Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
50.Kekasihku


__ADS_3

Berhubung malam ini keluarga kecil Liam menginap maka, bi Arum pun ikut menginap juga. Dan saat ini wanita paruh baya itu tidur di kamar Shinta. Sejak bi Arum ikut Vania jadi kamar tersebut sekarang yang menempati anaknya.


Drrtt ddrrtt


Suara getaran ponsel milik Shinta terdengar dengan jelas ditelinga gadis itu. Ya karena ponselnya ia letakkan diatas meja tak jauh dari tempat tidurnya. Shinta pun segera meraihnya dan melihat id si penelpon. Wajah Shinta seketika berubah kesal ketika tahu siapa gerangan orang yang saat ini menghubunginya selarut ini. Bikin kepala pusing saja karena kurang tidur. Dengan malas Shinta pun bergerak turun dari atas tempat tidur lalu melangkah pelan menuju ke pintu, ia ingin menjawabnya di luar saja agar tidak membuat ibunya terbangun.


"Hallo, iya ada apa?" Shinta menjawab dengan nada ketus karena yang menelponnya adalah orang yang tak disukainya dan selalu mengganggu dirinya.


"Maaf kalau aku ganggu malam-malam gini. Habis dari sore tadi kamu sama sekali tidak membalas pesanku. Aku takut terjadi apa-apa makanya aku menelponmu. Jadi, kamu baik-baik saja,kan?" Jawab si penelpon.


"Hem‐aku baik. Sudah itu saja kan? hoamm...maaf ya Ren, aku ngantuk mau tidur besok kan ada kulian pagi memangnya kamu ngak takut kesiangan. Besok mata kuliah pak Jamal,bukan." Shinta menguap sebab ia memang sudah sangat mengantuk dan malas untuk berbasa-basi.


"Oh iya, kamu benar. Kalau begitu selamat tidur ya Shin dan sampai bertemu di kampus besok pagi."


"Ya." Klekk– Shinta langsung menenutup panggilan tersebut tanpa mengatakan apapun lagi.


"Ish–menyebalkan sekali sih tu orang. Dah dibilang berkali-kali tapi tetep aja ngak ngerti. Ra dong tenan ki wong lanang. Wes lah. Mending turu menenh." Baru saja Shinta akan berbalik untuk membuka pintu kamarnya, Seketika Shinta seperti melihat sekelabat bayangan seseorang yang seperti tengah memperhatikannya dari atas sana. Shinta mendongak dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Wira yang sedang mengawasinya.


""Ya ampun, mati aku. Itu kan tuan muda Wira.ah masa bodo." Shinta malah melengos pura-pura tak perduli dengan Wira yang jelas-jelas gadis itu melihatnya.


Wira mendengus kesal karena Shinta yang seperti tak peduli jika ia mengawasinya sejak tadi. "Ck....dasar bocil." Setelah mematikan rokoknya, Wira pun masuk kembali kedalam kamarnya.


Fajar telah menyingsing para pekerja di kediaman Ghazala sudah nampak beraktifitas seperti biasanya. Termasuk Shinta yang hari ini harus berangkat lebih awal ke kampus karena ada mata kuliah pagi. Tepat pukul setengah tujuh pagi gadis itu trlah menyelesaikan semua tugasnya. Ia pun segera bergegas kekamarnya untuk bersiap-siap.


"Bu, Shinta berangkat ke kampus dulu ada kuliah pagi. Assalamuallaikum." Setelah mencium punggung tangan ibunya gadis itu pun segera beranjak pergi. Bi Arum hanya menggelengkan kepala tersenyum melihat tingkah putrinya yang pecicilan itu. "Iya hati-hati, nak." Dan dibalas dengan lambaian tangan putrinya itu.


Usai sarapan pagi bersama Liam bersama istri dan anaknya pun pamit untuk pulang dan mama Helen hanya mengiyakan meskipun masih ada rasa tak rela cucu nya di bawa pergi.

__ADS_1


"Ma, Pa. Kami pulang dulu ya. Jam sepuluh nanti aku ada meeting dengan klien dari luar kota."


"Apa tidak sebaiknya Vania dan Kiano nanti saja pulangnya. Lagi pula Liam, kamu bisa berangkat kekantor dari sini kan? Mama masih kangen sama Kiano." Jawab Mama Helen dengan penuh harap agar Liam mengabulkan keinginannya.


Namun, sayangnya Liam sama sekali tak mengindahkan keinginan sang Mama. Liam tak akan membiarkan Vania berada dekat dengan Wira. "Tidak Ma, lain waktu kami pasti akan datang lagi. Ada berkas yang harus aku ambil dirumah."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi, janji ya kalian harus sering-sering membawa Kiano berkunjung kesini." Mama Helen mencium gemas pipi gembil cucu kesayangannya.


