
Hari ini Liam dan Vania akan bertolak kenegara Prancis tepatnya kota Paris. Vania begitu berat meninggalkan putranya ia tak pernah berpisah sejauh seperti saat ini.
"Sayang, baik-baik ya sama nenek dan kakek. Jangan nakal!" Vania mendekap dan menciumi dengan gemas pipi gembil Kiano.
"Sudah sana kalian berangkat sekarang nanti terlambat!" Mama Helen mengambil alih Kiano dari gendongan Vania dan menyuruh anak dan menantunya segera bergegas ke bandara. Tentang Kiano, Mama Helen berjanji akan merawat danme jaga cucu nya dengan baik apalagi ada bi Arum juga yang membuat Vania sedikit tenang dan menghela nafas lega meskipun masih ada rasa tak rela jauh dari putranya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 16 jam lebih. Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Bandar Udara Charles de Gaulle Paris. Pasangan Liam dan Vania langsung menuju ke hotel yang telah di booking oleh mama Helen untuk sekiitar seminggu kedepan. Vaniia begitu terpana dengan pemandangan yang bisa dilihat dari kamar yang mereka tempati.
"Wah–bagus sekali pemandangannya." Vania begitu terpesona melihat pemandangan indah dari balkon kamar mereka. Tanpa ia sadari Liam sudah berada dibelakangnya dan memeluk tubuhnya dengan dagu yang di letakkan di bahu dan Lengan kekarnya melingkar erat di perut Vania.
DEG
Degup jantung Vania seketika berdetak kencang. Apalagi ketika Liam membisikkan sebuah kalimat pertanyaan yamg membuat bulu kuduknya semakin meremang. " Kamu tidak lupa membawa pil nya, kan...sayang?"
Rasa canggung karena bibir Liam yang menyentuh kuping Vania terasa basah dan geli. "Iya aku membawanya." jawabnya dengan semburat merah di pipinya.
"Baguslah. Ayo, kita tidur kau pasti sangat lelah dan malam sudah larut!"
Mereka tiba di hotel ketika waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Namun, kertika melihat pemandangan malam nan indah di kota paris yang dapat dilihat dari balkon kamar hotel.
__ADS_1
"Kalau begitu aku mau mandi dulu." Vania membuka koper miliknya ingin mengambil baju ganti. Namun, keningnya mengernyit ketika tak mendapati piyama-piyama tidur yang telah ia packing ke dalam kopernya. "loh, baju-bajuku mana?" Vania membongkar dan mengeluarkan satu persatu isinya.
Liam yang sejak tadi memperhatikan apa yang dilakukan Vania mengernyitkan keningnya penuh tanya. Liam pun beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang istri. " Kamu sedang mencari apa?"
Vania tersentak kaget ketika menyadari Liam telah berada di dekatnya dan menatapnya keheranan. Sebisa mungkin Vania menutupi kepanikannya dan memasukkan kembali beberapa baju dinas yang entah siapa yang menukar baju-baju itu. "Astagfirullah...mas bikin kaget aja." Vania mengusap dadanya.
"oh, bu–bukan apa-apa kok. Ini aku cuma mau mencari baju hangat saja."
"Loh–itu bukannya baju yang kamu cari dan yang kamu pegang itu apa?" Liam sebenarnya tahu apa yang terjadi. Bisa dilihat dari wajah istrinya yang memerah dan keringat yang membasahi dahinya.
Mengikuti arah pandang Liam dan ia terlonjak kaget karena ternyata yang sedang ia pegang adalah sebuah lingerie berwarna merah lalu refleks Vania melepaskannya. "Ini bukan apa-apa kok, mas.Sepertinya ada yang sengaja memasukkannya kedalam koperku." Semakin salah tingkah karena takut suaminya itu akan salah paham dan mengira berencana menggodanya.
"Kebakanlah dan mas yakin kamu pasti akan terlihat semakin cantik dan sexy. Santailah sayang, malam ini kita tidak akan melakukannya...tepatnya belum."
