Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
33. Mengatar Vania pulang


__ADS_3

Sebuah kecupan mendarat di bibir Vania dan Liam sengaja melakukannya untuk menghentikan ocehan Vania yang tak berhenti barang sedetik pun juga membuatnya gemas dan akhirnya yang terlintas dipikirannya hanyalah dengan mencium bibir ranum Vania yang sejak tadi sungguh menggoda iman-nya.


"Apa-apaan ini, apa yang anda lakukan?" Vania refleks mendorong dada Liam dan seketika pertautan bibir keduanya pun terlepas begitu saja. Wajah Vania memerah bak tomat masak antara marah dan juga malu.Karena Liam telah mencuri kesempatan dengan menciumnya secara paksa.


"Apa yang aku lakukan? Sudah jelas kan, aku baru saja mencium ibu dari anakku. Memangnya ada yang salah?" Liam malah tersenyum tanpa rasa berdosa telah berbuat tak senonoh terhadap Vania.


Vania memutar bola matanya malas melihat ke sombongan mantan majikannya itu. "Terserah anda–."


"Barusan kamu bilang apa? Kalau aku tak salah dengar, "Terserah anda" maksudnya aku boleh melakukan apapun yang lebih dari sekedar mencium, bukan? Wow...tentu saja aku tidak akan menolak nya, mommy Kiano."


Kening Vania mengernyit penuh tanya. "Mommy Kiano?"


"Hem–kamu memang mommy dari putra pertama kita, sayang. Dan putra dan putri kita yang selanjutnya, calon adiknya Kiano." Bicara dengan percaya dirinya.


"Apa dia bilang, calon adik-adiknya Kiano? Ada apa dengan si Tuan muda pemaksa sih.Hh...aku harus lebih sabar menghadapi laki-laki egois ini. Sabar...sabar, Vania!" Vania hanya bisa me ndumel didalam hati saja.


Karena tak ada sanggahan dari Vania, hal itu membuat Liam jadi salah faham.Pria itu mengira jika Vania telah luluh dan akan menerimanya. Liam menyetir sambil terus bersiul ria mengekspresikan kebahagiaannya.


Keheningan kembali mengiringi perjalanan mereka menuju tempat tinggal Vania. Seketika Liam teringat dengan putra nya. Jika Vania bekerja atau ditinggal malam-malam begini lalu, dengan siapa Kiano saat ini?.


"Ekhem, kalau kamu tidak sedang bersama Kiano lalu, dengan siapa putraku kau titipkan? Apakah orang itu dapat dipercaya?"


Mendengar Liam yang seakan menganggapnya telah sembarangan menjaga anaknya sendiri dengan menutipkan Kiano pada orang lain.Membuat Vania yang tadinya sudah diam dan tak mau meladeni setiapperkataan yang terlontar dari mulut pedas Liam, seketika hatinya kembali panas.


"Maksud Tuan, saya tak becus merawat dan menjaga anak saya sendiri...begitu?"


"Oh, bu–bukan begitu maksudku. Kamu jangan salah faham dulu."


Vania berdececak sebal. "Ck, alasan saja. Anda memang selalu seperti itu. Menilai seseorang tak pernah baik dimata anda. Dasar orang kaya."


"Kamu itu yang selalu negatif thinking terhadapku. Aku cuma bertanya dengan siapa Kiano kamu titipkan jika sedang bekerja atau seperti saat ini tak bersamanya. Tinggal jawab saja apa susahnya sih."

__ADS_1


"Hem–Kiano aman bersama dengan orang yang tepat. Bu Wulan adalah penolong disaat kami tengah lontang lantung dijalan tanpa ada tempat berteduh yang aman dan nyaman. Beliaulah yang selalu membantu san menyayangi kami seperti anak dan cucu nya sendiri. Sidah, tak ada gunanya juga jika anda mengetahuinya.Karena anda sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan kami."


Rasanya ingin membungkam kembali bibir yang terus bergerak lincah itu. Membuat Liam malah semakun gemas melihatnya. Ia tak menyangka jika gadis lugu yang berasal dari desa bisa berubah sedrastis itu. Pengalaman hidup dan rasa kecewa yang telah merubah gadis seperti Vania menjadi lebih berani dan kuat. Rasanya kali ini Liam tidak akan mudah meluluhkan ibu dari anaknya itu. Maka, dari itu Liam memilih diam membiarkan Vania mengeluarkan unek-uneknya.


Setelah itu Liam baru bertanya alamat dimana tempat tinggal Vania. "Sudah? Sekarang, dimana alamat rumahmu? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kiano. Pasti dia sedang gemas-gemasnya tak beda jauh dengan mommy nya."


"Ish–mommy...mommy, sok akrab." Lagi-lagi Vania merasa jengah dengan kelakuan aneh Liam.