"Pasti Ma, Mama dan Papa jaga kesehatan ya. Em...Wira, kami pulang dulu dan selamat datang." Vania tak lupa berpamitan dengan sang adik ipar yang sejak tadi hanya terdiam menyimak perbincangan mereka.


Wira mengangguk dan tersenyum pada Vania. Kemudian Liam segera mengajak anak dan istrinya pergi dan tak ketinggalan Bi Arum yang mengikuti langkah mereka di belakangnya.


Agak siangan Wira baru akan berangkat ke kantor. Papa Bisma telah berangkat lebih dulu karena ada Meeting yang tidak bisa di wakilkan oleh siapa pun.


"Ma, aku berangkat ke Perusahaan sekarang ya. Pasti Papa sudah menungguku." Wira telah tampil rapi dengan stelan jas nya yang tampak tampan, gagah dan berwibawa.


Sepanjang perjalanan menuju ke perusahaan Wira kembali tenggelam dengan lamunannya. Berpikir bagaimana caranya agar ia benar-benar bisa move on dari Vania karena apa yang dirasakannya sampai saat ini sangatlah tidak pantas dan ia harus menghapusnya. Satu-satunya cara adalah dengan mencari gadis yang lain. Tapi, siapa dan dimana ia bisa menemukannya.


"Hh...lihat bagaimana nanti saja lah. Masa' iya tidak ada satu pun gadis yang cocok denganku." Wira menghela nafas panjang memikirkan nasib percintaannya yang tak seberuntung sang kakak yang telah berbahagia dengan keluarga kecilnya. Ia pun fokus kembali dengan menatap jalan karena ia menyetir sendiri.


"Shinta–tunggu dulu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu!"


"Apaan sih kamu, Ren. Sudah berapa kali aku bilang kalau kita tidak bisa menjalin hubungan lebih dari teman. Apa kamu belum mengerti juga? masih banyak gadis lain yang lebih dari diriku di luar sana.Pasti akan ada satu yang akan jadi jodohmu. Maaf sekali lagi, aku ngak bisa jadi kekasihmu."


Pemuda bernama Rendy yang selalu mengejar-ngejar Shinta sejak lama. Rendy telah jatuh hati pada Shinta sejak pertemuan pertama mereka.Sedangkan Shinta sama sekali tidak memiliki rasa yang sama terhadap Rendy. Namun, sepertinya pemuda itu sama sekali.tak ingin mengerti akanhal itu. Shinta sama sekali tidak ada keinginan untuk menjalin kasih dengan siapapun.


Karena tujuannya datang ke ibukota adalah untuk menimba ilmu dan juga bekerja membantu ibu nya. Apalagi ia bukanlah dari kalangan keluarga berada. gadis itu cukup sadar diri akan keadaannya. Sedangkan Rendy dari kalangan keluarga berada.

__ADS_1


Gadis itu berlari menjauh tapi, pemuda yang bernnama Rendy masih terus mengikutinya hingga menarik paksa tangan Shinta mencekalnya dengan kuat hingga membuat nya meringis kesakitan.


"Auwh—lepaskan Ren, sakit!" Shinta memberontak mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman Rendy.


"Tidak Shin. Sebelum kita bicara bailk-baik. Lebih baik kita bicara ditempat yang lebih tenang. Ikut aku!" Rendy masih saja memaksakan kehendaknya meskipun Shinta berkali-kali telah menolaknya. Hingga mereka menjadi bahan tontonan setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Karena saat ini mereka berada di jalanan trotoar tak jauh dari sebuah halte umum.


"Lepas! Atau aku akan berteriak dan kita akan menjadi tontonan orang banyak. Lalu apa kata orang tuamu jika sampai tahu putra mereka mengejar-ngejar gadis miskin sepertiku.Pikirkan itu...maaf, aku mohon lepaskan aku dan carilah gadis lain yang sepadan denganmu."


"Tidak–hanya kamu yang aku inginkan, Shinta."


Pemuda keras kepala itu masih terus saja memaksakan kehendaknya hingga sebuah tampatan mendarat sempurna di wajah tampannya.


PLAKK


"SHINTA–beraninya kau menampatku, aku akan memberimu pelajaran. Ayo ikut aku!" Rendy kembali menggeret tangan Shinta hingga gadis itu terseok-seok.


"Hei–apa yang kamu lakukan, brengsek? lepaskan gadis itu!" Shinta dan Rendy menoleh kearah suara tersebut dan betapa terkejutnya Shinta ketika melihat siapa orang itu.


"Tu–."


"Apa yang kau lakukan terhadapnya hah?Lepaskan tanganmu dari tubuh kekasihku!"


"A–apa–kekasih?" Shinta semakin ternganga mendengar ucapan laki-laki tersebut.


"Ayo sayang kita pulang!"


GREP

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2