
Suasana di kediaman keluarga Ghazala tampak berbeda yang biasanya selalu terasa sepi dan senyap, kini terlihat ramai dengan gelak tawa dan suara tangisan bayi. Ya,kehadiran Kiano telah merubah atmosphire di rumah besar tersebut menjadi lebih berwarna.
Tak terkecuali Wira yang juga menyambut kepulangan Vania dan Kiano dengan penuh suka cita. Walaupun ia harus merelakan Vania yang sebentar lagi akan menjadi milik sang kakak. Wira memaksakan senyumannya agar tidak membuat keluarganya tak kepikiran dengan apa yang ia rasakan saat ini. Hatinya serasa tertusuk pisau tajam yang menghunus tepat dihatinya.
"Eh, itu om Wira sudah pulang kerja.Om...ini keponakan gantengnya sudah kembali. Ayo sini–!" Nyonya Helen langsung menyapa putra bungsunya yang baru saja tiba. Dan Wira pun tanpa segan lekas menghampiri sang mama yang tengah memangku bayi montok Kiano.
"Halo keponakan ganteng om Wira. Jangan pergi-pergi lagi ya, nak. Nanti kakek dan nenek sedih, om juga. Boleh gendong ngak Ma?"
"Eh eh, ngak boleh...sana besihkan badanmu dulu dan ganti baju baru boleh pegang-pegang anakku."
Ditegur sang kakak, wira pun tak jadi mendekat lalu, beranjak menuju ke kamarnya. Sekilas ia menatap Vania yang ternyata juga sedang melihat kearahnya.Vania mengangguk dan tersenyum pada Wira dan hal itu tentu saja tak lepas dari pengawasan Liam. Seketika wajah Liam berubah, ia tak suka jika Vania memberikan senyumannya pada laki-laki lain meskipun itu adiknya sendiri.
"Sudah sana cepat...malah tebar pesona."
Plakk
"Apaan sih kamu, Liam. Dia itu adikmu loh...jangan seperti itulah.Wira sudah baik mau mengalah dan bahkan mendo'akan kalian."Nyonya Helen mengeplak paha putra sulung nya yang selalu berprasangka tak baik pada adiknya.
"Aduh, sakit Ma. Iya iya...aku minta maaf." Jawab Liam sambil mengusap-usap pahanya yang terasa sakit sehabis di pukul sang mama.
Tak terasa waktu telah menjelang sore. Vania berada di kamar tamu, Nyonya Helen melarangnya untuk tidur di kamarnya yang dulu. Alasannya karena Vania bukanlah pembantu seperti dulu. Tidak lama lagi ia akan menjadi bagian dari keluarga Ghazala, menantu pertama di rumah tersebut.
"Bi, apa tidak apa-apa aku dan Kiano tidur disini? aku merasa tidak pantas di tempatkan di kamar semewah ini." Vania mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang kini ditempatinya itu. Entah kenapa Vania masih ada rasa sungkan dihatinya. Perbedaan derajat mereka yang begitu jauh membuat Vania tidak percaya diri.
Bi Arum tersenyum lalu mengusap bahu keponakaannya itu. "Sudahlah Van, terimalah takdir yang telah digariskan tuhan untukmu. semoga rumah tangga kamu dan tuan Liam dikaruniai kebahagiaan. Kiano adalah prioritas utama masa depannya masih sangat panjang. Kalian sebagai orang tua harus berpikir lebih dewasa dan bijaksana." Vania mendengarkan dan meresapi nasehat dari bi Arum. Benar apa kata sang bibi ia memang harus bisa menekan ego nya demi Kiano.
"Iya bi, aku aku mengerti sekarang bukan lagi saatnya mementingkan diriku sendiri ada Kiano diantara kami. Aku harus bisa menerima semua kenyataan yang telah terjadi."Vania mengangguk paham.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, bi Arum pun pamit dan membiarkan vania beristirahat. Ia pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh. "Ya sudah, kamu beristirahatlah. Bibi juga sudah mengantuk."
Pagi-pagi sekali seusai menjalankan sholat subuh, seperti biasa Vania membantu sang bibi memasak untuk saraoan pagi para majikan. Mumpung Kiano juga masih tidur jadi, Vania segera bergegas turun kelantai satu menuju ke dapur. Dan benar saja, bi Arum sudah mulai berkutat dengan berbagai bahan masakan. Segera Vania menghampirinya.
"Loh, Van. Ngapain kamu kesini? Kiano kamu tinggal sendirian, nanti kalau dia nangis gimana." Bi Arum tiba-tiba Vania muncul dan langsung melakukan apa yang biasa ia kerjakan waktu dulu saat masih menjadi pembantu di rumah itu.
__ADS_1
"Kiano masih tidur bi, lagipula aku juga kan sudah biasa membantu bibi. Nanti kalau Kiano menangis juga pasti kedengaran dari sini, kok."
Kalau sudah begitu bi Arum tak akan bisa melarang Vania untuk melakukan apa yang dia inginkan. Akhirnya acara masak memasakpun cepat rampung karena di bantu Vania. Bertepatan dengan terdengarnya suara tangisan Kiano yang terbangun.
