Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
80. Kecupan hangat


__ADS_3

Bi Arum dan Shinta seketika menoleh kearah suara yang sangat mereka kenali dan betala terkejutnya melihat Mama Helen yang tengah berdiri didepan pintu dan menatap keduanya dengan wajah yang tampak syok.


"Mama– sejak kapan Mama...apa Mama mendengar semuanya?" Shinta tak menyangka jika, Mama Helen sampai datang mencarinya dan mendengar percakapannya dengan sang bunda.


"Nyonya, tolong maafkan Shinta. Dia tidak ada maksud apa-apa karena belum memberitahukan anda soal kehamilannya." Bi Arum meminta maaf atas nama putrinya yang tidak


Sementara itu Shinta tertunduk pasrah jika mantan majikannya yang sekarang telah menjadi ibu mertuanya itu akan memarahinya.


"Kamu kenapa, Shinta? Jangan berpikir terlalu berlebihan. Urusan Wira biar Mama yang urus tuh anak bisa-bisanya bersikap seenaknya sendiri.Yang terpenting sekarang tenangkan pikiranmu saja dan jaga kesehatan dan calon cucu Mama, oke!" Mama Helen mengelus lembut perut Shinta yang tampak masih datar dan Shinta pun mengangguk dan tersenyum.


" Nah gitu dong cantik. Ayo sekarang kita makan malam yang lain sudah menunggu. Bi Arum juga ayo kita makan bersama!" Tak lupa Mama Helen pun mengajak sang besan.


"Saya nanti saja, Bu gantian. Ini Kiano masih mau main. Jawab bi Arum bukannya menolak tapi, ia masih harus menjaga Kiano.


"Oh ya sudah, nanti biar Kiano gantian saya yang jaga ya Bi."


Kedatangan Mama Helen dan Shint mengalihkan perhatian keempat orang anggota keluarga yang lain. Hanya Wira saja yang tampak cuek dan sedang asik dengan ponselnya. "Ehem....maaf ya lama menunggu kami. Tadi Shinta katanya sedang tidak enak badan dan tidak mau makan tapi, Mama paksa dan akhirnya setelah Mama bujuk akhirnya mau juga. Ayo, sayang duduk sini dekat Mama!" Mama Helen menarik kursi tepat disebelah nya. Jadi, Shinta duduk ditengah-tengah diantara Mama Helen dan Wira.


"Kamu sakit apa, Shin?" Vania pun ikut mengkhawatirkan sang adik yang wajahnya terlihat pucat.


"Enggak apa-apa kok, Mbak. Hanya sedang tidak enak badan saja. Mungkin cuma masuk angin. Nanti minta kerok ibu." Jawabnya pada sang kakak.


Mama Helen yang mendengar Shinta ingin kerokkan saja tidak memperbolehkannya."Jangan kerokkan ya, sayang tidak baik buat wanita hamil....upss!?" Mama Jelen menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena keceplosan.


Semua mata langsung menatap Mama Helen lalu, beralih ke Shinta.Sedangkan Shinta sendiri pun tak kalah kaget ketika mendengar sang ibu mertua memberitahu tentang kehamilannya secara gamblang pada seluruh anggota keluarga. Bahkan Shinta sendiri belum berani memberitahukannya pada Wira. Shinta langsung menundukkan wajahnya tak berani menatap semua orang terutama Wira

__ADS_1


"Shinta– kamu hamil? Wah....kejutan yang membahagiakan. Selamat ya, dek....Wira." Wajah Vania tersenyum bahagia mendengar berita baik tersebut lalu, mengucapkan selamat untuk sang adik dan adik iparnya juga.


Berbeda dengan Liam yang menatap datar adiknya yang bereaksi biasa saja. Seharusnya Wira bahagi karena akan segera menjadi seorang ayah. Kesal sekali ia melihat wajah cuek Wira yang tak tahu diri itu.


"Selamat ya, nak. Semoga kehamilan pertamamu diberi kelancaran dan debay nya sehat sampai tiba saatnya dia lahir nanti. Senangnya mau dapat dua cucu lagi." Papa Bisma pun ikut berbahagia dan mengucapkan selamat dan juga berterkma kasih karena telah memberikan cucu untuk keluarga Ghazala.


"Te–terima kasih, Pa." Shinta mengangkat wajahnya dan menatap sang Papa mertua dengan menyunggingkan senyum hangatnya. Bersyukur karena seluruh anggota keluarga merespon positif akan kehamilannya dan begitu antusias dengan berita kehamilannya. Dan saat manik matanya tanpa sengaja beradu pandang dengan sang suami, Reflek Shinta tertunduk kembali tak tahan menahan gejolak di dadanya yang tiba-tiba terasa perih melihat wajah dingin Wira.


'Apa mungkin Mas Wira tidak senang dengan kehamilanku ini. Apa dia tak ingin anaknya terlahir dari perempuan biasa sepertinya yang hanya bekas seorang pembantu di rumah orang tuanya. Pikiran Shinta mulai tak tenang berbagai praduga terbesit memenuhi isi kepalanya.


