
Vania beranjak dari duduknya dan melangkah perlahan menuju ke belakang. "Dimana ya letak toiletnya? Akh...kenapa pandanganku terasa gelap beginii–?"
GREPP
"Vania–?"
Tubuhnya hampir saja jatuh terhuyung kebelakang ketika sebuah lengan kekar menahan tubuh Vania hingga gadis itu terhempas di pelukan pria tersebut.
Dan ternyata laki-laki itu adalah Liam. Antara terkejut dan juga khawatir karena tiba-tiba Vania jatuh tak sadarkan diri.Apa yang terjadi dengannya. Di samping itu ada rasa lega dan bahagia karena pencariannya selama ini telah berakhir dengan pertemuannya secara tidak sengaja dengan Vania.
"Ada apa dengan dirimu? Vania...sadarlah Vania!" Liam menepuk-nepuk pelan pipi Vania. Namun, sama sekali tak ada reaksi dari gadis itu.
Liam pun akhirnya menggendongnya ala bridal style dan akan membawanya kesalah satu kamar di hotel yang sama tempat diadakannya pesta tersebut.
Selang hampir setengah jam kemudian, Vania mulai mengerjapkan matanya. Masih mengumpulkan kesadarannya, Vania mengedarkan padangannya kesekeliling ruangan yang tampak asing baginya.
"Kepalaku rasanya berat sekali. Aku dimana dan kenapa–."
"Akhirnya kamu sadar juga.Vania...aku sangat bahagia akhirnya dapat bertemu denganmu lagi. Aku dan–."
"Tu–an Liam, apa yang telah Tuan lakukan kepada saya? Tolong biarkan saya pergi, saya ingin pulang. Ah...tidak, saya harus kembali ke pesta itu.Tuan Dariel nanti akan marah dan mengira saya melarikan diri."
Mendengar Vania menyebut nama laki-laki lain membuat hati Liam terasa panas." Dariel...siapa dia? Jangan bilang kalau yang kamu maksud adalah Dariel Lawrence."
"Iya, benar Tuan Dariel Lawrence. Beliau adalah boss di tempat saya berkerja. Maaf, permisi saya harus segera kembali kesana."
"Jadi itu yang membuatmu melupakan segalanya? Pria yang lebih kaya dan berkuasa. Aku tidak pernah menyangka ternyata beginilah aslimu. Aku dan keluargaku selama ini telah salah menilaimu."
Setiap kalimat yang keluar dari bibir mantan majikannya itu sangat menyakiti hatinya terkesan bahwa Vania adalah perempuan tidak baik yang hanya mengejar uang dan harta kekayaan. Sungguh merendahkannya. Laki-laki itu selalu bermulut pedas hanya karena Vania cuma orang rendahan dan miskin. Tidak seperti mereka yang berasal dari kalangan atas dan memiliki harta yang berlimpah. Vania menghela nafas kasar,ia tak boleh terpancing emosi karena tidak ada gunanya berhubungan dengan laki-laki brengsek itu dan juga keluarga Ghazala yang terhormat.
"Terserah anda mau menilai saya seperti apa. Yang terpenting saya harus kembali dan memenuhi janji saya. Satu lagi, Tuan tidak perlu khawatir mengenai apapun. Terutama tentang masa lalu yang sangat ingin saya lupakan.Saya tidak akan membocorkannya pada siapapun. Oh, sekali lagj terima kasih Tuan telah menolong saya. "
Setelah mengucapkan kata terima kasih Vania bergegas turun dari atas tempat tidur, mengenakan kembali heels nya lalu segera beranjak keluar dari kamar tersebut.
"Tunggu–Vania, tunggu aku belum selesai bicara. Ada banyak yang ingin aku bicarakan denganmu terutama tentang Kiano anak kita."
