Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
66. Meraih surga dunia


__ADS_3

Melihat sang bunda, Shinta tak bisa lagi membendung kesedigannya. Ia pun langsung berhambur memeluk ibunya dengan deraian air mata. Bi Arum mengurai pelukannya lalu, menatap putrinya dengan mata yang memerah. "Kamu kenapa, nak? Apa yang terjadi?" Bi Arum tampak begitu Khawatir dan jadi berpikiran negatif tentang keadaan rumah tangga putrinya.


Tak ingjn membuat ibunya khawatir Shinta pun merubah mimik wajahnya ke mode ceria dan tersenyum pad sang bunda. "Oh, Shinta ngak apa-apa kok bu. Cuma lagi kangen aja sama ibu. Lagi buat apa ini?"


Hari bi Arum merasa lega putrinya baik-baik saja. Apa yang ia pikirkan tidak terjadi. Shinta sudah kembali ceria seperti biasanya. "Ini teh dan kopi buat tuan dan nyonya juga buat kamu."


" Buat Shinta ngak usah bu. Aku akan ngeteh disini.saja sama ibu. Aku kurang nyaman jika bergabung bersama mereka, ngak tahu....mungkin karena belum terbiasa."


"Maka dari itu biasakanlah. Kamu itu sekarang menantu tuan dan nyonya dan telah menjadi bagian dari keluarga Ghazala. Sudah, sana kembali kedepan dan bantu ibu bawakan makanan ini!"


Shinta pun menurut lalu, berjalan mengekori bi Arum sambil membawa nampan hang berisi makanan ringan.


Setelah menyajikannya diatas meja, bi Arum pun pamit undur diri ingin kebelakang dan Mama Helen menyuruh bi Arum untuk pergi beristirahat dikamar yangnpernah wanita paruh baya itu tempati. Seperti biasa anak dan menantu serta cucu mereka pasti akan menginap. Begitu pun dengan Wira dan Shinta.


Liam dan Vania telah berada dikamar mereka. Begitu pun Mama Helen dan Papa Bisma. Kini tinggal Wira dan Shinta yang belum masuk kekamar Wira masih asik dengan ponselnya, sedangkan Shinta hanya melamun sendirian. Sungguh, Shinta tak menyangka jika sikap suaminya bisa berubah secepat itu. Padahal mereka baru saja menikmati malam pertama yang begitu membahagiakan. Kemana suaminya yang memperlakukannya begitu lembut saat mereka bercinta? Lambat laun akhirnya Shinta tahu sifat asli Wira yang sebenarnya.


Karena tak ada interaksi apapun diantara mereka, Shinta yang hatinya sedang resah pun akhirnya memutuskan untuk menyusul ibunya saja ke belakang, tepatnya kekamar para pembantu. Tanpa berpamitan pada Wira ia pun langsung beranjak pergi. Karena Wira sudah pasti tidak akan perduli dengan keberadaannya. Dan benar saja, Wira bahkan hanya diam saja saat Shinta pergi.


Shinta menghembuskan nafas panjang. " Kuat-kuat, Shinta!"


Kriett


"Bu–Shinta boleh kan tidur disini sama ibu?"


Bi Arum begitu terkejut dengan kedatangan putrinya. "Kamu ngapain kesini Shin?" tanya sang bunda.


Shinta tak menjawab, ia malah langsung naik keatas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman. "Mau tidur sama ibu lah. Shinta kangen." Padahal Shinta hanya ingin menghindari Wira. Suaminya itu seakan tak perduli padanya namun, Shinta tidak mempermasalahkannya karena ia cukup tahu diri siapa dirinya sebelum menikah dengan Wira.


Bi Arum tak lagi bertanya. Wanita paru baya itu pun ikut bergabung dengan sang putri." Ya sudah, tidurlah. Tapi, Shin. Apa kamu sudah izin sama suamimu kalau mau tidur disini?"

__ADS_1


"Hemm–." Shinta hanya bergumam pelan sambil memejamkan matanya.


Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.Sementara itu di rumah utama semua anggota keluarga Ghazala telah beristirahat di pembaringan masing-masing tak terkecuali Wira yang juga telah berada dikamarnya.Namun, ia merasa ada sesuatu yang terlupakan tapi, apa? Dan ia pun berdecak kesal pada dirinya sendiri karena ternyata sejak tadi ia melupakan keberadaan Shinta.


"Sial, kenapa aku bisa lupa sih? Kemana dia. Apa maaih didapur tapi, kayaknya sudah sepi dan semua orang telah kekamar masing-masing. Atau jangan-jangan dia kekamar bi Arum?" Wira pun segera bergegas menuju ke kamar para pegawai yang bekerja dirumah orang tuanya itu.


Sesampainya didepan salah satu kamar, Wira pun tanpa ragu langsung mengetuknya.


Tok


Tok


"Bi Arum, Shinta–."


Shinta yang memang masih terjaga karena tidak bisa tidur pun mendengar suara ketukan pintu dan mengenali suara orang yang memanggilnya. Malas sekali rasanya menemui suami dinginnya itu.Shinta pun memutuskan membangunkan bi Arum.Biar ibunya saja yang membukakan pintunya.


