dan tak mengerti kenapa dia bersikap berlebihan seperti tadi. Inara kan hanya seorang pelayan di rumahnya. Lalu, apa yang telah mengganggunya. Bukankah ia mengatakan tidak akan pernah menyukai Inara yang sama sekali tak selevel dengan nya. "Hhhh....Ngapain sih gue kayak tadi?"
"Ya–barusan Tuan Muda mengatakan apa?" Inara dapat mendengar perkataan Kiano dan ia kira majikannya itu sedang mengajaknya berbicara.
Kiano yang sedang fokus menyetir tentu saja tak mengerti mengapa Inara bertanya seperti itu. Memangnya ia mengatakan apa. "Apa? Aku tidak mengatakan apapun."
__ADS_1
"Begitu ya. Maaf. Mungkin saya salah dengar." Inara kembali tertunduk, jari jemarinya saling meremas karrna ia begitu gugup. Kiano yang sempat melihat sekilas kearah Inara pun tahu jika gadis itu seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Bicaralah! Apa yang ingin kamu katakan."
"Bu–bukan apa-apa Tuan. Saya cuma ingin bertanya, waktu di Villa apa....Tuan tidak mengingat sesuatu?" Inara sangat penasaran dan ingin memastikan apakah Kiano memang benar-benar tidak mengingat kejadian saat di Villa ketika laki-laki itu telah menggagahinya secara paksa.
Kening Kiano mengkerut tak mengerti maksud dari pertanyaan Inara. "Di Villa? Apa yang mesti aku ingat? tidak ada sesuatu yang istimewa. Kalau yang kau maksud saat aku menembakm, bukankah sudah aku katakan kalau semua itu hanya kesalah pahaman dan hanya keisengan kami saja. Apa kamu masih belum paham juga dan menganggapnya serius?"
"I–iya, saya mengerti Tuan. Saya juga tidak pernah berpikir macam-macam.karena saya cukup sadar diri siapa diri saya ini."
Rasanya saat ini juga Inara ingin menangis. Matanya sudah berkaca-kaca namun, sebisa mungkin ia harus bisa menahannya.Nasib akan masa depannya kini semakin suram dan tak akan pernah ada titik terangnya. Tak ada harapan lagi untuk dirinya meminta pertanggung jawaban pada sang tuan muda. Inara langsung membuang muka kearah samping kaca jendela mobil dan tersenyum miris.
Ting
Inara langsung mengambil ponsel nya lalu, membaca isi pesan yang ternyata Jay lah si.pengirimnya.
"Nara– aku harap kamu mau ya menemaniku di pesta nanti. aku tunggu jawabanmu besok." Jay
Diam-diam Kiano memperhatikan gerak gerik Inara dari mulai membaca pesan lalu membalasnya. Seketika jiwa kepo nya meronta-ronta. "Siapa? Jay ya....mau apa lagi dia?"
Setelah menyimpan kembali ponselnya kedalam tas, kemudian ia baru menjawab pertanyaan Kiano. "Iya Tuan, itu mas Jay. Mau memastikan apakah saya mau ikut ke acara pesta ulang tahun temannya."
"Dia mengajakmu keacara malam minggu nanti?" Dan diajawab anggukkan Inara. Seketika ada rasa tak suka akan kedekatan keduanya.'ck....si Jay gercep juga dia, langsung sat set sat set ngak konfirmasi ke gue dulu main salip aja. Eh, ngapain jadi gue yang senewen sih? Itu kan bukan urusan gue. Siapa Inara juga, cuma pembantu aja. Kiano....otakku udah error ." Merutuki dirinya sendiri yang entah kenapa jadi aneh.
"Apakah boleh saya ikut bersama mas Jay, Tuan Muda? Secara anda juga kan akan hadir di pesta itu."
"Terserah, itu bukan urusanku. Kalau mau izin bilang ke bunda sama Ayah!" Inara pun mengangguk mengerti.
"Baik, nanti saya akan izin sama Ibu Vania."
'Ck, ngebet banget kayaknya pingin pergi sama si Jay.' Lahi-lagi Kiano menggerutu tak jelas didalam hati.
Jum'at sore ketika Inara sedang menyirami taman depan rumah. Tampak pak Farid security yang berjaga di gerbang depan datang menghampiri Inara sambil membawa sebuah kotak besar. " Neng Inara, ini ada kiriman paket buat eneng." Pak Farid menyerahkan kotak tersebut ketangan Inara.
__ADS_1
"Eh, paket untuk saya Pak?"
"Iya, sudah ya neng bapak balik ke pos."
"Terima kasih ya Pak Farid." Inara pun melihat dengan seksama kotak tersebut. Setelah ia menyelesaikan tigasnya kemudian ia pun menuju ke belakang tepatnya kekamarnya.
Sesampainya didalam kamar, Inara langsung membuka kotak bingkisan tersebut dan betapa terkejutnya ia saat melihat isi didalamnya. Sebuah gaun indah berwarna Hijau botol dengan panjang dibawah lutut. "Wah....cantik sekali. Ada kartunya?"
"Inara, gaun itu untuk kamu. Pakai ya diacara besok malam. Aku akan datang menjemputmu. Jangan khawatir aku sudah meminta izin sama tante Vania, kok. Sampai bertemu besok malam ya." Itulah pesan yang tertulis di kartu itu.
Ya, setelah meminta izin pada Vania, Akhirnya Inara pun mendapatman izin dari sang majikan. Vania percaya Jay pasti akan menjaga Inara dengan baik. Apalagi di acara tersebut juga akan ada putranya yang hadir diacara tersebut.
Malam Minggu
Ting tong ting tong
"Assalamuaaimum tante Vania cantik. Jay mau menjemput Inara, tante."
"Oh iya, ditunggu sebentar ya Jay. Sebentar lagi Inara selesai bersiap. Ayo, masuk.dan duduklah dulu Jay!" Vania mempersilahkan sang tamu untuk masuk dan keduanya pun berbjncang sejenak. Hingga beberapa menit kemudian Inara pun muncul dan langsung membuat Jay terperangah melihat penampilan Inara yang sangat berbeda.
"Mas Jay, Maaf ya menunggu lama."
"Inara—kamu cantik banget." Jay sampai tak berkedip seperti menatap sosok bidadari dihadapannya.
"Ma, Kiano jalan dulu ya."
"Inara–cantik." Kiano mematung di tempat yang juga terpeaona oleh penampilan Inara yang sangat cantik.
"Tante Vania, kami berangkat ya. Permisi." Sampai suara Jay yang hendak berpamitan pada sang bunda barulah Kiano.tersadar dari lamunannya.
'Shi**–dia cantik banget.'
Bersambung
__ADS_1