Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
84. Bertemu Anton


__ADS_3

Pintu yang terbuka secara tiba-tiba membuat pasangan suami istri yang sedang menikmati makan siang romantis berduaan saja. Bagaimana tidak romantis coba, pemandangan hangat ketika Wira dan Shinta tengah suap-suapan dan yang membuat Regina semakin terbakar adalah posisi intim keduanya,dengan Shinta yang berada dipangkuan Wira.


"WIRA!"


Teriakan keras Regina membuat sepasang suami istri yang sedang menikmati waktu kebersamaan mereka merasa terganggu dengan kemunculan wanita yang sangat tak diharapkan itu. Shinta spontan turun dari pangkuan Wira. Sebenarnya ia sangat malu karena dilihat oleh orang lain dan dalam posisi intim pula.


"Apa kamu tidak punya sopan santun dan tata krama, Hah? Lancang sekali main menerobos masuk keruang pribadi orang lain. Mau apa kamu datang kesini, Regina?" Menatap tajam dan penuh intimidasi. Ia sangat kesal karena mendapat gangguan secara tiba-tiba disaat dirinya tengah bermesraan dengan sang istri.


Wira begitu geram dan seketika amarahnya bangkit. Shinta yang melihat wajah suaminya yang diliputi ketegangan apalagi mendengar uacapan yang cukup kasar yang terlontar dari bibir sang suami. Shinta langsung memegang tangan Wira dan menggelengkan kepalanya agar emosinya mereda.


"Sabar, Mas! Mungkin mbak Regina memang ada keperluan penting sampai datang dengan tergesa-gesa seperti saat ini."


"Omong kosong. Aku sama sekali tidak percaya apapun alasannya yang pasti dia telah berbuat tidak sopan dan mengganggu privasi orang lain."


"Aduh—!" Tiba-tiba Shinta memegangi perutnya dan hal itu seketika membuat Wira panik.


"Kenapa sayang? Apakah baby boy akan melahirkan?" Wira langsuung mendekat dan ikut mengusap perut besar sang istri.


Berkat usapan lembut tangan Wira, seketika rasa sakit dan ketegangan di perut Shinta pun sirna. Ternyata baby boy juga merasa terusik dengan suara si nenek lampir alias Regina yang terdengar sangat tidak merdu itu.


"Sayang, kok malah diam saja. Apa perutmu masih sakit?" Wira tampak semakin cemas sebab Shinta tampak diam saja.


"Sudah tidak apa-apa kok, Mas.Sepertinya baby boy cuma terkejut saja." Shinta menyunggjngkan senyum manisnya agar Wira tak cemas lagi.


"Ck–dasar lebay. Cewek kampung saja sok sok-an manja." Celetuk Regina yang merasa tak suka akan perhatian dan perlakuan Wira yang begitu lembut pada Shinta yang dianggapnya tidak pantas karena ia tidak suka.


"Apa kamu bilang? Lebay....cewek kampung? Apa ngak salah, harusnya kelakuan kamulah yang sangat tidak pantas...lebay dan kampungan. Siapa kamu berani menghina istriku seperti itu,hah.?"


"GUGUN!"


"I–iya Pak, saya." Gugun benar-benar kena semprot karena keteledorannya.


"Bagaumana bisa wanita tidak tahu malu ini bisa masuk kedalam ruanganku ini?" Menatap tajam sang asisten


Gugun lalu menjelaskan kronologis bagaimana Regina sampai bisa menerobos masuk keruangan boss nya itu. Itu karena Regina yang memaksa masuk tanpa mengindahkan peringatan resepsionis dan juga dirinya. Jadi, Gugun benar-benar kecolongan dan mengakui keteledorannya.


"Begitulah Pak kejadiannya dan maafkan atas keteledoran saya." Sesalnya memohon maaf pada sang boss


Setelah mendengar penjelasan dari Gugun. Wira lembali beralih menatap Regina. " Sebaiknya kamu pergi sekarang juga dan jangan pernah datang lagi kesini atau pun keapartemenku. Dan bila sekali lagi kamu berani menghina istriku maka, kamj akan tahu akibatnya."