"Tidak usah mandi ini sudah terlalu malam untuk mandi tidak baik untuk kesehatan. Gantilah saja bajumu. Ini...pakailah yang warna marun !" Tanla persetujuan Vania, Liam meraih gaun tidur warna marun itu lalu mwnyerahkannya pada sang istri. Vania hanya pasrah karena tak enak jika menolak keinginan sang suami.
Setelah membersihkan diri dan berganti baju yang telah dipilihkan oleh suaminya. " Belum tidur mas?"
"Belum. Kan menunggu istriku tercinta. Mas' mas mau tidur duluan. Ayo sini–!" Liam menepuk sisi kosong di sebelahnya. Vania puun beranjak naik keatas tempat tidur lalu duduk berdandar di kepala ranjang.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Ini mengenai Wira. Mas baru mengetahuinya jika Wira juga sedang berada di kota ini.Tidak apa-apa kan kalau kita ketemuan sama Wira?" Liam sebenarnya agak tak rela kalau Istrinya itu bertemu dengan Wira. Meskipun Wira itu adiknya sendiri tapi tetap saja ada rasa cemburu.
"Benarkah mas? Wah kebetulan sekali, sudah lama sekali kita tidak bertemu dengan tu–eh...Wira. Bagaimana kabarnya sekarang ya, mas?"
Tak disangka ternyata Vania begitu antusias ketika mengetahui keberadaan Wira kota Paris. Wajah Liam langsung berubah suram. Apakah istrinya masih memiliki rasa pada Wira? Liam selalu berpikir hal yang tidak-tidak jika bersangkutan dengan istri dan adiknya itu. Wira yang dulu begitu menggebu-gebu menginginkan Vania. Liam masih menyimpan rasa takut jika istrinya akan direbut oleh Wira. Padahal Vania telah menjadi miliknya dan berstatus sebagai istri sah nya.
"Kamu kelihatannya senang sekali ingin bertemu dengan Wira?" Tanya Liam dengan wajah cemberutnya. Vania yang sadar jika sang suami sedang dilanda api cemburu pun menenangkannya.
"Mas cemburu ya? apa yang mas khawatirkan tidak akan terjadi. Percayalah...sekarang aku sudah menjadi milik mas Liam dan tak akan pernah ada laki-laki lain yang akan membuatku terpikat. Hati ini sekarang dan selamanya akan selalu menjadi milik mas."
Benar saja, hanya dengan sedikit rayuan dan sentuhan manja. Seorang Liam yang dingin dan gengsian langsung berubah manis dan manja seperti seekor kucing.
"Benarkah, hemm? Ah...kalau begini mas jadi tak tahan untuk menerkammu sekarang juga." Sentuhan lembut jari jemari Vania di pipi dan rahangnya seketika membangkitkan sesuatu didiri Liam. Bagaimana pun Liam adalah seorang pria dewasa yang sudah menikah dan tentu saja ia membutuhkan suatu pelampiasan akan gejolak hasrat kelelakiannya.
Dengan gerakan cepat Liam langsung mengukung tubuh Vania di bawahnya. Kedua pasang manik mata mereka saling bersitatap dengan jarak tak sampai sejengkal. Liam menatap dalam wajah ayu sang istri. Senyumpun terkembang diwajah tampannya ketika ia sapat mendengar debaran didada Vania. "Santai sayang, jangan tegang. Kamu sendiri yang telah memancing singa yang sedang kelaparan dan sekarang kamu harus bertanggung jawab untuk menjinakkannya. Apa mas boleh memintanya sekarang?"
"Eh–mas bilang malam ini kita tidak akan melakukannya. Kenapa jadi berubah pikiran. Mas...ah,kok jadi mesum gini sih?" Vania merasakan kegelian ketika bibir Liam mulai berkelana kemana-mana. Dari leher dan kini bibir Liam telah turun membelai bahu putih nan mulus Vania. Dan akhirnya Vania hanya bisa pasrah dan menerima sentuhan-sentuhan memabukkan dari suaminya.
Menjelang dini hari yang terdengar hanyalah suara lengguhan dan erangan dari kedua insan yang tengah di landa hasrat yang menggebu.Akhirnya Liam telah memiliki Vania seutuhnya. Dan malam penyatuan keduanya pun sepertinya akan berlangsung panjang dan memakan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
"I Love you, Vania."
Bersambung.