
"Di–dia adalah Tu–an muda Kiano." Jawab Inara sambil tertunduk takut. Ia bahkan tak berani menatap wajah keempatnya yang tengah mengelilinginya dan menatapnya intens.
Jawaban Inara sontak membuat keempat pemuda tampan tersebut sangat terkejut terutama Kiano yang disebut namanya oleh Inara sebagai laki-laki yang bertanggung jawab akan apa yang telah terjadi pada diri gadis itu.
"Maksud kamu apa Inara, menuduhku seperti itu? Aku bahkan tidak memiliki hubungan apa pun denganmu. Untuk masalah waktu itu bukannya sudah kita klarifikasi kesalah pahaman diantara kita. Jadi, tidak ada hal yang spesial yang pernah terjadi pada kita. Apalagi sampai menghamilimu segala. Janganlah mengada-ada, Inara." Ucap Kiano penuh penekanan sontak tubuh Inara menegang. Perutnya pun kembali terasa mengencang. Namun, dengan sekuat tenaga ia menahan rasa nyerinya.
"Ta–tapi malam itu–."
"Hah–sudah, hentikan omong kosongmu itu! Kenapa kau malah menutupi kebejatan laki-laki lain. Apa kau memang sengaja sudah merencanakannya supaya bisa masuk kedalam keluarga Ghazala? Ingat siapa dirimu yang hanyalah seorang gadis kampung yang bekerja sebagai pembantu. Itu hal yang mustahil. Sampai sini aku harap kau paham dan berhenti memfitnah orang lain."
Sesak. Rongga dadanya seakan kesulitan bernafas.Ternyata keputusannya untuk mengungkapkan kebenarannya malah membuatnya dihina habis-habisan. Inara memalingkan wajahnya dan tersenyum miris hanya untuk menahan tangis yang sudah hampir meledak. " I–iya, kalau begitu saya mungkin yang salah karena terlalu lancang mengatakan yang sebenarnya. Tapi, tuan muda tidak usah khawatir. Saya tidak akan meminta penjelasan apapun pada anda apalagi meminta tanggung jawab atas kehamilan ini. tolong tinggalkan saya sendiri dan terima kasih atas kebaikan tuan yang telah menolong saya." Inara masih mengalihkan pandangannya tak sudi menatap wajah Kiano.
"Oke, kalau begitu gue cabut duluan. Dan lo Jay....karena lo yang mengajaknya jadi, lo yang akan mengantarkannya pulang." Setelah itu Kiano pun beranjak pergi meninggalkan ruang IGD tanpa menoleh sedikitpun pada Inara.
"Nara–apakah kamu baik-baik saja?" Erwin menyentuh bahu Inara yang masih membisu dengan tatapan kosongnya.
Kemudian Erwin memberi kode pada Tony agar meninggalkan Inara dan Jay. Mereka mengerti jika, saat ini Inara sedang dalam keadaan tidak baik apalagi perkataan Kiano yang sangat menyakitkan itu. Biarlah Jay yang mengurus gadis malang tersebut.
"Nara, apa kamu mau pulang sekarang?" Jay bertanya selembut mungkin.
"I–iya, Mas." Inara pun beranjak turun dari brankar lalu, keduanya meninggalkan rumah sakit dan Jay pun langsung mengantar Inara pulang.
Setengah jam kenudian akhirnya mereka pun samoai di kediaman keluarga Liam. Inara pun berpamitan dan tak lupa mengucapkan terima kasih pad Jay yang telah mengantarnya pulang. "Terima kasih ya Mas Jay sudah mengantarkan saya pulang dan tolong jangan mengatakan apa pun pada majikan saya terutama bu Vania yang telah begitu baik pada saya."
"Iya, saya tidak akan melakukannya. Ya sudah kamu cepatlah beristirahat sana!"
Setelah kepergian Jay, Inara melangkah kearah samping rumah menuju ke kamarnya yang berada di belakang. Sekilas ia melihat mobil Kiano yang telah terparkir rapi di dalam garasi. "Dia sudah pulang." menatap nanar mobil milik sang anak majikannya yang telah menorehkan luka fisik dan batinnya.
"Inara, kamu sudah pulang? Cepat sekali acaranya, pantes Kiano juga sudah pulang sejak tadi." Tanpa di sangka ia malah bertemu dengan Vania yang sedang berada didapur dan melihat Inara yang tengah berjalan di luar menuju ke belakang. Vania pun gegas menghampiri Inara.
__ADS_1
"Iya Bu. Acaranya membosankan. Emm....bukan begitu juga sih. Maksudnya karena saya tidak terbiasa ketempat hiburan malam jadi agak kurang nyaman saja, bu." Jawab Inara sambil menampilkan senyumannya.
Vania memperhatikan wajah Inara yang agak berbeda, Tampak pucat. "Inara, wajahmu pucat sekali, apakah kamu baik-baik saja?"
"Oh–iya bu. Saya baik-baik saja. Mungkin karena saya memang sedang tidak fit jadi, ya badan saya agak lemas tak bertenaga. Nanti kalau sudah beristirahat pasti akan mendingan. Maaf, bu. Apakah saya sudah boleh kebelakang?"
Agar sang majikan tidak bertanya macam-macam maka, ia pun segera pamit undur diri untuk kekamarnya. Dan Vania mengangguk mengizinkan gadis itu kembali kekamarnya.