__ADS_1


"Wira–kenapa kamu jadi berubah begini sejak menikah dengan wanita rendahan ini, apa kamu lupa bagaimana hubungan baik kita yang sudah terjalin sejak kita masih remaja dulu? Hanya karena istrimu yang–."


"Stop! Hentikan ocehanmu itu. Aku tidak perduli siapa kamu dan hubungan pertemanan kita juga hanya sewajarnya saja.Jadi, kamu sama sekali tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Shinta sekarang adalah istriku dan bukan wanita rendahan seperti apa yang kau katakan itu. Kalau masih menghargai hubungan pertemanan kita jadi, jangan sampai kamu sendiri yang merusaknya. Ingat itu!"


"Gugun, abtarkan nona Regina keluar dari sini!"


"Baik Pak. Mari nona Regina!" Gugun menjulurkan tangannya menunjuk kearah pintu dan mempersilahkan sang tamu tak diinginkan tersebut untuk segera pergi.


Wanita cantik itu pun tampak begitu kesal. Namun, karena tak ingin membuat Wira lebih murka lagi terpaksalah ia menuruti keinginan laki-laki yang diincarnya itu. "Huh....baiklah Wira, kali ini aku akan menuruti keinginanmu demi persahabatan kita." Setelah itu ia pun melangkah keluar ruangan Wira dengan kesal.


"Mas, apa ngak terlalu berlebihan memperlakukannya, bukankah kalian telah bersahabat cukup lama? saya jadi ngak enak deh.Pasti Mbak Regina mengira jika saya yang mempengaruhi Mas." Shinta sungguh merasa tak enak karena pertemanan Wira dan Regina menjadi buruk dirinyalah penyebabnya.


Wira tahu istrinya merasa bersalah akan kejadian yang baru saja terjadi. Itu terlihat dari wajah sendu Shinta yang tampak jelas. "Sudahlah,sayang. Tidak usah di pikirkan. Regina memang seperti itu, selalu saja berbuat sesuka hatinya dan dia juga orangnya sangat keras kepala."


"Beneran ngak pa-pa, Mas. Saya takut Mbak Regina akan memusuhi saya dan semakin membenci saya. Dari awal saya tahu jika, dia tidak pernah menyukai kehadiran saya di kehidupan Mas yang dianggapnya tidak pantas menjadi istri Mas Wira."


"Kalau dia memusuhimu berarti juga dia memusuhiku juga dan dia akan berhadapan langsung denganku jika, dia sampai berbuat macam-macam padamu. Jadi, kamu tidak usah memikirkan hal yang tidak penting. Fokus dengan kehamilan anak kita yang sebentar lagi akan lahir, oke." Wira membelai lembut pipi chubby Shinta lalu, beralih ke perut dimana sang baby boy masih betah didalam sana.


Mereka tidak lagi membahas tentang Regina. Setelah acara makan siang yang sedikit terganggu akhirnya pasangan suami istri itu pun memutuskan akan pulang saja karena pekerjaan Wira hari ini juga tak terlalu padat. "Ayo kita pulang, kamu harus banyak beristirahat. Jangan sampai kecape'an."


"Ngak boleh keca'pean tapi, dia sendiri yang selalu membuatku kelelahan. Bisa ae, dasar paksu." Guman Shinta pelan namun, sialnya masih bisa terdengar di telinga Wira.


'Huh, itu sih memang maunya dia saja sekalian aji mumpung. Minta jatah tak kenal waktu. Tapi, memang enak juga sih.' Shinta terkekeh didalam hati akan pikiran absurdnya akibat dari pengaruh kemesuman Wira.


Melihat Shinta yang senyam senyum sendiri dengan pipi yang merona membuat Wira semakin ingin menggoda istri mungilnya itu. Ia tahu jika, Shknta pasti tengah membayangkan hal yang enak-enak. Kegiatan suami isyri Yang belakangan ini intens mereka lakukan.


"Hayo–sedang nelamunin apa? Kayaknya Mas tahu deh apa yang sedang kamu inginkan saat ini. Ayo, kita segera pulang. Kita bisa lakukan dirumah, oke." Wira menaik turunkan alis matanya dengan genitnya.