Makan malam penuh kejutan bahagia pun berakhir dengan senyum yang terkembang diwajah semua anggota keluarga Ghazala. Terutama Mama Helen dan Papa Bisma. Pasangan suami paruh baya itu pun sudah membayangkan bagaimana ramainya rumah megah mereka yang diisi oleh celotehan dari cucu-cucu mereka nanti. "Pa, Mama ngak nyangka deh bakal dapat cucu sekali 2. Ternyata Wira tokcer juga ya. Mama kira dia tidak akan mau." Mama Helen terkekeh geli membayangkan putra bungsunya yang ternyata seagresif itu sampai Shinta berhasil dihamilnya begitu cepat.


"Mama ini ada-ada saja. Kayak ngak pernah muda aja. Maklum pengantin baru. Sedang giat-giatnya bercocok tanam." Papa Bisma malah tak kalah hebohnya menanggapi kerandom-man perbincangan mereka.Liam yang mendengar celotehan kedua orang tuanya yang absud itu hanya geleng-geleng kepala.


Sedangkan Vania menahan tawa mendengar obrolan mertuanya yang begitu blak-blakan itu.


Saat ini Shinta sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Dengan sikap Wira yang tampak jelas tak seantusias yang lain membuat Shinta semakin yakin jika, kehadiran dirinya dan janin yang tumbuh dirahimnya sama sekali tak diharapkan oleh suaminya. "Hh....tidak apa-apa ya, nak. Mungkin suatu saat nanti ketika kamu telah terlahir di dunia ini, Ayahmu bisa menerima dan menyayangimu. Kalau ibu sih tidak apa-apa yang terpenting kamu akan mendapatkan kasih sayang dari ayahmu kelak." Shinta mengajak berbicara calon jabang bayi yang masih bersemayam didalam rahimnya.


Kriettt


Ceklek


Suara pintu yang terbuka dan dikunci membuat Shinta terlonjak kaget namun, ketika menyadari itu adalah suaminya Shinta pun menghela nafas dalam. Mengatur degup jantungnya yang berdetak cepat.


"Kenapa bukan suamimu yang pertama kali kau beritahu?Jawablah, aku tahu kamu tidak benar-benar tidur." Wira merangkak naik keatas tempat tidur lalu, merebahkan diri di sebelah Shinta. Wira sudah tahu jika, istrinya itu belum tertidur bahkan ia mendengar kalimat yang terucap di bibir Shinta.

__ADS_1


Shinta yang sudah merasa ketahuan langsung membuka matanya namun, masih tetap dalam posisi menyamping membelakangi Wira. "Ma–maaf, Mas. Tadi Mama juga tanpa sengaja mendengar obrolan saya dan ibu. Saya bukan bermaksud begitu. Hanya saja saya mencari waktu yang tepat untuk memberitahu hal ini pada Mas."


"Apa sopan berbicara sambil memunggungi suami sendiri? Berbaliklah, lihat wajah orang yang sedang kau ajak bicara!" Ketusnya, Wira tak suka jika Shinta tak mengindahkannya. Padahal dirinya sendiri juga malah lebih parah. Sikapnya begitu menyebalkan.


Takut Wira bertambah marah, akhirnya Shinta pun membalikkan tubuhnya dan kini mereka sudah dalam posisi saling berhadapan dengan cukup dekat.


"Iya Mas. Saya minta maaf. Bukan maksud saya ingjn merahasiakannya. Saya hanya takut Mas marah karena saya hamil. Sedangkan menurut perjanjian suatu saat nanti kita pasti akan berpisah. Saya sudah ikhlas dan menerima semua keputusan Mas yang memang tidak bisa menerima kami dan juga memberikan kasih sayang untuk anak saya nantk.Mas Wira tidak usah khawatir karena saya pasti akan tetap memenuhi janji yang telah kita sepakati." Panjang lebar Shinta mengeluarkan segala yang mengganjal didadanya.


"Kamu ini ternyata ceriwis juga ya, sampai tidak membiarkanku bicara."


"Ma‐maaf Mas. Saya sudah terlalu lancang." Kemudian Shinta kembali terdiam merasa bersalah.


CUP


Mata Shinta terbelalak karena sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya." Mas–."


"Lenapa, hemm....apa aku tidak boleh mengucapkan selamat dan berterima kasih pada istriku yang telah bersedia menampung benih calon anakku kelak. Terima kasih ya, istriku."


"Sama-sama, Mas. Jadi, apakah itu artinya Mas sudah mencintai saya?"


"Kalau soal itu aku belum tahu. Sudahlah, sekarang tidurlah tidak baik ibu hamil tidur larut malam!"


DEG


Shinta sangat bahagia karena yang ia pikirkan tidak benar-benar terjadi. Ia hanya fokus menatap wajah sang suami yang sudah memejamkan matanya. ' Ternyata kamu memang tidak akan bisa jatuh cinta padaku, Mas." Shinta membalikkan tubuhnya memunggungi Wira kembali.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2