"Oeekk oeekk oekk–"
"Van, itu Kiano sudah bangun.Sana urusi saja anakmu!"
Vania pun bergegas menuju kekamarnya. Ia menaiki tangga menuju kelantai atas dengan langkah terburu-buru dan ketika sampai di pijakan terakhir karena tak fokus tiba-tiba ia menabrak Liam yang sepertinya hendak turun tapi, malah bertabrakan dengan Vania.
"Upss–hati-hati Vania!" Liam menangkap tubuh Vania yang hampir saja terhuyung jatuh kedepan namun, dengan sigap Liam merengkuhnya.
"Ma–maaf, Tuan. Saya mau kekamar Kiano menangis." Ucapnya.
Liam malah menarik tangan Vania dan membimbingnya manuju kekamar dimana Kiano berada. Terdengar dengan jelas jika bayi itu masih menangis.
"Ayo, cepat! Itu anakmu sejak tadi menangis mencari ibunya."
Laki-laki itu tak menjawab. Tetap melangkah masuk tak mengindahkan pertanyaan Vania. Dengan santainya Liam duduk di sisi tempat tidur terus mengamati Kiano yang sudah berada di pangkuan bundanya.
Lagi-lagi Vania semakin terheran melihat Liam yang sekan tak tahu diri. Ia ingin menyusui Kiano tapi, rasanya cangggung dan risih karena Liam yang terus mengawasinya.
"Ekhem–bisakah Tuan keluar, saya ingin memberi asi untuk Kiano?" Vania mengusir dengan halus Liam agar keluar dari dalam kamarnya.
"Eh–apa? Oh...baik, sorry. Daddy keluar dulu ya nak. Mimik yang banyak biar cepat besar dan kuat seperti daddy." Liam menoel pipi gembil Kiano. Bayi itu mengesek-gesekkan mulutnya kedada sang bunda. Bukannya cepat keluar Liam malah mengajak putranya itu bercanda. Gerakan Liam terhenti ketika ingin mencium pipi Kiano.
"Ehem ehem–."
Vania memelototi Liam wajahnya hampir saja ikutan menempel didada Vania. Situasi pun menjadi canggung. Liam berdiri tegak lalu berbalik badan dan melangkah keluar sambil menggaruk tengkuknya, ia jadi malu akan perbuatannya sendiri.
"Loh, Liam kamu ngapain masuk-masuk kedalam kamar Vania? Mama ngak mau bantu loh kalau sampai Vania ngambek gara-gara kamu yang berbuat seenaknya. Eh...ngomong-ngomong, cucu mama sudah bangun belum?"
Tadinya Liam merasa kikuk dan malu karsna ke gap mamanya ketika ketahuan baru keluar dari dalam kamar Vania. Tapi, mendengar ucapan sang mama yang menanyakan Kiano membuat Liam menyindir mamanya itu. "Huh...bilang saja mama juga mau masuk, kan?"
__ADS_1
"Ish–Liam. Kamu ini dasar anak tak tahu sopan santun. Awas...mama mau masuk!"
Tok tok tok
"Vania, apa mama boleh masuk?"
"Iya, silahkan Nyonya."
Wanita paruh baya yang tengah berbahagia karena baru saja memiliki seorang cucu itu pun langsung berhambur menghampiri Vania yang tengah menyusui Kiano. Tampak bayi montok itu begitu bersemangat menyusu pada sang bunda. Mata besarnya melirik kearah sang nenek seperti mengerti tengah di perhatikan.
"Aih aih–cucu nenek pinter sekali."
Vania hanya tersenyum menanggapi perkataan Nyonya Helen. Dan kembali fokus menyusui putranya.
"Em–Vania. Apa boleh mama ikut memandikan Kiano?" Tatapan Nyonya Helen tampak begitu memohon.Membuat Vania merasa tak tega.
"Iya Nyonya, tentu saja boleh. Sebentar ya...Kiano belum mau lepas ini."
"Cucu nenek belum kenyang ya? Oh ya, Vania. Toling jangan memanggilku lagi dengan sebutan Nyonya. Panggil aku Mama sama seperti Liam dan Wira karena sebentar lagi kamu akan menjadi putri mama juga."
Sungguh Vania tak tahu harus berkata apa. Tak menyangka jika mantan majikannya itu akan menjadi ibu mertuanya.Vania mengangguk "Baik, Ma.Terima kasih."
"Terima kasih?untuk apa...seharusnya Mama yang berterima kasih karena kamu sudah memberikan cucu yang begitu tampan dan pintar. Lihatlah...betapa menggemaskan tingkahnya itu." Nyonya Helen mengelus lembut pipi Kiano.
"Oh ya, nanti agak siangan kamu ikut Mama ya. Kita akan membeli kebaya untuk acara ijab qobul kamu dan Liam lusa nanti."
"Lu–lusa?"
"Iya, pernikahan kalian dipercepat itu atas permintaan Wira."
"Permintaan Tuan Wira?"
Bersambung
__ADS_1