
Perkataan Tari terhenti ketika muncul Wira yang langsung menyela ucapan hadis itu.
"Tidak ada yang terjadi! Kapan kalian datang?" Wira langsung duduk di samping Shinta yang sedang memangku Aaron. "Jagoan papa sudah mandi ya, gantengnya. Sini-sini sama Papa." Wira ingin mengambil alih Aaron namun, langsung dihentikan oleh sang istri.
"Bersih-bersih dulu mas, baru dari luar jangan langsung meganng anaknya!' Tanpa protes, Wira pun beranjak menuju ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.
Sedangkan Shinta, Tari dan Anton kembali mengobrol. " Jadi, kapan nih kabar bahagianya? Biar nanti Aaron punya teman. Ya kan, nak?"
Tari mengernyit tak mengerti apa maksud dari perkataan Shinta."Eh, Shin. Memang hubungannya apa sama Aaron?"
Shinta menepuk jidatnya, dia lupa jika sahabatnya itu terlali naif dan polos nya mint ampun kalau masalah yang beginian. Tari memang gadis pemberani dan sedikit bar-bar. Ucapannya pun kadang suka ceplas-ceplos tanpa di filtet Jadi kalau masalah yang sensitif seperti hubungan antara pria dan wanita, gadis itu sama sekali masih awam.
"Ya ampun, sampai lupa kalau sahabatku yang satu ini polosnya masih kebangetan. Kak Anton...nanti kalau kalian sudah menikah tolong ajari Tari yang telatern ya dan harus sabar. Semoga kalian akan cepat mendapatkan momongan agar Aaron punya teman baru." Shinta dengan santainya memberikan wejangan pada pria dewasa yang bahkan lebih berpengalaman darinya.
Tari yang baru paham maksud omongan Shinta yang sejak tadi didengarnya, langsung melotot pada sahabatnya itu. "Ish....Shinta, kamu ini ngomongin apaan sih? Nikah aja belum sudah bicara soal anak." Tari menatap kesal pada sahabatnya, tepatnya malu karena pembahasan yang cukup tabu itu.
Ketiganya saling melemparkan candaan dan tertawa renyah, sampai kemunculan Wira membuat mereka menghentikan tawanya. "Mas, mau makan sekarang atau nanti?oh ya, bagaimana kalau kak Anton dan Tari ikut makan malam sekalian saja. Jatang-jarang kan kita bisa kumpul bareng seperti ini. Boleh kan, Mas?" Shinta menatap penuh harap pada sang suami.
Melihat wajah imut dan tingkah menggemaskan Shinta. Mau tak mau akhirnya Wira pun menuruti keinginan istri tercintanya. "Iya, boleh....kenapa tidak. Ayo, Mas sudah lapar sekali ini."
"Eh iya, saya mau menidurkan Aaron dulu ya." Shinta beranjak menuju kekamarnya dan yang lainnya langsung beralih keruang makan. Tak berapa lama di susul Shinta kemudian mereka pun makan malam bersama dengan penuh kehangatan. Shinta tampak begitu bahagia. Apa jadinya jika, Shinta mengingat apa yang sebenarnya terjadi disaat kecelakaan yang menimpanya waktu itu.
Pagi-pagi sekali Bi Arum datang ke apartemen anak dan menantunya. Setelah ingatan Shinta telah berangsur kembali, hati Bi Arum jadi tak tenang. Manita paruh baya itu takut jika, putrinya akan kecewa untuk kesekian kali ketika mengetahui dan mengingat penyebab ia sampai mengalami kecelakaan waktu itu. Apalagi Wira yang terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak mencintai putrinya karena masih belum move on dari Vania, kakak sepupu Shinta.
Bi Arum membawa beberapa makanan kesukaan Shinta dan juga Wira. Kedatangan Bi Arum sebenarnya juga atas saran dari sang keponakan. Vania berpikir Shinta masih sangat muda dan apabila ingatannya telah kembali sepenuhnya maka, yang mereka takutkan adalah psikis Shinta yang akan tergaggu dan ibu muda itu akan terpuruk kembali.
"Shin, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kamu sudah mengingat semuanya, termasuk—."
"Kecelakaan itu,kan bu? Iya...aku sudah mengingat semuanya sejak awal dan sampai terjadinya musibah itu. Tapi, ibu jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Apalagi Mas Wira sudah meminta maaf dan berjanji akan mencintaiku. Menjadi suami dan ayah yang baik untuk Aaron."
__ADS_1
Ya, SHinta memang sudah mengingat semuanya akan tetapi ia juga telah menerima semua takdir hidupnya Dan bertekad akan melupakan kenangan pahit yang selama ini menyiksa batinnya. Menyongsong masa depan bersama keluarga kecil mereka. Shinta dapat melihat kesungguhan Wira, itu dapat terlihat dari sikap dan perilaku suaminya yang sudah berubah.
"Syukurlah, ibu khawatir jika kamu akan bersedih dan kecewa setelah mengingat apa yang terjadi pada dirimu waktu itu, nak. sekarang rasanya ibu bisa bernafas lega karena kamu baik-baik saja." Bi Arum menggenggam tangan sang putri yang hatinya sangat kuat itu.
Shinta dan Bi Arum sepakat tidak akan menceritakan perihal ingatannya yang telah kembali seutuhnya. Shinta akan merahasiakannya dari siapa pun,kecuali pada ibunya saja.
Malam ini bi Arum akan menginap. Karena Wira akan mengajak Shinta untuk makan malam romantis. Ini adalah kali pertama mereka menghabiskan waktu berduaan sebab, biasanya mereka hanya di dalam apartemen saja.
