
Vania menatap lekat wajah gadis muda yang tampak jelas ketakutan. Entah apa yang melatarbelakagi hingga Inara sampai memutuskan untuk berhenti sekolah.
"Jawab, nak. Kenapa? Kamu itu anak yang pintar. Sayang sekali jika sampai tak melanjutkan sekolah." Vania menggelengkan kepala tak habis pikir dengan pikiran gadis muda dihadapannya saat ini.
"Iya, Bu. Saya hanya ingin bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Jadi tidak mengganggu pekerjaan saya."
"Itu bukan menjadi alasan yang masuk akal Inara. Bukankah selama kamu bersekolah perkerjaanmu di rumah juga baik-baik saja. Semua terhandle dengan baik.Katakan yang sejujurnya apa yang menjadi alasan kamu tidak ingin melanjutkan sekolah!'
Tentu saja Vania tidak akan mudah percaya begitu saja. Ia menerka pasti ada sesuatu yang cukup pelik hingga Inara tak memiliki pilihan selain harus drop out dari sekolah.
Inara hanya menunduk kaku tak berani m3njawab bahkan menatap wajah sang majikannya pun tak berani. Ia takut kebohongannya akan terbaca oleh wanita baik itu. "Sa–ya memang tidak ingin melanjutkan sekolah lagi Bu. Saya sudah merasa cukup dengan bekerja sebagai pembantu seperti ini. Saya audah cukup bersyukur. Jadi, tolong maaf kan saya telah mengecewakan Ibu."
Menghela nafas panjang, Vania tak bisa berkata apapun lagi. Ia tidak berhak memaksakan kehendak terhadap gadis muda itu. Vania hanya menyayangkan saja jika, gadis semuda dan secerdas Inara harus membuang kesempatan yang ada. "Ya sudah kalau itu mau mu. Aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi, seandainya nanti kamu berubah pikiran, kesempatan itu tetap terbuka untukmu. Jangan sungkan ya kalau ada apa-apa cerita saja."
"Baik Bu. Terima kasih atas pengertiannya. Saya akan bekerja sebaik mungkin."
Semenjak Inara tidak bersekolah lagi, gadis itu hanya mengerjakan pekerjaan rutinnya di setiap hari. Sudah hampir tiga minggu sejak Kiano berjanji akan mengatakan tentang apa yang terjadi diantara mereka dan juga mengenai kehamilannya. Dan nyatanya sampai detik ini Kiano belum bergerak sama sekali. Bahkan beberapa hari ini Inara tidak pernah melihat tuan mudanya itu. Apakah laki-laki itu sengaja menghindarinya. Hal itu tentu saja membuat hati Inara tak tenang.
Didalam kamarnya Inara sedang melamun dan memikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya dan juga anak yang tengah tumbuh didalam rahimnya. " Kenapa tuan muda Kiano belum mengatakannya juga pada bu Vania dan pak Liam? Ini sudah hampir satu bulan dan kandunganku juga akan semakin membesar. Tidak mungkin aku akan menutupinya lagi dalam beberapa bulan kedepan. Apa selama ini aku hanya di bohongi dan sebenarnya dia tidak benar-benar ingin bertanggung jawab? Bodohnya kamu Inara." Inara menghembuskan nafas beratnya.
Keesokkan harinya saat waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam tanpa sengaja mereka saling berpaspasan di area dapur ketika Kiano hendak mengambil air minum. Sedangkan Inara juga akan melakukan hal yang sama. Sejenak manik mata merek saling beraitatap namun, tak satu pun diantara keduanya yang memulai percakapan. Inara yang sudah tidak sabar menunggu kepastian dari sang tuan muda itu berinisiatif menyapa Kiano.
"Tu–tuan Muda butuh sesuatu?"
"Tidak, cuma mau minum saja. Kenapa jam segini kamu belum tidur?" Kiano bertanya balik.
"Itu, saya haus. Tuan, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" Inara mencoba memberanikan diri ingin menayakan perihal hubungan mereka.
"Hemm, katakan!" Jawab Kiano dengan ekspresi datarnya.
