
Sudah tiga hari Wira berada di London dan ada perbedaan yang dialami Shinta ketika suaminya itu tidak ada. Rasanya begitu plong, tidak ada yang selalu mengusik ketenangannya. Karena suami dinginnya itu kadang-kadang sikapnya berubah-ubah. Kadang galak, cuek dan seketika berubah menjadi aneh dan omingannya terkesan mesum namun, dengan ekspresi datarnya. Gimana tidak membagongkan coba, menghadapinya.
Sore hari setelah pulang kuliah Shinta langsung mandi. Baru saja ia ingin memasak untuk makan malamnya sendiri tiba-tiba terdengar bell pintu. Shinta pun menghentikan kegiayannya lalu, melangkah menuju ke pintu untuk membukanya. "Siapa ya, sore-sore begini bertamu. Apa tuan muda sudah pulang? ah, tidak mungkin bukankah dia bilang seminggu. Ini baru tiga hari."
"Iya, tunggu sebentar!"
Ceklek
"Nyo–eh, Mama. Silahkan masuk Ma." Shinta sempat tertegun ketika melihat siapa yang datang dan ternyata orang itu adalah sang ibu mertua. Shinta pun merubah ekspresi keterkejutannya dengan tersenyum dan mempersilahkan Mama Helen untuk masuk.
Mama Helen membawa beberapa tentengan dan menyerahkannya pada sang menantu. "Ini sayang, buat kamu sama Wira. Simpan didalam kulkas ya!"
"Eh, iya Ma. Terima kasih."
Setelah meletakkan barang-barang tersebut didapur, Shinta pun sekalian membuatkan dua cangkir teh untuk Mama Helen dan dirinya serta menyajikan camilan yang tadi pagi dibuatnya.
"Teh nya, Ma. Dan ini tadi pagi Shinta membuat brownies kukus. Semoga Mama suka."
"Terima kasih, sayang. Mama coba ya." Mama Helen pun mencicipi sepotong dan matanya terbelalak karena begitu takjub dengan rasanya. "Humm....ini enak sekali, sayang. Mama baru tahu kalau kamu pintar membuat cake. Boleh nih kalau ada acara arisan dirumah kamu bikinin buat Mama ya."
"Siap Ma."
Keduanya pun larut dalam obrolan yang panjang. Mama Helen menanyakan tentang kuliahnya dan juga mengenai kehidupan pasangan pengantin baru tersebut. " Jadi, beneran kan Wira tidak berbuat macam-macam sama kamu?" Kening Shinta mengkerut mencerna apa maksud dari pertanyaan Mama mertuanya itu. Macam-macam yang seperti apa, Shinta malah bingung harus menjawab apa.
Mama Helen yang melihat Shinta terdiam dan seperti tengah berpikir keras dan juga bingung pun segera mengulang pertanyaannya dengan kalimat yang lebih dimengerti. "Oh, itu loh maksud Mama sikap Wira baik kan sama kamu dan tidak menyakiti hati kamu karena Mama tahu bagaimana anak itu. Ucapannya memang kadang agak keterlaluan tapi, dia laki-laki yang baik. Jadi, semoga kamu bisa memakluminya ya." Mama Helen tersenyum sambil memegang tangan Shinta.
"Tuan muda Wira baik kok, Ma dan tidak pernah berkata hal yang tidak baik pada Shintaa." Jawab Shinta yang tidak sadar masih memanggil Wira dengan sebutan tuan muda.
"Loh, kamu kok masih manggil Wira tuan muda? Kamu sekarang sudah menjadi istrinya jadi, ubahlah panggilanmu pada suamimu itu."
"Lalu, saya harus memanggil apa?"
__ADS_1
"Panggil mas dong atau sayang, hubby, honey.juga boleh biar lebih romantis." Mama Helen menaik turunkan alis matanya menggoda sang menenatu.
Sinta tersipu malu, bagaimana bisa ia memanggil suaminya seromantis itu. Sedang hubungan mereka pun belum sedekat itu. Jadi, Shinta tak menjawab. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Mama boleh ngak lihat kamar kalian?"
"Eh, kamar Ma. Tentu saja boleh lah Ma. Mari Ma, Shinta antar." Shinta pun menggiring sang Mama mertua masuk kedalam kamarnya.
Mama Helen mengamati sekeliling kamar dan mencari apakah ada yang janggal. Seperti adanya kasur tambahan atau apalah. Ia curiga jika, keduanya tidak tidur dalam satu ranjang "Oh ya sayang, Mama boleh lihat lemarinya juga? Kamu jangan berpikiran macam-macam ya, sayang. Mama hanya ingin memastikan sesuatu."
"Iya, Ma. Enggak pa-pa kok. Silahkan saja."
'Memastikan sesuatu?' Tanya Shinta dalam hati tak ia ungkapkan langsung pada sang mama mertua.
Yang pertama ditujunya adalah pintu lemari yang berisi pakaian milik Shinta.' wah ....kenapa isi lemarinya menyilaukan begini? apa iya Shinta yang super polos mengerti dengan baju-baju haram seperti ini. Pasti ada yang tidak beres ini.'
"Sayang, boleh Mama tahu....ini, apa baju-baju ini milik kamu?" Shinta pun mengangguk malu. Pipinya seketika merona. Pasti Mama mertuanya itu sudah berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya. Padahal yang kelakuannya aneh itu ya putranya itu.
"l–iya Ma. Tapi, itu bukan Shinta yang membelinya tapi, tu–mas Wira. Katanya buat menyenangkan suami." Shinta berkata dengan polosnya. Memang iya. Wira adalah pria dewasa yang pastinya lebih mengerti soal hubungan antara pria dan wanita dewasa apalagi yang telah terikat tali pernikahan. Meskipjn wira sama sekali belum berpengalaman dalam melakukannya namun, naluri alami kelelakiannya akan muncul begitu saja.