"Bu, titip Aaron ya. Nanti kalau rewel ibu telepon kami saja!" Shita dan Wira berpamitan juga menitipkan Aaron pada bi Arum.
Mereka pun tiba di sebuah gedung hotel berbintang lima. Shinta tampak begitu takjub dengan pemandangan yang begitu indah didalamnya. Mereka pun langsung menuju kesebuah kamar setelah sebelumnya Gugun, asisten Wira mengantarkan keduanya. "Mari, silahkan Pak, Bu–!" Gugun mempersilahkan boss dan istri boss nya untuk masuk.
"Oke, terima kasih Gun. Kamu sudah boleh pulang sekarang!"
"Terima kasih Pak. Mari Bu Shinta. Saya permisi." Gugun menganggukkan kepalanya.
Setelah Gugun pergi, Wira langsung membimbing Shinta dan menarik sebuah kursi untuknya. Di hadapannya terdapat meja yang diatasnya telah tertata rapi berbagai hidangan yang sangat cantik dan pastinya tak kalah lezatnya. "Mas, ini apa tidak terlalu berlebihan? Kenapa mesti pakai booking kamar segala?" Shinta begitu takjub dengan dekorasi kamar yang berukuran luas itu tampak begitu indah dan romantis seperti kamar pengantin.
"Iya deh, terserah apa kata Mas Wira saja. Tapi, kita ngak akan nginap disini kan?"
"Kalau kamu mau, kenapa tidak. Kita bisa menghabiskan malam yang indah ini dengan penuh gairah dan–."
Perkataan Wira terhenti karena trlapak tangan Shinta yang menutup mulut Wira yang berbicara terlalu blak-blakkan. "Mas, ih....mesum banget sih."
"Mesum sama istri sendiri memangnya kenapa? Ngak masalah kan. Hmm....ya sudah, ayo kita makan! Urusan tidur nanti kita bicarakan setelah ini." Mereka pun mulai bersantap malam.
Selesai dinner, mereka melihat pemandangan dari balkon kamar. Mereka bisa melihat seluruh ibu kota yang tampak indah dimalam hari. "Indah sekali, Mas. Aku baru pertama kali ini melihat pemandangan kota Jakarta di malam hari. Cantik dan....eh, Mas. Aaron bagaimana? Daya telepon ibu dulu ya."
"Sayang– kalau Aaron rewel ibu pasti akan menelpon kita,kan. Jangan khawatir lah, putra kita aman bersama dengan neneknya. Kamu apa tidak percaya sama ibu?" Wira mencoba memberikan pengertian pada Shinta agar tidak terlalu mencemaskan putra kecil mereka.
__ADS_1
Shinta pun mengangguk dan mempercayai ucapan Wira. "Trus, kapan kita pulangnya Mas? Kan kita sudah selesai makan malamnya."
Bukannya menjawab Wira malah semakin merapatkan tubuhnya dan memeluk erat Shinta dari belakang. Dagunya ia taruh di bahu Shinta sambil menghirup wangi aroma tubuh sang istri yang menenangkan.
"Mas–kok malah diam saja? Kapan kita pulangnya?" Shinta menggeliatkan tubuhnya karena merasa kegelian dengan sentuhan nakal tangan Wira yang sudah merambat kemana-mana. "Shh....Mas, geli ah."
"Geli tapi, nikmat kan?"
Plakk
Shinta memukul pelan tangan nakal Wira yang kini sudah bergerilya ke wilayah terlarang." Mas...ma–mau apa?"
"Mau memakan kamu."
KYAAA
Tanpa ba bi bu, Wira langsung membopong tubuh Shinta ala bridal style masuk kedalam kamar lalu, membaringkannya diatas ranjang king size yang diatasnya bertaburan kelopak bunga mawar merah. Dan mereka pun mulai melakukan ibadah suami istri. Menikmati malam indah dengan gejolak cinta yang membara.
Sementara itu diwaktu yang sama namun, ditempat yang lain. Liam dan Vania pun tengah bersiap untuk tidur. "Mas, tahu ngak....tadi bi Arum kasih kabar katanya saat ini Wira dan Shinta sedang menikmati makan malam romantis di hotel xxxx, loh. Aku senang deh, akhirnya hubungan mereka semakin erat sejak kejadian yang menimpa Shinta. Wira akhirnya menyadari betapa berartinya Shinta bagi dirinya."
"Iya, Mas juga ikut senang dengarnya. Emm....apa kamu juga mau makan malam di hotel berbintang seperti mereka? Sekalian kita bisa berbulan madu, bikinin adik buat Kiano dan Rena. Gimana....mau,kan bunda?"
Sontak sebuat cubitan maut pun mendarat di perut Liam, Vania mencebik sebal dengan pikiran nyeleneh suami tampannya itu.
"Aww–sayang, jangan dicubit dong tapi, di elus-elus seperti ini." Liam menahan tangan Vania lalu, mengarahkan satu bagian tubuhnya yang super sensitif apabila tersentuh oleh tangan lembut sang istri. Vania terbelalak kaget ketika dapat merasakan milik Liam yang sudah bangkit dan mengeras dengan sempurna.
"MAS–!?
"Apa? Ayo kita jangan mau kalah sama mereka yang sedang berbulan madu!" Liam langsung melakukan serangan bertubi-tubi pada tubuh Vania yang semakin hari terlihat makin sexy dimatanya.
__ADS_1
Bersambung