Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
42. Khilaf


__ADS_3

Sumpah demi apapun, saat ini jantung Vania rasanya melompat seperti mau lepas.Perkataan Liam yang ambigu membuat Vania jadi berpikir yang iya iya. Apa maksudnya sudah siap itu adalah mereka akan segera bertempur di atas kasur empuk itu? Vania menggelengkan kepalanya tetap berpikir positif. Tapi, tetap saja Vania merasa tak tenang.


"Vania–Ayo kesini." Entah sejak kapan Liam sudah berada diatas tempat tidurdan bersandar di kepala ranjang. Ia melambaikan tangannya memanggil Vania agar naik dan duduk disebelahnya.


Perlahan Vania pun merangkak naik lalu duduk manis tepat disamping suaminya. Wajahnya masih tertunduk tak berani menatap langsung pada sang suami.


"Jadi, benar kamu sudah siap melakukannya? Liam menatap intens wajah istrinya yang tampang tegang itu.


Vania mengangguk."Iya. Tapi,–."


"Sudah, kalau kamu belum siap aku tidak akan memaksa. Aku akan tetap menunggu sampai kamu benar-benar siap." Ujar Liam


"Bukan begitu mas, hanya saja aku takut kalau nanti hamil lagi. Karena Kiano masih terlalu kecil untuk mempunyai adik."


Memang itulah yang ditakutkan Vania. Jika benih Liam akan berhasil membuahinya dan ia masih belum siap untuk mengandung kembali.Bahkan Kiano baru saja genap berumur satu tahun.


Hati Liam seketika terasa lega karena ternyata ketidak siapan Vania untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri bukan disebabkan rasa trauma yang masih menderanya akan tetapi Vania takut hamil lagi disaat Kiano yang masih terlalu kecil. Liam terlalu over thinking dan kenyataan tak seburuk yang ia sangkakan.


"Begitu.Syukurlah, mas kira kamu belum bisa memaafkan kesalahan yang selama ini mas lakukan kepadamu. Maaf, karena selama ini mas belum bisa membahagiakanmu dan Kiano." Liam sangat menyesali akan perbuatan yang pernah ia lakukan pada Vania. Sejak pertemuan pertama kali mereka Liam telah menorehkan luka yang begitu dalam hingga menghamcurkan masa depan Vania si gadis desa yang kala itu masih belum mengerti apa-apa. Dan gadis polos itu pun langsung mendapatkan pengalaman hidup yang menyakitkan.


"Iya, aku sudah memaafkan mas. Bisakah kita tidak melakukannya sekarang. Eum...aku ingin memasang kb terlebih dahulu. Boleh kan, mas?"


Ya, Vania memang telah merencanakan hal itu. Yaitu mengikuti program kb.Namun ia belum memutuskan ingin menggunakan alat kb apa. Rencananya ia baru akan berkonsultasi dengan dokter atau seorang bidan.

__ADS_1


"Begitu lebih baik. Jadi, nanti kamu tidak akan merasa was-was lagi. Tapi, kalau Kiano sudah agak besar baru kita akan memberikannya seorang adik. Gimana...kamu setuju kan?"


"Terserah mas saja, aku manut saja." Vania menyetujui rencana suaminya itu.


Hening sejenak keduanya terdiam tanpa berbicara apapun lagi. Mereka larut dengan pikiran masing-masing. Liam bahkan tak pernah menyangka jika ia bisa sedekat ini dengan Vania yang kini telah berstatus sebagai istrinya. Selama berbulan-bulan lamanya Liam bersabar menunggu sang istri bisa lepas dari trauma masa lalu dan luka yang laki-laki itu torehka. Liam telah sadar akan kesalanannya dan bertekad akan memperbaiki semuanya membina rumah tangga yang sebaik-baiknya bersama Vania dan putra mereka, Kiano.


"Ekhem– Lalu, sekarang apayang akan kita lakukan...hemm?" Liam kembali bersuara memecah keheningan diantara mereka.


"M–melakukan apa? Kita tidur saja, memangnya mas mau apa?"


Diberi pertanyaan ambigu seperti itu oleh sang istri otak pintar Liam langsung bekerja dengan cepat. Apalagi waktu dan tempat yang sangat mendukung untuk merealisasikan yang hanya menjadi angan-angannya selama ini.