"Ish, itu sih memang maunya Mas."


Keduanya pun melangkah keluar meninggalkan gedung perkantoran megah itu menuju keapartemen tempat tinggal mereka.


Keesokkan harinya saat mereka sedang sarapan pagi, Shinta meminta izin untuk bertemu dengan sahabtnya, Tari. Mereka sudah cukup lama tak bertemu.


"Mas, nanti siang apa boleh aku bertemu dengan Tari? Sidah lama sekali kami tidak jalan bareng."


"Memang rencananya kalian mau ketemuan dimana?"


"Di mall dekat-dekat sini aja sih, Mas. Boleh ya?" Shinta memohon dengan ekspresi imutnya. Semakin membuat Wira gemas saja.

__ADS_1


"Iya, boleh. Tapi, jangan terlalu lama disana. Ingat, kandunganmu jangan sampai kecape'an. Apa tidak sebaiknya Tari saja yang datamg kesini?"


Mendengar ucapan Wira, seketika wajah Shinta berubah sendu. apakah itu artinya sang suami tak mengizinkannya untuk keluar? " Katanya tadi boleh.Kok, sekarang bilangnya Tari saja yang kesini. Saya juga kan kepingin refreshing." gumamnya agak sedikit kecewa.


"Bukan begitu. Mas cuma khawatir saja kamu akan kelelahan karena terlalu banyak berjalan di mall nanti. Mas ngak melarang kamu mau kemanapun. Oke, Mas minta maaf ya. Mama sama baby boy boleh kok jalan-jalan tapi, hati-hati ya." Wajah Shinta seketika berbinar dan langsung mendaratkan sebuah kecupan mesra dipipi sang suami.


CUP


"Terima kasih ya Papa Wira yang ganteng."


"Yang sebelah ini ngiri loh, sayang karena ngak dicium." Wira menunjuk pipi sebelah kanannya yang tidak mendapatkan jatah ciuman.


"Modus ih?" CUP. Tapi, akhirnya Shinta menciumnya juga.


Tepat pukul setengah satu siang Shinta dan Tari bertemu di mall. Mwreka langsung berkeliing melihat berbagai outlet terutama di bagian perlengkapan bayi. "Shin, kayaknya ini bakalan lucu deh kalau di kenakan baby boy." Tari memperlihatkan sebuah kupluk bayi yang tampak lucu.


"Iya, gemes banget sih.Aku beli deh." Shinta mengambilnya lalu, memasukkannya kedalam keranjang.


Setelah puas berkeliling dan cuci mata. Mereka pun makan siang di foodcourt. "Kamu mau makan apa, Shin?"


"Kayaknya aku kepingin makan yang seger-seger deh. Kayaknya soto daging boleh." Shinta menunjuk salah satu hidangan yang terpampang di buku menu yang sedang dipegangnya.


"Oke. Tapi, ingat loh Shin. Pakai sambelnya kira-kira, ingat anakmu didalam sana nanti kepanasan!"


"Iya iya, onty Tari yang cerewet."


"Tar, aku mau kebelakang sebentar ya, mau pipis." Dikehamilan yang semakin membesar Shinta memang sering pipis akibat tekanan dari perutnya yang aemakjn membesar.


Tari ingin mengantar karena khawatir terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. tapi, Shinta tak mau. Dan akhirnya Tari pun mengalah dan menunggu pesanan mereka.


Saat menuju ke toilet Shinta tak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dan mengikutinya. "Itu bukannya istrinya si Wira, sedang apa dia disini?"


"Hai–Shinta! Kamu apa kabar?"


"Kabar baik, kak." Shinta tersenyum manis pada seorang pria yang tanpa sengaja bertemu saat menuju ke toilet. Dan laki-laki itu adalah Anton.


Tak jauh dari tempat keduanya berdiri. Seseorang mengawasi mereka. "Wow....kebetulan sekali. Aku tahu bagaimana cara memisahkan mereka Kita lihat saja nanti, perempuan tak tahu diri." Tersenyum menyeringai sambil mengambil beberapa gambar dengan ponselnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2