
Melihat reaksi kedua putranya membuat Tuan Bisma mengernyitkan keningnya penuh tanda tanya. Ada apa sebenarnya dengan keduanya. Sepertinya Vania dan bayinya begitu penting bagi mereka.
"Kalian ini kenapa? Vania yang melahirkan kenapa jadi kalian berdua yang heboh." Tuan Bisma menggelengkan kepalanya.
"Pa, Vania dibawa ke rumah sakit mana?" Itu Wira yang bertanya.
"Kata Mama kalian di rumah sakit Medistra." Jawab Tuan Bisma.
"Vania, anakku telah lahir...aku juga secepatnya harus kesana keburu keduluan Wira. Tunggu papa,nak." Rasanya dadanya meletup-letup bahagia ketika mendengar jika anaknya telah lahir. Liam pun langsung menyelonong pergi begitu saja tanpa disadari oleh Tuan Bisma dan Wira.
Wajah Wira langsung berseri-seri,"'Oke, Pa. Terima kasih atas infonya. Dengan penuh semangat, Wira bergegas pergi menuju kerumah sakit.
" Loh, Liam kemana? bukannya barusan masih berdiri disitu?" Tuan Bisma baru menyadari ketidak berasaan putra sulungnya.
Begitu pun Wira, refleks menoleh kebelakang dan benar saja sang kakak sudah tidak ada."S***t,kak Liam pasti mau kerumah sakit juga. Pa, aku pamit ya. Mau menyusul kak Liam."
"Hemm– dasar anak muda, jika telah jatuh cinta apapun tak akan di perdulikannya. Biarkan saja lah."
Sementara itu di rumah sakit, Vania sudah di pindah keruang perawatan pasien sedangkan bayinya masih berada diruang bayi. Nyonya Helen meminta agar Vania ditempatkan diruang VIP.
"Vania, bagaimana rasanya?" Bi Arum mendekati brankar pasien dimana Vania masih dalam posisi rebahan.
"Alhamdulillah bi, rasanya sudah plong dan aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa melihat langsung bayiku." Vania tersenyum dan menitikkan air mata bahagia.
Bi Arum menggenggam tangan lalu, mengelus lembus kepala Vania. "Syukur Alhamdulillah. Tunggulah, sebentar lagi perawat pasti akan membawakan bayimu kemari.
"Oh ya Van, siapa nama baby boy mu?" Tanya bi Arum
"Terima kasih ya bi karena telah mendampingiku melewati semua ini." Mata Vania sudah mulai berkaca-kaca.
Terdengar ketukkan pintu dan seorang perawat masuk dengan menggendong bayi Vania yang berjenis kelamin laki-laki.
"Permisi, ini Mbak Vania...waktunya dedek diberi asi." Perawat itu meletakkan bayi tersebut kepangkuan Vania.
"Terima kasih suster."
Bi Arum mendekat dan bediri tepat si samping Vania. Lalu, membantu sang keponakan membenarkan posisi menyusui yang benar agar bayinya nyaman.
__ADS_1
"Aduh, gantengnya cucu nenek. Oh, ya Van. Jadi kamu beri nama siapa bayi tampan ini?"
" Namanya Kiano Safaraz, artinya anak laki-laki yang beruntung dan hidupnya selalu diberkahi. Bagus tidak, bi?" Bi Arum mengangguk dan menyetujui nama yang berarti sangat baik itu.
Tok tok tok
"iya, silahkan masuk."
Terdengar suara ketukkan pintu dan Bi Arum pun melangkah menuju pintu dan membukakannya mempersilahkan orang itu untuk masuk.
"Bi, bagaimana keadaan Vania?" Ternyata yang datang adalah Nyonya Helen. Wanita paruh baya itu tampak menenteng sebuah parcel yang berisi buah-buahan dan juga seikat karangan bunga mawar nan indah.
"Alhamdulillah sudah sehat, Nyonya."
Nyonya Helen menyerahkannya kepada bi Arum. Lalu, menghampiri Vania yang sedang menyusui bayinya.
"Wah, pintar sekali menyusunya. Apa Asi nya sudah lancar, Van?" Nyonya Helen tampak begitu gemas pada bayi mungil yang begitu kuat menyedot asi sang bunda.
Beberapa menit kemudian bayi Kiano melepas hisapannya dan bayi menggemaskan itu pun terlelap kembali.
"Sini, biar aku yang akan menidurkannya!" Meraih bayi Kiano dan menimangnya dengan lembut. Sekilas Nyonya Helen begitu terpesona dengan paras tampan bayi Vania. Namun, setelah ia memperhatikan dengan seksama ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
"Terima kasih, Nyonya."
DEG
Jantung Vania berdetak cepat, ketika melihat Nyonya Helen yang tengah serius memperhatikkan bayinya. Bahkan Vania bisa melihat mimik tak biasa dari majikannya itu. Vania takut jika Nyonya Helen telah menyadari wajah bayi Kiano yang memang begitu mirip dengan ayah biologisnya, yaitu Liam.
