Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
88. Kelahiran Baby Aaron


__ADS_3

Saat ini Shinta tengah menjalani operasi cesar. Dokter memutuskan agar bayi yang ada di rahim Shinta harus segera dilahirkan karena keadaan urgen demi keselamatan keduanya.


Wira dan yang lainnya menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Terutama Wira yang tampak begitu terpukul atas kejadian yang telah menimpa istrinya. Apalagi setelah mendengar penjelasan tentang duduk permasalahannya yang ternyata hanya sebuah kesalah fahaman. Shinta dan Anton sama sekali tak memiliki hubungan apapun. Anton telah menganggap Shinta seperti adiknya sendiri. Setelah mengetahui jika, wanita yang pernah ia kagumi itu ternyata adalah istri dari sahabatnya, Wira.


"Wir, maaf ya. Kalau aku tidak mengajaknya bertemu pasti kejadian ini tak akan pernah terjadi. Dan aku ngak menyangka kamu juga sedang berada di restaurant itu."


"Sudahlah, Ton. Akulah yang lebih bersalah karena tidak mempercayai istriku sendiri. Andai Regina tidak men ghasutku untuk mempercayai jika, Shinta dan kamu diam-diam memiliki suatu hubungan dan berkhianat di belakangku. Bodoh....bodoh....bodoh!" Wira memukul-mukul kepalanya sendiri kesal dengan kebodohannya yang segampang itu mempercayai wanita licik seperti Regina.


Anton menahan tangan Wira yang terus menerus memukul kepalanya sendiri dengan cukup keras.ia merasa.iba melihat wajah frustasi Wira." Hentikan, Wir. Kita berdo'a semoga Shinta dan bayinya baik--baik saja. " Menepuk bahu sahabatnya yang tengah dilandah kegundahan itu.


Dikejauhan tampak Mama Helen, Papa Bisma, Liam dan Bi Arum yang berjalan tergesa-gesa menuju ke ruang operasi. Ya, beberapa saat ketika Shinta masuk ke ruang IGD, Tari berinisiatif menghubungi Vania. Karena hanya nomer kakak dari Shinta itulah yang dia punya. Kemudian Vania lah yang memberi kabar tersebut pada anggota keluarga yang lain. Hingga mereka pun segera berangkat menuju kerumah sakit dan kebetulan tiba secara bersamaan. Liam hanya datang bersama Bi Arum. Sedangkan Vania menunggu kabar dari rumah karena ia harus menjaga dan mengurus baby Rena.


Setelah sampai dihadapan sang putra, Mama Helen langsung mendaratkan sebuah tamparan di pipi Wira. Mama Helen begitu geram akan sikap putranya yang sangat tidak pantas itu."Bisa-bisa kamu memperlakukan istri yang sedang hamil besar sekejam itu.Kamu sadar sekarang akibat dari perbuatan biadabmu terhadap Shinta,Hah? Mama sungguh kecewa sama kamu, Wira. Sedih Mama mengetahui apa yang menimpa menantu dan cucu Mama." Mama Helen melampiaskan segala amarahnya dan rasa kecewa yang begitu mendalam pada Wira.Yang ia tahan sejak berangkat ke rumah sakit.


Sedangkan Wira sendiri hanya terdiam dalam rasa sesalnya.Papa Bisma dan Liam pun sama tak berani menghentikan Mama Helen yang sedang meluapkan kekesalannya.


"Nyonya, tolong jangan menyalahkan Tuan muda Wira. Mungkin Shinta telah melakukan kesalahan yang membuat Tuan Wira marah. Dan kejadian ini juga sudah menjadi takdir Shinta. Hanya do'a yang bisa kita panjatkan untuk keselamatan Shinta dan bayinya."


 Bi Arum merasa tidak tega melihat Wira yang di persalahkan dan disudutkan oleh Mama Helen. Menurutnya, apa yang menimpa putrinya itu sudah menjadi suratan takdir dan yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah menunggu dan berharap semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Sepanjang operasi berlangsung, semua tampak tegang. Hingga terdengar suara tangisan bayi yang begitu menggema dari dalam. Membuat semuanya tampak menghela nafas lega. Ketegangan pun mulai mencair.


Oekk oekk oekk


"Alhamdulillah."


Mama Helen dan Bi Arum spontan saling berpelukan. Kedua wanita paruh baya itu sangat bersyukur atas kelahiran cucu mereka. Bagi Bi Arum bayi Shinta adalah cucu pertamanya, sedangkan bagi keluarga Ghazala baby boy Wira dan Shinta merupakan cucu ketiga mereka.


Begitu pun para pria. Papa Bisma memeluk putra bungsunya yang baru saja berstatus sebagai seorang ayah. "Selamat ya, nak."


"Terima kasih, Pa. Aku sekarang sudah menjadi seorang ayah." Wira memeluk Papa Bisma sambil menangis haru.


