Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
102.S2. Datang ke pesta


__ADS_3

Hingar bingar suara dentuman musik dan juga kerlap kerlip lampu di dalam ruangan tempat diadakannya acara pesta membuat Inara sedikit tak nyaman karena ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di sebuah club malam dan Inara pun tak mengira jika, acara tersebut diadakan di tempat hiburan malam seperti itu.


'Jadi pestanya di tempat seperti ini. Kepalaku rasanya kliengan. Lampunya bikin sakit mata.Kalau tahu gini aku ngak usah ikut.' Inara hanya bisa mengeluh didalam hati. Tak enak juga kalau mengatakan ketidak nyamanannya pada Jay.


"Inara, ayo kita duduk disana!" Jay menggandeng tangan Inara karena takut terpisah karena suasana sudah mulai ramai oleh para tamu yang hadir.


Inara dab Jay duduk bergabung dengan Erwin serta Tony. "Hai Inara, waw....kamu cantik sekali malam ini. Lucky banget sih lo Jay." Tony yang pertama menyapa Inara dan Jay. Sedangkan Erwin hanya tersenyum melihat kedatangan Jay dan Inara.


"Si Kiano mana ya kok belum kelihatan ini, apa dia ngak datang?" Erwin clingak clinguk mencari keberadaan Kiano.


"Nah, itu dia baru nongol. Ki....disini!" Tony yang pertama melihat kedatangan Kiano langsung berteriak dan memanggil untuk bergabung dengan mereka berempat.


Mendengar nama Kiano disebut, tiba-tiba Inara menjadi tegang dan tak tenang. Sejak kejadian di Villa Inara jadi takut bila berdekatan dengan anak dari majikannya itu. Inara tertunduk tak ingin melihat wajah Kiano.


"Kalian dah lama?" Kiano langsung menyapa para sahabatnya namun, matanya terarah menatap Inara yang seakan tak ingin melihatnya. 'Ada apa dengannya?'


"Lumayanlah. Lo kenapa telat amat sih Ki?" Erwin


"Ya ngak apa-apa. Yang penting gue dah datang kan." Jawab Kiano cuek.


Malam semakin larut dan acara pun semakin meriah dengan beraksinya seorang DJ terkenal yang di undang khusus oleh tuan rumah. Tak terkecuali Erwin, Tony pun ikut turun menikmati alunan musik yang menghentak dan memekakkan telinga.


"Jay, lo ngak turun?" Kiano merasa heran kenapa temannya yang biasanya begitu antusias malah anteng saja. Apakah karena ada Inara bersamanya.


Belum juga menjawab pertanyaan Kiano tiba-tiba saja muncul dua orang gadis cantik nan sexy dan langsung menarik tangan Jay untuk diajaknya turun kelantai dansa. "Hai Jay, kita kira kamu ngak datang. Ternyata malah semedi disini. Ayo dong turun....kita seneng-seneng bareng kayak biasanya. Ya kan Cik?"

__ADS_1


"Yo'i San. Ayo....cepat, dengerin deh asik banget lagunya!" Perempuan muda yang bernama Sandra dan Cika itu pun menarik paksa kedua tangan Jay. Jay pun senenarnya menolak dengan alasan dia sedang tidak mood tapi, kedua nya tak menggubris omongan Jay.


"Mas Jay, silahkan. Saya ngak pa-pa kok nunggu disini saja." Inara mempersilahkan jika Jay memang ingin bergabung dengan teman-temannya.


"Tuh kan Jay. Dia juga ngak keberatan kok. Yuk ah!"


"Inara, kamu jangan kemana-mana ya. Aku ngak akan lama kok, sekalian mau ngucapin selamat sama yang ulang tahun." Pesan Jay pada Inara. Ia takut jika, Inara tersesat. Jay lupa kalau Kiano masih duduk manis disana.


Sepeninggal Jay, kini hanya ada Kiano dan Inara. Mereka saling diam. Kiano masih menatap lekat Inara yang sesekali tertangkap tengah mencuri pandang kearah Kiano. Dan ketika kedua manik mata mereka saling bersitatap Inara yang merasa canggung dan takut langsung mengalihkan pandangannya dengan melihat kesembarang arah.


Di kejauhan seseorang tengah memperhatikan keduanya dengan tatapan tajam dan hati yang panas. " Mau apa tuh si upik abu ada di sini, siapa yang mengajaknya. Apa iya bang Kiano dan si cewek udik itu ada hubungan yang istimewa sampai-sampai bang Kiano membawanya ke pesta ini. Ngak bisa.dibiarin, mau nantang gue dia."


Kemudian gadis yang bernama Gendhis itu memanggil dua orang pria yang sedang asik meminum minuman keras." Hei, kalian berdua kesini, ada santapan istimewa buat kalian!"