Sejak malam pengakuan Inara, Kiano tak pernah lagi menegur gadis malang itu. Ya, sepertinya pemuda itu sengaja menghindarinya. Namun, bagi Inara itu bukanlah masalah baginya. Ia sudah bertekad akan menyembunyikan kehamilannya sampai waktunya akan ketahuan dan di usir oleh sang majikan. Bukan tanpa sebab Inara melakukan hal itu. Sebenarnya ia sudah menghubungi agen penyalurnya dan bertanya apakah ia bisa keluar atau pun di pindah ke tempat majikan yang baru.
Tapi, ternyata itu tidak bisa. Karena majikan Inara tak pernah komplain dengan pekerjaan gadis itu. Jadi, Inara harus tetap melanjutkan kontrak kerjanya selama satu tahun. Dan jika, sang majikan tak mengingknkannya lagi baru ia bisa memutus kontrak dan bisa bekerja di tempat majikannya yang baru.
"Sebaiknya kamu bersabar sampai kontrak kerjamu berakhir selama satu tahun. Bekerjalah yang baik dan rajin. Kami akan usahakan untuk mencari tempat yang baru untukmu." Jawab sang supervisor penyalur nya.
"Baiklah bu. Saya akan bertahan selama satahun.sampai kontrak saya berakhir. Terima kasih atas informasinya." Inara tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa pasrah dan akan menerima apapun konsekuensinya apabila ketahuan hamil. Di usir pun ia sudah siap. Setelah itu ia menutup telponnya.
Tok tok tok
Ceklek
"Eh, iya Bi. Ini saya sudah siap berangkat. Maaf, tapi tadi saya sakit perut." Jawab Inara sambil menyengir kuda.
"Ya sudah cepat lekas berangkat sana. Itu bekalmu Bibi taruh diatas meja dapur!"
"Siap boss, terima kasih bi Kokomku tersayang. Muachh–." Bi Kokom hanya menggelengkan kepala melihat tingkah manja Inara yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri itu.
Saat keluar dari pintu gerbang tanpa sengaja ia berpas-pasan dengan Kiano. Seperti biasa anak majikannya itu akan bersikap cuek dan tak memperdulikannya. "Yang kuat ya nak, ibu akan menjagamu dan kita akan bersama selamanya." Inara mengelus perutnya.
Inara tidak tahu saja jika, Kiano memperhatikan gerak geriknya dari kaca spion. " Apa benar janin itu milikku? Tapi, aku sama sekali tidak mengingat kejadian waktu itu."
__ADS_1
Sebenarnya Kiano juga sedang berusaha keras untuk mengingat kejadian saat di Villa waktu itu. Bahkan ketiga sahabatnya telah memberikan alibi mereka masing-masing bahwa Erwin, Jay dan Tony malam itu tidur didalam satu kamar. Dan mereka juga mengaku bersalah karena telah meninggalkan Kiano sendirian dalam keadaan mabuk berat. Setelah itu mereka tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya pada diri Kiano.
Disekolah Inara terus memikirkan rencananya yang akan berhenti sekolah. Tidak mungkin juga kan ia bersekolah dalam keadaan perutnya yang akan semakin membesar. Lambat laun kehamilannya pasti akan diketahuan oleh pihak sekolah dan sama saja nantinya dia akan dikeluarkan juga. "Apa aku menghadap ke kepala sekolah sekarang saja ya. Baiklah....bismillah." Inara pun bergegas menuju ke ruang kepala sekolah saat jam istirahat.
Tok tok tok
"Ya, silahkan masuk!"
"Kamu murid baru itu,kan? Ada apa....ayo, silahkan duduk!"
"Iya pak, baik. Terima kasih." Inara pun duduk tepat dihadapan ibu kepala sekolah.
Inara mengutarakan maksud dan tujuannya menemui sang kepala sekolah yaitu ingin mengajukan pengunduran diri dan kekuar dari sekolah tempatnya menimba ilmu saat ini. Padahal baru beberapa bulan Inara resmi menjadi murid disekolah tersebut. Ibu kepala sekah pun sontak begitu terkejut. Pasalnya yang memasukkan Inara adalah donatur utama di sekolah itu.
"Apa kamu yakin, nak? Pak Liam dan bu Vania apa sudah tahu rencanamu ini?"
"Belum Bu. Tapi, ini sudah menjadi keputusan pribadi saya sendiri." Jawabnya sambil tertunduk.
"Sebenarnya apa alasanmu sampai ingin berhenti sekolah? Kamu ini salah satu murid terpintar Inara meskipun kamu baru beberapa bulan masuk menjadi murid disini."
"Sa–saya hamil Bu. Tapi, tolong rahasialan hal ini dari bu Vania dan pak Liam. Karena saya merasa tidak pantas menerima kebaikan mereka. Saya mohon bu, kabulkan keinginan saya ini."
Ibu kelapa sekolah sampai syok dan tak bisa berkata apa-apa. Melihat gadis cantik dihadapannya yang sangat pintar membuatnya begitu menyayangkan akan hal itu. Sesuai peraturan disekolah maka, dengan terpaksa Inara akan dikeluarkan secara otomatis dari sekolah. 'Hh....apa yang sebenarnya terkadi sama kamu, nak?' wanita paruh baya itu pun merasa iba melihat sosok gadis manis dihadapannya yang beberapa kali mengusap air matanya yang mulai menetes.
Inara melangkah di atas trotoar jalan dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Disamping merasa lega karena akan segera berhenti dari sekolah, selanjutnya ia hanya akan memikirkan bagaimana caranya agar bisa keluar dari rumah tempatnya bekerja. Dan memulai lembaran kehidupan barunya bersama calon anaknya nanti.
TIn tin tin
"Mau apa dia–?"
__ADS_1
Bersambung