
Wajah Shinta menegang, bagaimana bisa ia bisa sampai keceplosan dan berkata seperti itu. Tari pasti merasa bingung dan bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Shinta.
"Shinta, ayo jawab apa maksud ucapanmu. Tadi kamu bilang jika pak Wira sudah jadi miikmu, itu artinya apa?" Benar saja, Tari jadi super kepo kan.
"Hehehe–sorry Tar, aku cuma bercanda. Mana mungkin kan laki-laki sekeren itu mau sama aku yang cuma seorang pembantu. Kalau ngehalu sih mungkin bisa. Oh ya, siang nanti aku ngak pulang bareng ya mau kerumah mbak Vania." Shinta tertawa dan mengalihkan topik pembicaraan dan Tari pun menganggukkan kepalanya.
Siang harinya setelah kelas bubar dan mata kuliah telah usai. Sesuai rencananya, Shinta akan pergi kerumah sang kakak dan juga atas permintaan ibunya. Bi Arum masih merasa tak tenang dengan pernikahan putrinya dengan Wira yang notabene-nya adalah anak majikannya. Bi Arum Khawatir jika rumah tangga putrinya tidak berjalan dengan baik apalagi bila suaminya tidak memperlakukan Shinta dengan baik.
Ojek online yang di tumpangi Shinta telah sampai didepan pintu gerbang kediaman Liam dan Vania. Seorang secutity membukakan pintu dan mempersilahkan Shinta masuk. "Eh, Mbak Shinta. Mari...silahkan masuk!" Shinta pun mengangguk dan tersenyum ramah lalu, bergegas masuk.
"Assalamuallaikum." Shinta langsung masuk dan melihat ibunya yang sedang mengajak bermain si bocah tampan Kiano.
"Wa'allaikumsalam.Oh, kamu baru datang Shin?" Bi Arum menoleh dan melihat putri semata wayangnya yang tersenyum ceria.
"Halo keponakan onty yang poll gantenge, sini sini....sama onty Shinta!" Meraih Kiano dan menggendongnya sambil berputar-putar membuat balita gemoi itu tertawa sungguh menggemaskan.
Bi Arum yang melihat kelakuan putrinya itu hanya menggelengkan kepala. "Awas Shinta, hati-hati. Kiano itu masih kecil jangan diputar-putar terlalu banter!'
"Nggih bunda Arumku tersayang. Tuh dek, uti Arum cerewet banget ya." Shinta pun berhenti berputar-putar lalu mengajak bicara Kiano yang bahkan belum mengerti apa yanh dikatakan oleh onty nya itu.
"Shinta, kalau ngajarin keponakaannya itu yang bener." Bi Arum kemudian melangkah menuju ke dapur ingin memberitahu Vania jika, Shinta sudah datang.
Tak berapa lama, Vania muncul dengan membawa baki yang berisi minuman dan beberapa camilan hasil buatan Vania sendiri.
"Wuih–mantap ini. Berasa tamu istimewa aja nih aku." Shinta yang tengah memangku Kiano mengalihkan pandangannya kerarah meja yang sudah tersaji berbagai macam camilan yang menggugah jiwa ngemilnya.
"Ayo, dicoba Shin. Ini mbak tadi baru mencoba resep cake baru."
"Iya mbak, pasti enaklah ini bikinan Mbakku yang cantik. Aku coba ya." Shinta mencomot sepotong kue tersebut dan menggigitnya. "Wow, bener kan yang aku bilang. Ini enak banget loh, mbak." Kemudian Shinta mencomot sepotong lagi dan melahapnya.
Vania mengambil alih Kiano dan memangkunya. Ia menatap Shinta yang tampak biasa-biasa saja. Bukankah semalam adiknya itu baru saja menghabiskan momen malam pertamanya dengan Wira. Tidak ada tanda-tanda apapun pada diri Shinta. Membuat Vania penasaran juga. "Em...Shin.Bagaimana semalam, apakah Wira memperlakukanmu dengan baik? Dia tidak berbuat kasar kan sama kamu."