Tok tok tok
"Ya, masuk!" Kali ini Nyonya Helen yang menyahut karena bi Arum baru saja keluar untuk mencari makanan.
"Ma–mama masih disini?" Liam dan Wira datang dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka tersentak kaget ketika mengetahui ternyata Nyonya Helen masih berada di ruangan tersebut. Liam tampak gugup dihadapan sang mama.
"Liam, Wira...mau apa kalian kesini? Kan sudah mama bilang jika kalian tidak–." Nyonya Helen tak melanjutkan perkataannya lagi begitu menyadari ada Vania di ruangan tersebut.
"Tidak apa, Ma? Memangnya kami tidak boleh menjenguk Vania.dan bayinya? Apa dilarang berbuat baik pada sesama?"
__ADS_1
"Hem–tentu saja boleh. Masalahnya kalian itu pasti datang karena ada maksud tertentu, bukan? Mama sudah bisa menebak pikiran kalian." Menatap penuh selidik pada kedua putranya.
Vania tak berani menatap kedua majikan laki-lakinya itu. Apalagi melihat Nyonya Helen seakan tak suka kedua putranya mendatanginya sampai kerumah sakit. Vania jadi merasa tak enak hati. Nyonya Helen pasti sangat malu akan hal itu.
"Vania, selamat ya atas kelahiran...em, putra atau putri?" Wira memang tidak mengetahui jenis kelamin bayi Vania, tidak seperti Liam yang tahu ketika Vania melakukan pemeriksaan USG kehamilannya.
"Laki-laki, Tuan muda Wira. Bayi saya berjenis kelamin laki-laki. Terima kasih, Tuan." Jawab Vania.
Drrtt drrttt drrrtt
Terdengar suara panggilan dari ponsel Wira. Laki-laki itupun segera merogoh saku celanya untuk mengambil ponselnya. " Vania, aku permisi sebentar ya.. Kak, awas...jangan macam-macam!."
Vania tersenyum menanggapinya. Hal itu tak lepas dari penglihatan Liam yang tak suka sikap ramah Vania yang tersenyum pada Wira. "Apa sih kamu, Wir. Sudah sana!" Liam kembali fokus menatap Vania yang semakin menundukkan kepalanya.
Nyonya Helen tak habis pikir dengan kedua putranya yang ternyata masih mengejar-ngejar Vania. " Dasar tu anak dua susah sekali sih dibilanginnya. Harus seperti apa aku menjelaskannya."
Tak berapa lama bi Arum pun telah kembali dengan menenteng sebuah kresek yang berisi makanan.
"Maaf Nyonya, itu tadi saya disuruh oleh perawat untuk memanggil Nyonya. katanya mau menanyakan soal biaya perawatan Vania.
"Oh, begitu.oke...ayo bi, tolong temani aku ke bagian administrasinya!"
"Baik, Nyonya." Bi Arum pun mengikuti langkah sang majikan keluar untuk menuju ke bagian administrasi.
Kini diruangan itu hanya tinggal Liam dan Vania. Liam melangkah semakin mendekati box bayi dimana Kiano masih tertidur. Sontak Vania tiba-tiba merasa takut Liam melihat wajah sang buah hati pasti laki-laki itu akan menyadari jika Kiano benar darah dagingnya.
"Tu‐tuan mau apa? Jangan berani-beraninya mendekati Kiano!" Vania merasa terancam akan gelagat aneh Liam yang sampai membuat Vania dredeg ( Gemetaran).
Liam tersenyum samar, ia tidak memperdulikan larangan Vania untuk tidak mendekati bayi Kiano. "Oh, jadi anak kita kamu namai Kiano. Padahal harusny kan aku yang memberi nama anak pertama kita."
"A–APAA? Anak pertama?" Vania sampai terbelalak tak percaya akan pendengarannya. Apakah saat ini ia sedang bermimpi. Sampai-sampai Vania mencubit pipinya sendiri.
"Auwww–jadi, aku bukan sedang bermimpi."
"Apa sih kamu, ya tentu saja suatu saat nanti Kiano akan memiliki seorang adik, kan. Bahkan kemungkinan bisa lebih dari satu. Ayo dong, sayang. Jangan cemberut gitu. Nanti cantikmu akan hilang." Tumben sekali Liam bergombal ria dia tak tahu saja jika degup jantung Vania saat ini tengah berdisko ria.
'Huh, maaf Tuan Muda. Saya mau beristirahat. Tuan bisa menunggu di luar .Tuan-tuan muda tidak usah khawatir, saya baik-baik saja."
__ADS_1
"Barusan kak Liam bilang anak pertama dan mau menambah anak pula. Itu apa maksudnya?"
Bersambung