Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
19. Melahirkan


__ADS_3

Tanpa terasa malam telah larut, setelah ketegangan mereda situasi di lediaman Ghazala tampang sunyi senyap, semua penghuni rumah telah terlelap di peraduannya masing-masing.


Sejak kembali kekamar setelah mengantarkan minuman tadi, Vania belum juga bisa memejamkan matanya. Seketika hatinya mencelos mengetahui kenyataan yang harus ia terima. Tidak akan ada orang yang akan menerimanya dengan tulus. ia hanyalah korban pemerkosaan dan bayi yang ada didalam rahimnya tidak bersalah, makhluk mungil nan suci.


Sungguh...ia tidak pernah menginginkan hal buruk ini terjadi pada dirinya.Namun, lambat laun ia telah bisa menerimanya dengan ikhlas atas takdir hidup yang telah digariskan tuhan untuknya.


"Kamu belum tidur juga, nak? kamu lapar ya,sayang. Kita lihat ke dapur lihat ada makanan apa." Vania mengusap-usap perutnya yang merasakan gerakan aktif sang jabang bayi.Sepertinya si kecil lapar.


Vania beranjak turun dari atas tempat tidurnya lalu, melangkah perlahan keluar dari kamarnya menuju ke arah dapur.


"Mau makan apa, nak? Sepertinya hanya ada mie instan. Baiklah...malam ini kita makan itu saja ya."


"Ekhem–sedang apa kamu tengah malam begini masih berkeliaran di dapur?"


Baru saja Vania ingin menyantap semangkuk mie instans buatannya, tiba-tiba ada suara seseorang yang menegurnya. Sontak ia menoleh dan Liam sudah berada di belakangnya.


"Maaf Tuan, saya lapar." Vania tertunduk takut terkena omelan dari manjikannya itu.


"Oh, tadi kenapa kamu menolakku? atau kau lebih memilih Wira dari pada ayah dari bayimu itu?"


Bagai terkena tersengat listrik, Vania tersentak karena ucapan dari Liam yang secara tidak langsung telah mengakui bahwa bayi didalam rahimnya adalah darah dagingnya.


"A–apa maksud Tuan? kan saya sudah bilang tidak memilih siapa pun. Jadi, permasalahannya kini sudah selesai.Tuan tidak perlu risau lagi."


"Kenapa? Apa kau tidak ingin anakmu memiliki seorang ayah. Terutama ayah kandungnya. Tapi, sudah...makanlah dulu!"


Bagaimana Vania bisa memakannya, dia sudah tidak mood lagi. Selera makannya tiba-tiba hilang. " Saya sudah kenyang, Tuan. Maaf, kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan saya mau kembali kekamar." Ia lebih memilih menghindar dari pada nanti akan mendapatkan masalah.


"Hei, aku belum selesai bicara. Beraninya kau langsung pergi." Kesalnya karena Vania meninggalkannya pergi begitu saja.


Langkah Vania terhenti lalu, ia menoleh. " Tapi, saya rasa urusan kita sudah selesai. Tuan Muda tidak usah khawatir karena saya tidak akan mengatakan pada siapapun tentang kita. ah, maksud saya tidak akan membuat anda dan keluarga anda menjadi malu. Kami akan baik-baik saja. Selamat malam."


Liam menatap punggung Vania dengan rasa yang berkecamuk, tangannya mengepal kuat. " Belum selesai, sayang."


Waktu terus bergulir dan kini usia kandungan Vania telah memasuki bulan ke 9. Aktivitasnya sudah mulai terbatas karena perutnya yang semakin membesar. "Hh, rasanya lelah sekali–."


"Kamu kenapa Van? Kalau lelah, sudah sana istirahatlah!" Bi Arum yang melihat nafas Vania yang terengah-engah merasa tak tega. Harusnya Vania harus lebih mengistirahatkan tubuhnya karena hari persalinannya sudah semakin dekat.


Saat ini keduanya sedang berkutat di dapur menyiapkan hidangan untuk makan malam. Sesekali Vania menghentikan kegiatannya merasakan perutnya yang mengencang. "Sshh...bi, aku mau kebelakang sebebtar ya. Mules sekali ini perutku."

__ADS_1


"Hm‐iya Van, hati-hati." Bi Arum tertegun sejenak namun, tiba-tiba ia curiga jika Vania sedang mengalami kontraksi. Bi Arum pun meninggalkan dapur dan segera menyusul Vania.


Benar saja, ketika bi Arum sudah berada di depan kamar mandi yang letaknya di belakang dekat kamar para pembantu. Terdengar suara rintihan dan erangan kesakitan dari dalam.


"Arghh–sstt...sakit!"


"Vaniaa–kamu kenapa? Apa kamu terjatuh?" Bi Arum langsung menghampiri dan memapah Vania kekamarnya. Lalu, merebahkannya di atas tempat tidur.