"Yakin cuma tidur saja, apa tidak ada yang lain...misalnya sekedar pemanasan gitu?" Menaik turunkan alis matanya menggoda sang istri.


Kening Vania mengernyit penuh tanya.Kata pemanasan terdengar begitu mengerikan di telinga Vainia.ia masih mencerna maksud dari ucapan suaminya itu, Meskipun Vania bukanlah seorang gadis lagi akan tetapi ia juga tidak bodoh. Vania mengerti jika suamninya ingin mereka melakukan sesuatu yang lebih intim asalkan tidak sampai kebablasan. Tapi tetap saja ada keraguan didiri Vania


"Seperti ini–."


Tanpa ba bi bu Liam langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir ranum Vania. Sontak mata Vania membola sempurna. Gerakan Liam yang begitu cepat membuat Vania tak berkutik.


Menyadari tak ada penolakan dari sang istri Liam kembali mengeksplor benda kaenyal nan lembut itu menjadi semakin menggebu dan menuntut. Dan ketika merasakan cengkeraman kuat tangan Vania di baju Liam, seketika Liam pun tersadar jika istrinya kehabisan pasokan oksigen dengan terpaksa ia pun melepas pertautan bibir mereka.


Nafas Vania tersengal-sengal, dadanya pun tampak kembang kempis menghirup udara sebanyak-banyaknya. "HH...Hh..wuhh."

__ADS_1


"Vania, kamu tidak apa-apa kan? Maafkan mas ya." Liam merasa bersalah karena membuat istrinya hampir saja kehabisan nafas akibat ia tak bisa mengontrol diri.


"T‐tidak apa-apa,mas." Tak hanya nafasnya yang hampir terputus tapi juga bibirnya terasa kebas. Suaminya begitu menggebu, Vania jadi teringat akan perlakuan Liam padanya dulu. Bedanya saat ini suaminta itu melakukannya dengan kesadaran penuh.


Liam menyentuh bibit Vania yang agak membengkak akibat perbuatannya. "Maaf...sampai seperti ini."


"Eh, kenapa?" Vania ikut menyentuh bibirnya yang masih sterasa kebas dan betapa terkejutnya ketika menyadari jika bentuk bibirnya yang membengkak. "Akh...kenapa dengan bibirku ini?"


"Oh, bibirmu tidak kenapa-napa kok. Permulaan yang baik." Liam tersenyum penuh arti ketika menatap wajah merona Vania yang membuatnya terlihat semakin cantik. Perlahan Liam mendekatkan wajahnya kembali tapi, bukan tertuju ke wajah Vania melainkan ke leher jenjang sang istri yang putih menggoda.


"Cup‐."


Sebuah kecupan basah dengan gigitan kecil kembali mendarat di leher putih Vania. Liam kembali melancarkan serangannya. Tubuh Vania menegang dan degup jantungnya berpacu cepat. Hingga Liam bisa mendengar dan merasakannya.


Ada geleyar aneh yang dirasakannya. Lengguhan suara Vania yang bergetar membuat Liam terasenyum dalam aksinya yang kali ini sukses menggetarkan sang istri. Tubuh Vania seketika terasa seperti jelly lemas dan tak bertenaga. Andai saja saat ini Vania dalam keadaan posisi berdiri di pastikan tubuhnya ambruk dilantai. "Mas...ja‐jangan, cukup!" Menahan dada Liam agar menghentikan aksinya.


Suara Vania yang gemertaran menyadarkan Liam akan kekhilafannya yang telah membuat Vania syock Bukan hanya wajahnya saja yang memerah, tubuh Vania pun terasa dingin dengan bulir keringat yang menetes di dahinya.


Liam memeluk tubuh Vania dengan lembut dan penuh kasih sayang. Perlahan Liam merebahkan tubuh sang istri dan mendekapnya semakin erat. Berkali-kali Liam mendaratkan kecupan hangat di kepala sang istri. "Tidurlah, mas tidak akan melakukannya lagi.Maaf."


"Aku yang harusnya meminta maaf karena belum bisa menjalankan kewajibanku. Tolong beri aku waktu, mas."


"Hemm–sudah, jangan bicara lagi.Ayo tidurlah!"

__ADS_1


Akhirnya tidak terjadi malam kedua.Mereka pun tertidur saling berpelukan. "Selamat tidur, sayang."


Bersambung


__ADS_2