
Shinta tak enak menolak permintaan kedua pria tampan itu. Selain mereka sangat sopan dan ramah juga karena mereka adalah teman Wira.
"Gimana? Apakah kami boleh bergabung bersama kalian?" Lagi, Anton bertanya dan berharap agar Shinta mau mengabulkannya.
"Oh, bo–boleh saja. Silahkan duduk Tuan Anton dan Tuan David!" Shinta akhirnya mengiyakan lalu, mempersilahkan keduanya untuk duduk bersama.
Anton dan David pun tersenyum lalu, ikut bergabung dengan dua gadis manis itu. " Terima kasih. Oh ya, tolong jangan panggil kami Tuan.Panggil nama kami saja biar akrab."
Tentu saja Shinta merasa tidak enak memanggil orang yang umurnya lebih tua darinya dengan hanya nama saja. Kesannya tidak sopan. "Rasanya tidak pantas jika, kami memanggil anda berdua dengan hanya menyebutkan nama saja. Atau bagaimana kalau kami memanggil kalian mas atau kak."
Anton menimbang-nimbang dan sepertinya panggilan itu bagus dan lebih baik. Betapa senangnya mendengar gadis secantik Shinta memanggilnya mas. Sungguh romantis. "Baiklah, boleh juga....panggil mas saja." ujarnya.
Mereka pun menikmati makan siang dengan santai dan penuh keakraban. Anton yang memang si playboy ulung tentu saja dapat mencairkan suasana dengan mengeluarkan jurus-jurus gombalan maut nya hingga membuat Shinta dan Tari mesam mesem karena malu.
"Emm–kalian kuliah di mana? Boleh kan kami tahu?" Anton seakan tak ingin membuang kesempatan untuk mencari tahu dan bisa kenal lebih dekat dengan sosok Shinta yang dikaguminya. Sejak pertama melihat Shinta di pesta waktu itu, Anton sudah tertarik dengan kecantikkan natutal Shinta dan ia bertekad akan mencari tahu tengang gadis yang telah mencuri perhatiannya.
" Kami berkulian di universitas xxxx." Jawab Shinta.
"Oh ya, ngomong-ngomong kalian berdua apakah sudah memiliki pacar? Ngak mungkin kan gadis secantik dan semanis kalian belum ada yang punya?" Anton langsung to the point. Ia tak sabar ingin mengetahui apakah Shinta masih single atau sudah punya gandengan.
Shinta dan Tari sejenak saling berpandangan. "Memangnya kalau belum punya kenapa dan kalau sudah punya trus kenapa?" Bukan Shinta yang menjawab tapi, kali ini Tari lah yang memberanikan diri bertanya pada Anton.
"Shin, ni cowok kayaknya ada maksud deh sama kamu. Nanti kalau sampai Pak Wira tahu dan marah gimana? Sebaiknya kamu jangan menanggapinya!" Bisik Tari namun, masih bisa didengar oleh kedua pria tampan yang duduk tak jauh dari mereka.
"Jangan khawatir, Wira adalah teman baik kami dan pastinya tak akan keberatan jika kita berteman. Boleh kan kalau kami ingin berteman dengan gadis cantik seperti kalian?" Anton menjelaskan jika ia tidak bermaksud apa-apa dan hanya ingin berteman dan mengenal Shinta lebih dekat. Itulah niat Anton yang sebenarnya.
Shinta dan Tari kembali saling pandang lalu, Tari mengangguk tanda mengiyakan ajakan pertemanan kedua pria tampan itu.
__ADS_1
"Oh, tentu saja boleh. Masa' kalau cuma berteman saja tidak boleh." Tari yang memang lebih berani dan agak bar-bar tentu saja yang menjawab.
Anton dan David tersenyum hangat pada dua gadis cantik dihadapan mereka. Jarang-jarang kan bisa berteman dengan gadis muda seperti mereka apalagi jika, sampai menjadi kekasih atau sampai sah menjadi istri. Anton sudah berangan-angan terlalu tinggi. Andai ia tahu kebenerannya maka, laki-laki itu pasti akan patah hati.
Meskipun acara makan siang mereka telah selesai. Namun, leempatnya masih terlibat obrolan santai dan menyenangkan. "Bolehkah aku meminta nomer telepon kalian? Aku tidak ada maksud apa-apa kok, hanya ingin menjalin pertemanan saja."
Shinta sebenarnya ragu untuk memberikan nomer teleponnya tapi, karena tidak enak hati dengan keduanya yang merupakan sahabat dari sang suami .maka, akhirnya ia pun memberikan nomer nya begitu pun dengan Tari. Mereka berempat kemudian saling bertukar nomer telepon.
