
Usai acara pertunangan yang gagal dilaksanakan, suasana kediaman keluarga Ghazala tampak sunyi.Keempat anggota keluarga tersebut berada di ruang kerja Tuan Bisma. Mereka tengah menginterogasi Liam yang dengan seenaknya membatalkan pertunangannya.
"Sekarang, jelaskan pada kami. Apa maksudmu melakukan semua ini, Liam? Apa kau tahu, apa yang telah kau perbuat membuat malu keluarga kita." Nyonya Helen sangat gemas dengan kelakuan putra sulungnya.
Liam yang sejak tadi tertunduk mengangkat kepalanya dan menatap sang mama. " Maafkan aku, Ma, Pa. Aku...tidak bisa karena ada seorang gadis yang aku suka."
"Siapa dia dan siapa orang tuanya? Mama harap kamu tidak salah pilih. Jika gadis itu tidak baik maka, mama tidak akan pernah memberi restu untuk kalian. Katakan Liam, siapa!?" Tuan Bisma hanya menyimak omelan istrinya.
"Gadis itu adalah Vania, aku menyukainya Ma."
Sontak semua menoleh dan menatap Liam dengan reaksi yang berbeda-beda. Terutama Wira yang langsung bereaksi keras dengan menghampiri Liam lalu mencengkeram kerah kemeja sang kakak dan menghardiknya.
"Apa maksud kakak bilang suka Vania? Apa kakak sengaja melakukannya karena tahu jika aku juga menyukainya bahkan aku sudah pernah melamarnya. Apa ini, kak?" Wira begitu geram dengan ulah sang kakak yang selalu berbuat seenaknya.
Kedua kakak beradik itupun saling menatap tajam. Aura permusuhan tampak nyata diantara mereka. Wira tidak terima jika ada laki-laki lain yang juga menginginkan Vania meakipun itu kakak sendiri.
"Memangnya kenapa kalau aku menyukai Vania? Vania belum menjadi apa-apamu, bukan. Dan dia bebas memilih calon pendamping dan ayah dari bayi yang dikandungnya. Karena–." Liam tak melanjutkan perkataannya karena suar interupsi dari sang mama menghentikan perdebatan dua kakak beradik itu yang memperebutkan seorang gadis .
"STOP! Liam, wira...apa-apan kalian ini?"
Liam dan Wira seketika terdiam mendengar bentakkan sang mama. Mereka tak saling adu mulut lagi tapi masih tetap saling menatap tajam.
"Kak Liam duluan ma yang bikin gara-gara. Maksudnya apa coba bilang suka sama Vania. Aku bahkan sudah melamar Vania lebih dulu walaupun belum mendapat jawaban darinya." Jawab Wira tak terima ketika tahu jika sang kakak juga menyukai Vania.
Liam hanya menyunggingkan senyumnya seakan mengejek adiknya. "Aku rasa lamaranmu itu tidak akan pernah di terima olehnya, karena yang pasti Vania akan lebih memilih aku." ujarnya penuh percaya diri.
"Percaya diri sekali kamu, kak.Setahuku kak Liam tidak pernah bersikap ramah pada Vania. Lalu, apa sekarang? dengan yakin ingin memiliki Vania. Sudahlah kak, carilah wanita lain yang sesuai dengan seleramu. Jangan pernah mempermainkan gadis baik seperti Vania. Akulah yang akan membahagiakannya dan anak kami nanti."
Wira semakin memanas-manasi Liam dan benar saja, seketika wajah Liam merah padam bahkan kedua tangannya mengepal kuat.
"Apa kau bilang? Anak kami–."
"Iya. Jika kami menikah nanti.otomatis anak Vania akan menjadi anakku juga dan aku akan mengakuinya secara hukum sebagai anak kandungku sendiri. Tidak seperti kakak yang tiba-tiba bersikap aneh dan tidak masuk akal."
"Kauuu–."
"Apa kak, mau mengajak duel...ayo, siapa takut. Aku akan memperjuangkan Vania menjadi milikku satu-satunya." Menantang sang kakak secara terbuka.
__ADS_1
BUGHH
BUGHH
"Akhh! Hei–hentikan, apa yang kalian lakukan? Pa bantu lerai dong anak-anaknya! "
Nyonya Helen memekik histeris menyaksikan kedua putranya saling baku hantam hanya karena seorang gadis pembantu di rumah mereka yang bahkan tengah hamil besar. Tuan Bisma pun segera beranjak dari duduknya lalu, melerai kedua putranya.
"Sudah-sudah, apa-apaan kalian. Hanya karena seorang wanita kalian sampai merusak tali persaudaraan. Liam, Wira...kalian adalah saudara sekandung, jangan membuat mama bersedih. Lihatlah mama menangis karena sikap kekanak-kanakkan kalian ini. DUDUK, dan dengarkan pekataan kami!"
Sikap tegas Tuan Bisma mampu meredam amarah kedua putranya. Akhirnya Liam dan Wira pun menurut. Keduanya duduk saling berjauhan.
"Sekarang dengarkan Mama! Tidak ada satupun diantara kalian yang akan menikahi Vania."
