
Menjelang siang Vania datang kerumah sakit dengan ditemani oleh Mama Helen. Sedangkan Kiano ditinggal, ada bi Arum yang menjaganya.
Saat ini Vania dan Mama Helen berada didalam ruang periksa dokter kandungan.Setelah melakukan pemeriksaan USG yang hasilnya cukup baik. Kemudian dokter memberikan penjelasan berbagai macam program kb yang digunakan.
Dan setelah menimbang-nimbang akhirnya Vania lebih tertarik dengan menggunakan kb IUD. Namun, dokter menyarankan agar Vania datang kembali setelah ia selesai menstruasi nya baru akan dilakukan pemasangan IUD dan juga sudah membicarakannya dengan sang suami. Karena untuk urusan kb suami istri harus ada kata sepakat demi kepentingan bersama.
"Baik bu, saya rasa cukup nanti jika sudah siap mbak nya bisa datang kembali kesini."
Vania pun mengangguk mengerti lalu, mereka pun bergegas pulang karrna sudah cukup lama meninggalkan Kiano. "Bagaimana Van, kamu lebih sreg pake apa?" Tanya Mama Helen pada menantunya.Vania menggelengkan kepala masih bingung akan memilih apa, benar apa yang disarankan oleh dokter tadi bahwa sebaiknya Vania mendiskusikannya dulu dengan sang suami.
Di tengah perjalanan tiba-tiba mama Helen mengajak Vania untuk mampir kesebuah mall. Sebenarnya Vania ingin langsung pulang saja namun, ia tidak enak menolak ajakan ibu mertuanya itu
"Tidak lama kan, Ma? soalnya aku khawatir kalau Kiano rewel."Tanya-nya pada sang ibu mertua.
"Jangan khawatir, sayang. Kiano akan baik-baik saja sama bi Arum. Ayo kita masuk dulu!"
Kedua wanita cantik beda generasi itu pun melangkah masuk kesebuah lalu, menuju ke stand wanita dan ternyata tujuan mama Helen yaitu pada deretan pakaian dalam wanita.
"Jadi mama Helen mengajakku kesini cuma ingin membeli pakaian dalam."
"Vania, sini–!"
Saat Vania tengah berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba mama Helen memanggilnya dan lamunan Vania pun buyar. "Eh, iya Ma." Vania menghampiri ibu mertuanya yang tampak sibuk memilah-milah beberapa lingerie.
"Nah Vania, ukuran bajumu berapa?"
__ADS_1
"Aku biasa nya pakai ukuran M, Ma."
Mama Helen mengangguk dan tersenyum penuh arti. Lalu, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah tak muda itu meraih beberapa potong lingerie sexy dengan berbagai warna. Ada yang hitam, pink, cream, marun dan merah. Vania terpaku sesaat sampai ia sadar dengan lingerie-lingerie yang kini berpindah ke tangannya. Ya, mama Helen menyuruh Vania untuk memilihnya.
Namun, karena menantunya itu sama sekali tak bereaksi. Mungkin karena terlalu syok dengan bentuk baju tidur yang bagi Vania terlihat tidak pantas itu. "Ma, i–ini untuk apa?"
"Ini untuk kamu pakai saat kamu tidur. Bagaimana...cantik-cantik kan pilihan Mama? Ayo, kamu pilihlah yang mana. Oh, baiklah. Kita akan ambil semuanya dan kita akan menambahkan beberapa warna dan model yang lainnya. Oke."
"Hah–Ma, aku rasa aku tidak memerlukan baju tidur seperti itu. Rasanya akan sangat malu jika memakainya saat tidur dan apa kata mas Liam nanti." Dasar Vania yang polos, dia tidak tahu saja kalau baju dinas malam istri yang seperti itu akan membuat suaminya senang. Suami mana yang tak akan tergoda jika melihat istrinya yang tampil beda dengan mengenakan lingerie sexy.
Mama Helen terkekeh mendengar perkataan Vania. "Kamu akan membutuhkannya sayang. Oke, kita juga akan mengambil beberapa set bra dan cd." Vania sama sekali tak berani membantah ataupun menolak apa yang di berikan oleh sang ibu mertua. Ia tidak ingin membuat wanita itu kecewa.
"Baiklah.Ma...aku tidak perlu memakainya malam ini kan, Ma?" Wajah Vania sudah tampak merona karena malu membicarakan hal-hal yang berbau intim.