"Kalau begitu apa kami mau pamit karena harus segera pulang." Shinta merasa sudah terlalu jauh berbincang dengan kedua pria tersebut padahal dia sudah menjadi seorang istri tidak seharusnya ia berinteraksi dengan laki-laki lain seakrab itu.
"Oh–maaf telah membuat waktu kebersamaan kalian terganggu dengan kehadiran kami. Silahkan. Bagaimana kalau pulang bareng kami saja?"
Sudah pasti Shinta menolaknya."Tidak usah, terima kasih. Kami bisa pulang sendiri. Tari membawa motor. Kalau begitu kami duluan ya." Tanpa membuang waktu Shibta langsung menarik tangan Tari agar segera beranjak dari duduknya lalu keduanya melangkah pergi meninggalkan Anton dan David yang bahkan belum mengatakan apapun.
"Ton, kayaknya gadis itu kurang nyaman deh dengan kehadiran kita. Lagian lo sih terlalu agresif. Ngotot banget sih pingin dapetin tu cewek.Bisa jadi kan dia sudah memiliki kekasih makanya dia tidak terlalu merespon rayuanmu itu." David memang sejak tadi hanya diam saja dan hanya menyimak perbincangan mereka. Namun, sesekali ia memperhatikan mimik dan gesture tubuh Shinta yang tampak jelas tak nyaman malah terkesan tak tenang. Tapi, mengapa?
"Yah lo aja yang ngak bisa melihat dan menilai cewek baik seperti Shinta. Ah, benar-benar calon istri idaman." Anton sama sekali tak mengindahkan semua perkataan David. Sedangkan David hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Shin, aku langsung balik aja ya. Soalnya mau nyuci baju." Tari langsung undur diri.
"Eh ada non Shinta. Silahkan masuk!" Security yang mengetahui kedatangan Shinta bergegas membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan Shinta masuk.
"Assalamuallaikum."
"Wa'allaikumsalam."
"Eh, ada tante Shinta." Vania sangat senang dengan kedatangan sang adik.
__ADS_1
"Aduh, gantengnya keponakan tante." Shinta langsung meraih dan menggendong Kiano dan menciuminya dengan gemas. Hingga balita tampan itu tertawa cekikikan karena merasa kegelian. Membuat Shint bertambah gemas saja dengan keponakannya itu.
Bi Arum baru saja dari dapur dengan membawa dua cangkir teh dan camilan. Melihat kedatangan Shinta membuat bi Arum bertanya-tanya ada apa gerangan tumben-tumbenan Shinta datang tidak bilang-bilang. "Shinta, tumben kamu datang. Ada apa?"
"Ish–ibu kok gitu sih. Memangnya tidak boleh apa mengunjungi ibu sendiri?" Shinta sudah memasang wajah cemberutnya.
Bi Arum mengulum senyumannya melihat Shinta yang ngambek. "Iya iya putri ibu yang cantik dan paling manja. Kamu bikin minum sendiri sana. Ibu cuma buat dua!"
Tanpa menjawab, Shinta pun melenggang pergi menuju ke dapur untuk membuat minuman untuk dirinya sensiri.
"Ada apa tu anak ya, dia izin tidak sama suaminy kalau mau main kesini. Kebiasaan, merasa masih gadis apa gimana." Bi Arum mendumel sendiri. Vania tersenyum melihat bibinya yang kesal dengan sang adik.
Mereka mengobrol santai sambil dan Shinta sesekali mengajak Kiano bercanda. Tak berapa lama, Vania pamit untuk kekamar, ingin memandikan Kiano karena hari sudah menjelang sore.
Kini tinggalah Bi Arum dan Shinta. Inilah kesempatan Shknta agar bisa berbicara berdua saja dengan ibunya. "Em....bu, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Tumben sekali mau tanya pakai izin segala. Ya ngomong aja langsung Shin, kayak sama sama siapa saja kamu ini."
"Tapi, janji ya ibu jangan marah dan harus berkata dengan sejujur-jujurnya.Jangan ada yang ibu tutup-tutupi dari aku."
Bi Arum mengernyitkan keningnya. " Kenapa kamu bicara seperti itu. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kalian? Kalau ada masalah dibicarakan dan selesaikan berdua jangan malah mengadu pada orang tua. Itu tidak baik, Shinta."
Shinta menghela nafas panjang, belum apa-apa ibunya sudah berpikiran negatif saja. "Ya ampun bu, su'udzon aja sama anak sendiri. Aku sama mas Wira baik-baik saja kom. Cuma ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama dan aku yakin ibu pasti mengetahuinya.
"Hem, ya sudah. Maafin ibu sudah su'udzon sama kamu. Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan!"
"Emm–apa ibu mengetahui jika, mas Wira mencintai mbak Vania?"
__ADS_1
"Àpa?"
Bersambung.