"Bu, bangun bu! Ada yang mengetuk pintu.Sepertinya itu tuan muda Wira. Tolong bilang kalau aku sudah tidur ya, bu."


Ceklekk


"Eh, tuan Wira. Apa ada yang bisa saya bantu?'


"Itu Bi, apa Shinta ada didalam?" Wira menjawab dengan bertanya langsung alasan kenapa ia datang kekamar ibu mertuanya itu. Apa lagi kalau bukan mencari keberadaan istri kecilnya.


Bi Arum pun tersenyum lalu, mengatakan jika Shinta memang ada bersamanya. "Ada, sebentar akan saya bangunkan." Bi Arum tak ingin banyak bertanya mengenai kehidupan rumah tangga anaknya nanti dikira terlalu ikut campur. Wanita itu pun masuk kedalam lagi untuk memanggil putrinya.


"Shin, benarkan itu suamimu. Sudah sana temui dia dan kalau kamu disuruh pindah kekamarnya ya ikutilah. Dosa, Shin jika, tidak nurut sama suami. Sana–!"


"Malas bu, Shinta mau tidur disini. Lebih nyaman." Kembali merebahkan tubuhnya. Membuat bi Arum menggelengkan kepala melihat sikap putrinya."

__ADS_1


Kemudian ia langsung menarik tangan Shinta sampai gadis itu terduduk kembali. " Sudah sana, ikut suamimu! Ibu ngak mau punya anak yang ngak nurut. Ayo, cepat keluar dan temui tuan Wira!" Dan akhirnya dengan wajah lesu Shinta pun menuju ke pintu lalu, beranjak keluar dari kamar ibu nya.


"Iya tuan, ada apa ya mencari saya?" Shinta berpura-pura tidak mengerti dan malah cuek bertanya seperti itu pada suaminya.


"Seharusnya aku yang bertanya, ngapain kamu malah todur disini? Ayo, ikut kekamarku. Kamu mau cari perkara ya, apa kata mama nanti kalau sampai mengetahui kamu tidur disini." Wira menatap tak suka akan sikap cuek Shinta.


Shinta pun tetap kekeuh pada keinginannya dengan beralasan rindu dengan bi Arum dan ingin tidur bersama dengan ibunya itu. " Ya, bilang saja jika, saya kangen dengan ibu dan ingin tidur disini. Begitu tidak masalah, kan? Lagi pula sepertinya anda sedang tidak membutuhkan saya. Jadi, izinkan untuk malam ini saja, Tuan."


"Apa katamu? Enak saja nagatur-ngatur aku. Ayo, jamgan banyak omong. Ikut aku kemar! Lagian siapa bilang kalau aku ngak membutuhkan kamu. Ya pasti butuh lah. Kamu itu istriku jadi, wajib melayani dan patuh pada suamimu ini."


"Maaf, Tuan. Sepertinya saya tidak bisa." Shinta masih saja keras kepala tak menggubris omongan suaminya.


Kesal dengan Shinta yang selalu membantah perkataannya, akhirnya Wira pun langsung membopong tubuh Shinta kepunggungnya seperti karung beras. Shinta oun berusaha memberontak dengan memukul-mukul punggung Wira meminta untuk diturunkan namun, Wira sama sekali tak menggubrisnya. Laki-laki itu terus berjalan masuk kedalam rumah utama menuju kekanarnya yang berada dilantai atas.


"Tuan, tolong turunkan saya. Saya janji akan menuruti keinginan Tuan. Saya bisa jalan sendiri."


"Tanggung. Sudah sampai juga baru minta turun." Wira membuka handle pintu kamarnya lalu, bergegas masuk.


BRUKK


Tubuh Shinta di lempar keatas tempat tidur lalu, Wira langsung menerjang istrinya dengan tidak sabar. Membuat Shinta terbelalak dan begitu terkejut tanpa ba bi bu suaminya itu langsung menerkam dirinya. Masa' iya dirumah ini mereka mau na ni nu. Mau taruh dimana wajahnya nanti kalau sampai yang lain mengetahui apa yang telah mereka lakukan.


"Tu‐ah....jangan. Nanti kalau Mama dan yang lain tahu bagaimana? Malu, kan."


"Kenapa mesti malu, Bercinta sama istri sendiri kok malu. Mereka pasti maklumlah. Namanya juga pengantin baru, lagi rajin-rajinnya bercocok tanam." Bisa-bisanya Wira bicara sesantai itu dan Shintapun semakin tak mengerti akan sikap suaminya yang berubah-ubah itu.


"Tapi, Tuan....mmpm–."


Tak tahan dengan kecerewetan Shinta. Wira pun langsung membungkam bibir sang istri dengan ciuman menggebunya. "Jangan banyak protes. Ayo, kita mulai saja!" Dan malam itu pun mereka melakukannya lagi. Namanya juga pengantin baru. Sedang semangat-semangatnya meraih surga dunia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2