Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
81. Vania melahirkan


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu. Kini usia kandungan Shinta memasuki bulan ke 6 sedangkan Vania 8 bulan. Sejak malam itu, Shinta telah bertekad akan menjalani kehamilannya dengan suka cita meskipun tanpa cinta dari suaminya. Ia akan tetap menjalani kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik. Namun, untuk soal nafkah batin Shinta sama sekali tak menuntut dari Wira. Karena ia sadar jika, suaminya tak akan pernah mencintainya. Jadi, kehidupan perkawinan yang mereka jalani hanya sebatas formalitas dan kewajiban saja. Itu yang selalu tertanam di benak Shinta.


Seharian ini kegiatan Shinta begitu padat. Usai mengikuti mata kuliah sejak pagi sampai sore dan setelahnya ia mengerjakan tugas bersama di kos-kosan Tari.


"Shin, harusnya kamu pulang saja dan istirahat. Biar aku sama Ambar dan Putra yang mengerjakan tugasnya." Tari yang melihat keadaan Shinta dengan perut buncitnya yang sejak pagi belum beriatirahat.


"Ya ngak etis lah,Tar. Masa' aku malah santai-santai dirumah sementara kalian yang mengerjakan tugas kita.Sudah jangan khawatir, aku baik-baik saja kok." Jawab Shinta tetap kekeuh ingin ikut bergabung mengerjakan tugas berkelompok yang diberikan oleh dosen.


Putra dan Ambar yang melihat betapa keras kepalanya Shinta pun sampai menggelengkan kepala. "Iya Shin, kamu ini keras kepala banget sih. Oh ya, apa suamimu tidak marah kalau sampai kamu pulang terlambat?"itu Putra yang bertanya.


"Dia tidak akan marah, kok. Sudah, ayo kerjakan tugasnya kenapa malah menginterogasi aku sih." Bukan apa-apa Shinta hanya merasa tak nyaman saja jika membicarakan tentang suaminya. Makannya dari pada menjawab jujur yang akan membuatnya sedih lebih baik ia alihkan pembicaraannya saja.


"Iya iya deh, bumil galak banget nih." Putra jadi merasa tak enak karena sepertinya Shinta tidak suka ia bertanya tentang suaminya.


Tepat pukul tujuh malam mereka pun akhirnya telah menyelesaikan tugasnya. Biasanya Shinta akan diantar oleh Tari dengan membonceng sepeda motor. Berhubung kini ada Putra yang membawa mobil jadi, Tari mengusulkan agar Shinta pulang bareng Putra dan Ambar. Dan Putra pun berjanji akan mengantar Shinta sampai keapartemennya.


Akhirnya mereka pun tiba di depan apartemen dan Putra bergegas turun untuk membukakan pintu untuk Shinta. "Silahkan bumil cantik, kita sudah sampai."


"Ish–kamu ini apa-apaan sih, Putra."


"Ya memang kamu itu bumil cantik dan imut menggemaskan." Si Putra malah merayu istri orang. Dia tak menyadari Jika, dibelakang mobil Putra juga berhenti sebuah mobil mewah siapa lagi pemiliknya kalau bukan Wira Bheru Ghazala.


"Ekhem–."


Suara deheman seseorang membuat Shinta dan Putra refleks menoleh kebelakang dan wajah Shinta seketika menegang. Ya, ia takut suaminya itu akan marah karena ketahuan baru pulang. Dan yang lebih membuatnya semakin tak tenang adalah melihat tatapan dingin dengan sorot mata tajam seakan langsung menusuk ke dadanya.Rasanya begitu nyeri.


"Ma–mas baru pulang juga?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibirnya. Sebab Shinta juga tidak bisa menerka reaksi apa yang akan di ucapkan oleh Wira.


"Hemm.. Dan kamu kenapa jam segini baru pulang? Siapa dia?" Wira menjawab pertanyaan Shinta dingin lalu, molontarkan balik pertanyaan pada sang istri yang justru bertanya tentang Putra.


Putra yang masih berdiri dalam diam menyimak perbincangan pasangan suami istri dihadapannya. Karena merasa situasi yang tak kondusif apalagi melihat wajah Shinta yang ketakutan membuat Putra jadi tak tega lalu, pemuda itu pun yang menjawab pertanyaan suami dari temannya itu. "Maaf, Pak.saya adalah teman Shinta dan kami baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok di rumah Tari dan saya cuma mengantar Shinta."

