
Keduanya kemudian melangkah menuju ke arah belakang rumah dan Kiano menarik tangan Inara memasuki kesebuah ruangan kosong yang letaknya agak dipojok sehingga tak akan ada orang yang berlalu lalang. Sejenak Inara bingung kenapa mereka bicara di tempat tersembunyi seperti itu. Namun, ia tak bisa protes dan hanya pasrah dan menuruti keinginan anak majikannya tersebut.
"Ada apa ya Tuan Muda?"
"Ekhem, begini....sebelumnya aku ingin minta maaf sama kamu–." Kiano diam sejenak, memilih kalimat yang tepat agar Inara tidak merasa tersinggung.
"DEG! Minta Maaf?" Degup jantung Inara seketika berdetak semakin cepat karena ia mengira jika, Kiano ingin meminta maaf atas perbuatan yang telah laki-laki itu lakukan terhadapnya. Namun, apa yang ia dengar selanjutnya sontak membuat hatinya bergemuruh dan dadanya tiba-tiba terasa sesak.
"Iya, malam itu saat aku memintamu untuk menjadi kekasihku. Sebenarnya aku tidak serius. Maksudku apa yang aku katakan saat itu tidak serius. Itu karena Erwin, Jay dan Tony yang menantangku untuk dapat menjadikanmu sebagai pacarku. Jadi, Maaf ya....kita akhiri saja sampai disini karena kita tidak benar-benar menjadi pasangan kekasih. Kamu juga pasti mengerti kan kalau hal itu tidak akan mungkin terjadi?"
Inara mengangguk dan tersenyum. Ia hanya menatap wajah Kiano sekilas setelah itu Inara menunduk kembali. "I–iya Tuan Muda, saya mengerti. Saya juga tidak akan berani bermimpi terlalu tinggi. Saya cukup tahu diri." Dadanya semakin terasa sesak, rasanya ia sudah tidak kuat lagi berada di dekat laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya.
"Beneran, kamu tidak marah atau tersinggung kan? Sorry ya aku benar-benar ngak ada maksud apapun sama kamu." Kiano menatap lekat wajah Inara.
"Iya Tuan, saya mengerti. Apa itu saja yang ingin anda sampaikan? Jika sudah, saya mau melanjutkan pekerjaan lainnya. Permisi." Tanpa menunggu jawaban dari Kiano, Inara bergegas keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Kiano hanya diam terpaku menatap kepergian Inara.
Didalam kamarnya, Inara tak bisa lagi menahan tangisnya. tubuhnya meluruh di atas lantai dengan air mata yang gak henti mengalir membasahi wajah cantiknya. Jika, sudah begini apa yang bisa Inara lakukan. Sedangkan orang yang telah menodainya saja tidak mengakui akan perbuatannya. "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" Haruskah ia juga diam saja dan menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi. Tapi, mana bisa begitu. Tubuhnya sudah tidak utuh lagi dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.
Tok tok tol
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunnya. Inara segera membuka pintu kamarnya sebelumnya ia menghapus sisa-sisa air matanya yang masih tersisa di pelupuk matanya. Ceklek....kriett.
"Nara, ayo makan dulu. Para majikan sudah selesai makan siang nya!" Bi Kokom menyuruh Inara untuk makan siang karena sejak kembali tadi gadis itu belum juga keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Iya, Bi. Sebentar lagi Nara akan menyusul."
Bi Kokom pun kembali kedalam rumah utama. Lalu, lanjut membuatkan teh dan kopi serta camilan ringan untuk para majikan yang tengah berkumpul di ruang keluarga. Hari minggu adalah waktunya kebersamaan keluarga. Jadi, sebisa mungkin semua tidak keluar dan hanya menghabiskan waktu di rumah saja.
"Nara, kamu makanlah dulu. Setelah itu antar baju-baju yang sudah disetrika ke kamar masing-masing. Kamu cukup antarkan milik Tuan Kiano sama Nona Kirena saja!"
"Baik, Bi."