Bulir keringat telah membasahi wajahnya yang pucat pasi. Vania memegangi perutnya sambil merintih kesakitan dan bi Arum yakin jika sudah saatnya Vania melahirkan.


"Mungkin sudah waktunya kamu melahirkan, Van. Ayo, kita kerumah sakit sekarang. Bangunlah...bibi bantu!"


Sementara itu di dapur tampak Nyonya Helen yang merasa aneh karena tidak biasanya bi Arum meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai begitu saja.


"Loh, kemana bi Arum dan Vania? Ini masakannya belum selesai."


Nyonya Helen menoleh ketika mendengar suara bi Arum dan Vania. Tampak bi Arum tengah memapah Vania yang melangkah tertatih-tatih sambil meringis memegangi perutnya.


"Vania kenapa, bi?"


"Sepertinya Vania mau melahirkan, Nyonya. Saya akan membawanya kerumah sakit. Maaf, saya tidak bisa melanjutkan memasak." Bi Arum sadar jika pekerjaannya belum selesai dan ia pun meminta maaf pada sang majikan.


Nyonya Helen berteriak memanggil supir pribadinya yang bernama Purnomo. "Iya Nyonya, apa ada yang harus saya kerjakan?"


"Loh, Vania kenapa?" Pak Pur terkejut melihat keadaan Vania yang mengkhawatirkan.


"Vania mau melahirkan, cepat siapkan mobilnya!' Perintah Nyonya Helen pada supirnya.


"Ba‐baik, Nyonya." Pak Pur juga jadi ikutan panik dan segera berlari menuju ke garasi mobil.


Nyonya Helen pun membantu bi Arum memapah Vania. " ayo, sayang. Tetap tenang ya...ambil nafas dan hembuskan perlahan! Huhh...hahh, seperti itu."


Vania pun mengikuti instruksi dari Nyonya Helen. " Huhh...hahh...huhh...hahh."


Perjalanan menuju kerumah sakit terdekat hanya memakan waktu sekitar sepuluh menitan. Dan kini Vania sudah berada diruang persalinan. Bi Arum dan Nyonya Helen menunggu di depan ruangan tersebut.


"Permisi, apa suami dari mbak Vania ada. Silahkan menemani mbaknya." Seorang perawat keluar dan menanyakan keberadaan suami dari Vania.


Kedua wanita paruh baya itu pun hanya saling berpandangan tak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


"Maaf, ibu...apa suami mbak Vania belum datang?" Sang perawat bertanya kembali karena tak mendapatkan jawaban dari keduanya.


"Itu, su-suaminya sedang berada di luar kota, suster. Apa boleh saya saja yang menemaninya?" Dalam keadaan terdesak Bi Arum pun terpaksa berbohong.


Perawat pun memaklumi dan mengizinkan bi Arum masuk untuk menemani Vania yang tengah berjuang hidup dan mati melahirkan sang buah hati.


"Bibi, sakit sekali...bii." Vania mengenggam erat tangan bi Arum.


"Iya iya, Van. Kamu pasti bisa, nak. Ayo, berdo'alah...semangat!" Bi Arum memberikan support dan kekuatan pada sang keponakan.


"Pa–mama sekarang sedang berada di rumah sakit. Vania mau melahirlan." Nyonya Helen sedang menerima telepon dari Tuan Bisma yang sudah pulang dari kantor dan mendapati istrinya tak berada dirumah.


"Vania akan melahirkan? Dirumah sakit mana, Ma. Apa papa menyusul kesana juga?" Tanya Tuan Bisma jadi merasa ikutan panik.


"Tidak usah, pa. Biar mama dan bi Arum saja. Lagi pula ada pak Pur juga."


"O–begitu. Baiklah, nanti kalau ada apa-apa kabari papa ya Ma!"


"Iya, Pa. Sudah ya Pa. Nanti akan mama kabari lagi."


"Hemm–."


Tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi yang menggema dari dalam ruangan bersalin.


"Ooek oek oek–"


"Alhamdulillah, akhirnya lahir juga." Nyonya Helen bersyukur akhirnya bayi Vania telah lahir. Entah mengapa wanita itu merasa begitu bahagia dan hatinya terenyuh mendengar suara tangisan pertama kali bayi Vania.


"Kok sepi, Pa. Di meja makan juga belum ada apa-apa.Apa hari ini bi Arum tidak menyiapkan makan malam?" Wira yang baru saja turun setelah selesai membersihkan diri sepulang dari kantor. Tampak aneh ketika tak melihat keberadaan bi Arum. Bahkan dapurpun masih terlihat masakkan yang belum matang masih teronggok diatas kompor


"Mamamu mengantar Bi Arum dan Vania kerumah sakit." Jawab Tuan Bisma.


"Kerumah sakit? Apa telah terjadi seauatu pada Vania, Pa?" Wira tampak panik.


"Iya, vania mau melahirkan."


"ÀPAA!?"


"Kalian kenapa?"

__ADS_1


Besambung


__ADS_2