
Sial sekali, belum juga melakukan interview sudah mendapat omelan di pagi yang cerah ini. Vania merutuki kecerobohannya bisa-bisanya ia salah memasuki pintu lift. Seorang pria tampan memakai stelan jas tang tampak gagah menatapnya penuh kekesalan.
Padahal yang ditabraknya barusan bukanlah orang tersebut. akan tetapi pria di depannya yang berpenampilab tak kalah necisnya. Bahkan pria bertubuh tinggi kekar itu lebih berwibawa dan lebih tampan dari seigalak itu. Vania sampai tak berkedip menatapnya.
"Ya tuhan, tampannya dan wangi lagi." Vania menghirup dalam aroma yang sangat melenakannya .Hingga suara bentakkan kembali membuyarkan lamunannya.
"Hey–ditegur kok malah melamun.Kamu itu siapa dan mau apa datang ke sini. Dan berani-beraninya kamu masuk kedalam lift khusus ini.
"Lift khusus?"
Laki-laki itu mengoceh lagi dan sangat kesal pada Vamia "Iya, memangnya tadi petugas resepasionis tidak memberikan arahan padamu harus menaiki lift yang mana?."
Ya ampun, ternyata Vania memang salagh masuk lift karena terlalu fokus dengan wawancaranya nanti. Vania sangat malu dan juga takut. Dalam hatinyaia berpikir jika ia masuk kedalam lift khusus maka orang-orang ini adalah–.
"Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Sungguh saya tidak sengaja melakukannya." Vania menangkupkan kedua tangannya.
Tiba-tiba laki-laki yang hanya diam saja menginterupsi omongan pria di sampingnya."Sudahlah, Bob. Tidak usah dipermasalahkan hanya soal lift saja. Biarkan dia naik. Anda mau kelantai berapa, nona?"
Bagai tersiram air yang sejuk, Vania begitu terperangah mendengar suara berat namun sangat lembut itu. Sudah tampan ramah pula. Tidak seperti pria yang satunya.
"Maaf nona,Tuan Lawrence bertanya pada anda." Laki-laki yang adalah sang asisten pribadi itupun menyadarkan Vania dengan melambaikan telapak tangannya tepat didepan wajah Vania. Sontak hal itu membuat Vania tersadar dari lamunannya.
"Eh‐iya maaf, saya mau kelantai tiga. Tempat diadakannya interview."
"Baiklah, semoga sukses interviewnya. Ayo, Bob...tekan angka 3 sesuai tujuan nona ini!" Ya Pria berparas tampan dan berpostur tinggi kekar itu bahkan menmberikan support pada Vania. Sungguh laki-laki yang ramah.
Sesuai perintah sang boss, pria bernama Bobby itu pun menekan tombol angka 3. Tak berapa lama akhirnya Vania sampai di lantai tujuannya. Sedangkan kedua pria itu masih melanjutkan naik kelantai berikutnya. Vania menghela nafas merasa lega karena ia tidak mendapatkan masalah karena kecerobohannya.
"Hh–syukurlah, eh...laki-laki yang dipanggil Bob tadi mengatakan Tuan Lawrence pada pria berkharisma itu."
Ketika ia sudah dapat mencerna kejadian yang dialaminya didalam lift tadi. Vania pun sadar dengan nama Lawrence yang sama persis dengan nama perusahaan tempat dimana ia berada saat ini. " Ya Tuhan, jadi laki-laki tadi adalah Ceo Lawrence Group. Aduh...sialnya aku. Jangan-jangan aku tidak akan diterima sebab telah berbuat lancang pada pemilik perusahaan ini. Pasrah sajalah, jikalau memang rezeki pasti ngak akan kemana. Bismillah...semangat Vania!"
__ADS_1
Selang hampir 1 jam an lebih, akhirnya Vania telah menyelesaikan interview nya. Syukirlah ia dapat menghadapi sesi wawancara dengan lancar tanpa ada kendala apapun. Bahkan kekhawatirannya tentang kesalahannya saat salah masuk lift tadi seakan menguap dengan sendirinya. Saat ini yang bisa Vania lakukukan hanya pasrah akan hasilnya. Semoga saja ia diterima bekerja demi jagoan mungilnya.
Vania dan para pelamar lainnya masih setia menunggu hasilnya. Terus berdo'a di dalam hatinya semoga ia lolos dan diterima menjadi karyawan di Lawrence Group.
"Semoga saja kejadian di lift tadi tidak menjadi masalah dan mempengaruhi hasil wawancaraku."
Lima belas menit kemudian satu persatu para pelamar di panggil kembali kedalam ruangan. Hingga sampailah giliran Vania. "Vania Hasna."
"Ah, iya saya–." Ia pun bergegas masuk dengan degup jantung yang berpacu cepat.
"Begini mbak Vania. Dari hasil interview tadi, setelah menimbang dan kami memutuskan bahwa anda lolos dan diterima menjadi karyawan di bagian Cleaning Service. Selamat bergabung di Lawrence Group, mbak Vania."
