
Suara klakson mobil yang terus berbunyi tak jauh dari tempatnya berdiri sama sekali tak dihiraukannya. Karena ia tahu siapa si pemilik mobil tersebut yang tak lain adalah anak laki-laki dari sang majikan yang telah menghamcurkan masa depannya dan juga menorehkan luka di hatinya.
"Mau apa sih, dia?" Inara menggerutu tak suka. Ia lebih memilih menghindar saja dengan melangkahkan kakinya menjauh. Dan ternyata mobil itu pun membuntutinya. Inara tak mengerti dan bertanya-tanya untuk apa sang tuan muda melakukannya. Ia pun mempercepat langkah kakinya.
Tin tin
"INARA! Berhenti....ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!" setelah berhasil menyusul Inara, Kiano menurunkan kaca mobilnya dan berteriak memanggil dan menyuruh Inara untuk menghentikan langkahnya.
Dengan terpaksa Inara pun akhirnya menuruti perintah dari sang tuan muda dan menoleh kearah Kiano yang juga sudah menghentikan laju kendaraannya. "Iya, ada perlu apa tuan mencari saya?"
"Sudah, ayo....masuklah dulu!"
Gadis itu tak menggubris omongan Kiano. Ia ragu untuk ikut dan tiba-tiba saja timbul berbagI pikiran negatif tentang tuan mudanya yang berniat buruk padanya." Tuan bicara saja, saya akan mendengarkan dari sini."
Kiano menghela nafas beratnya kemudian ia pun turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Inara yang semakin ketakutan ketika Kiano menarik tangannya lalu, menggiringnya masuk kedalam mobil dengan paksa meskipun Inara terang-terangan menolaknya. "Tuan Muda, apa sih yang anda inginkan? Bukankah urusan kita sudah selesai dan saya tidak akan mengganggu anda lagi. Tolong biarkan saya turun. Saya harus segera pulang nanti bi Kokom akan mencari saya."
"Bi Kokom ngak akan mencari kamu. Kita cari tempat yang aman untuk bicara. Ada hal penting yang secepatnya harus kita selesaikan.
"Hal penting apa? Bukankah kita tidak pernah memiliki masalah atau pun hal penting yang mesti di bicarakan. Kita tidak mempunyai urusan apapun. Jadi, untuk apa kita bicara. Lebih baik turunkan saja saya disini, saya harus segera pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."
Kiano mendengus kesal mendengar ocehan Inara yang meyerocos tak berhenti membuatnya geregetan."Kalau kau tidak bisa diam maka, jangan salahkan jika aku akan melakukan hal itu lagi padamu."
Ucapan ambigu Kiano seketika membuat Inara bungkam. Inara mengerti apa yang dimaksud oleh tuan mudanya itu. Gadis itu pun bergerak waspada takut kejadian serupa akan menimpanya lagi. Ia tak ingin itu terjadi. "Jangan macam-macam ya, atau saya akan melompat."
"Melompat saja kalau bisa, pintunya sudah terkunci rapat." Kiano malah sengaja menantang jika Inara berani. Sebab hal itu tidak akan pernah terjadi karena pintu mobilnya tak akan bisa dibuka oleh gadis itu.
Inara refleks menyentuh handle.pintu mobil tersebut dan benar saja tak bisa terbuka. Akhirnya Inara pun hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan Kiano. "Benar kan, ngak bisa? Ngeyel sih. Sudah nurut saja kamu. Aku juga ngak ada niat mau ngapa-ngapain juga ke kamu, kok."
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Kiano melaju ke area pinggiran kota kemudian berbelok memasuki sebuah gerbang yang tak terlalu besar. Sekilas Inara membaca tulisan yang tertera di sebuah papan reklame. Penginapan xxxx. Sontak mata Inara terbelalak dan otaknya langsung berpikir ke hal-hal yang tidak-tidak. ' Untuk apa dia membawaku ketempat ini. Dasar brengsek, dia bilang tidak mau macam-macam lalu, buat apa masuk ketempat sepeti ini.' Pikiran negatif Inara mulai bermunculan.
"Tu–tunggu dulu! Mau apa kamu membawa saya ketempat seperti ini?"
"Sudah jangan cerewet, kan sudah aku bilang tidak berminat untuk macem-macemin kamu. Aku membawamu kesini agar kita bisa berbicara lebih tenang dan tak akan ada yang mengenali kita dan mengganggu." Jadi, begitulah alasan Kiano mengapa membawa Inara kepenginapan sederhana seperti itu. Sungguh bukan selera Kiano sama sekali. Namun, demi kebaikan bersama maka ia pun harus melakukannya.
Setelah memesan sebuah kamar, Kiano dan Inara pun menuju kekamar yang letaknya paling pojok. Ya, karena penginapan tersebut seperti sebuah kamar kos-kosan. "Masuklah!" setelah membuka pintu kamar, Kiano menyuruh Inara masuk dan gadis itu pun tak banyak bicara langsung memasuki kamar yang tampak tak terlalu besar itu.
"Kenapa masih berdiri terus. Apa kakimu tidak pegal?" Inara yang hanya berdiri saja dan hanya memperhatikan ruangan tersebut tak ngeh jika, Kiano menegurnya.
