
Pukul setengah lima pagi Vania terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika baru membuka matanya tepat berhadapan dengan sosok pria berwajah tampan yang tak lain adalah sang suami. Vania tertegun sejenak menatap wajah yang tampak begitu tenang dalan tidurnya.
"Ternyata dia sangat tampan. Pantas saja, Kiano menuruti gen dari ayahnya. Semoga kedepannya hubungan kita akan lebih baik dan aku akan mencoba menjadi seorang istri dan ibu yang baik."
"Aamiin."
Vania terlonjak kaget, bahkan tubuhnya refleks bangkit dalam posisi terduduk. "Ah, ya ampun...aku lupa kalau semalam memang tidur disini."Vania memegang dadanya yang berdegup kencang. Entah mengapa meliihat wajah tampan suaminya ketika masih tertidur membuat Vania merasakan ada sesuatu yang aneh di hatinya.
"Kamu sudah bangun, sepagi ini? Tidurlah lagi ini masih terlalu pagi." Liam menarik tangan Vania hingga tubuhnya terjatuh menimpa sang suami.
"Aku mau membantu bibi memasak untuk sarapan pagi, mas."
Akhirnya Liam pun mengalah dan membiarkan Vania pergi. "Baiklah, sayang."
CUP
CUP
Sebuah kecupan hangat Liam sematkan di kening dan dipipi Vania, istri tercinta. Ya, Liam telah menyadari bahwa kini ia sudah jatuh cinta pada ibu dari putranya itu.
"Mas–." Wajah Vania seketika merona, Liam memperlakukannya selembut da seromantis itu.
Ketika sampai didapur ternyata bi Arum tidak ada. Tapi, di meja dapur sudah siap beberapa bahan untuk dimasak. "Kemana bibi? Apa jangan-jangan Kiano menangis." Vania pun bergegas menuju ke kamar tamu. Setelah menikah, Vania memang menempati kamar tamu bersama putranya. Liam tidak pernah melarang ataupun mencegah keinginan Vania yang belum mau untuk tinggal satu kamar dengan suaminya. Liam mengerti jika istrinya itu masih trauma dengan apa yang dilakukannya dulu yang pastinya sangat menyakitkan.
"Bi, apakah Kiano rewel?" Ketika masuk kedalam kamar itu, tampak bi Arum sedang menggendong Kiano.
"Kamu Van. Iya, ini barusan Kiano bangun dan sepertinya dia haus. Ini...susui dulu anakmu!" Bi Arum menyerahkan Kiano pada Vania.
Dengan segera Bania pun segera menyusui putranya. Balita berparas tampan yang begitu mirip dengan ayahnya itu tampak begitu bersemangat menyusu, mungkin karena terlalu kehausan dan juga kangen dengan sang bunda.
__ADS_1
Matanya tak pernah lepas menatap sang bunda. Vania pun begitu sesekali ia mengajak putranya itu berbicara dan seperti mengerti akan perkataan bundanya. Balita itu bergumam dengan bibirnya yang masih fokus menyusu. Suara kecipak dari bibir mungil Kiano menggema di kamar itu Hingga suara seseorang yang membuka pintu dari luar membuat Vania sontak menoleh kerarah pintu tersebut.
Ternyata orang itu adalah Liam. Laki-laki itu sudah tampak segar dan wangi. Sepertinya ayah dari Kiano itu sudah mandi. Ketika menyadari arah pandang mata Lkam tertuju tepat di aset pribadinya, Vania refleka langsung menutupi bagian dadanya yang tengah dihisap oleh putra kecilnya.
Gerakan Vania yang menutupi sumber makanan bagi anaknya itu pun seketika membuat Liam jadi salah tingkah. Tepatnya malu karena ketahuan sedang foksus menatap benda kenyal miliknya...eh, milik sang istri. Liam menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal lalu, memalingkan pandangannya kearah lain.
Setelah memandikan Kiano, saat ini seluruh anggota keluarga Ghazala telah berkumpul di meja makan bersiap untuk sarapan pagi. Mereka menunggu Vania yang sedang mengurus Kiano. Tak berapa lama munculah Vania sambil menggendong Kiano. Mama Helen yang melihat cucu nya tentu saja tak tahan untuk tidak menyentuh balita bertubuh montok itu yang tampak menggemaskan.
"Cucu nenek sudah bangun, sini-sini biar sama Mama!" Mama Helen menjukurkan tangannya meminta Kiano.Dan Vania pun menyerahkan Kiano kepangkuan ibu mertuannya.
"Sarapan dulu, Ma. Biar Kiano sama bi Arum dulu." Vania takut sarapan mama Helen terganggu karena sambil memangku Kiano.
"Tidak apa-apa Van, tidak akan mengganggu kok." Mama Helen.
