Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
24. Terungkap


__ADS_3

Usai makan malam, seperti yang telah di rencanakan oleh Nyonya Helen dan Tuan Bisma bahwa mereka akan membicarakan tentang hasil test DNA baby Kiano dan juga menyelesaikan permasalahan antara kedua putra mereka dengan Vania.


Tok tok tok


"Ya, masuklah!"


"Permisi Tuan, Nyonya. Apa anda memanggil saya?" Vania melangkah dengan ragu, entah mengapa perasaannya tak tenang. Ada apakah gerangan sampai ia dj panggil ke ruangan kerja pribadi tuan Bisma.


"Iya, Van. Duduklah!"


Vania terkejut ketika melihat bukan hanya dirinya saja yang berada diruangan itu namun, Liam dan Wira juga hadir dan kedua pria tampan itu tengah duduk manis di sofa. Keduanya duduk agak berjarak.


Sungguh, saat ini Vania merasa begitu tegang dan degup jantungnya pun berpacu cepat. Tatapan dari empat orang yang tertuju padanya membuatnya canggung. Apalagi tanpa disadarinya ternyata ia duduk diantara dua laki-laki yang selama beberapa bulan ini selalu mengusik kehidupannya. Bahkan kedua nya saat ini tak lepas menatap kearahnya.


"Ekhem–baiklah, kalian bertiga pasti bingung kenapa kami panggil secara bersamaan. Sebelumnya kami ingin meminta maaf pada Vania jika apa yang kami ungkapkan ini akan membuatmu merasa tidak nyaman.


Nyonya Helen meraih amplop yang tergelatak diatas meja kerja sang suami lalu membuka dan mengeluarkan isinya yaitu dua lembar kertas. Meletakkannya di atas meja tepat didepan Liam, vania dan Wira.


"Apa itu, Ma?" Tanya Wira penasaran dan merasa heran kenapa mama nya menyodorkan dokumen itu kehadapan mereka bertiga.


"Vania–apa aku boleh bertanya sesuatu yang cukup pribadi?" Vania menjawab dengan anggukkan kepala mengizinkan Nyonya Helen untuk mengajukan pertanyaan padanya.


Nyonya Helen mulai mengajukkan beberapa pertanyaan pada Vania yang menyangkut masa lalunya. Yaitu tentang kejadian yang telah menimpanya hampir setahun yang lalu. "Vania, apakah kamu benar tidak mengenal laki-laki yang telah menodaimu."


"Maaf, bukan maksudku ingin mengorek kembali luka lama yang pastikan sangat ingin kamu lupakan itu. Bagaimana, nak?"


DEG


"Ada apa sebenarnya? Kenapa Nyonya Helen tiba-tiba menanyakan tentang masa laluku? Aku harus menjawab apa? Kalau aku mengatakan yang sebenarnya apakah mereka akan percaya."


"Vania, kenapa malah melamun? Kalau kamu tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa." NyonyaHelen mengerti akan kegundahan hati Vania atau gadis itu malu dan takut untuk mengungkapkannya.


"Bu–bukan begitu Nyonya. Hanya saja saya–."

__ADS_1


"Mama apa-apaan sih, kasihan Vania. Maksud mama Pa menanyakan tentang masa lalunya." Wira tak suka karena pertanyaan sang mama menurutnya sangat tidak etis.


"Kamu yang diam, Wira.Biarkan Vania menjawab pertanyaan Mama dulu. Kamu itu selalu saja memotong pembicaraan orang lain."


Ditegur oleh Liam yang memang hubungan mereka sedang tidak akur membuat Wira sebal dan menatap sinis pada sang kakak. "Kakak yang seharusnya diam, jika sajak kak Liam tak merusui hubungan kami pasti sekarang ini aku dan Vania mungkin.sudah menjadi pasangan suami istri."


"Apa kamu bilang, suami istri. In you're dream brother. Hah... Halu halu." Liam mencibir Wira yang sok kepede'an kalau Vania pasti mau menjadi istrinya.


Tuan Bisma yang sejak tadi diam namun, ketika kedua putranya saling beradu argumen akhirnya mau tak mau Tuan Bisma pun ikut bicara.


"Stop kalian berdua. Liam...Wira,saat ini belum waktunya kalian yang bicara. Biar mama yang mengurus semuanya. Diamlah dulu."


Dan Liam dan Wira akhirnya menurut dan diam.Mereka menatap Vania, penasaran juga siapa sebenarnya laki-laki brengsek itu.


Liam menunggu jawaban dari Vania dengan harap-harap cemas. Apakah Vania akan mengungkapkan rahasia mereka, maka, semua akan tahu dirinyalah yang telah memperkosa Vania dan menghancurkan masa depan gadis polos itu.


"Sudah, mungkin Vania tidak ingin mengatakannya. Baiklah...sekarang mama yang ingin bertanya pada kamu, Liam. Jawab dengan jujur dan yang sebenar-benarnya. Apakah kamu yang telah melakukannya, menodai Vania hingga dia hamil."