Kemudian kedua pria yang setengah mabuk itu pun menghampiri Gendhis. "Ada apa cantik? Maksudnya kamu mau menghabiskan malam yang indah ini bersama kami?"


"Siap boss cantik. Terima kasih atas santapannya." Dan kedua pemuda itu pun ikut mengawasi Inara dari kejauhan. Menunggu sampai gadis itu beranjak dari duduknya.


"Hai bang Kiano, kenapa ngak bilang kalau datang juga. Kirena ngak diajak bang?" Dengan sok akrabnya, Gendhis langsung duduk tepat disebelah Kiano.


Kiano menoleh dan agak terkejut dengan kemunculan gadis remaja teman dari sang adik. "Loh, ngapain kamu ada disini, kok bisa masuk? Siapa yang mengizinkan kamu masuk?"


"Ya bisa lah bang. Kan bang Ronald itu kakak sepupu ku." Ronald adalah si tuan rumah artinya yang berulang tahun.


Karena merasa tak ingin mengganggu dan juga tak nyaman akan kehadiran gadis yang selalu bersikap tak ramah padanya dengan tatapan tak suka jelas terlihat dari matanya. Di tambah kepalanya yang semakin berdnyut. 'Duh, kepalaku kok semakin pusing ya. Mual lagi....Gimana ini? Aku ke toilet sebentar saja deh.' Berlama-lama di tempat itu membuat tubuh Inara semakin tak nyaman. Bahkan rasa mual di perutnya sudah tidak bisa di tahannya lagi.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" Kiano menegur ketika melihat Inara yang bangkit dari duduknya.


"Saya mau ke kamar kecil,Tuan.Permisi." Inara pun bergegas melangkah dengan cepat sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Bang Kiano, si Inara datang sama abang?" Tanya Gendhis mengalihkan perhatian Kiano yang terus menatap kepergian Inara.


Mendengar pertanyaan Gendhis, perhatian Kiano pun beralih menatap Gendhis. "Oh, bukan gue yang ngajak dia. Tapi, dia datang bareng Jay. Jay yang mengajaknya."


Ada rasa lega dan senang karena ternyata bukan Kiano yang mengajak Inara datang akan tetapi Jay."Begitu. Loh...kak Jay nya mana?" Gendhis terus saja mengajak Kiano berbincang agar rencananya berjalan mulus.


Kiano menujuk kearah kerumunan orang yang tengah bergoyang ria mengikuti alunan musik sang DJ. "Itu dia disana sama Erwin dan Tony juga." Gendhis pun melihat kearah dimana para pemuda itu yang terlihat sedang asik bersama beberapa gadis muda.


Sementara itu Inara masih berada di dalam toilet tengah mengeluarkan isi dalam perutnya. Ia benar-benar tak kuat berada ditempat itu. Kepalanya semakin pusing, bahkan tubuhnya serasa tak bertenaga. "Apa aku pulang sendiri saja ya. Nanti aku kirim pesan saja sama mas Jay Ngak enak kalau mengganggunya." Inara pun mengambil ponsel dari dalam tas selempangnya lalu, segera mengetik pesan yang akan ia kirimkan kepada Jay.


Ketika ia sedang berjalan menuju kearah luar, Inara mengikuti petunjuk arah untuk keluar dari ruangan itu lewat pintu belakang. Ia tak menyadari jika, ada dua orang laki-laki yang sedang membuntutinya. Tiba-tiba tubuh Inara ditarik dan di sergap dari belakang sedangkan pemuda yang satunya lagi menghadangnya dari arah depan.Sontak Inara begitu terkejut dan syok bukan main. Bayangan buruk langsung menghinggapi pikirannya. "Ma‐mau apa kalian? Jangan macam-macam ya!"


"Hei cantik, jangan galak-galak dong. Kami bukanorang jahat kok. Kami cuma ingin berkenalan dan lebih dekat sama kamu cantik. Kamu mau keluar ya? kalau begitu barengan aja. Nanti kami antar tapi, sebelum itu kita bersenang-senang terlebih dahulu ya, manis."


"Eng—ngak usah, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri. Tolong lepaskan saya, jangan apa-apakan saya!" Inara berusaha melepaskan diri dari dekapan salah satu pemuda tersebut.


"Eits–sudah, diam saja kamu. Mau diajak enak-enak juga ngak mau. Ayo...bro, bawa pergi paksa aja!"


Inara terus memberontak dan berteriak meminta pertolongan ketika tubuhnya di bopong bak karung beras. Namun, suasana lorong yang sepi maka, tak satupun orang yang akan menolongnya. Hingga sebuah tendangan kaki mendarat sempurna di punggung laki-laki yang membopong Inara. Sampai tubuh Inara pun ikut jatuh tersungkur diatas lantai.


"Aakhh–aduh!"

__ADS_1


"Kurang ajar kalian ya!"


Bersambung.


__ADS_2