Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
57. Surat Perjanjian


__ADS_3

Mobil mewah yang dikemudikan oleh wira berhenti tepat di depan apartemen. Wira menyuruh Shinta untuk segera turun dan mengikuti langkahnya memasuki lobby apartemen yang tampak begitu mewah itu. Shinta hanya bisa pasrah dan mengedarkan pandangannya kesekeliling gedung yang sama sekali belum pernah disambanginya.


Ketika mereka berada didepan lift dan pintu lift iti pun terbuka lalu, Wira dan Shinta memasukinya. Tak ada percakapan sedikitpun mereka seperti orang yang tidak saling mengenal. Wira berdiri sedikit menjauh sekakan alergi berdekayan dengan Shinta. Dan Shinta tak perduli yang ia inginkan agar bisa terlepas dari tekanan sang tuan muda.


Pintu lift pun terbuka dan masuklah dua orang pria muda yang sama-sama berwajah tampan mirip oppa-oppa korea. Manik mata Shinta menatap kedua laki-laki itu dengan penuh rasa kagum. Ya, namanya juga gadis yang masih polos bahkan Shinta tidak pernah merasakan jatuh cinta.


"Hai, kamu mau ke lantai berapa nona manis?" Tiba-tiba saja salah satu dari laki-laki tersebut menoleh dan tersenyum pada Shanti. Membuat Shanti semakin meleleh.


"Ah, iya. Aku mau ke lantai–."


"Lantai 10 dan tolong jaga pandangan kalian dari calon istriku!"


"Hah—!" Shinta langsung cengo mendengar Wira mengklaim dirinya sebagai calon istrinya.


Kedua pemuda itu pun mengangguk lalu, meminta maaf karena tidak tahu jika gadis manis yang mereka sapa ternyata sudah ada yang punya. "Oh, sorry om. Kami tidak tahu."


Ting


Kedua pemuda tampan itu pun keluar ketika lift sampai di lantai 7." Permisi, bye...nona manis." Melambaikan tangan dan mengedipkan mata pada Shanti. Tentu saja wajah Shanti seketika merona karena digoda seperti itu. Tanpa sadar ada Wira didekatnya, Shanti membalas senyuman keduanya. Shanti tak tahu saja jika Wira sudah memasang wajah garangnya.


Ketika Shanti menoleh dan tanpa sengaja pandangan mata keduanya saling bertemu, seketika wajah Shanti berubah pucat pasi.Aura wajah Wira sungguh mengerikan, membuat gadis itu bergidik ngeri.


"A–da Apa?" Tanya Shinta begitu gugup.

__ADS_1


"Ada apa ada apa? Dasar gadis centil." Wira malah mengatai shanti.


"Centil dari mananya coba, dasar tuan muda aneh."


"Barusan kamu bilang apa? coba ulangi lagi !" Wira melangkah mendekat dan menghimpit Shinta diantara dinding lift sampai gadis itu tak berkutik. Kini wajah mereka hanya berjarak lima centi saja hingga dapat merasakan hembusan nafas satu sama lain. Dan yang lebih parahnya lagi, degup jantung Shinta bertalu-talu rasanya seperti mau copot serta merasakan nyeri dibawah sana.


"Tu–tuan, anda mengjnjak kaki saya."


"Aduh—." Shinta langsung berjongkok dan mengusap-usap kakinya yang baru saja diinjak Wira.


Wira yang tak menyadari jika ia menginjak kaki Shinta sontak mengangkat kakinya dan menggaruk tengkuknya. "Makannya hati-hati."


"Hah—ngak salah, dia yang mengjnjak malah menyalahkan orang yang dia injak? Dasar om om aneh." Yentu saja Shinta hanya membatin saja. Mana berani Shinta berbicara langsung pada majikannya yang galak itu.


Keduanya kembali terdiam. Shinta tampak kesal dlsedangkan Wira merasa canggung karena telah menginjak kaki Shinta dan tidak meminta maaf. Gengsinya terlalu tinggi.


"Masuklah!." Namun, Shinta tetap mematung tak mau masuk.


"Malah bengong, ayo cepat....apa perlu aku gendong ala-ala pengantin baru?"


"Eh, tidak-tidak. Iya. Saya akan masuk." Shinta langsung melesat masuk kedalam dengan gerakan cepat dan lincah.Membuat Wira menarik sudut bibirnya menahan senyum. Shinta terlihat lucu dengan tingkahnya itu.


Mereka telah duduk manis di atas sofa. Shinta sama sekali tak berani menatap anak majikannya itu. Bahkan ia bicara sambil menundukkan wajahnya. "Em...Tuan, sebenarnya anda mau apa membawa saya ketempat ini?" Kalau tidak ditanyakan Shinta akan semakin penasaran.