"Diam Wira!" Tuan Bisma memperingatkan putra bungsunya itu agar tak menginterupsi percakapan sang istri dengan Liam.


Liam menatap sekilas pada Vania yang masih menundukkan kepalanya. Gadis itu saat ini pasti sangat ketakutan. Liam menghela nafas dalam lalu, mulai menjawab pertanyaan tersebut.


"Iya, itu benar...akulah laki-laki brengsek itu. Laki-laki yang telah merusak gadis polos dan baik. Vania, dan baby Kiano.adalah hasil dari perbuatan biadabku itu. Darah dagingku...Kiano."


Semua yang berada diruangan itu tercengang dan tak bisa berkata apapun. Wira lah yang beraksi agak berlebihan. Tiba-tiba amarahnya muncul dan tanpa ba bi bu langsung menerjang sang kakak lalu melayangan bogeman mentahnya.


"Sialan lo, kak–."


BUGH


BUGH


"Kyaaa–." Vania yang duduk disebelah Liam pun sangat syok. Dua pria bertubuh kekar itu tengah saling adu jotos.Bahkan Liam sama sekali tak membalas pukulan Wira. Vania bergidik ngeri menyaksikannya.

__ADS_1


"BERHENTI– Bisakah kalian bersikap dewasa sebentar saja? Ini bukanlah masalah yang main-main. Wira, Liam...mama harap ini tidak terjadi lagi. Lihat Vania, ia begitu ketakutan melihat kelakuan kalian itu." Hanya Tuan Bisma lah yang mampu menghentikan pertikaian diantara keduanya.


Tubuh Vania semakin menegang dan tampak gemetaran. Gadis itu *******-***** jari jemarinya sendiri dan semakin tertunduk tak berani menatap siapapun. Nyonya Helen yang merasa iba mendekatinya lalu duduk tepat sisebelahnya.


"Vania–apakah kamu baik-baik saja, nak? Apakah kamu sudah tahu jika Liam lah yang telah berbuat jahat padamu?" Lagi-lagi Vania hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Nyonya Helen.


Mengetahui jawaban langsung dari sang pujaan hati, seketika membuat tubuh Wira lemas seakan tenaganya hilang begitu saja. Begitu pun hatinya yang remuk redam mengetahui kebenaran yang sangat menyakitkan itu.


"Jadi–itu benar, kak Liam adalah ayah biologis dari Kiano dan itu artinya aku–"


"Ya–kamu yang harus mundur, Wira.Karena aku yang akan menikahi Vania dan menjadi satu-satunya ayah dari Kiano. Terimalah semua kenyataan ini, Wira!"


Liam mengambil kertas yang berisi hasil test DNA dan membacanya dengan seksama. Setelah itu ia serahkan ketangan Wira agar adiknya itu melihatnya dan bisa menerimanya.


Setelah melihatnya, Wira sama sekali tak berkomentar apa pun lagi. Laki-laki itu langsung bangkit dan beranjak keluar dari ruangan tersebut. Tampak raut sedih dan kecewa di wajahnya. Semua tak ada yang mencegah kepergiannya. Biarlah Wira menenangkan pikirannya dulu.


"Vania, kamu juga boleh melihatnya? Jadi, Kiano adalah cucu kandung kami. Penerus keluarga Ghazala.Kami sangat bahagia dan berterima kasih karena kamu tetap mempertahankannya sampai Kiano terlahir didunia ini. Dan juga kami memohon maaf atas perbuatan Liam kepadamu. Kami harap kamu mau memaafkan putra kami." Nyonya Helen menggenggam kedua tangan Vania.


Senyum mengembang di wajah tampan Liam. Itu artinya kedua orang tuanya pasti akan merestui jika ia menikahi Vania sebagai bentuk dari tanggung jawab akan perbuatannya. Apalagi kini telah ada baby Kiano diantara mereka.


"Jadi, kami secepatnya boleh menikah kan, Ma, Pa?" Tanya Liam dengan senyum bahagianya.


"Kami pastinya menerima Kiano sebagai bagian dari keluarga ini dan akan memberikan hak-hak yang sudah seharusnya diterima oleh calkn pewaris kami. Tapi, untuk pernikahan–."


Tok tok tok


"Permisi Tuan, Nyonya. Saya ingin memanggil Vania...Kiano terbangun dan menangis."


Bi Arum hanya berdiri didepan pintu dan melihat suasana yang tampak tegang dan ketika melihat wajah Vania yang pucat pasi timbulah berbagai pertanyaan di benaknya. Apakah yang telah terjadi.


"Ma‐maaf permisi Tuan, Nyonya. Saya mau kebelakang, kasihan anak saya." Vania menekankan kata anak agar para majikannya tahu jika hanya sialah yang berhak atas baby Kiano.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2