Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
40. Pesta ulang tahun pertama Kiano


__ADS_3

Udara sejuk di pagi hari membuat siapapun enggan beranjak dari tempat tidurnya namun, itu tak berlaku untuk Vania bermalas-malasan. Tuntutan hidup yang mengharuskannya lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaan apa pun itu demi kelangsungan hidup dan masa depannya nanti.


"Selamat pagi bi, apa menu sarapan pagi ini?" Seperti biasa Vania membantu sang bibi didapur. Tadi malam Vania tidur didalam kamar tamu mengeloni putranya. Yang sebenarnya adalah Vania belum siap jika harus satu kamar dengan Liam. Meskipun laki-laki tersebut telah menjadi suaminya Trauma masa lalu masih membayangi di pikirannya.


"Loh, Vania...kamu ngapain kedapur sepagi ini. Nanti kalau suamimu bangun dan mencarimu gimana? Sudah, kembali kekamar Tuan muda sana. Biar bibi yang metampungkan masakannya."


Vania tak mengindahkan uacapan bibi nya. Ia malah mengalihkan topik pembicaraan agar bi Arum tidak menyuruhnya pergi dari dapur. "Oh ya bi. Soal Tu–Wira yang katanya akan pergi ke luar negeri, apakah karena pernikahanku dengan Tuan Liam?"


Bi Arum menghentikkan kegiatannya sejenak lalu, beralih menatap Vania. "Siapa yang mengatakannya?"


"Tidak ada sih bi, hanya perasaanku saja karena Wira tiba-tiba akan pergi setelah pernikahan kami. Jika seperti itu rasanya aku jadi tak enak, bi. Andai saja kami tidak bertemu kembali dan menikah.Pasti dia tidak akan pergi." Vania berspekulasi sendiri.


"Hush–kamu itu selalu berpikir yang aneh-aneh. Tuan Wira itu memang sudah sejak lama berencana akan kembali ke luat negeri karena beliau juga memiliki perusahaan di sana. Jadi, itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu dan Tuan Liam, atau pun pernikahan kalian."


Sedikit banyak memang benar apa yang di jelaskan bi Arum pada Vania. Tapi, Wira memutuskan pergi juga karenaingin melupakan rasa cintanya pada Vania. Itu semua dilakukannya demi Kiano, keponakannya.


"Begitu ya, bi. Berarti aku yang terlalu berpikir jauh dan berlebihan dalam menanggapi rencana kepergian Wira."


Mereka pun kembali melanjutkan memasak dan tak berapa lama terdengar suara tangisan Kiano. Vania pun bergegas mengehentikan kegiatannya lalu segera beranjak menuju ke kamar tamu dimana ia dan putranya tempati selama beberapa hari ini.


"Loh, apa jangan-jangan semalam Vania tidak tidur di kamar suaminya? Ku kira Kiano tidur dikamar Nyonya Helan dan Tuan Bisma.'" Biarlah nanti ia akan menanyakannya langsung pada keponakannya itu.

__ADS_1


Sudah hampir dua bulan usia pernikaha Liam dan Vania. Namun, hubungan keduanya sama sekali belum menunjukkan kemajuan. Liam dan Vania hanya akan berinteraksi hanya ketika bersama dengan putra mereka. Ya, sebenarnya Liam terus berusaha agar bisa lebih dekat dengan Vania. Sangat sulit untuk berbicara berdua saja dengan istrinya itu. Apakah Vania tidak bisa menerima pernikahan mereka atau hanya belum saja. Itulah yang ada di pikiran Liam.


Seperti saat ini, mereka tengah bersantai di ruang tengah dengan Kiano yang berada di pangkuan ayahnya. Sedangkan Vania fokus melihat kearah layar televisi, sesekali ia melirik Liam yang asik mengajak Kiano berbicara. Bayi montok yang kini telah berusia 6 bulan itu sudah pandai berceloteh bahkan tertawa saat digoda oleh ayahnya.


"Jagoan ayah sudah besar dan tambah ganteng. Kiano mau mamam?"


"Kiano belum boleh makan. Nanti kalau sudah tepat enam bulan baru bisa diberi makanan pendamping asi." Diam-diam ternyata Vania menyimak semua perkataan Liam pada sang putra.


