
Pagi hari nan cerah, Vania sedang bersiap-siap berangkat ke tempat kerja. Ya, hari pertamanya bekerja di Lawrence Group sebagai karyawan di bagian Cleaning Service. Vania sangat bersyukur karena segala sesuatunya berjalan dengan lancar.
Setelah memompa asi nya dan menyiapkan segala keperluan Kiano, Vania beranjak ke rumah bu Wulan tepat disebelah paviliun yang ditempatinya untuk menitipkan Kiano selama ia bekerja. Sebenarnya Vania merasa.tidak enak sebab bu Wulan sudah terlalu baik dari pertama kali ia datang sampai memberikan tempat tinggal yang cukup layak untuknya dan Kiano.
"Terima kasih banyak ya bu dan maaf karena aku selalu merepotkan ibu. Aku titip Kiano." Mencium pipi gembil Kiano kemudian menyerahkan bayi montok itu ketangan bu Wulan.
"Iya sama-sama, jangan bicara seperti itu. Ibu senang kok bisa membantumu dan sangat sayang sama baby embul Kiano. Gemes–." Bu Wulan mencium gemas pipi Kiano. "Ya sudah sana lekas berangkat nanti telat!."
Sesampainya di gedung Lawrence Group, Vania bergegas menuju ke bagian HRD untuk mendapatkan kartu ID pegawai. Setelahnya ia dan karyawan lainnya mendapatkan briefing dari seorang supervisor.
"Hai–kamu anak Cleaning Service baru ya, salam kenal, namaku Winda?" Salah seorang karyawati bagian OG menyapa Vania dan merekapun saling berkenalan. Begitu pun yang lainnya.ikut menghampiri Vania dan mengajaknya bersalaman. Terutama para OB dan Cleaning Service laki-laki. Ya, Vania memang tampak mencolok dengan kecantikkannya yang alami. Bahkan Vania hanya membubuhkan bedak tipis dan lipstik saja.
"Halo Winda. Aku Vania. Senang mengenalmu juga." Mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.
"Hai Vania, kenalkan namaku Agus. Salam kenal."
"Hai, kalau aku Dani. Salam kenal juga ya cantik."
Vania tak menjawab, ia hanya membalas dengan senyuman sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.di dada. Membuat Winda terkekeh geli melihat wajah kikuk kedua rekannya itu.
"Hehe–bukan muhrim bro, dilarang bersentuhan."
Agus dan Dani pun tersenyum meringis menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu.
Vania bertugas membersihkan lantai 15 dengan salah satu rekannya yang bernama Lulu. "Van, kamu membersihkan ruangan big boss kan?"
"iya nih Lu, aku agak grogi deh. Masalahnya kan ini ruangan Ceo ngak sembarangan orang bisa masuk. Kenapa juga aku yang diberi tugas.Tapi, ya mau bagaimana lagi tetap harus dilaksanakan. ya sudah. Aku duluan ya. Keburu bis boss datang ruangannya belum bersih bisa kena semprot nanti." Mereka pun akhirnya berpencar ke tempat tugasnya masing-masing.
Didepan pintu ruangan Ceo, Vania agak ragu untuk masuk. Tepatnya takut. "Bagaimana ini ya, aku takut kalau sampai hasil kerjaanku tidak memuaskan. Hh...ayo Vania, semangat kamu pasti bisa." Mengepalkan tangan kanannya, Ia menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Pertama-tama Vania mengelap meja, sekilas ia membaca plakat nama yang terpampang diatas meja tersebut. Bertuliskan sebuah nama dan jabatannya. "DARIEL LAWRENCE CEO, oh...jadi nama bis boss Dariel."
Vania mengerjakan tugasnya dengan penuh semangat bahkan sampai bersenandung ria. Tanpa disadarinya ada sosok yang sedang berdiri di dekatnya.
"Rt 5 rw 3 sepuluh nomer rumahku, jalannya jalan cinta Naik saja bis kota jurusan kota intan. Kalau kamu tak keliru pasti kita kan bertemu...du du du."
"Suaramu ternyata merdu juga."
"Eh–." Vania sampai tersentak kaget ketika menoleh sudah ada seorang pria tampan dengan tubuh proposional nya. Tampak mempesona dan berwibawa. Vania sampai tak berkedip menatap laki-laki tersebut.
