Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
76. Hamil?


__ADS_3

"Shinta, bangun Shin!" Tari menepuk-nepuk pipi Shinta untuk menyadarkan sahabatnya itu. Kepala Shinta masih berada di pangkuan Tari. Orang-orang bahkan mengerubunginya. "Mbak, temannya dibawa ke klinik kampus saja biar segera mendapatkan pertolongan!" Salah satu mahasiswa menyarankan agar Shinta segera mendapatkan penanganan di klinik kampus.


"Iya, bisa tolong bantu aku mengangkatnya." Tari memeninta tolong pada siapa saja yang berkenan menolongnya.


Tiba-tiba muncul seorang pria yang langsung mengangkat tubuh Shinta. "Pak Anton?"


Ya, laki-laki itu adalah Anton yang tiba-tiba saja muncul bertepatan dengan Shinta yang tengah pingsan. Tanpa di minta Anton pun langsung membopong tubuh Shinta dan menanyakan dimana letak klinik kampus tersebut. "Tolong tunjukkan dimana kliniknya!"


Tari yang tersadar dari keterkejutannya langsung sigap dan mengantarkan Anton yang menggendong Shinta. "Ah iya, mari ikuti saya Pak."


Sesampainya di klinik Anton langsung membaringkan Shinta di atas brankar lalu, menyuruh petugas kesehatan yang merupakan mahasiswa kedokteran di kampus itu juga." Tolong kamu periksa dia!"


Mahasiwa itu pun mengangguk dan segera memeriksa keadaan Shinta. Sementara itu Anton dan Tari hanya memperhatikan dokter yang sedang memeriksa Shinta.


"Maaf, bisa tolong anda keluar dulu Pak!


'An*** dari tadi gue dipanggil bapak, emang gue setua itu apa? Ah sudahlah bukan waktunya memikirkan hal yang tidak penting.' Anton kesal karena Tari dan mahasiswa kedokteran yang sedang memeriksa Shinta terus-terusan memanggilnya dengan sebutan Pak dan hanya memendamnya didalam hati.


Usai diperiksa Tari dan Anton pun masuk kembali kedalam ruang klinik dan langsung menanyakan tentang kondisi Shinta. "Bagaimana Kak, teman saya baik-baik saja kan?" Tari yang duluan bertanya.


"Temanmu baik-baik saja cuma kelelahan aja,kok. Oh ya, boleh aku tahu bapak ini siapanya temen kamu yang pingsan ini?""


"Loh, memangnya kenapa kak pake nanyain bapak ini?"


Anton semakin kesal saja karena ia merasa.di cuekin oleh kedua muda mudi dihadapannya saat ini. Bahkan Tari yang sudah mengenalnya masih tetap saja memanggilnya Pak. Padahal waktu yang lalu mereka telah bersepakat akan memanggil kak atau mas. Apa gadis muda itu agak amnesia. "Ekhem....apa sekarang aku boleh gantian bertanya?"


"Oh, silahkan Pak. Tapi, saya harus tahu dulu hubungan bapak dengan gadis ini. Hey, siapa nama temanmu ini?" Tanya sang mahasiswa kedokteran.


"Namanya Shinta,kak dan bapak ini bukan siapa-siapanya Shinta. Hanya teman saja." Tari menjelaskan hubungan antara Shinta dengan Anton. Sedangkan Anton menatap Tari tak suka, memang dia bukanlah siapa-siapanya Shinta tapi, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti mereka memiliki hubungan yang lebih khusus.


'Ck, ni bocil kayaknya sengaja mau menjauhkanku dengan Shinta. Awas saja ya kamu.' Batin Anton kesal dengan sikap Tari yang seakan tak suka jika, ia dekat dengan Shinta. Apakah gadis itu suka dengannya? sekelebat pikiran itu melintas dibenaknya. Si Anton dah ke ge'eran aja.


"Tari, apa aku boleh menanyakan sesuatu tentang Shinta? Kamu ini sahabatnya kan pasti mengenal keluarganya."


"Eh, iya kak. Memangnya ada apa dengan Shinta?" Tari jadi bertanya-tanya mengapa tiba-tiba petugas yang memeriksa Shinta bertanya tengtang keluarga dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Bisa kita bicara berdua saja? ini masalah pribadi dan maaf ya, Pak." Menganggukkan kepala tersenyum ramah pada Anton dan juga memberi kode agar laki-laki tersebut keluar dari ruangan periksa.


Anton yang sadar diri pun pemit keluar ruangan dan meninggalkan Shinta, Tari dan mahasiswa kedokteran tersebut.


"Baiklah. Begini....apa Shinta, maaf sebelumnya aku ingin bertanya apa Shinta sudah menikah?" Ragu-ragu Rangga, nama mahasiswa kedokteran yang memeriksa Shinta.


Tari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal itu lalu, tersenyum canggung. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya apa nanti Shinta tidak akan marah? Tapi, kalau ini menyangkut masalah kesehatan Shinta tak ada pilihan lain selain berkata jujur.


"Emm–iya kak. Shinta memang sudah menikah.Sebenarnya shinta sakit apa kak?" Tanya Tari semakin penasaran.


"Menurut hasil pemeriksaanku, saat ini Shinta sedang hamil." Ucap Rangga.