Inara menghirup nafas sebanyak-banyaknya bersiap dengan jawaban apapun yang keluar dari bibir laki-laki tersebut. "Itu....kira-kira kapan Tuan akan mengatakannya pada bu Vania dan pak Liam? Saya tidak bisa menunggu terlalu lama lagi sebab ka‐."
"Tidak sebaran sekali sih, kamu. Memangnya gampang apa mengatakannya. Bunda pasti akan sangat kecewa dan belum tentu juga bisa menerimamu sebagai calon menantunya. Apakah kamu lupa siapa dirimu dirumah ini? Tidak akan semudah itu, Inara."
__ADS_1
DEG
"Ja‐di maksud Tuan, saya tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini?"
"Lah itu kamu mengerti. Aku tidak berjanji bisa membuat bunda dan ayah bisa menerimamu dan anak itu. Jadi, bersabarlah. Kalau kau tidak bisa menunggu ya terserah."
Tangan Inara sampai gemetaran mendengar penuturan Kiano yang telah membuka matanya. Sangat jelas terlihat jika laki-laki itu tidak ada niatan untuk memperjuangkan dirinya dan juga calon anak mereka, oh....bukan, hanya anaknya saja.
Sungguh, hati inara saat ini begitu hancur. Lidahnya kelu tak bisa mengucapkan apapun lagi. gadis itu hanya mengangguk lalu, bergegas pergi dari area dapur dan meninggalkan Kiano yang masih berdiri menatap punggung Inara yang semakin menghilang di balik pintu. "S***! Apa yang harus aku lakukan. Apa aku memang harus melakukannya? Bagaimana jika bunda dan ayah tidak bisa menerimanya. Argh....kepalaku pusing sekali." Kiano meremas rambut dikepalanya merasa fristasi dengan permasalahan yang membelitnya.
Usia kandungan Inara akan memasuki bulan ke empat. Sedang ia sudah tidak memiliki harapan lagi untuk mendapatkan pertanggung jawaban dari Kiano. "Nak, sepertinya kita tidak bisa berlama-lama lagi tinggal di rumah ini? Seharusnya aku sudah pergi sejak dulu. Tak ada gunanya berharap pada laki-laki itu." Inara mengusap-usap perutnya yang sudah terlihat agak menonjol. Bahkan Inara selalu memakai baju yang nampak longgar selain demi kenyamanannya juga agar perut besarnya bisa tersamarkan.
Sejak pembicaraan keduanya dimalam itu. Inara tak lagi peduli dengan janji yang pernah Kiano ucapkan. Inara sudah berencana akan pergi dan akan memulai hidupnya bersama dengan anaknya.
"Bi–apa keperluan dapur masih ada? Kalau ada yang harus dibeli biar aku saja yang belanja ya,Bi."
Bi Kokom mengernyitkan dahinya menatap penuh tanya pada gadis muda yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri. "Ada apa ini tiba-tiba kamu rajin sekali pake mau belanja perlengkapan dapur segala. Nanti biar Bibi saja yang membelinya. Lebih baik kamu istirahat saja sana, tuh lihat wajahmu sudah pucat begitu. Pasti kamu kecape'an kan."
Bi Kokom mengangguk dan mengulum senyumannya melihat tingkah manja Inara. "Iya, nanti Bibi bilang dulu sama Ibu Vania ya."
"Oke Bi, siap menunggu perintah dari komandan." Inara melakukan gerakan menghormat pada Bi Kokom.
"Kamu ini ya, dasar pecicilan ngak bisa diam sekali sih kamu. Ini pipi apa bakpau kok tambah embem saja." Bi Kokom mencubit gemas kedua belah pipi Inara. Membuat gadis itu berpura-pura meringis kesakitan.
"Ih Bibi, sakit tahu. Nih nanti pipiku bisa tambah menggelembung kayak ikan buntal." Inara terkekeh geli, tawanya begitu lepas seperti tidak sedang mengalami permasalahan apapun.