Bola matanya yang indah itu sontak membulat sempurna.Tiba-tiba Vania sadar jika laki-laki yang tengah berdiri dihadapannya saat ini adalah sang Ceo.Dari wajahnya yang kebule-bule-an saja sudah bisa ditebak jika orang itu adalah Dariel Lawrence. " Ma–maaf, Tuan. Saya sudah selesai membersihkan ruangan Tuan. Saya permisi." Vania melangkah sambil mendorong troli yang berisi peralatan kebersihan.
"Tunggu!."
DEG
Jantung Vania rasanya berhenti berdetak begitu mendengar suara bariton Dariel yang menegurnya. Vania sudah ketar ketir talut telah melakukan kesalan yang tanpa.disadarinya. Atau apakah ia bekerja terlalu lamban sampai big boss datang ia bahkan baru menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu karyawan baru yang waktu itu salah masuk lift, kan?"
"I‐iya Tuan, benar itu saya. Dan sekali lagi saya mohon maaf atas kecerobohan saya karena lancang memasuki lift khusus itu." Vania masih tak berani menatap langsung wajah Dariel.
Sedangkan Dariel tak suka karena Vania selalu menunduk.saat berbicara dengannya. " Bisa kan kamu melihat wajah orang yang sedang mengajakmu berbicara?."
Ditegur seperti itu refleks Vania mengangkat kepalanya lalu, menatap langsung wajah boss nya itu walau masih tampak raut ketakutan diwajah Vania yang memerah terutama dikedua belah pipi putih nya.Namun, dimata Dariel malah tampak menggemaskan
"Iya, maafkan saya Tuan."
Dariel mengerutkan keningnya. "Mengapa kamu selalu meminta maaf? Kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun."
__ADS_1
Ada rasa lega di hati Vania. Ternyata ia terlalu over thinking. Boss nya itu tidak sehoror yang ia bayangkan. Tanpa sadar ia pun menatap Dariel dan tersenyum. Dan Dariel tampak tercengang mendapatkan senyuman dari gadis yang sejak kemarin selalu mengganggu pikirannya.
"Manis–."
"Eh–iya, barusan Tuan bilang apa?" Tanya Vania mengeryitkan keningnya.
"Bukan apa-apa." Dariel baru tersadar jika dia baru saja memuji karyawatinya.
Hening sejenak. Keduanya tampak canggung, Vania sebenarnya mendengar apa yang diucapkan oleh atasannya itu. Tapi, apa iya sih dia memujinya cantik. Ah...Vania jadi tidak fokus. Sampai terdengar ketukkan pintu dan keduanya melihat kearah pintu. Telah berdiri Bobby asisten pribadi Dariel.
"Selamat pagi Tuan. Saya ingin menyampaikan schedule anda hari ini."
"Hem–."
Bobby melirik Vania yang belum juga keluar dari ruangan Ceo. "Hei...mengapa kamu masih berdiri saja, cepat lanjutkan kembali pekerjaanmu!"
"Ba–baik, Pak.Permisi." Vania pun segera melangkah keluar.
"Ekhem–."
"Oh iya, Tuan...maaf. Schedule anda pagi ini–."
Tak terasa waktu telah memasuki jam istirahat siang. Vania memanfaatkan waktu istirahatnya untuk memberikan Asi untuk bayinya. Beruntung jarak tempatnya bekerja ke rumah tidak begitu jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit-an saja.
"Van, mulai besok sebelum kamu berangkat kerja sebaiknya dii pompa As nya dan simpan di l3mari pendingin ibu. Dari pada kamu bolak balik dari tempat kerja ke rumah. Nanti kamu bisa kecapean. Serahkan semua keperluan Kiano pada ibu. Kamu konsentrasi kerja saja.ini hanya saran dari ibu."
Vania mengangguk, ia masih menyusui Kiano. Hingga putranya itu tertidur baru Vania kembali lagi ke kantor. Langkahnya tergopoh-gopoh karena waktu jam istirahatnya hampir habis. Ternyata benar apa yang dikatakan bu Wulan capek juga jika harus mondar mandir seperti ini.
"Hosh–capek,mulai besok aku akan mengikuti saran dari bu Wulan." Vania bermonolog sendiri sampit mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Tanpa dia sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari pelataran lobby gedung kantor tempatnya bekerja.
__ADS_1
Bersambung