__ADS_1


"Untuk membuat anak. Lalu, untuk apa lagi aku membawamu ke apartemen pribadiku ini. Kau sudah siap, bukan. Kita akan test drive dulu. Jika cocok apalagi berhasil ya dilanjut terus." Mengatakannya dengan enteng tanpa merasa berdosa. Padahal sih, Wira hanyaingin mengerjai pembantunya itu.


Shinta tersentak kaget lalu refleks berdiri hendak kabur.Namun, dengan gerakan tak kalah cepat Wira langsung bisa menghalau pergerakan Shinta. "Eits....mau pergi kemana kamu. Kita bahkan belum memulainya." Tersenyum meyeringai, Shinta semakin was-was Wira akan berbuat sesuatu yang tidak benar terhadapnya.


"Tuan Muda, maafkan saya jika memang saya mempunyai banyak kesalahan pada anda. Tapi,tolong biarkan saya pergi dari sini. Saya janji tidak akan mengganggu kehidupan Tuan muda lagi." Shinta sampai memohon untuk dilepaskan.


Wira kemudian menyuruh Shinta untuk duduk krmbali dan sekali lagi memberi peringatan supaya Shinta tidak berbuat macam-macam termasuk kabur darinya. "Diam dan dengarkan dengan baik apa yang akan aku katakan padamu!"


"Baik Tuan muda–." Akhirnya Shinta pun pasrah dan patuh akan perintah dari anak majikannya itu. Mau melawan juga percuma, dia tak akan pernah bisa menang darinya.


Wira melangkah menuju kedalam kamarnya, kemudian setelah kembali tampak laki-laki itu trngah menenteng sebuah file folder. Shinta mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya. " Apa yang dia bawa itu, perasaanku kok jadi enggak enak ya?" Batin Shinta.


"Ini, lihat dan bacalah dengan baik. Pahami apa-apa saja poin-poin yang tertulis didalam surat perjanjian itu!" Wira mnyodorkan file tersebut kehadapan Shinta. Dan Shinta pun langsung meraihnya, membuka lalu membacanya.


Surat perjanjian pernikahan. "Hah....apa ini maksudnya, kenapa isinya seperti ini? Dia menang banyak dan aku yang rugi dong." Monolog Shinta dalam hati ketika membaca surat perjanjian itu.


"Maaf Tuan, ini maksudnya bagaimana ya? Selama menjadi pasangan suami istri masing-masing harus tetap melaksanakan kewajiban sebagai suami maupun istri. Tak terkecuali urusan nafkah bathin. Ini artinya saya harus melakukan itu....dengan anda?" Shinta bergidik ngeri membaca salah satu poin yang tertera didalamnya.


Wira tersenyum datar. "Loh, kita kan menikah beneran sah secara agama dan hukum pemerintah. Maka, ya kita harus menjalani kehidupan perkawinan dengan normal layaknya pasangan suami istri yang lain. Mengerti kan, kamu itu orang terpelajar pasti tahu apa artinya."


"Lalu–yang ini. Jika, Tuan telah menemukan wanita yang anda cintai maka, pernikahan diantara kita juga akan berakhir." Tubuh Shinta serasa tak bertenaga memikirkan bagaimana nasibnya kelak jika, ia sampai hamil dan diceraikan oleh Wira. Bagaimana nasibnya dan anaknya nanti. Kepala Shinta langsung cekat cekut. Kenapa dia harus terjebak didalam permainan ini. Sejak awal Ia tidak menginginkan pernikahan ini, bukan. Apakah ia harus menolaknya? Tapi,–


"Iya benar, sesuai apa yang tertulis didalam surat itu. Dan syarat yang terpenting adalah setelah menikah nanti kita akan tinggal di sini. Aku tidak ingin Mama dan Papa mengawasi mencampuri kehidupan perkawinan kita. Sampai disini kamu mengerti, kan. Sekarang...tanda tanganilah!" Meyerahkan pulpen dan dengan tangan bergetar Shinta langsung membubuhkan tanda tangannya diatas sebuah materai.

__ADS_1


Wira pun tersenyum puas. Ternyata tidak sulit untuk mengendalikan gadis polos itu. Setelah urusan mereka selesai, Wira pun menyuruh Shinta pulang. Sedangkan Wira, laki-laki itu mengatakan masih ada urusan lain. Shinta melangkah dengan tatapan kosong, pikirannya semerawut tak menyangka akan mengalami kehidupan serumit itu.


Bersambung


__ADS_2