Malam harinya didalam kamarnya, Inara sudah mulai mengepaki baju-bajunya kedalam tas jinjingnya yang berukuran tidak terlalu besar. Ya, karena pakaiannya tidak terlalu banyak begitu pun juga ia tidak memiliki barang lainnya. "Fiuh....akhirnya siap juga. Tinggal menunggu besok pagi. Semoga saja bu Vania memberikan izin untukku berbelanja."
Saat pagi buta sekitar pukul tiga subuh, Inara melangkah perlahan menuju ke gerbang depan dengan menenteng tas jinjing yang telah ia siapkan. Rencanya ia akan menyembunyikannya didekat pintu gerbang agar esok ia bisa langsung pergi. Setelah meletakkannya agak tersembunyi, Inara pun kembali menuju ke kamarnya.
Akhirnya saat yang ditunggu pun telah tiba. Vania tah memberikan izin untuk Inara berbelanja. Setelah diberi catatan belanjaan dan uangnya. Inara segera beranjak pergi. Sampai didepan pintu gerbang Inara menaruh catatan belanjaan dan uang tersebut di dalam pos satpam yang ia letakkan diatas meja. "Bismillah....ya Allah, lindungailah kami dan berikanlah kemudahan dalam menjalani kerasnya kehidupan yang kujalani saat ini."
"Selamatn tinggal Bi, maafkan Inara ya."
__ADS_1
Inara tak menyadari jika, apa yang dilakukannya sedang di perhatikan oleh Kirena yang juga baru saja keluar gerbang ingin berangkat kesekolah." Loh, itu kan Inara. Mau pergi kemana dia? Kenapa dia membawa tas itu. Apa jangan-jangan dia mau kabur ya? Aku akan telpon bunda dan memberitahukan gerak gerik mencurigakan Inara. Ah, aku kirim pesan aja deh." Kirena pun mulai mengetikkan sesuatu lalu, mengirimkannya pada sang bunda.
"Pagi Bunda." Hari ini Kiano libur tidak berangkat ke kampus. Ia pun menghampiri bunda nya yang sedang bersantai sambil membaca majalan di ruang keluarga.
"Pagi, jagoannya bunda. Muachh! Loh, kamu ngak berangkat ke kampus?"
"Enggak Bun.Hari ini sedang tak ada kelas." Kiano pun mendudukkan bokongnya tepat disebelah sang bunda.
Vania yang mengerti gelagat putranya yang manja itu langsung mengulum senyumannya. "Hemm....jagoan bunda pasti ada maunya ini sih. Hayo, ada apa?"
Kiano memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Inara. Ya, Kiano telah bertekad akan mengakui segala perbuatannya.
"Maafkan Kiano ya Bun. Kiano telah melakukan kesalahan yang teramat besar. Kiano menghamili seorang gadis dan sekarang dia sedang mengandung anak Kiano." Kiano tertunduk malu dan ketakutan.Ia telah siap menerima kemarahan dari sang bunda.
"APA KAMU BILANG?" Vania berteriak kencang bahkan sampai bangkit dari duduknya.
"Siapa? Siapa gadis itu, Kiano Safaraz Ghazala?"
Kiano mendongak dan menatap mata sang bunda yang terpancar kekecewaan. "Gadis itu adalah Inara."
Mendengar nama Inara yang disebut oleh sang putra, tubuh Vania langsung lunglai. Tak menyangka jika, apa yang dulu pernah dialaminya akan kembali terjadi pada putra suljngnya yang sangat ia bangga-banggakan. "Bunda akan telpon ayah"
Baru saja Vania akan menghubungi Liam. Namun, sebuah pesan lebih dulu ia buka dan betapa terkejutnya saat membaca pesan itu.
"Bun, tadi Rena lihat si Inara keluar dari gerbang dan membawa tas nya. Kayaknya dia mau kabur deh, Bun. Jangan-jangan dia habis nyolong lagi."
"APA?!"
"Ada apa Bun?"
"Kiano, kamu harus mencari Inara sampai ketemu Jika tidak, Bunda tidak akan pernah memaafkanmu!"
Besambung
__ADS_1