Sejenak Tari cukup terkejut namun, ketika mengingat bahwa Sahabatnya itu telah menikah dan memiliki suami yang sah tentu saja gadis itu merasa lega bahkan ikut senang. Tari pun tersenyum dan itu membuat Rangga mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kamu malah tersenyum, kayaknya kamu senaeng banget temanmu hamil?"


"Lah iya lah,kak. Masa' ngak seneng wong Shinta punya suami juga. Ngapain sedih. Suaminya juga pasti akan sangat senang mendengar kabar bahagia ini."


Setelah mendengar penuturan Tari, Rangga pun mengangguk mengerti tentu saja kehamilan adalah hal yang begitu di harapkan oleh pasangan suami istri tentunya, tak terkecuali Shinta dan suaminya.


"Tari–aku kenapa dan ini dimana?" Shinta belum sepenuhnya kembali dari ingatannya.


"Iya, tadi kamu pingsan dan perutmu apa masih terasa sakut, Shin?"


"Perut? Ah iya. Tadi aku kebanyakan makan sambal jadinya perutku rasanya kram dan masa' sampai pingsan segala. malu deh. Maaf ya Tar, ngerepotin kamu." Shinta merasa tak enak hati hanya karena ia kebablasan makan sambalnya jadi merepotkan orang lain.


Tari berdecak dan memasang wajah cemberutnya. "Ck....kayak sama siapa aja sih kamu, Shin. Kamunitu satu-satunya sahabat terbaikku dalam suka dan duka. Kita ini sudah seperti saudara jadi, jangan pernah berpikiran seperti itu. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu."


Shinta mengulas senyum walaupun wajahnya masih agak pucat. "Terima kasih ya Tar, kamu memang sahabat terbaikku."


"Oh ya Shin, apa tidak sebaiknya kamu menelpon Pak Wira? Karena ada sesuatu yang harus.diketahuinya tentang dirimu."


"Maksudnya?" Shinta tidak mengerti apa.maksud dari perkataan Tari dan untuk apa sampai harus menelpon suaminya. Dia tidak kenapa-napa juga.


"Begini Shin. Tadi kata kak Rangga yang memeriksamu dia mengatakan sepertinya saat ini kamu sedang hamil muda dan kak Rangga mengatakan agar kamu dan suami memeriksakannya ke dokter ahli kandungan agar hasilnya lebih pasti."

__ADS_1


"A–apa? Aku hamil." Shinta begitu syok mendengar penjelasan dari Tari yang mengatakan bahwa ia hamil. Shinta bukannya tak senang tapi, kelangsungan pernikahannya masih abu-abu apakah akan terus dilanjutkan atau tidak. Sebab sampai saat ini saja Wira belum memiliki rasa terhadapnya. Apa yang mereka jalani semata-mata hanya sebatas kewajiban karena mereka telah terikat dalam tali perkawinan. Seketika rasa takut menghinggapinya.


'Bagaimana jika, Mas Wira sudah tidak membutuhkan aku lagi dan menginginkan perpisahan. Lalu, nasib anakku nanti bagaimana?' Pikiran negatif berkecamuk didirinya. Kepalanya pun mulai terasa berdenyut pusing memikirkan masalah yang harus dihadapinya. Ia menekan-nekan pelipisnya.


"Kamu kenapa lagi Shin? Sebentar aku panggilkan kak Rangga lagi ya."


"Ngak usah Tar. Aku cuma pusing saja."


"Yakin kamu ngak apa-apa? Atau telpon Pak Wira saja biar kamu dijemputnya."


Dan Shinta malah menggeleng tak ingin suaminya itu tahu akan keadaannya. Lagi pula ia tak ingin mengganggu Wira yang sedang sibuk bekerja.


Tok tok tok


"Ah iya aku sampai lupa kan, Shin. Di luar ada Pak Anton. Dia yang tadi menggendongmu sampai kesini."


"Hah– Kak Anton, temannya Mas Wira?" Tanyanya begitu terkejut mendengar nama Anton, pria yang belum lama ini dikenalnya. 'Ada apa dia dikampus ini?' Batin Shinta bertanya-tanya.


"Iya, silahkan masuk Pak Anton!" Tari mempersilahkan Anton yang sejak tadi menunggu di luar ruangan.


Ceklekk


"Hai Shinta. Bagaimana rasanya, apakah keadaanmu sudah baik-baik saja?"


Shinta tersenyum canggung, masalahnya ia tak menyangka jika, Anton sampai datang untuk menemuinya ke kampus. "Iya, saya sudah tidak apa-apa.Terima kasih karena sudah menolong saya."


"Tak perlu sungkan begitu lah, Shinta.Lalu, sekarang apakah kamu sudah mau pulang? Biar aku yang akan mengantarmu." Anton menawarkan diri untuk mengatarkan Shinta pulang.


"Shin, apa tidak sebaiknya telepon Pak Wira saja. Dia yang lebih berhak mengetahui keadaanmu karena–."


"Tari–!" Shinta memelototi Tari yang hampir keceplosan karena ada Anton diruangan itu juga. Ia tidak berani mengatakan kebenarannya takut Wira marah.


"Karena apa? Wira lebih berhak soal apa?"


"Eh–."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2