"Alhhamdulillah, terima kasih banyak Pak.Saya akan mengabdi dan bekerja dengan baik di Perusahaan ini."
Setelah mendapagkan ucapan selamat lalu, Vania pun menandatangani surat kontrak pekerjaannya. Mulai besok ia mulai bekerja. Puji dan syukir ia panjatkan kehadirat Allah SWT atas rezki pekerjaan yang telah dilimpahkan pada dirinya. Kini Vania bisa menata masa depannya bersama dengan jagoan mungilnya Kiano Safaraz. "Bunda akan terus berjuang demi masa depanmu, nak. Agar kita bisa hidup layak dan tidak akan kekurangan satu apapun."
Sementara itu di ruangan Ceo. Dariel Lawrence , adalah Ceo Lawrence Group tengah berkutat dengan berkas-berkas yang akan ditandatangaininya. Yaitu keputusan dari hasil interview para karyawan yang telah diterima. Satu persatu ia membacanya dan matanya seketika begitu tertarik melihat photo dari salah satu karyawati yang tadi pagi telah menyita perhatiannya. Ya, dialah Vania. Wajah yang polos dan cantik. Dariel menarik sudut bibirnya tersenyum samar.
"Masuk–!."
Bobby sang asisten pribadinya datang untuk mengambil kembali berkas-berkas tersebut. Ia menatap penuh tanya ketika melihat boss nya senyum-senyum sendiri. Entah apa yang membuatnya tampak begitu bahagia.
"Maaf, Tuan. Saya ingin mengambil berkas-berkas yang sudah anda tanda tangani."
"Oh iya, ini silahkan kamu bisa mengambilnya kembali." Bobby pun mengambilnya dari atas meja. Lalu, segera melangkah keluar dari ruangan Dariel. Namun, tiba-tiba ketika tangannya menyentuh gagang pintu suara panggilan Dariel menghentikan langkahnya. Kemudian ia berbalik melangkah menghampiri boss nya itu.
"Tunggu dulu Bobby!"
"Iya Tuan–apa ada lagi yang harus saya kerjakan?"
"Oh–bukan-bukan. Aku hanya ingin kamu melakukan sesuatu. Tolong kamu berikan data lengkap dari karyawati bernama Vania Hasna. Itu...gadis yang kita temui didalam lift tadi pagi."
__ADS_1
"Hah–untuk apa boss menanyakan seorang karyawan baru. Tidak biasanya beliau melakukannya. Ada apa gerangan dengan gadis itu? Apakah boss ingin membatalkan kontrak kerjanya gara-gara kejadian di lift tadi."
Dariel memicingkan matanya melihat asistennya yang malah melamun tak menjawab merespon perintahnya."Hey...Bob, Mengapa kamu malah bengong. Mengerti tidak apa yang aku perintahkan?"
"Oh, maaf Tuan. Saya mengerti dan akan saya berikan data-data lengkap nona.Vania Hasna kepada anda."
"Ya sudah, sana lanjutkan pekerjaanmu. Jangan lupa lekas antarkan berkas itu keruanganku secepatnya."
Langkah kaki Vania terasa ringan. Hatinya pun sangat bahagia. Wajah cantiknya tak berhenti tersenyum hingga sampai di rumahnya.
"Assalmuallaikum."
"Wa'allaikumsalam. Eh, itu bunda sudah pulang nak."
Bu Wulan sedang berada di teras depan rumahnya sambil menimang bayi Kiano melihat kedatangan Vania langsung menghampirinya. "Vania, kamu sudah pulang. Bagaimana hasilnya...apakah kamu diterima bekerja?"
"Vania tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan bahwa ia telah berhasil lolos dan diterima menjadi karyawan di perusahaan teesebut.
"Wah, syukur alhamdulillah. Selamat ya Van. Kalau begitu lebih baik kamu bersih-bersih dulu setelah itu baru memegang Kiano. Kasihan dia sepertinya sudah kehausan ingin mimik asi."
"Iya bu. Vania kedalam dulu ya."
"Bagaimana, apakah kamu sudah menemukan titik terang tentang keberadaan Vania?"
"Maaf, kami belum berhasil menemukan keberadaan nona Vania, Tuan. Kami akan mengoptimalkan lagi pencarian nona Vania."
Di ruang kerjanya, Liam tengah berbicara dengan salah satu detektif yang disewanya untuk mencari keberadaan Vania dan putranya. Namun, jawaban dari detektif itu tak memuaskannya. Liam menghela nafas dalam. Sebegitu sulitnya mencari keberadaan Vania dan putra kecilnya.
"Dimanakah kamu berada son? Vania...aku sangat merindukan kalian berdua. Aku sangat menyesal dan sangat bodoh. Dasar pengecut kau Liam."
Liam merutuki kebodohannya. Sungguh ia merasa seperti laki-laki brengsek dan pengecut. Ia tidak akan pernah putus asa mencari Vania dan Kiano. Mereka begitu penting didalam hidup Liam.
__ADS_1
Bersambung