Seperti apa yang telah di perintahkan oleh Bi Kokom. Inara melangkah menuju ke lantai atas dengan membawa keranjang yang berisi pakaian Kiano dan Kirena. Setelah menaruh dan merapikan baju-baju milik Kirena, Inara pun melanjutkan tugasnya yaitu kekamar Kiano. Dengan cepat ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Rasanya ia tidak nyaman berada didalam kamar Kiano, sang anak majikan yang telah merenggut kesuciannya. "Hh....akhirnya rampung juga. Aku harus segera keluar dari kamar ini sebelum laki-laki breng–."
"Laki-laki breng apa?"
Inar terjingkat kaget tiba-tiba saja Kiano telah berada di dalam kamar dan mendengar apa yang di ucapkannya. 'Duh, kenapa dia muncul tiba-tiba, sudah seperti setan saja. Ya, laki-laki itu bagiku memang bak setan yang menakutkan.' Inara menggerutu didalam hati.
"Oh, bukan apa-apa Tuan. Maaf, tugas saya sudah selesai. Saya permisi." Tak ingin memperpanjang interaksi diantara mereka maka, Inara pun memutuskan untuk segera pergi dari hadapan Kiano.
"Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu seperti sedang menghindariku? Apakah benar itu?"
"Itu mungkin hanya perasaan Tuan saja. Em....apa ada yang Tuan butuhkan lagi? Jika, tidak saya akan melanjutkan pekerjaan yang lainnya."
"Ya–pergilah!"
"Baik, saya permisi Tuan Muda."
__ADS_1
Brakk
'Kenapa aku merasa dia sedang berbohong ya? Apa yang sedang disembunyikannya.Atau dia masih marah gara-gara aku yang telah mempermainkannya? Ish....bodoh sekali aku sampai terpancing oleh mereka." Mereka yang dimaksud Kiano adalah ketiga sahabatnya yang selalu saja menyusahkannya dengan ide-ide gile yang tidak masuk diakal.
Dua bulan telah berlalu dan kini Inara telah bisa menerima nasib dan takdir yang telah di gariskan tuhan untuknya. ia menjalankan aktivitas seperti hari-hari biasanya. bersekolah dan melakukan pekerjaannya dengan baik.
Pagi ini setelah menyelesaikan semua tugas paginya, Inara bersiap untuk berangkat kesekolah. Seperti biasa Bi Kokom akan rutin menyiapkan bekal makan siang untuk Inara. "Tuh kan, selalu saja lupa sama bekalnya. Nara, ini bekalmu jangan lupa dibawa!"
"I–iya Bi. Maaf, saya lupa. Terima kasih ya Bi. Saya berangkat dulu." Tak lupa ia mencium punggung tangan wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ibu nya sendiri itu.
Bi Kokom merasa ada yang tidak beres dengan gadis muda itu. Ya, ketika Inara menempelkan dahinya di tangannya ia merasakan suhu tubuh gadis itu sangat panas. "Nara, kamu sepertinya sedang demam, nak. Lebih baik kamu istirahat dirumah saja. Hari ini izin tidak usah berangkat kesekolah dulu."Khawatir Bi Kokom apalagi ketika melihat wajah pucat Inara.
"Saya enggak apa-apa kok, Bi. Cuma kecape'an saja. Saya berangkat sekarang ya nanti telat." Bi Kokom tak bisa mencegah Inara yang tampak selalu bersemangat untuk bersekolah.
Akhirnya ia pun sampai di halte bus depan komplek. Dari kejauhan sejak tadi Kiano membuntuti Inara. Hingga hampir sepuluh menitan gadis itu belum juga menaiki kendaraan umum yang biasanya.
"Betah banget sih nungguin angkot yang bahkan cuma lewat 1 atau 2 mobil saja. Kasihan juga sih. Biar gue anter aja deh."
Baru saja Kiano ingin melajukan mesin mobilnya akan tetapi seketika diurungkannya ketika melihat sebuah mobil berwarna merah yang berhenti tepat didepan halte tersebut. Dan dengan jelas Kiano melihat Inara yang memasuki mobil itu setelah dibukakan pintunya oleh seorang laki-laki.
"Jadi ternyata mereka sudah janjian, kurang kerjaan amat sih gue pake ngikutin tu cewek. Sial–."
Bersambung.
__ADS_1