
Malam semakin larut, keempat pemuda tersebut sudah tampak agak mabuk. Bahkan Erwin yang memang tak kuat minum telah terkapar tak sadarkan diri. Begitu pun Kiano yang baru pertama kali mengenal dan mencicipi yang namanya minuman beralkohol itu juga sudah mulai oleng walau masih tersadar dengan bibir yang terus mengoceh tak jelas.
"Woi–dasar lo pada ya, temen-temen lucnut. Main ninggalin gue aja. Awas ya nanti gue beri lo satu persatu karena dah bikin kepala gue pusing kayak gini. Sshh–!" Kiano melangkah dengan tubuh yang sempoyongan sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ia terus mengomel merutuki ketiga sahabatnya yang telah pergi lebih dulu masuk kedalam Villa dan bisa-bisanya mereka melupakan dirinya.
Kiano pun beranjak dan melangkah dengan tubuh yang bergerak sempoyongan memasuki Villa. Ketika ia melintas diarea dapur tak sengaja bertemu dengan Inara yang sedang mengambil air putih. Spontan, Inara menghampiri dan menolong sang majikan yang tampak tidak baik-baik saja di penglihatannya. " Tuan Muda, apa anda baik-baik saja?"
"Oh, hai cantik. My girl friend. Kamu sedang menungguku ya?" Tersenyum dan mengelus pipi Inara. Gadis itu pun malu, semburat merah muncul dipipinya.
"Apaan sih Tuan Muda, nanti kalau ada yang dengar kan malu. Mari, saya bantu kekamar Tuan." Sepertinya Inara belum menyadari jika, Kiano saat ini sedang dalam keadaan mabuk. Gadis belia itu masih terlalu polos dan tidak mengerti.
Dengan susah payah akhirnya Inara berhasil memapah tubuh besar Kiano kedalam kamar lalu, ia rebahkan diatas ranjang.Inara mengusap dahinya yang berkeringat." Fiuh....berat banget. Sudah jam berapa ini? Waduh, ya sudah. Aku balik kekamar saja. Yang penting Tuan Muda sudah aman."
Baru saja Inara melangkah ingin keluar namun, tiba-tiba tubuhnya tertarik kebelakang dan terpelanting jatuh tepat diatas tempat tidur. Dan yang lebih membuat Inara syok yaitu ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam kungkungan tubuh besar Kiano. "Tu–tuan, apa yang anda lakukan. Tolong lepaskan saya!" Mendorong tubuh Kiano mencoba untuk melepaskan diri. Akan tetapi usahanya sia-sia karena postur tubuh dan tenaganya tak sebanding dengan Kiano.
" Mau pergi kemana, cantikku? Tetaplah disini dan temani aku tidur, oke. Ah....kamu sangat wangi sekali, sayang." Kiano menghirup aroma tubuh Inara dengan mengendus leher putih nan halus gadis tersebut.
"Tuan Muda, tolong jangan lecehkan saya. Saya mohon Tuan. Biarkan saya keluar." Inara menahan dada Kiano dengan kedua tangannya dan memohon untuk di lepaskan.
Kiano tak mengindahkan perkataan Inara yang tubuhnya sudah gemetaran dan ketakutan menderanya. "Keluar? No no no....tidak.semudah itu,sayang. Aku ingin menghabiskan malam yang indah ini dengan kekasih cantikku, apakah salah?"
"Aakhh–sakitt. Jangan Tuan Muda! Saya tidak mau." Inara tetsentak kaget dan merasakan sakit pada lehernya yang tiba-tiba digigit Kiano.
"Tidak mau kamu bilang, kamu harus mau dan anggap saja merayakan hari jadi kita. Oke, ayolah sayang. Malam ini kita akan bersenang-senang!"
"Tu–mmppmt....Jah–ngan!"
Breettt
Tanpa ba bi bu Kiano langsung merobek paksa kemeja yang dikenakan Inara hingga terlepas dan melemparnya kesembarang arah. Terpampanglah tubuh bagian atas Inara yang putih mulus tanpa noda dan dua asetnya yang masih tertutup bra berwarna navy yang kontras dengan kulit putihnya.
Kiano menelan salivanya tatapan mata yang telah berkabut gairah, tak bisa lepas dari tubuh Inara yang menggoda dan membangkitkan hasrat kelelakiannya. Kiano langsung menerjang tubuh Inara tanpa ampun. Meskipun gadis itu menolak dan memberontak sekuat tenaga namun, sama sekali tak menimbulkan rasa belas kasihan didiri Kiano. Dan dengan satu gerakan cepat, akhirnya terjadilah apa yang ditakutkan Inara yaitu di perlakukan tak senonoh oleh majikannya. Kesuciannya yang telah ia jaga telah terampas dengan kejam.