"Ma. Mama kenapa? Shinta yang memperhatikan mama mertuanya yang nampak bahagia itu jadi penasaran apa yang membuatnya sebahagia itu.
Mama Helen pun terlonjak kaget mendengar teguran dari Shinta." oh, bukan apa-apa. Mama hanya memikirkan kalian yang akan memberikan kami cucu."
"Mama ih, Shinta jadi malu. Kami baru juga menikah." Shinta sungguh canggung membicarakan soal anak. Mereka bahkan melakukannya saja belum.
Semburat merah di wajah sang menenatu membuat Mama Helen semakin gemas saja ingin menggoda gadis polos itu. Ya, Mama Helen telah mendengar cerita tentang malam pertama anak dan menantunya itu yang gagal total dikarenakan mendadak Shinta kedatangan tamu bulanannya. Alhasil unboxing pun di tunda. Mama Helen mengulum senyumannya ketika mengingat papa Bisma mengatakan jika, wajah Wira yang datar dan tak bersemangat. "iya juga sih, masih terlalu dini. Sudah, nikmati saja waktu kebersamaan kalian. Apa sebailnya kalian pergi berbulan madu ke tempat yang romantis agar kalian semakin dekat. Bagaimana saran Mama?"
"Shinta sih terserah Tu—Mas Wira saja. Tapi, kuliah Shinta bagaimana?"
"Soal itu gampang, sayang. Yang penting kalian berangkat saja dulu. Kamu maunya berbulan madu ke mana?" Tanya Mama Helen lagi. Shinta menunduk sambil memainkan ujung dress nya. Ia merasa sungkan untuk mengatakannya.
__ADS_1
Mama Helen memicingkan matanya melihat Shinta yang lagi-lagi sungkan untuk mengungkapkan keinginannya."Kok, malah diem. Ayo bilang negara mana yang kamu ingin kunjungi, Mama dan Papa pasti akan mewujudkannya.Jangan khawatir semua kami yang atur kalian tinggal duduk manis saja."
"Ada sih, Ma. Tapi, Shinta ngak enak nanti malah merepotkan saja."
Mama Helen menggeleng, ia merasa tal direpotkan justru malah senang karena hubungan Wira dan Shinta mulai ada kemajuan. Bahkan Wira membelikan Lingerie-lingerie dan dalaman yang sungguh menggoda. "Tidak, Kami sama sekali tidak direpotkan anggap saja hadiah dari kami untuk pernikahan kalian."
"Emm, itu Ma. Korea Selatan. Aku sangat ingin kesana. Apa boleh,Ma?Dan juga apa Mas Wira Setuju akan rencana mulan madunya."
"Sudah. Tidak usah sungkan-sungkan sama mama dan papa. Pokoknya yang penting kamu dan Wira bisa lebih dekat apalagi bisa saling mencintai."
Saking asiknya mengobrol dan ternyata hari sudah menjelang petang. Jam menunjukkan pukul 20.00.WIB. dan sudah waktunya untuk Mama Helen pulang. "Wah, sudah jam delapan malam. Apa kamu mau Mama temani? Mama akan menginap saja disini."
"Jangan Ma, nanti Papa mencari Mama. Kasihan papa pasti lebih membutuhkan Mama. Shinta berani kok sendirian. Mama jangan khawatir ya." Setelah berhasil di yakinkan oleh sang menantu akhirnya Mama Helen pun dengan berat hati pulang.
Waktu terus bergulir dan tak terasa sudah seminggu Wira berada di luar negeri. Hari ini rencananya Wira akan kembali ke tanah air tanpa memberitahu siapapun termasuk Shinta. Sengaja Wira tidak menyuruh supir untuk menjemputnya di bandara. Ia ingin memberikan kejutan untuk sang istri.
Mulut Shinta sudah menguap berkali-kali. Kegiatan yang padat seharian ini membuatnya begitu kelelahan. Sebelum beranjak tidur Shinta ingjn berganti baju terlebih dulu. Gadis itu membuka lemari yang berisi berbagai model pakaian dinas malam seorang istri. Ia menghela nafas kasar karena mau tak mau ia harus memakainya. " Hh....pakai yang ini saja deh, lagian tuan muda juga belum memberi kabar kapan dia akan pulang." Shinta mengambil sebuah lingerie berwarna merah dengan model yang begitu terbuka dan menerawang.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki perlahan memasuki kamar nyaris tanpa suara sampai Shinta sama sekali tak menyadarinya. Karena gaya tidur Shinta begitu bar-bar hingga selimutnya tersingkap pun gadis itu tak merasakannya. Padahal hawa dingin dari air conditioner begitu terasa.
Jakunnya naik turun menyaksikan pemandangan indah didepan mata. 'Dia memakai warna kesukaanku. Apa dia sengaja ingjn menggodaku? Kalau begini mana bisa tahan,kan.'
Ya, si penyusup yang masuk kedalam kamar adalah Wira. Tiba-tiba saja hasrat kelelakiannya muncul begitu saja setelah melihat tubuh putih mulus istrinya dan dalam posisi yang cukup menantang. 'Ah, sudahlah....aku sudah tidak tahan lagi." Wira pun merangkak naik keatas tempat tidur setelah sebelumnya membuka pakaianya dan hanya menyisakan boxer yang tampak telah menonjol. Sepertinya adik Wira sudah terbangun dari tidur panjangnya.
"Sayang, aku mengingjnkanmu sekarang."
__ADS_1
"Emm–."
Bersambung