"Depan belok kanan, habis itu digang kedua masuk!" Vania menjelaskan ancer-ancer lokasi rumah bu Wulan.


"Oke, Mommy nya Kiano yang cantik dan menggemaskan, jadi pingin sun lagi deh." Bisa-bisanya Liam menggoda Vania yang sedang mode marah dengannya.


Malas menanggapi omongan tak jelas Liam.Vania diam saja. Biarlah laki-laki itu bahagia sesaat setelahnya jangan harap ia akan meladeninya lagi.


Akhirnya mobil yang dikemudikan Liam pun berhenti tepat didepan pagar rumah bu Wulan. Vania lekas turun dan Liam pun kemudian mengikuti langkah Vania memasuki pekarangan rumah itu.


Tok tok tok


"Assalamuallaikum. Bu...ini Vania." Mengetuk pintu sambil sesekali menoleh kebelakang tepat dimana Liam tengah berdiri ikut menunggu si pemilik rumah membukakan pintunya.


Krieett


"Wa'allaikumsalam. Vania...kamu sudah pulang. Loh, ini siapa?"


Tak berapa lama pintu pun terbuka dan tampak bu Wulan yang terlihat seperti baru saja terjaga dari tidurnya. Ya, tentu saja...karena Vania sampai dirumah sudah malam tepatnya pukul setengah sebelas malam.


"Ini–."


"Maaf, bu. Perkenalkan nama saya Liam. Saya adalah daddy...eh, maksud saya ayahnya Kiano." Dengan percaya dirinya Liam memperkenalkan diri sebagai ayah dari Kiano.


Bu Wulan sampai tak bisa berkomentar apa-apa. Wanita paruh baya itu sangat terkejut dan tak menyangka akan bertemu dengan ayah dari Kiano, jadi laki-laki yang ada dihadapannya saat ini adalah suami Vania dan ayah kandung dari Kiano.Jika di perhatikan paras keduanya memang sangat mirip. Tak di ragukan lagi memang benar Liam ayah dari Kiano. Bu Wulan kemudian mempersilahkan tamunya itu untuk masuk.

__ADS_1


"Oh, benarkah? Baiklah... mark, silahkan masuk dulu. Dan kita bicara didalam saja.Ini sudah malam tidak enak jika nanti dilihat tetangga."


"Baik bu. Terima kasih."


Vania tak langsung mencari putranya. Gadis itu menuju kelamar mandi. Mencuci tangannya.


"Vania–lebih baik kamu ganti baju dulu. Kiano juga sudah tidur." Vania pun menurut dan langsung bergegas keluar menuju ke paviliun sebelah.


Melihat Vania yang malah keluar rumah membuat Liam jadi bingung dan bertanya-tanya kemana Vania akan pergi, ini kan sudah cukup larut.


Dari diliputi rasa penasaran, Liam pun bertanya pada bu Wulan. "Em–maaf ya, bu. Itu...Vania mau pergi kemana ya? Bukankah dia dan Kiano tinggal dirumah ini bersama ibu."


"O–tidak,nak...."


"Liam, bu. Nama saya Liam. Saya datang kesini ingin bertemu dengan anak kami, baby Kiano. Apakah saya boleh menemuinya?"


"Iya, nak Liam. Vania memang tidak tinggal disini tali, mereka tinggal di paviliun tepat disamping rumah ini."


Liam pun hanya mengangguk mengerti.Jadi, sejak Vania meninggalkan kediaman Ghazala, Vania tinggal dirumah ini.


"Begitu ya, bu. Em...apa boleh saya bertemu dan melihat Kiano. Saya sangat merindukannya."


Bu Wulan sebenarnya agak ragu memberi izin pria yang mengaku sebagai ayah dari Kiano itu. Tapi, ada rasa kasihan juga melihat Liam yang terlihat begitu tulus. Bu Wulan memang tidak tahu bagaimana masa lalu pasangan tersebut. Apakah mereka saat ini masih berstatus sebagai suami istri atau sudah berpisah. Vania tidak pernah terbuka soal masalah pribadinya. Dan bu Wulan bisa memakluminya.


"Gimana ya–?"


"Sebentar saja, bu. Saya mohon." Liam sampai memohon sambil menangkupkan kedua telapak tangannya. Membuat bu Wulan jadi tidak tega dan akhirnya mengizinkan Liam masuk kedalam kamar untuk melihat Kiano.


Perlahan Liam mendekat kearah tempat tidur dimana terdapat sosok mungil yang tengah tertidur lelap. Matanya berkaca-kaca dan tak tahan ingin merengkuh si mungil kedalam dekapannya.


"Boleh kan bu, saya menggendongnya?" Liam sudah berada tepat di sisi tempat tidur dan ingin mengambil Kiano. Nmun, tiba-tiba suara pekikan Vania menghentikan gerakannya.

__ADS_1


"Tidak–jangan sentuh anakku!"


Bersambung


__ADS_2