"Ma–sudah jangan dilanjutkan, aku malu."
Kejadian semalam telah membuktikan jika suaminya itu memiliki hasrat terpendam yang begitu mengerikan. Bagaimana kalau ia mengenakan lingerie-lingelie sexy itu. Vania tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. "Hi...mengerikan."
"Kenapa sayang? Santai saja jangan dibawa serius, biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya. Mama yakin kamu pasti bisa. Semangat!" Bukannya menenangkan, ucapan mama Helen justru membuatnya jadi semakin resah.
Tepat pukul lima sore Mereka telah tiba dirumah. Vania langsung bergegas mencari keberadaan Kiano. Sebelumnya ia mencuci tangannya teelebih dulu. Ia sangat merindukan pangeran kecilnya itu.
"Kiano–bunda sudah pulang." Membuka pintu kamar dan Vania melihat Kiano yang sedang melangkahkan kaki mungilnya. Kiano memang tengah senang-senangnya belajar berjalan. Sebenarnya balita montok itu sudah bisa melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit. Vania tampak antusias melihat sang putra yang melangkah sambil tertawa. Kiano begitu semangat berlatih berjalan.
"Mam mam mi mi mi–."
__ADS_1
Melihat kedatangan sang bunda, kaki mungilnya bergerak dan melangkah semakin cepat. Bi Arum dan Vania sontak terkejut dan tak menyangka jika putra kecilnya bisa melangkah dengan gesit dan kuat.
"Wah anak bunda sudah lancar berjalannya. Sini-sini...sama bunda, nak!"
Sambil tertawa riang balita bertubuh montok itu pun melangkah dengan penuh semangat dan akhirnya sampai juga pada sang bunda. "Hup...cup cup, pinternya jagoan bunda." mencium gemas wajah tampan Kiano kecil.
"Apa Kiano sudah tidur?"
Liam dan Vania bersiap untuk tidur. Saat ini mereka duduk bersandar di kepala ranjang. "Bagaimana hasil konsultasinya, sudah dipasang alat kb nya?" Tanya Liam yang sejak tadi begitu penasaran.
"Belum mas. Dokter menyarankan agar aku merundingkannya dulu dengan mas."
"Jadi belum? Mas kira tadi langsung pasang kb nya. Mas sih terserah kamu mau pakai kb apapun oke-oke saja. Memangnya kamu maunya apa dan dokter bilang apa?" Liam sedikit kecewa, ia mengira jika istrinya sudah memasang kb nya. Gagal deh mau test drive. Wajah Liam tampak lesu.
Vania mengernyitkan keningnya menatap ekspresi Liam yang kentara sekali menunjukkan kekecewaan. Tapi Vania sebisa mungkin menjelaskan apa dikatakan oleh dokter tadi siang.
"Jadi, menurut dokter jika mempunyai rencana menambah momongan dalam waktu dekat lebih baik menggunakan kb pil yang tidak terlalu beresiko dan mengganggu kesuburan. Tapi kelemannya jika sampai sehari saja lupa meminumnya maka, besar kemjngkinan beresiko kebobolan. Gimana mas, aku sih kepinginnya pil saja takut kalau pasang Iud atau imlan yang dimasukkan ke dalam anggota tubuh."
Setelah mendengarkan penjelasan dari sang istri, Liam mengerti dan akhirnya menyutujui Vania yang akan menggunakan pil kb saja.Dengan catatan asalkan istrinya itu jangan sampai lupa meminjmnya. "Ya sudah, pake pil saja. Bisa langsung beli di apotik, kan?" Vania mengangguk mengiyakan semua perkataan Liam.
Beberapa hari kemudian Vania mulai menjalankan program kb nya dengan meminum pil. Pada saat semu nggota keluarga berkumpul tiba-tiba mama Helen dan papa Bisma memberikan surprise hadiah pernikahan untuk anak dan menantunya yaitu sebuah tiket perjalanan bulan madu ke luar negeri tepatnya ke Barcelona Spanyol. "Apa ini Ma, Pa?"
"Itu hadiah pernikahan dari mama dan papa yaitu paket bulan madu ke Barcelona Spanyol dan kalian akan berangkat minggu depan. Kami sudah lama merencanakan hal ini untuk kalian." Ucap mama Helen pada keduanya.
Bersambung.
__ADS_1