
Kehidupan rumah tangga pasangan Liam dan Vania semakin harmonis. Apa lagi Kiano saat ini sedang aktif-aktifnya. Balita montok itu tak bisa diam selalu bergerak dan berlari kesana kemari sampai bi Arum kualahan mengikutinya.
Vania tengah berkutat di dapur karena Liam mengatakan akan pulang cepat dan makan siang dirumah. Sedang asik-asiknya memasak tiba-tiba dering ponselnya berbunyi. Vania pun mematikan kompornya dan melihat siapa yang menelponnya. Setelah tahu siapa si penelpon, Vania pun segera menjawabnya.
"Hallo, Assalamuallaikum ma."
"Wa'allaikumsalam. Van, nanti sore kalian datang ya kerumah kita makan malam bersama, mama tadi sudah telpon Liam."
"Baik ma, nanti kami akan kerumah mama dan papa. Dalam rangka apa ya ma, kok mendadak sekali." Tanya Vania penasaran.
"Dalam rangka menyambut kepulangan Wira, akhirnya anak itu ingat orang tuanya. Mama sangat bahagia Van."
Vania pun turut merasakan kebahagiaan sang ibu mertua. Putra bungsu yang begitu di rindukannya akhirnya akan kembali ke dalam keluarga. Wira adalah penerus kerajaan bisnis keluarga Ghazala karena Liam sang putra tertua telah membangun kerajaan bisnisnya sendiri
"Aku juga ikut senang ma, akhirnya Wira benar-benar akan pulang."
"Iya Van. Oke, nanti ngobrolnya kita lanjut lagi ini mama sama Shinta sedang masak untuk persiapan makan malam nanti."
"Sip ma. Oh ya, si Shinta ngak macem-macem kan ma? Maklum anak itu kan suka pecicilan takutnya nanti bikin rusuh dirumah mama."
Nama gadis itu Shinta Amisha adalah putri dari bi Arum yang baru saja lulus SMA dan lulus smptn dan diterima di universitas negeri di ibukota. Gadis manis tersebut sejak kecil memang berotak cerdas. Berhubung bi Arum sekarang ikut dan tinggal dirumah Vania dan Liam.
Maka, Shinta tinggal di rumah utama sekalian bantu-bantu karena kediaman Ghazala hanya memiliki satu orang art. Itu pun atas permintaan mama Helen sendiri dengan alasan rumah terasa sepi karena keluarga Liam telah tinggal di rumah mereka sendiri.
"Shinta–macam-macam? Ya ampun Van, mama justru senang Shinta tinggal disini. Anak itu sungguh lucu dan rumah ini jadi tidak sepi lagi."
"Benarkah ma? Syukurlah kalau begitu ma. Soalnya kan Shinta itu agak ceriwis takutnya mama kurang nyaman dengan tingkah lakunya." Vania lega karena apa yang ia takutkan tak terjadi. Adik sepupunya itu memang terlalu super ceria. Takutnya malah bikin malu.
"Ya sudah, ngak usah khawatirkan soal Shinta. Pokoknya nanti sore kalian harus datang ya. Bilang Liam, awas saja kalau dia beralasan tak mau datang."
"Iya iya ma, pokoknyaberes kalau urusan mas Liam sih. Oke, selamat masak yang enak-enak ya ma."
"Assalammuallaikum, ma."
"Wa'allaikumsalam, sayang."
__ADS_1
Klekk
Usai bertelpon ria dengan sang ibu mertua. Vania pun kembali melanjutkan acara memasaknya. Waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Sebentar lagi suaminya pasti akan segera tiba dirumah.
Tepat pukul dua belas siang akhirnya hidangan santap siang telah tertata rapi di atas meja makan. Setelah itu Vania segera bergegas kekamarnya untuk membersihkan diri dan berganti baju. Ia tidak ingin ketika sang suami pulang tubuhnya masih bau dapur.
Selang setengah jam kemudian Vania telah menyelesaikan segala aktifitasnya yaitu melaksanakan sholat dzuhur. Ia belum menyadari akan kehadiaran Liam yang sudah berada didalam kamar. Baru saja Vania berbalik badan ingjn bersiap menyambut kedatangan Liam namun, tiba-tiba sebuah tangan meraih pinggangnya sampai terhempas di dada bidang suaminya. Sontak apa yang dilakukan Liam membuat Vania terkejut bukan main.
"Aaakhh–mas, bikin kaget aja ih." Memukul dada sang suami dengan gemas.
"Kenapa? Kaget ya....maaf, sayang. Habis istri cantik mas selalu bikin gemes sih. Wangi sekali, cium dikit bolehlah– ."
CUP
"Muachhh–."
Setelah mendaratkan ciuman di pipi dan bibir sang istri. Liam pun beranjak masuk kedalam kamar mandi setelah sebelumnya melepas sepatu dan pakaian yang masih melekat ditubuhnya dengan santainya. Vania menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suami tampannya itu.
Usai makan siang Liam tidak kembali lagi kekantor. Ia ingin menghabiskan waktu bermain dengan jagoan ciliknya. "Jagoan ayah tambah pintar ya, ayo...bilang ayah...a–yah!" Kiano tengah bermain diatas karpet dengan ditemani oleh ayahnya. Sesekali Liam mengajak berbicara putranya agar bisa belajar mengucapkan kata-kata.