"Ma–kenapa? Bukankah mama juga menyukai Vania dan sayang padanya. Buktinya mama selalu bersikap lembut dan baik pada Vania." Protes Wira tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang mama.
"Dengarkan dulu kalau mama sedang bicara, Wira!" Nyonya Helen menggelengkan kepalanya, putra bungsunya itu memang super ngeyel.
Nyonya Helen pun memberi alasan kenapa ia tidak menyetujui niat kedua putranya yang ternyata sama-sama menyukai Vania.
"Mama memang sayang Vania.Itu karena mama merasa kasihan pad gadis itu. Masih semuda itu tapi sudah mengalami berbagai cobaan berat yang pastinya sangat membuatnya menderita. Hamil karena hasil pemerkosaan pasti telah menanamkan rasa trauma yang mendalam baginya."
Setelah mendengar apa yang di ungkapkan sang mama, Liam dan Wira pun terdiam tak lagi mengajukan protes. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing.
Suasana di ruangan tersebut hening sejenak dan tak berapa lama terdengar ketukan pintu.
Tok tok tok
"Siapa? Masuk!"
"Saya Nyonya."
Mendengar suara Vania, wajah Liam dan Wira berubah tegang. Gadis yang tengah mereka perdebatkan tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
"Maaf Nyonya dan Tuan-Tuan jika saya mengganggu."
Vania memegang sebuah baki yang diatasnya terdapat 4 buah cangkir teh hangat untuk para majikannya. Setelah meletakkan minuman tersebut diatas meja, kemudian hendak undur diri.Namun, Nyonya Helen mencegahnya dan membuat Vania mengurungkan langkahnya.untuk keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Tunggu, Vania! Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Ayo duduklah!"
Entah mengapa rasanya ada yang tidak beres. Apakah ia telah melakukan suatu kesalahan? Vania tak bisa menebak apa yang sedang terjadi dan apa yang ingin ditanyakan oleh istri dari majikannya itu.
"Ehem, begini Vania. aku langsung ke pokoknya saja ya. Begini...apa benar jika Wira pernah melamarmu untuk dijadikan istrinya?"
"Apa ini? mengapa Nyonya Helen bisa tahu kalau Tuan Wira melamarku."
Gadis itu benar-benar tak menyangka jika Wira memberitahu orang tuanya soal lamaran tersebut. Vania menjawab dengan menganggukkan kepalanya namun, ia tak berani menatap para majikannya. Vania sangat malu.
"Lalu, apa jawabanmu? Kenapa kamu belum memberi jawaban atas lamarannya.
Bingung–itulah yang dirasakannya saat ini. Disisi lain ia bahagia karena jika ia menerima pinangan Wira tentu anaknya akan memiliki seorang ayah. Tapi, setelah dipikir itu adalahhal yang mustahil. Vania sadar diri siapa dirinya yang hanya seorang pembantu dan tidak akan mungkin naik jabatan menjadi seorang majikan. Itu tidak akan pernah terjadi.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa menikah dengan Tuan Wira dan saya rasa juga akan sangat tidak pantas jikalau saya menjadi bagian dari keluarga terhormat ini. Saya tidak akan mengganggu ketentraman keluarga Ghazala, Nyonya...Tuan. Maafkan saya karena tidak bisa menerima lamaran Tuan Wira.
Mengatupkan kedua telapak tangannya meminta maaf karena telah membuat kekisruhan.
"Satu lagi, Liam mengatakan menyukaimu dan ingin menikahimu juga. Tentunya kamu juga akan menolaknya, bukan?"
Dag dig dug
Degup jantung Vania berdebar-debar, ia sama sekali tak menyangka bahwa kedua Tuan Muda sama-sama berniat ingin memperistrinya. Namun, lagi-lagi Vania tersadar akan posisinya yang hanyalah sebagai pembantu dan tak pantas menjadi menantu di keluarga terpandang itu.
Seperti apa yang tadi dibilang oleh Nyonya Helen jika, salah satu dari putranya menikahi Vania hal itu tentu saja akan mencoreng nama baik keluarga kaya terasebut. Ia masih bisa berpikir jernih dan memilih mana yang baik dan salah.
"Iya Nyonya, sama...saya pun tidak akan menerima lamaran dari Tuan Muda Liam. sekali lagi saya mohon maaf karena telah terjadi hal yang tidak sepantasnya ." Ya, Vania menolak keduanya.
Nyonya Helen dan yang lainnya terdiam tak ingin membahas lagi masalah tersebut.
"Maaf Nyonya, apakah saya sudah boleh pergi? Saya mau membantu bi Arum beres-beres."
Sungguh, Vania hanya ingin keluar dari ruangan yang membuatnya sesak itu. walaupun semua yang dikatakan oleh Nyonya Helen benar namun, tetap saja baginya terasa menyakitkan.
"Hemm, silahkan Vania. Maaf atas segala ucapanku tadi. Kamu dan anakmu akan selalu diterima dengan baik dirumah ini."
Vania mengangguk dan tersenyum lalu, segera beranjak keluar dengan bulir air mata yang mulai berjatuhan di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Maafkan bunda ya, sayang. Tidak apa-apa...kita akan baik-baik saja." Vania mengusap-usap lembut perutnya sambil terus melangkah menuju kekamarnya.
Bersambung