
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Shinta tampak diam. Wira fokus menyetir namun, pikirannya selalu teringat akan ucapan Liam. ""Biarin, yang penting setia. Raga dan hatiku hanya milik istriku seorang." Tangannya mencengkeram erat stir mobil dan tanpa sadar ia berdecK kesal. " S*** !"
"Mas, ada apa?" Shinta yang mendengar luapan kekesalan Wira pun refleks menoleh kesamping dan mengernyit penuh tanda tanya. Kenapa suaminya itu tampak begitu kesal. Apa ada suatu masalah?
Wira pun sama, menoleh kearah Shinta sekilas lalu, kembali fokus kearah depan. "Tidak....maksudku bukan apa-apa." Shinta mengangguk dan mengalihkan pansangannya kearah samping kaca jendela melihat pemandangan sepanjang jalan.
"Mas, apa boleh saya bertanya sesuatu. Ini soal masa depan pernikahan kita. Apakah harus dilanjut atau sesuai perjanjian Mas akan mengakhirinya. Saya sudah siap lahir batin jika, itu terjadi. Saya ikhlas, Mas dan yang terpenting saya akan tetap bersama baby boy nanti."
Mereka baru saja bersiap untuk tidur namun, Shinta yang sudah tidak tahan ingin mengungkapkan apa yang tengah mengusik pikirannya tentu saja tak membuang waktu disaat mereka sedang berduaan saja seperti saat ini.
"Kamu bicara apa, siapa yang ingin bercerai?"
Shinta cukup terkejut dengan pernyataan ah, bukan....tepatnya pertanyaan yang terlontar langsung dari bibir Wira.
"Maksud Mas apa? bukankah sesuai perjanjian jika, Mas tidak bisa mencintai saya maka, kita akan berpisah. Saya tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan Mas Wira. Dan maaf, saya juga ingin bahagia." Shinta tertunduk, jemarinya meremas selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke perut.
"Sudah, jangan membahas hal yang tidak tidak penting. Kamu jangan selalu berpikiran yang aneh-aneh. Tenangkan pikiranmu untuk menyambut kelahiran bayi kita!"
DEG
"Bayi kita?"
"Loh, kenapa? Bayi yang tumbuh di rahimmu memang anak kita,bukan. Kita berdua yang susah payah bekerja sama membuatnya." Kenapa omongan Wira tiba-tiba jadi ngelantur kemana-mana. Shinta kan jadi malu mendengarnya meskipun apa yang dikatakan Wira benar adanya.
"Mas Wira ngomong apa sih, saru tahu." Saru artinya tidak pantas untuk diucapkan.
"Makannya kamu juga jangan bicara yang enggak-enggak. Sudah, ayo cepat tidur. Tidak baik bumil begadang!" Wira merebahkan tubuhnya kembali.
"Siapa juga yang mau begadang. Aku ngak ngerti sama jalan pikirannya. Ababil banget sih?" Shinta bergumam pelan sambil merutuki sikap suaminya yang selalu berubah-ubah.
Tanpa disadari olehnya, ternyata Wira belum sepenuhnya tertidur ia masih bisa mendengar dengan jelas umpatan Shinta. "Kamu barusan mengatai aku apa? Ababil? Kamj kira aku abg yang masih berpikiran kekanak-kanakkan."
__ADS_1
"Eh, bu–bukan begitu Mas. Saya ngak bermaksud apa-apa kok, sumpah." Shinta menggerakkan jemarinya membentuk huruf V.
"Sepertinya tadi jelas-jelas aku mendengar kamu mengataiku ababil. Jadi, kamu mengira jika, sifat dan sikapku masih belum dewasa. Begitu kan maksudmu?wah, sepertinya kamu minta dihukum ya?" Wira tetap memojokkan Shinta. Ia tak terima di bilang ababil alias seperti laki-laki tanpa pendirian.