Liam masih tidak menyerah dengan mengulangi kata-katanya agar Kiano mengikutinya. "Ayo boy; bilang Ayah...a–yah!"
"Yahh–." Tidak disangka-sangka ternyata Kiano mengikuti ucapan Liam walaupun hanya kata bagian belakangnya saja.
"Woo—kamu dengar tidak Kiano barusan bilang apa? YAH...itu artinya ayah, kan. Jagoan ayah memang paling pintar. Ayo, katakan lagi nak. A–yah!"
"Yah yah." Celotehnya lagi sungguh menggemaskan.
Vania sampai melongo kenapa dengan Liam putranya itu sangat patuh sedangkan ia yang seharian bersama Kiano balita itu sama sekalii tak mau mengucapkan kata bunda padahal Vania juga sering melakukannya.
"Oh ya mas, nanti sore kita jadi kan kerumah mama dan papa. Kata mama tadi mas sudah diberitahu sama mama kalau acara makan malam nanti dalam rangka menyambut kepulangan Wira." Vania hampir saja lupa menanyakan perihal acara makan malam keluarga pada suaminya.
"Hem– tadi pagi saat dikantor mama telpon mas memberitahu soal Wira. Iya jadilah sayang, masa' adik sendiri pulang tidak disambut. Sudah ah, ngak usah membahas itu terus. Ini Kiano kayaknya mengantuk lebih baik dikeloni dulu nanti kalau sudah tidur giliran ayahnya yang gantian minta kelon." Dengan entengnya bibir Liam berucap hal yang absurd seperti itu membuat Vania berdecak sebal.
"Ck–dasar ayahnya Kiano, ngak mau kalah sama anaknya sendiri. Modus terus."
__ADS_1
"Jangan gitu lah sayang. Mas kan juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang bukan Kiano saja yang boleh bermanja-manja sama bundanya." Liam menaik turunkan alis matanya menggoda sang istri.
"Bisa ae pak'e. Yo wes tak ngeloni anak lanangmu sik yo ayah." Vania pun beranjak sambil menggendong Kiano menuju kekamar balita tersebut.
Menjelang sore hari Liam, Vania dan Kiano tak lupa Bi Arum juga turut serta berangkat ke kediaman Ghazala. Vania tampil sederhana dengan dress dibawah lutut berwarna marun yang begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Sedangkan Liam memakai kemeja lengan pendek berwarna senada dengan yang dikenakan Vania dan bawahannya celana chinos berwarna krem. Dan Kiano juga memakai baju yang serasi dengan ayah dan bundanya.
Perjalanan menuju kekediaman Ghazala hamya memakan waktu setengah jam saja. Kini mereka sudah tiba dan langsung disambut dengan antusias oleh kedua orang tua mereka terutama mama Helen yang sudah tak sabar ingin meenggendong cucu tampannya.
"Assalamu'allaikum. ma, pa."
:Wa'allaikumsalam. Hallo cucu uti....sini-sini sama uti ya sayang. Aduh aduh, Kiano cepat sekali besar ya makkn ganteng lagi."
Mama Helen langsung meraih Kiano yang digendong oleh sang bunda. Vania tentu saja menyerahkan putranya itu ketangan ibu mertuanya itu. Vania mengerti pasti nenek dan kakek Kiano pasti sangat rindu dengan cucu mereka.
"Memangnya Wira jam berapa akan tiba Pa?" Itu Liam yang bertanya pada papa Bisma.
"Sebentar lagi juga Wira akan tiba. Barusan dia memberitahu sudah hampir sampai. Kita tunggu saja."
Liam yang masih penasaran apa yang menyebabkan adiknya itu berubah pikiran. Apakah Wira sudah bisa move on karrna Vania. Itulah yang ada di pikiran Liam saat ini.
Sambil menunggu mereka menunggu diruang keluarga.Tampak Kiano sudah mengantuk mulut mungilnya menguap beberapa kali dan mulai merengek karena rasa kantuknya.Liam pun menyuruh Vania untuk menidurkan Kiano di kamarnya. "Sayang, Kiano sepertinya sudah mengantuk...keloni dulu, sana!" Vania mengangguk lalu beranjak dari duduknya lalu, melangkah menuju ke kamar mereka.
"Kiano kenapa Van? Apa sudah mengantuk, sudah keloni saja dulu mumpung Wira belum tiba!"
"Iya ma, Vania tinggal dulu ya."
Sebuah mobil mewah memasuki pintu gerbang fan berhenti trpat di depan pelataran rumah. Tampak sosok pria berpostur tinggi dan berbaran kekar turun dari mobil itu.
"Apakah itu Tuan Wira? Wah...gantengnya." Shinta yang memang tengah berada diteras depan dapat melihat kedatangan Wira dan mata bulat gadis itu pun membola sempurna ketika melihat sosok anak majikannya yang tampak begitu menyilaukan mata.
"Kamu siapa?"
"Eh– maaf, Tuan muda. Saya–."
Belum juga Shinta melanjutkan perkataannya, Wira sudah menyelonong begitu saja meninggalkan Shinta yang cengo berdiri mematung.
__ADS_1
Bersambung