__ADS_1
Langkah Vania terhenti, mendengar kata anak kita membuat Vania menggeleng sambil memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya Liam berkata seperti itu. Apa dia baru sadar dan ingin bertanggung jawab terhadap putranya. Vania sungguh tak habis pikir. Apa.sih mau nya laki-laki itu? Jangan-jangan apa yang ditakutinya selama ini akan benar-benar terjadi.
"Tidak tidak, aku tidak akan membiarkan keluarga kaya raya itu mengambil Kiano. Tak akan pernah kubiarkan hal itu sampai terjadi. Kiano anakku dan hanya milikku."
Sebuah gerakan telapak tangan mengibas-ibas tepat didepan wajahnya membuat Vania tersadar dari lamunan sejenak nya. "Bagaimana Vania, mari kita bicarakan baik-baik dan mencari jalan keluar yang terbaik itu semua demi masa depan Kiano, Van." Lagi...Liam selalu saja memaksakan kehendaknya. Si Tuan Muda pemaksa masih saja tidak berubah.
"Baiklah Tuan. Tapi, tidak sekarang ini karena saya harus segera kembali ke tempat acara Tuan Dariel." Tanpa menunggu tanggapan dari Liam, Vania pun keluar dan pergi meninggalkan Liam yang masih berdiri menatap kepergian Vania.
"S****, sebenarnya ada hubungan apa antara Vania dan Dariel Lawrence. Tidak...aku tidak akan membiarkan pria manapun mendekati Vania apalagi sampai memilikinya." Liam tak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Akhirnya Liam pun menyusul Vania kembali ke ballroom hotel tempat pesta berlangsung.
Sementara itu acara sudah mulai berlangsung.Dariel baru saja selesai memberikan kata sambutan sebagai tuan rumah diacara tersebut. Setelah turun dari atas panggung, Dariel langsung berbicara pada sang asisten menanyakan perihal Vania yang sejak tadi tak terlihat keberadaannya.
"Bobby, dimana Vania? pergi kemana dia, aku kan menyuruhmu untuk mengawasinya dan sekarang dia malah kabur kan. Bisa gagal rencanaku."
"Maaf kan saya, Tuan. Saya telah lalai menjaga nona Vania. Tuan tidak usah cemas Saya akan mencarinya sampai dapat dan membawanya kembali kehadapan anda."
"Ya, cepat lakukan! Aku tidak ingin si wanita licik itu mencari kesempatan dengan menghasut mommy dan daddy agar menjodohkan kami. Aku tak sudi menerimanya." Yang dimaksud Dariel adalah Celin.
Baru saja Bobby berbalik badan dan ingin melangkah pergi mencari Vania. Tiba-tiba gadis yang tengah mereka cari muncul di hadapan mereka.
"Begitu, baiklah...it's ok. Sekarang kamu temani saya menyapa beberapa rekan bisnis perusahaan kita." Vania mengangguk lalu, berjalan mengikuti langkah Dariel. Sedangkan Bobby mengekori di belakang mereka.
Semua tamu terutama para lelaki tampak kagum dengan penampilan dan keanggunan Vania ketika mendampingi Dariel sebagai tuan rumah diacara tersebut.
"Tuan Dariel, apakah Nona ini calon istri anda? Sangat cantik...anda memang sangat beruntung, Tuan." Salah seorang tamu kolega bisnis nya memuji Vania yang tampak serasi dengan Dariel.
"Ah, benarkah? Terima kasih. Ya...aku memang sangat beruntung. Benar kan, sayang." Tiba-tiba Dariel merengkuh pinggang ramping Vania agar lebih merapat padanya. Sedangkan Vania tak berani menolak apa yang dilakukan boss nya itu. Ia hanya tersenyum menanggapi pujian dari tamu tersebut.
Tanpa disadarinya, Liam tengah menatap tak suka akan kedekatan Vania dengan Dariel. Hatinya.semakin panas melihat gesture tubuh keduanya yang tampak mesra.Liam pun segera melangkahkan kakinya menghampiri mereka.