Tak berselang lama pintu ruang operasi pun terbuka, dua orang perawat keluar dengan mebdorong inkubator yang didalam nya terdapat bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Kedua suster itu pun langsung bergegas membawa bayi Shinta keruang NICU karena harus segera mendapatkan perawatan intensif.


"Saya suaminya,dok." Jawab Wira. Salah satu dokter kemudian memberitahu kepada Wira dan juga didengar oleh anggota keluarga yanga lainnya mengenai kondisi terkini Shinta pasca operasi.


"Begini Pak, Alhmdulillah putra bapak lahir dengan selamat dan sehat tak kurang satu apapun. Hanya membutuhkan perawatan yang lebih intensif lagi sampai kondisinya sudah memungkinkan untuk dibawa pulang. Dan....maaf, untuk ibu Shinta saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri. Karena mengalami pendarahan yang begitu hebat serta mengalami benturan dikepala. Kami telah melakukan transfusi darah. Alhamdulillah nyawa pasien dapat terselamatkan, kita hanya bisa berdo'a dan menunggu sampai pasien sadarkan diri dari koma nya. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Pasien akan di pindahkan keruang ICU. Kalau begitu kami permisi." Setelah menjabarkan keadaan pasiennya dokter pun undur diri.


"Koma–Ma, Shinta koma Ma. Bagaimana ini?" Wira langsung terduduk lemas diatas lantai dengan berderai air mata. Ia sama sekali tak menyangka istrinya bisa sampai separah ini. Ya, Shinta mengalami koma dan Wira semakin merasa bersalah. Itu semua akibat dari keegoisannya yang tak mau mendengarkan penjelasan sang istri dan ternyata semua hanyalah kesalah pahaman saja. Amarah dan rasa cemburu membutakan mata hatinya.

__ADS_1


Mama Helen berjongkok lalu, memeluk sang putra yang sedang terpuruk.Walau bagaimana pun itu semua sudah menjadi suratan takdir. "Sudah, nak.tenangkan dirimu. Demi Shinta dan baby boy. Tetaplah berdo'a semoga Allah akan segara memberikan kesembuhan pada istrimu. Kamu harus tegar dan kuat!" Wira tak menjawab, ia hanya mengangguk dalam pelukan Mama Helen.


"Permisi, apa saya bisa bicara dengan ayah dari bayi ibu Shinta? Bisa tolong ikut saya!" Seorang dokter wanita spesialis anak menghampiri dan menanyakan ayah dari baby boy. Setelah itu Wira dengan ditemani Mama Helen dan Bi Arum mengikuti langkah sang dokter keruangannya.


Wira dan Mama Helen duduk tepat dihadapan dokter tersebut. Mendengarkan penjabaran mengenai keadaan baby boy yang harus memvutuhkan asupan asi dari ibunya.dokter menyarankan agar baby boy tetap diberikan asi milik Shinta. Walaupun ibu dari si bayi masih dalam keadaan koma namun, asi nya tetap berproduksi dengan baik dan akan di pompa dengan bantuan perawat.


"Baiklah dok, lakukan apapun yang terbaik demi istri dan anak saya." Wira menuruti semua anjuran dari sang dokter.


"Oh, seandainya produksi asi bu Shinta kurang. Kita bisa mencari pendonor asi.Itu pun jika keluarga tidak berkeberatan akan hal tersebut."


"Ada dok, kakak dari Shinta saat ini juga sedang menyusui dan bisa memberikan asi nya untuk cucu saya." Itu Mama Helen yang menjawab.


"Kebetulan sekali, itu malah lebih bagus Bu."


Vania yang diberi kabar oleh Liam pun begitu syok tak percaya jika, sang adik mengalami hal setragis itu. Dan mengenai pemberian asi nya, Vania tentu saja dengan senang hati akan meberikannya demi keponakan tercinta yang bernasib malang itu. "Iya, Mas. tentu saja aku akan memberikan yang terbaik untuk Shinta dan bayi nya."


Hampir sebulan sudah Shinta berada di rumah sakit dan keadaannya masih tetap sama, hanya saja sekarang Shinta sudah bisa dipindahkan keruang perawatan. Shinta ditempatkan diruang VVIP dan mendapatkan perawatan terbaik. Baby Aaron sudah dibawa pulanh sejak seminggu yang lalu. Ya, bayi Sinta diberi nama Aaron Arsalan Ghazala yang begitu mirip dengan ayahnya.


"Shin–cepatlah bangun, sayang. Baby Aaron sangan membutuhkan mama nya. Begitu pun Mas. Mas sangat merindukanmu. Maafkan Mas ya. I love you, Shinta." Wira menggenggam tangan Shinta dan mengajaknya berbicara. Tiba-tiba Wira merasakan gerakan tangan Shinta yang masih berada dalam genggamannya dan kelopak matanya yang mulai membuka. Seketika Wira bangkit dan langsung memanggil perawat yang berjaga.

__ADS_1


"Suster—istri saya sudah sadarkan diri."


Besambung


__ADS_2