"Hei–Inara. Aku bilang duduk kan. Apa yang sedang kamu lamunkan, hah?" Kiano yang kesal menarik paksa tangan Inara hingga tubuhnya jatuh terduduk di atas tempat tidur yang berukuran sedang.
"Aaakhh–." Pekik Inara karena begitu terkejut dengan aksi pemaksaan dari Kiano."Tuan, anda mengagetkan saya saja."
Hening sejenak, hingga Kiano pun memulai percakapan. "Emm....Aku sudah mendengar versi cerita dari Erwin, Jay dan Tony. Dan malam itu mereka memang meninggalkan aku sendirian di luar Villa dalam keadaan mabuk berat. Mungkin aku telah melakukan hal itu terhadapmu dan aku minta maaf karena tidak mengingatnya. Dan soal kehamilanmu....gimana ya? Aku juga masih bingung harus bagaimana. Jujur, aku tidak menyukaimu dan sama sekali tak ada rasa apa pun di hati ini. Jadi, tolong beri aku waktu untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Untuk saat ini tolong kamu rahasiakan dulu mengenai hal ini pada bunda dan ayah. Nanti aku akan memberitahukannya langsung pada mereka. Kamu mau kan menunggu?"
Jujur. Ada sedikit rasa lega dihati Inara. Setidaknya tahu sang tuan muda secara tidak langsung telah mengakui janin yang ada dirahimnya dan tak disangka laki-laki itu pun tanpa malu dan gengsi mau meminta maaf pada Inara. "Baiklah, Tuan. Saya akan melakukannya dan menunggu niat baik anda." Inara akhirnya menyetujui permintaan dari Kiano.
"Tuan, anda bicara apa sih?" Sungguh, Inara sangat malu mendengarnya.Tetiba ia jadi merinding membayangkan akan terjadi sesuatu untuk yang kedu kalinya. Ia tak ingin hal itu terjadi. Namun, tiba-tiba tanpa bisa dikontrolnya sebuah suara aneh terdengar cukup jelas.
"Krukkkkk–!"
Betapa malunya Inara karena perutnya berbunyi begitu nyaring menandakan jika, ia dan sang calon bayinya kelaparan.
"Kamu lapar?" Tanya Kiano karena suara itu terdengar tidak hanya sekali. Benar juga, sejak keluar dari sekolah tadi gadis itu belum makan siang.
Inara hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya dan tertunduk malu.
__ADS_1
"Oke, sebelum pulang kita cari makan dulu ya."
Usai menikmati makan siang yang sedikit telat di sebuah rumah makan sederhana, mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan pulang.
Tepat pukul tiga sore merekapun tiba di rumah. Di kejauhan Inara dapat melihat dengan jelas Vania.sedang berbicara dengan bi Kokom. Inara sudah bisa menebak jika kedua wanita paruh baya itu pasti tengah membicarakannya tepatnya mengkhawatirkannya yang tak kunjung pulang sekolah sampai sesore ini.
Inata merutuki sikap Kiano yang seenaknya saja. Padahal tadi sebelum sampai didepan gerbang Inara meminta untuk diturunkan karena tak ingin membuat siapapun curiga melihatnya pulang bersama anak sang majikan. Lalu, apa yang akan ia katakan jika Vania bertanya padanya.
"Inara–kamu ternyata bersama dengan Kiano. Kemana saja kalian sampai jam segini baru pulang? Loh....tapi, kenapa kalian bisa pulang bersama?" Sepertinya Vania sudah mulai curiga akan kebersamaan sang putra dengan art nya itu.
"I–tu, maaf Bu. Tadi saya–." Otak Inara benar-benar blank, dia belum menyiapkan jawaban apa yang maauk diakal agar tidak menjadi masalah kalau ia sampai salah bicara.
"Oh, tadi Inara pergi sama kami. Biasa di Erwin mau ntraktir katanya. Maaf bun, aku ngak bilang kalau mau mengajak Inara." Kiano langsung bergelayut manja pada lengan sang bunda.
"Begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Tapi, lain kali kamu jangan gitu lagi loh Ki. Main bawa anak gadis orang aja. Nanti kalau sampai kenapa- napa gimana?"
Bukan kalau lagi tapi, sudah kenapa-napa. Dan tersangka utamanya adalah putranya sendiri.
Keesokkan harinya para anggota keluarga telah berangkat untuk melakukan aktifitas rutin mereka masing-masing. Hanya Inara saja yang masih bersantai ria sambil meembersihkan kolam renang. Hingga suara seruan Vania dari dalam rumah seketika menghentikan kegiatannya.
"INARA–kesini sebentar!"
DEG
"Aduh, ada apa ya tiba-tiba bu Vania memangil. Atau jangan-jangan ini soal aku yang telah mengundurkan diri untuk berhenti sekolah." Gumamnya sambil melangkah masuk kesalam rumah lalu, menghampiri Vania yang tengah duduk diatas sofa ruang keluarga.
"I‐iya, ada apa ya Bu?"
__ADS_1
"Kenapa kamu berhenti sekolah tanpa berbicara dengan kami dulu. Sebenarnya ada apa sampai kamu senekad itu?"
Bersambung