Liam membalas perkataan Vania dengan anggukkan kepala. Setelahnya hening tak ada lagi interaksi diantara keduanya. Yang terdengar hanyalah suara dari televisi dan juga Kiano yang sesekali berceloteh ketika diajak berinteraksi.


"Bagaimana kalau hari ini kita ajak Kiano jalan-jalan ke taman?"


"Taman, taman yang dimana?" Tanya Vania yang memang tidak tahu ketaman mana yang akan mereka datangi.


"Eum–baiklah.Tapi, jangan lama-lama ya kasihan nanti Kiano kecapean." Vania menyetujuinya dengan syarat tentunya. Dan Liam sangat senang akhirnya bisa menghabiskan waktu akhir pekannya dengan keluarga kecilnya.


"Loh, kalian mau kemana...cucu nenek sudah ganteng sekali ini?" Ketika mereka sudah siap akan berangkat, Mama Helen muncul dan tentu saja penasaran hendak kemana anak, menantu dan cucu nya.


Mama Helen menghampiri Vania dan Kiano yang berada dalam gendongannya.Vania tersenyum lalu, mengatakan jika mereka ingin pergi keluar jalan-jalan ke taman yang tak jauh dari pemukkman tempat tinggal mereka.


"Oh, iya...bagus itu. sekali kali refreshing perlu kan. Mumpung Liam juga sedang libur. Sudah sana berangkat mumpung cuacanya cerah. Have fun ya kalian."

__ADS_1


Vania mengangguk dan tersenyum hangat. " Iya Ma, kami pergi dulu ya." tak lupa sebeljm berpamitan Vania terlebih dahulu mencium punggung tangan sang ibu mertua. Hati Mama Helen merasa hangat ketika Vania melakukan hal itu.


Sesampainya di taman tampak susana cukup ramai. Ya mungkin karena memang weekend jadi banyak yang datangs sekedar menghilangkan penat setelah hampir seminggu berkutat dengan rutinitas pekerjaan yang padat yang menguras tenaga dan pikiran.


"Ternyata ramai juga. Ayo, kita cari tempat yang agak rindang dan nyaman!" Liam pun mengambil alih stoler bayi yang sejak turun dari mobil tadi di dorong oleh istrinya. "Sini, biar mas saja yang mendorong stolernya."


Beberapa pasang mata melihat kearah kekuarga kecil mereka dengan tatapan kagum. Suaminya tampan dan isttinya pun sangat cantik. Sungguh pasangan yang sangat serasi. Apalagi ketika melihat sosok bayi tampan dengan tubuhnya yang montok dan kulit seputih susu. Sungguh tampak menggemaskan. Ingin sekali mereka mencubit pipi gembil Kiano.


"Aduh, dedeknya ganteng banget. Namanya siapa mbak, putranya?"


Seorang pengunjung yang penasaran tanpa segan menghampiri lalu, menyapa mereka dengan ramah. Wanita paruh baya itu pun tampak begitu gemas dengan Kiano. Setelah saling bertegur sapa kemudian wanita itu pun pamit ia harus segera pulang karena sang cucu merajuk.


Waktu pun cepat berlalu dan kini Kiano akan memasuki usia nya yang ke 1 tahun. Hubungan Vania dan Liam pun sudah lebih dekat ya walaupun kadang Vania masih merasa sungkan dengan suami tampannya itu. Ia masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beradaptasi dengan kehidupannya yang berubah sedrastis itu.


Mama Helen dan Papa Bisma berencana akan mengadakan pesta ulang tahun yang pertama untuk cucu pertama mereka.


Undangan telah disebar ke berbagai kalangan. Terutama para kolega bisnis papa Bisma dan Liam sendiri.Sekalian mereka ingin memperkenalkan Kiano sebagai penerus keluarga Ghazala.


Pesta diadakan sore hari di sebuah ballroom hotel berbintang 5 yang ternama di ibu kota. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Papa Bisma dan Mama Helen sebagai tuan rumah menyambut para tamu undangan dengan ramah.


Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya muncul juga. Tampak seorang pria tampan nan gagah naik keatas panggung dengan didampingi oleh seorang wanita cantik tengah menggendong balita tampan dengan penampilannya yang elegan dan mempesona siapa saja yang melihatnya. Tak terkecuali seorang laki-laki yang tampak begitu terkejut. Melihat sosok wanita yang begitu di rindukannya.

__ADS_1


"Vania–."


Bersambung


__ADS_2