Mereka pun akhirnya mulai sarapan dan Mama Helen sama sekali tidak terganggu dengan Kiano yang berada dipangkuannya. Bahkan Kiano malah tampak anteng dipangkuan sang nenek.
Usai sarapan pagi, seperti biasa mereka akan berbincang ringan di ruang keluarga sebelum para pria berangkat bekerja. Kiano begitu lengket dengan neneknya. Semua senang melihatnya.
Mama Helen mengalihkan perhatiannya karena putranya mengajukan pertanyaan padanya. "Mama hari ini tidak ada acara apa-apa. Memangnya kenapa, ada apa?"
"Tolong temani Vania kerumah sakit ya!"
"Rumah sakit, Vania kenapa? Apa kamu sedang sakit, sayang?" Mama Helen panik ketika Liam memintanya untuk mengantarkan Vania kerumah sakit. Apakah menantunya sedang sakit. Itulah yang ada di pikirannya.
Liam segera meluruskan kesalah pahaman sang mama. "Tidak Ma, Vania baik-baik saja. Itu...em, Vania ingin berkonsultasi dengan dokter kandungan.
"Hah–dokter kandungan? Vania hamil...benar itu, sayang?" Mama Helen langsung kepikiran kearah sana. Wanita paruh baya itu tampak terkejut tapi juga ada rona bahagia yang terpancar diwajah cantiknya. Mama Helen pikir ia akan memiliki cucu lagi.
Vania tak kalah syoknya. Bagaimana bisa ia hamil, wong tidur bareng saja baru semalam dan itu pun tidak ada kegiatan membuat bayi. "Eh, ti–tidak Ma. Aku tidak hamil kok. Itu...aku ingin memasang kb." Jawab Vania dengan wajah yang telah memerah, sungguh ia sangat malu.
__ADS_1
"Oh, mau pasang kb...ho, kalian apa sudah–" Tebak mama Helen kembali berspekulasi sendiri. Ia mengira jika hubungan anak dan menantunya telah normal seperti pasangan suami istri lainnya.
"Belum Ma, baru akan. Do'kan saja agar hubunganku dan Vania semakin baik dan pernikahan kami akan langgeng sampai kakek nenek seperti mama dan papa." Liam meminta do'a restu pada kedua orang tuanya.
Papa Bisma yang sejak tadi hanya menyimak percakapan antara istri, nak dan menantunya akhirnya turut membuka suara."Tentu saja nak, Papa juga akan mendo'akan kebahagiaan kalian. Selamat ya, son." Papa Bisma menepuk bahu putra sulungnya itu.
"Mama kira Vania hamil lagi. Padahal mama sudah bahagia sekali. Benar juga, Vania harus ber kb dulu jangan sampai kebobolan kasihan Kiano masih terlalu kecil. Kamu juga harus hati-hati Liam, janganmau enaknya saja. sabar...tunggu sampai Vania benar-benar sudah pasang kb!"
"Iya iya Ma, aku ngerti.Itu yang kami takutkan, Ma. Sebenarnya kalau aku sih tidak masalah kalau mempunyai anak lagi. Tapi, kasihan istriku." Liam menatap wajah Vania yang semakin merona malu karena mereka terus membahas soal hubungan suami istri.
Akhirnya pembicaraan yang sungguh membuat Vania canggung itu terhenti karena suara tangisan Kiano.
"Ada apa sayang? Mau sama bunda ya.Vania ini sepertinya Kiano sudah haus lagi."
"Iya, Ma. Biar aku susui Kiano nya." Vania pun bangkit dari duduknya dan mengambil alih Kiano kedalam dekapannya. Setelah itu Vania izin untuk kekamar ingin memberikan Asi untuk putranya.
"Bunda–tunggu sebentar!" Liam mengejar Vania yang tengah melangkah menuju ke kamar tamu.
"Iya mas, ada apa?"
"Kok mas sih, kamu boleh panggil mas jika kita sedang berduaan saja...di kamar? bebas–."
"Mas–eh, Ayah ngomong apa sih? Iya iya Ayah nya Kiano, ada apa?" Sekarang Vania sudah tidak canggung lagi berbicara dengan Liam. Dan ternyata Liam hanya ingin berpamitan saja karena ingin berangkat kekantor.
"Ayah, berangkat kerja dulu ya nak. Bunda...jangan lupa nanti kabari Ayah kalau sudah pulang dari rumah sakit!"
"Mas sudah tidak sabar " Liam berbisik lalu, tiba-tiba Liam mencium kening Vania. Setelah itu baru mencium pipi gembil Kiano, jagoan kecilnya.
Vania membeku, bisa-bisanya Liam bicara seperti itu padanya. Perkataan ambigu sang suami membuat Vania jadi berpikiran yang iya iya, kan. Baru satu malam tidur seranjang. Suami nya itu sudah berubah mesum.
__ADS_1
Bersambung