"Ekhem, Permisi...Tuan Lawrence Selamat atas hari jadi perusahaan anda dan sukses selalu."
"Ah, Tuan. Tuan–."
"Liam Tarendra Ghazala."
__ADS_1
"Oh iya, maaf Tuan Ghazala. Terima kasih telah memenuhi undangan kami."
"Sama-sama Tuan, saya harap perusahaan kita dapat bekerja sama kembali."
Kedua pria tampan itu pun saling berjabat tangan. Namun, pandangan mata Liam masih terarah pada Vania yang berdiri sangat dekat di samping Dariel.
"Tuan Liam, perkenalkan ini Vania dia adalah–." Perkataan Dariel langsung terpotong oleh ucapan Liam.
"Kami sudah saling mengenal, Tuan Dariel. Apa kabar Vania. Lama tidak berjumpa."
Dariel Mengernyit penuh tanda tanya lalu, menatap Vania dan Liam secara bergantian. "Oh, benarkah? dunia memang sempit ya." Dariel tertawa namun, tampak dipaksakan. Entah mengapa ia merasa kurang suka ketika mengetahui ada pria lain yang mengenal Vania.
"Maaf Tuan Dariel. Bolehlah nanti saya yang mengantar Vania pulang karena ada kabar mengenai salah seorang keluarganya yang harus saya sampaikan. Boleh, kan Tuan Dariel?" Dariel menatap Vania dan Vania membalasnya dengan sebuah senyuman dan ia mengira bahwa Vania pun memang ingin berbicara dengan Liam.
"Baiklah Tuan Liam.Tolong titip Vania ya."
"Pasti akan saya jaga dengan baik, Tuan. Anda jangan khawatir. Kami sudah saling mengenal cukup lama."
Vania menghembuskan nafas kasar ketika melihat Liam membukakan pintu mobil untuknya. Tak ingin menjadi pusat perhatian jika menolak laki-laki itu dengan kasar akhirnya Vania pun menuruti keinginan si tuan pemaksa itu.
"Dimana rumahmu? Aku kangen dengan putraku. Kiano.pasti sekarang sudah besar dan sedang lucu-lucunya."
"Dia hanya anak saya bukan anda, Tuan Liam. Bukankah Kiano terlahir dari wanita miskin seperti saya yang bahkan hanya menjadi seorang pembantu dan tak akan pernah pantas menjadi bagian dari keluarga Ghazala yang begitu terhormat. Jadi, sebaiknya lupakan pertemuan kita ini. Lupakan kami dan lanjutkan kehidupan kita masing-masing. Masih banyak wanita dari kalangan atas yang lebih pantas menjadi menantu untuk Nyonya.dan Tuan besar." Vania menyerocos tak putus-putus membuat Liam semakin gemas dan.geram secara bersamaan.
"Lalu, bagaimana dengan bi Arum. Apakah kamu juga akan melupakannya dan tak ingin bertemu dengan wanita yang telah kau anggap seperti ibu kandungmu sendiri. Dan betapa teganya kamu main kabur saja dan meninggalkan banyak kesedihan untuknya. Kasihan bi Arum, dia sangat merasa bersalah dan ingin berhenti bekerja karena ingin mencari dirimu. Apakah kamu tega membiarkannya tersiksa karena di liputi rasa penyesalannya." Liam juga tak ingin kalah mengeluarkan unek-uneknya. Sekaligus ingin menekan Vania dengan rasa bersalahnya.
"Tuan sedang membicarakan bi Arum atau diri anda sendiri. Ah, alasan...bilang saja anda ingin saya ikut pulang ke rumah mewah itu lagi, bukan. Jika begitu, maaf saya tidak akan–."
CIitttt
Liam secara mendadak menghentikkan mobilnya lalu, menatap tajam Vania yang tengah duduk disampingnya.
"Begitu– ternyata beberapa bulan ini kamu tampak berubah, Ya. Bahaimana kalau yang ini?"
CUP
__ADS_1
Bersambung.