Shinta beringsut ingin melarikan diri hendak turun dari atas tempat tidur namun, dengan gerakan cepat tangan Wira langsung mengukung tubuh Shinta hingga bumil itu tak bisa berkutik lagi dan pasrah dengan hukuman yang akan diberikan oleh suami labilnya itu.
"Jadi, sudah siap menerima hukumannya? Oke, hukuman ini juga demi kebaikanmu juga agar kelahiran bayi kita semakin lancar.Kamu mengerti, kan apa yang kumaksud?"
Ya, Shinta memang tahu pasti apa yang dimaksud oleh suaminya dan hukuman itu apa lagi kalau bukan itu. Wira mengatakan hitung-hitung sekalian mau mennengok anaknya. Begitu yang disarankan oleh dokter menjelang masa melahirkan si bapak harus sering-sering menjenguk si baby. Dasar si Wira aji mumpung. Alhirnya si baby boy malam ini akan bertemu dengan sang ayah.
Keesokkan harinya mood Shinta benar-benar tengah diliputi kebahagiaan. Semalam, Wira memperlakukannya dengan sangat lembut dan mereka telah bersepakat akan mengakhiri perjanjian yang pernah mereka buat. Tepatnya hanya Wira yang menginginkannya. Wira berjanji akan berubah dan membahagiakan istri dan anak-anaknya kelak. Kelahiran baby boy begitu dinantinya dan didalam hati, Wira telah bertekad akan berusaha mencintai Shinta atau memang sudah ada rasa itu tapi, Wira belum juga menyadarinya.
Siang ini Shinta tengah bersiap keluar. Bumil itu ingin berkunjung ke Perusahaan untuk mengantarkan makan siang masakannya sendiri. Karena hatinya sedang berbunga-bunga ia pun tak lupa berdandan dengan memoles wajahnya sedikit dan kini ia terlihat begitu fresh dan cantik dengan dress hamil selutut warna hijau botol sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.
Sesampainya didepan gedung yang tampak menjulang tinggi, Shinta bergegas memasuki gedung itu lalu, berhenti di lobby tepatnya di meja resepsionis. "Maaf, bu. Ada yang bisa dibantu?" Tanya resepsionis bername tag Irma.
"Iya, saya ingin bertemu dengan Pak Wira Bheru Ghazala. Apa beliau ada?"
Irma tak langsung menjawab, wanita muda itu malah menelisik penampilan Shinta yang sederhana namun, pakaian yang dikenakannya jelas bukan merk abal-abal. Semua yang melekat ditubuh wanita hamil dihadapannya saat ini berasal dari brand ternama. "Maaf, kalau boleh saya tahu nama anda siapa ya?"
"Ibu Shinta. Maaf bu. Sudah ditunggu Pak Wira diruangannya.Mari saya antar."
"Terima kasih. Ee–?"
"Gugun Bu. Nama saya Gugun." Gugun mengerti jika, mungkin istri boss nya itu tidak mengingat namanya.
"Ah iya, maaf. Pak Gugun." Shinta tersenyum hangat pada bawahan suaminya itu. Membuat Irma si resepsionis hanya melongo belum tahu siapa Shinta itu sampai asisten big boss begitu hormat pada wanita hamil tersebut.
Gugun pun beralih menatap Irma. "Irma, Ibu Shinta ini adalah istri boss Wira jadi, ingat itu baik-baik dan jaga sikapmu!"
"Hah. eh, i–iya Pak Gugun. Maafkan saya Bu. Karena saya belum tahu siapa Ibu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi ke atas." Shinta tersenyum ramah lalu, melangkah mengikuti Gugun yang sudah berjalan lebih dulu setelah mengambil alih paper bag yang berisi makanan untuk Wira.