__ADS_1


"Saya bertanya dengan istri saya, bukan sama kamu." Jawab Wira datar dengan tatapan tak suka. Mana ada seorang suami yang senang jika, mengetahui istrinya pulang dengan diantar oleh laki-laki lain meskipun mereka hanya berteman. Wira tetaplah seorang suami yang berhak menegur Shinta yang bahkan tak meminta izin untuk belajar bersama dengan teman-temannya itu. " Dan kamu Shinta. Ayo, cepat naik!"


Shinta pun patuh lalu, segera melangkah masuk kedalam gedung apartemen setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih dan pamit pada Putra. "Putra, sekali lagi terima kasih ya."


"Iya, Shin. Sama-sama. Kalau begitu saya mohon pamit Pak. Maaf kalau saya lancang mengantar Shinta karena saya tidak tega kalau Shinta pulang berboncengan motor dengan Tari. Permisi."


Wira tak menanggapi perkataan Putra. Ia langsung melenggang pergi menyusul Shinta."Ck....maksudnya apa dia bicara seperti itu? Menyindirku." Wira berdecak kesal karena tampak jelas pemuda itu sedang menyindirnya.


Ketika memasuki unit apartemannya, Wira langsung menuju kekamar tak mengindahkan keberadaan Shinta yang tengah berkutat di dapur. Shinta sedang memasak untuk makan malam.


Selang lima belas menit kemudian Wira pun muncul dengan tampilan yang tampak segar. Wira tak menghampiri Shinta, laki-laki itu justru menuju ke sofa sambil menenteng macbook nya.


Hidangan pun telah siap dan tertata rapi diatas meja makan. Shinta bergegas menghampiri Wira untuk mengajaknya makan malam. "Mas, makan malam sudah siap."


Wira menoleh sekilas lalu, kembali fokus pada layar dihadapannya. " Kamu makan duluan saja, aku masih harus menyelesaikan ini dulu!"


"Baik, Mas. Maaf mengganggu.Permisi." Dengan rasa kecewa Shinta pun melangkah kembali menuju ke meja makan. Berhubung perutnya sudah terasa lapar dan bayi nya juga membutuhkan asupan makanan. Shintapun akhirnya memutuskan untuk makan duluan tanpa menunggu suaminya.


Sebenarnya Shinta kurang nafsu makan karena Wira yang tak menemaninya. Entah mengapa jika, ada Wira makannya jadi lahap dan rasanya berkali-kali lebih nikmat. Mungkin karena keinginan si jabang bayi. Tapi, Shinta tidak mungkin memaksakan kehendaknya bila Wira tak menginginkannya. "Sekarang kita makan berdua saja dulu ya, nak. Besok pagi baru makan bareng ayah." Shinta tersenyum getir sambil mengusap perut besarnya.


"Apa mas Wira masih marah karena aku pulang diantar laki-laki lain? Tapi, itu rasanya tidak mungkin karena dia sama sekali tidak memiliki rasa apapun kepadaku,bukan. Lalu, kenapa sikapnya seperti itu. Ah, sudahlah....jangan terlalu ke ge'eran." Menarik selimut menutupi tubuhnya lalu memejamkan mata berusaha agar lekas tertidur.


Tiba-tiba Shinta merasakan sebuah tangan yang memeluknya dari belakang dan sebuah kecupan bertubi-tubi mendarat di tengkuknya. Dan Shinta pun membuka matanya, ia tahu pasti suaminya menginginkan itu. "Sudah makan mas?" Shinta membalikkan badannya menjadi posisi terlentang. Telapak tangan besar Wira mengelus-elus lembut perut Shinta.


"Sudah. Tapi, rasanya masih lapar."


Perlahan Shinta bangkit hendak turun dari atas tempat tidur akan tetapi gerakkannya terhenti karena lengannya ditarik oleh Wira hingga Shinta jatuh dalam posisi terlentang kembali. "Mas, katanya masih lapar. Biar aku masakkan sesuatu. Mas mau makan apa?" Shinta menatap heran sang suami yang malah mengukungnya.


Wira mendekatkan wajahnya tepat ditelinga Shinta dan membisikkan kata-kata yang sontak membuat wajah Shinta memerah. "Aku memang masih lapar tapi, mau nya memakan kamu saja. Boleh,kan?" Shinta tak menjawab namun, dadanya semakin berdebar-debar. Dan akhirnya ia hanya mengangguk mengabulkan permintaan sang suami.


Senyum pun langsung terkembang di wajah Wira membuat Shinta semakin jatuh kedalam pesona suami tampannya itu. Shinta tak pernah bisa menolak setiap sentuhan lembut Wira walaupun ia tahu jika, sang suami tak mencintainya.