"Ibu–maafkan Nara." Dirinya telah ternoda
Sayup-sayup terdengar azan subuh berkumandang. Inara yang telah terbiasa bangun awal pun mulai mengerjapkan matanya. "Euh, apa yang–."
Tubuh Inara bergetar hebat ketika menyadari dan mengingat apa yang telah terjadi padanya tadi malam."Tuan Muda, kenapa dia melakukannya?" Inara menatap Kiano yang masih tertidur lelap tepat di sampingnya."Aku harus segera keluar dari kamar dari kamar ini secepatnya." Dengan langkah tertatih-tatih Inara bergegas keluar setelah mengenakan pakaiannya asal.
Tepat pukul 08.00 WIB semua telah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi, hanya Kiano yang belum terlihat batang hidungnya. " Kiano mana nih, tumben-tumbenan dia ngaret. Apa belum bangun?" Tony
"Eh, atau jangan-jangan dia masih ada di luar dan ketiduran disana? Semalam–." Erwin mengingat jika, semalam mereka meninggalkan Kiano yang tengah mabuk.
__ADS_1
"Nah lo, iya jangan-jangan. Bentar gue lihat dulu." Jay yang berisisiatif melihatnya.
Sesampainya di tempat semalam mereka berkumpul dan ternyata Kiano tak ada di sana. "Loh....ngak ada. Trus ada dimana tu anak? Mungkin semalam dia juga masuk kekamarnya." Jay pun melangkah kembali masuk ke Villa hingga manik matanya menangkap sosok wanita paruh baya istri penjaga Villa.
"Maaf, Apa Bibi melihat Inara?"
"Oh, neng Inara tadi setelah membantu saya memasak tiba-tiba kepalanya pusing dan izin untuk beristirahat ke kamarnya. Memangnya ada apa ya,Tuan?"
"Inara sakit, Bi. Apa dia sudah makan dan minum obat?" Tanya Jay yang terlihat khawatir dengan keadaan gadis yang dikaguminya itu.
Bi Yayah mengangguk dan mengatakan jika, Inara sudah meminum obat dan saat ini mungkin sudah tertidur. Jay pun tersenyum lega.
"Syukurlah. Terima kasih ya, Bi. Oh ya....kalau Kiano, apa Bibi juga melihatnya?"
"Kalau Tuan Muda Kiano sepertinya belum keluar dari kamarnya. Kalau begiti saya permisi ya,Tuan. Saya mau melanjutkan pekerjaan lainnya."
Setelah memastikan keberadaan Kiano, Jay pun kembali ke meja makan dan tampak Kiano sudah duduk disana. "Gue kira semalam lo masih di luar Ki dan ketiduran di sana. Sorry ya, kita kelupaan kalau lo juga ma–."
"Ekhem–iya, gue semalem langsung nyusul kalian kedalam dan tidur di kamar. Dasar lo ya pada, main tinggal-tinggal aja." Kiano langsung memotong perkataan Jay yang hampir saja keceplosan hendak mengatakan kalau semalam ia mabuk. Bisa berabe kalau sampai Kirena mengadu pada kedua orang tuanya.
Ketiga nya pun saling pandang dan paham akan maksud dari ucapan Kiano yang hendak menutupi apa yang telah mereka lakukan malam tadi. "Iya iya....sorry ya, bro. Kita bener-bener ngak sengaja."
Menjelang siang Inara baru keluar dari dalam kamarnya. Wajahnya tampak pucat dan matanya sembab karena sejak semalam ia tak henti-hentinya menangisi nasib buruk yang dialaminya. Langkahnya tertatih-tatih menuju kedalam Villa hendak membantu Bi Yayah.
"Bi, Maaf ya saya maru datang membantu Bi Yayah"
"Neng Nara sudah sembuh?" Bi Yayah memindai tubuh Inara.
"Alhamdulillah sudah mendingan, Bi. Mari Nara yang mencuci piringnya. Bibi gantian istirahat saja." Inara pun mengambil alih pekerjaan bi Yayah.
Sejak kejadian itu, Inara sebisa mungkin menutupi apa yang telah terjadi antara dirinya dan sang Tuan Muda. Karena sikap Kiano pada dirinya tampak biasa saja. Tidak seperti malam dimana laki-laki itu meminta Inara untuk menjadi kekasihnya.