"Wow–sumpah gue ngak nyangka kalau wanita hamil itu istrinya boss. Masih muda banget....gila, cantik dan imut. Boss.ternyata seleranya daun muda ya." Irma jadi mengoceh sendiri sebab ia masih terkejut dengan kedatangan istri boss nya yang untuk pertama kalinya. Tiba-tiba sudah ada sosok wanita cantik bertubuh semampai dengan tampilan sexy dan glamor sudah berdiri menatap Irma dengan angkuh.
"Hei, barusan kamu bilang apa? Wanita hamil...istrinya boss? Maksud kamu Wira?"
"Eh, ada Bu Regina. Maaf, Iya barusan Bu Shinta istri Pak Wira datang dan beliau sedang menuju ke ruangan Pak boss." Irma tersenyum sopan namun, didalam hatinya begitu sebal dengan sosok wanita angkuh yang beberapa kali pernah datang untuk menemui boss nya.
"Oke, kalau begitu aku juga akan langsung keatas saja." Regina berbalik badan dan langsung melangkah pergi menuju ke arah lift.
"Ma‐maaf Bu Regina, tunggu sebentar!"
Regina yang dipanghil pun menoleh dan menatap geram Irma. "Ada apa lagi sih kamu, panggil-panggil segala?"
"Maaf Bu, saya akan menanyakan dulu kepada Pak Wira akan kedatangan anda. Sebab beliau sedang bersama dengan istrinya." Irma menjelaskan dengan ramah dan sopan agar tamu tak tahu diri dihadapannya itu mengerti dan mengurungkan niatnya untuk naik ke atas.
Tentu saja seorang Regina. Wanita berkelas dan juga sahabat terdekat dari Wira Bheru Ghazala tak terima di perlakukan seperti itu oleh seorang resepsionis. "Hei....siapa kamu berani melarangku untuk menemui Wira. Kamu belum tahu siapa aku,hah?"
' Ya ampun, emang gue perduli siapa situ. Kalau Bu Shinta baru gue perduli dan hormat malah. Ih....dasar perempuan gatel.' Irma merutuki tingkah sombong Regina yang sok penting itu. Regina tidak tahu saja kalau Wira pernah berpesan jika, Regina datang Wira menyuruhnya agar mengatakan kalau boss nya itu sedang tidak berada ditempat.Tentu saja Irma mengerti jika, boss nya tidak menyukai kehadiran Regina yang begitu percaya diri mengaku-ngaku sebagai wanita spesial Wira.
"Heh–aku ngomong sama kamu, malah bengong. Sudah, aku tidak ada waktu untuk meladeni karyawan rendahan seperti kamu." Regina melanjutkan langkahnya kembali dan kali ini wanita itu benar-benar nekat ingin menemui Wira yang saat ini sedang bersama Shinta.
"Haduh–mati gue. Mending bilang sama Pak Gugun saja deh. Dari pada disalahkan." Irma langsung meraih gagang telepon lalu, segera menghubungi asisten boss nya itu.
Saat Regina baru saja sampai di depan pintu ruangan Wira, wanita itu sudah dihadang oleh Gugun yang langsung bergerak cepat ketika menerima informasibdari Irma tentang kedatangan Regina.
"Maaf, Bu Regina. Didalam sedang ada Bu Shinta istri dari Pak Wira. Dan beliau berpesan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Maaf, Bu." Jelas Gugun dengan mode sopan, padahal didalam hatinya ingin segera mengusir wanita tak tahu malu itu. Yang selalu mengejar-ngejar boss nya.yang sudah memiliki seorang istri.
"Trus kenapa memangnya kalau Wira sedang bersama istrinya. Aku sama sekali tidak perduli. Kamu lupa siapa aku, hah. Minggir....aku mau masuk!" Regina langsung mendorong tubuh Gugun yang berdiri menghalangi pintu agar Regina tidak nekat masuk. Namun, dasar si Regina wanita sombong itu langsung menerobos masuk begitu saja.
"WIRA–!"
__ADS_1
Mata Regina membola sempurna ketika melihat pemandangan yang membuat hatinya seketika memanas dan terbakar api cemburu.
Bersambung