__ADS_1


Waktu telah bergulir begitu cepat , tak terasa kandungan Shinta sudah semakin membesar. Saat ini ia tengah berada di rumah Vania. Shinta telah mengajukan cuti kuliah selama satu tahun. Karena bosan hanya berdiam diri di apartemen, akhirnya ia pun berkunjung kerumah Liam dan Vania sekalian ingin menemui ibunya.


"Shinta, perutmu besar sekali. Bagaimana kabarnya baby boy?" Vania yang juga tengah menanti kelahiran anak keduanya yang diperkirakan berjenis kelamin perempuan tampak begitu bersemangat ketika melihat Shinta yang bertandang kerumahnya. Ia turut merasa bahagia karena akhirnya pernikahan Wira dan Shinta berjalan dengan baik. Sesuatu yang pernah ia khawatirkan tak pernah terjadi. Adiknya itu tampak ceria seperti biasanya.


"Alhamdulillah baik dan sehat, mbak. Mbak sendiri gimana rasanya, apa baby girl sudah ada tanda-tandanya?" Shinta pun mengusap perut Vania yang tak kalah membuncit dari perutnya juga.


"Iya ini, Shin kayaknya ngak lama lagi deh. Sudah terasa kencang-kencang sejak semalam. Isshh–." Jawab Vania sambil memegang pinggangnya yang terasa kaku.


Shinta saja yang melihat jadi merasa nyeri sendiri, nanti juga ia akan merasakan hal yang sama. "Ya sudah mbak lebih baik istirahat saja. Aku ngobrol dengan ibu dan main sama si ganteng Kiano."


"Ngak pa-pa Shin, mbak juga bosen rebahan terus. Harusnya lebih banyak bergerak biar gampang saat melahirkan nanti dan juga pembukaannya cepat. Kamu juga gitu nanti kalau sudah dekat melahirkan."


"Gitu ya, mbak."Shinta mengangguk mendengarkan wejangan dari sang kakak.


"Aduhhh–perutku rasanya mulas dan sakit sekali ini?" Tiba-tiba Vania memegangi perutnya dan nafasnya pun terengah-engah. Ia mencoba mengatur nafasnya sesuai yang diajarkan oleh guru senam hamilnya.


Shinta seketika ikut panik melihat Vania yang meringis kesakitan. Sedang Bi Arum tampak tenang. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri Vania lalu memapahnya.


"Shin, tolong kamu jagain Kiano dulu ya. Sepertinya mbakmu sudah waktunya melahirkan."


"Pak Totok, tolong siapkan mobil. Kita kerumah sakit sekarang!" Bi Arum berteriak memanggil supir pribadi Vania dan Pak Totok pun bergegas membantu Bi Arum memapah Vania menuju ke mobil yang telah terparkir didepan rumah.Sedang Bi Arum menhambil tas besar yang berisi perlengkapan bayi dan baju ganti Vania milik yang telah dipersiapkan sudah sejak beberapa hati yang lalu.


"Shin, kamu tunggu disini saja ya sama Kiano!"


"Iya bu, hati-hati." Shinta pun menggandeng Kiano masuk kedalam kamar untuk mengajaknya bermain."


Semua anggota keluarga telah berkumpul di rumah sakit dan kini mereka menunggu di depan ruang bersalin. Liam sudah berada didalam menemani sang istri yang tengah berjuang melahirkan sang buah hati. Sedangkan yang lainnya diluar. Wira yang ikut datang setelah di beri kabar oleh Mama Helen tampak tak kalah paniknya. Dan itu tak lepas dari penglihatan Bi Arum. Wanita paruh baya itu hatinya seketika mencelos dan semakin yakin jika, menantunya itu memang masih mencintai Vania. "Kasihan sekali kamu, nak. Semoga setelah anakmu lahir suamimu bisa berubah." Miris sekali mengingat nasib putrinya


"Wira–ngapain kamu malah disini? Sana jemput istrimu dan Kiano! Urus istrimu sendiri yang sebentar lagi mau melahirkan anakmu juga. Dasar laki-laki tidak peka."


Mama Helen yang menyadari ketidak beresan dalam prilaku putra bungsunya itu langsung menegurnya dan menyuruh Wira agar menjemput Shinta dan Kiano.

__ADS_1


Tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi yang begitu keras menggema sampai keluar ruangan. "Alhamdulillah."


Besambung


__ADS_2