"Ki, gimana, Mau dilanjut tidak?" Erwin melirik Kiano yang sedang asik dengan ponselnya. Saat ini mereka tengah bersantai di sebuah gazebo dekat kolam renang. Tampak Kirena dan Gendhis yang sedang berenang. Sedangkan keempatnya tengah asik membahas taruhan yang mereka sepakati.
"Enggak, gue ngak mau ngelanjutin taruhan itu. Setelah gue pikir-pikir buat apa coba jadiin pacar pembantu gue sendiri. Bikin malu aja dan pastinya bakal jadi masalah juga kalau nyokap dan bokap gue tahu.Dah lah....ngak usah dibahas lagi." Kiano mengurungkan niatnya untuk memperdaya Inara.
"Hei Ki, lo lupa apa pura-pura lupa. Bukannya semalam lo udah nembak Inara. Trus gimana kelanjutannya?"
"Iya iya, nanti gue bakal ngomong sama dia. Udahlah kan dah gue bilang ngak usah dibahas lagi. Disini ada adek gue. Ingat itu." Dan ketiganya pun mengangguk setuju.
"Ya terserah lo deh, Ki. Jadi, gue bisa mulai ngedeketin Inara lagi. Kan lo ngak tertarik sama dia." Jay tentu saja merasa senang karena itu artinya ia bisa mengejar Inara lagi.
__ADS_1
Tak bereaksi apa-apa, Kiano hanya diam tak menanggapi omongan Jay.
Tak terasa waktu cepat berlalu dan kini sudah saatnya mereka harus kembali ke ibu kota. Semua sudah bersiap-siao untuk berangkat. Tak lupa Inara berpamitan dengan Bi Yayah dan Pak Deden.
"Nara–kakimu kenapa?" Inara tejingkat kaget ketika Jay tiba-tiba sudah ada dihadapannya.
"Eh, maaf Mas. Iya....kaki saya tidak apa-apa. Kemarin malam agak terkilir sedikit."
"Begitu. Tapi, beneran sudah tidak apa-apa. Lalu, kenapa jalanmu masih tertatih-tatih? Apa sudah kamu olesi cream peredanyeri. Kalau belum, sini biar aku bantu mengolesinya." Jay baru akan mengambil sesuatu dari dalam tas nya akan tetapi langsung di cegah oleh Inara.
"Tidak usah Mas. Kaki saya sudah tidak sakit lagi,kok. Terima kasih atas perhatiannya. Apa saya boleh ikut di mobil mas Jay?"
"Tentu saja boleh banget lah kalau untuk kamu. Ayo, mari sini tas kamu biar aku simpan di bagasi!"Tanpa menunggu persetujuan dari si empuna, Jay langsung merebut tas yang tengah di pegang Inara dan memasukkannya kedalam bagasi mobilnya. Setelah itu membukakan pintu mobil untuk sang gadis.
Sepanjang perjalanan Inara hanya terdiam. Namun, pkkirannya tengah bergejolak tak tentu arah. Memikirkan bagaimana nasib masa depannya nanti. Dan tak mengerti mengapa sikap Kiano tampak biasa saja seperti tak ada yang pernah terjadi diantara mereka. Apakah ia sudah di perdaya oleh anak majikannya itu.
"Si Kiano apa benar-benar ngak tertarik sama yang namanya perempuan ya? Kenapa dia membatalkan taru–."
"Uhuk uhuk!"
"Lah, lo kenapa Jay. Nara cantik. Bisa tolkng ambilkan air mineral yang ada di sebelahmu itu. Kasihan si Jay keselek tuh!" Tony yang mengira Jay beneran tersesak spontan meminta botol air mineral yang tergeletak di atas jok belakang.
"Oh iya, ini mas." Menyerahkannya ketangan Tony.
"Terima kasih, cantik. Ini Jay....sini gue bukain tutupnya."
"Eh, lo ngak ngeh juga ya kode dari gue. Barusan lo hampir aja keceplosan tahu. Sadar ngak?"
"Hehehe‐iya, sorry gue lupa."
Sesampainya dirumah. Jay, Tony dan Gendhis langsung pamit pulang. Karena mereka juga sudah sangat letih.
Inara menenteng tasnya lalu, melangkah kearah samping rumah menuju kekamarnya. Langkahnya terhenti ketika pergelangan tangannya di cekal oleh seseorang.
"Inara tunggu, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!"
DEG
"Bi–bicara?"
Bersambung
__ADS_1