__ADS_1
Mengerti arah dari pertanyaan sang kakak. Shinta menghela nafas pelan lalu, menjelaskan tentang apa yamg terjadi tadi malam."Begitu. Jadi, kami tidak melakukan ritual-ritual apalah itu. Lagi pula juga sebenarnya aku belum siap untuk itu. Kami bahkan baru saling mengenal. Kenapa bisa jadi seperti ini sih endingnya. Aku masih belum percaya jika sekarang telah menjadi seorang istri dari tuan muda Wira." Tertunduk lesu.
Vania mengerti apa yang kini dirasakan oleh Shinta. Sebenarnya ia pun agak ragu jika Wira dan Shinta akan cocok sama lain. Sifat mereka sangat bertolak belakang. Wira yang dulunya begitu manis dan ramah namun, kini telah berubah. Bahkan begitu dingin dan arogan.Apakah perubahannya itu karena dirinya yang menolak cinta laki-laki itu dan lebih memilih Liam. Semoga saja itu tidak benar. Jika iya kasihan Shinta yang akan terkena imbasnya dan Vania juga khawatir Shinta hanya dijadikan pelampiasan saja.
"Yang sabar ya, Shin. Tapi, beneran kan Wira ngak berbuat macam-macam sama kamu? Kalau ada apa-apa bilang sama mbak ya, jangan bilang dulu sama bibi. Kasihan nanti bibi bisa kepikiran dan tensinya bisa naik." Shinta mengiyakan himbauan sang kakak.
Tak terasa hari sudah menjelang petang. Saking asiknya dirumah Vania, Shinta sampai melupakan kewajiban yang kini telah diembannya.Gadis itu lupa jika suaminya pasti juga akan pulang dan Shinta harusnya sudah harus berada dirumah menyambut suami yang pulang dari bekerja.
"Shin–sebaiknya kamu pulang deh, ini sudah sore. Nanti kalau Wira pulang dan kamu tidak ada ngak enak, kan. Lagi pula kamu sekarang harus mulai merubah kebiasaan-kebiasaan saat kamu masih lajang. Sekarang kamu telah mempunyai kewajiban pada suami.Sudah....sana balik. Sorry ya, bukannya mbak ngusir tapi, ini harus."
Dengan malas, akhirnya Shinta pun berpamitan dan melangkah pergi dengan wajah lesu. Vania yang melihatnya jadi kasihan." Semoga kamu akan meraih kebahagiaanmu, dek."
Tepat pukul 17.00 WIB Shinta tiba di apartemen. Dan untungnya Wira belum pulang. Mungkin suaminya itu masih sibuk atau ada hal lain yang sedang di lakukannya. Shinta tidak mau tahu dan tidak perduli. Karena sudah tertulis jelas disurat perjanjian jika ia tidak boleh mencampuri urusan pribadi Wira. "Ah, syukurlah di belum pulang.Jika tidak aku pasti sudah kena semprot karena masih keluyuran diluar rumah saat dia sudah pulang."
Setelah mandi dan memasak makan malam. Shinta pun duduk manis sambil menonton acara televisi. Ponselnya yang ia letakkan diatas meja bergetar tanda ada yang menghubunginya. "Siapa ya?"
Ternyata yang menelpon adalah suaminya. Shanti mengerutkan keningnya dari siapa Wira tahu nomer telponnya? Seingatnya mereka bahkah tidak pernah saling bertukar nomer telpon masing-masing.
"Wa'allaikumsalam." Wira
"Aku akan pulang telat, mungkkn agak malam.Tidak usah menungguku kalau mengantuk tidurlah duluan. Sudah, itu saja yang ingin aku sampaikan."
"Tu– "
Klekk
Tut tut tut
Panggilanpun di putus sepihak oleh Wira, padahal ada yang ingin ditanyakan Shinta pada suaminya itu. "Ah, sudahlah. Memangnya aku pikirin. Mau pulang kek ngak pulang sekalian juga kebetulan. Tapi, ini masakannya jadi sayang kan. Aku masukkan kedalam kulkas saja deh."
Seperti yang dikatakan oleh Wira jika, Shinta tidak perlu menunggunya pulang. Dan sekarang waktu telah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Mata Shinta pun mulai mengantuk. Pergi kemana suaminya itu? karena sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Akhirnya Shinta pun beranjak masuk kedalam kamar lalu, naik keatas ranjang dan bersiap untuk tidur. "Hoamm....ngantuk berat, tidur ajalah." Tak berapa lama Shinta terlelap dan masuk kedunia mimpi.
__ADS_1
Kriett
Pintu kamar terbuka dan tampak Wira memasuki kamar dengan langkah perlahan takut membangunkan Shinta. Lampu kamar telah berganti dengan lampu tidur yang temaram. Namun, Wira masih bisa melihat Shinta yang tengah tertidur pulas diatas tempat tidur. Matanya menyipit tajam ketika melihat baju yang dikenakan Shinta dan Wira tak suka melihatnya. Shinta tidur mengenakan kaus kedombrongan dan celana tigaperempat.
"Gadis itu sadar tidak sih kalau sudah menjadi seorang istri? Masa' pakai baju kayak gitu. Tidak bisa menyenangkan suami sama sekali. Hemm....besok baju-baju anehmu itu akan aku buang dan akan aku ganti dengan yang lebih pantas dan enak dipandang." Seringai licik muncul di wajah tampannya setelah ia membuka laci tempat menyimpan pakaian dalam milik istri kecilnya itu.
Keesokkan harinya pasangan suami istri itu menjalankan aktivitas seperti biasanya. Wira berangkat ke kantor sedangkan Shinta pergi ke kampus.
Usai makan siang, Wira berniat ingin pergi ke sebuah mall. Ia akan menjalankan rencana yang telah ia susun semalam. Dengan ditemani oleh asisten nya yang bernama Gugun, mereka pun menuju kesebuah mall.
Gugun begitu kaget ketika sang boss memasuki outlet pakaian dalam wanita. Dadanya berdebar-debar karena malu semua mata tertuju pada mereka berdua yang notabenenya seorang pria. Aneh rasanya seorang laki-laki membeli pakaian dalam wanita.
"Permisi Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Salah satu pramuniaga menghampiri kedua pria tampan itu dan menawarkan bantuan.
"Ehem—begini, mbak. Aku mau membeli beberapa pakaian dalam wanita dan juga baju tidur...itu, yang namanya–?"
"Namanya Lingerie. Tuan menginginkan yang seperti apa. Kami memilki koleksi terbaru yang saya yakin anda pasti akan menyukainya. Mari ikut saya!"
"Oke." Wira dan Gugun pun mengekori langkah sang pramuniaga tersebut. Wanita itu menunjukkan berbagai model lingerie yang membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang melihatnya. Sungguh sexy dan menggugah iman dan si imin tentunya.
Wira bahkan sampai menelan salivanya karena tiba-tiba saja ia membayangkan Shinta yang mengenakan Lingerie-lingerie itu. Sedangkan Gugun, wajahnya sudah semerah tomat. Bossnya yang beli jadi dia yang ikutan malu. Apalagi ketika melihat boss nya itu begitu antusias dengan pakaian-pakaian dinas malam kaum hawa itu. Rasanya Gugun ingin kabur saja.
"Oh ya, bisa tolong pilihkan sekalian bra dan cd nya. Yang keluaran terbaru juga ya!" Tanpa malu-malu, Wira bahkan meminta untuk dipilihkan dalemannya juga.
"Maaf, Tuan. Size nya berapa ya?" Tanya pramuniaga wanita tersebut.
"Bra, 36 dan cd M." Gugun lagi-lagi cengo mendengar sang boss mengatakan dengan lugas ukuran yang akan dibelinya.
"Oke, mari ikut saya!"
Dan setelah hampir satu jam berbelanja perlengkapan wanita. Wira dan asistennya pun bergegas keluar dari outlet tersebut.Gugun pun bisa bernafas lega. Sungguh akan menjadi pengalaman tak terlupakan baginya.
__ADS_1
Bersambung.