Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
31. Datang ke pesta


__ADS_3

"Tidak usah tegang begitu, santai saja Nona...aku tidak akan berbuat jahat. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu padamu."


Walaupun Dariel mengatakan jika ia tidak mempunyai maksud apapun tapi, tetap saja hatinya merasa was-was. Dariel memang atasannya tetapi ia tak mengenal bagaimana pria itu sebenarnya. Namun,Vania hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan boss nya itu.


"Baiklah. Begini Nona Vania, yang sebenarnya adalah aku ingin meminta tolong padamu untuk membantuku dengan berpura-pura menjadi kekasihku hanya saat di pesta nanti. Karena aku sedang menghindari seorang wanita yang ingin di jodohkan denganku. Aku akan sangat berterima kasih sekali jika Nona bersedia membantuku."


"Apakah dia wanita yang tempo hari datang menemui anda saat saya berada di ruangan anda waktu itu?"


Dariel pun mengangguk membenarkan ucapan Vania. Wanita itu adalah Celin. Putri dari salah satu kolega daddy nya.


Hening sejenak, Dariel melanjutkan perkataannya lagi dengan mengatakan jika, Vania akan mendapatkan konpensasi setelah ia menemaninya dan menjadi pasangannya saat di pesta nanti.


Sebenarnya Vania merasa keberatan dengan hal tersebut. Itu artinya sama saja Dariel membayarnya atas kesediaannya menjadi kekasih palsu nya. Menghembuskan nafas kasar Vania menatap Dariel. "Jadi, saya anda jadikan sebagai kekasih sewaan, begitu?" Vania merasa seperti perempuan yang tidak baik yang dengan gampangnya dapat di bayar meskipun hanya sekedar pacar pura-pura dari boss nya tersebut.


Dariel tersentak mendengar Vania yang seakan merasa direndahkan sebagai seorang wanita. Sungguh, Dariel sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Dengan cepat ia menjelaskan kesalah pahaman tersebut.


"Oh–bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin meminta bantuan Nona seperti apa yang telah aku katakan diawal tadi yaitu membuat Celin mundur dan tak mengejarku lagi. Jadi, tolong jangan salah paham. Soal uang konpensasi yang akan nona terima itu sebagai gaji tambahan karena nona bekerja lembur." Dariel mengatakan itu agar Vania tidak merasa tersinggung.


"Nona bersedia kan membantuku. Besok usai jam kerja, Bobby akan mengurus segalanya."


Bagai memakan buah simalakama di terima sepertinya ia merasa tak pantas dan jika Vania menolaknya maka, pekerjaannya bisa terancam. Dan akhirnya Vania menyetujuinya. Ya, mau bagaimana lagi karena Dariel adalah pemilik dari perusahaan tempatnya mengais rezeki.


Vania diantar sampai didepan rumah bu Wulan.Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Pasti Kiano sudah sangat kelaparan karena stok asi nya yang habis.


Baru saja Vania menempelkan tangannya ingin mengetuk pintu rumah bu Wulan namun, sudah lebih dulu ada yang membuka dari dalam siapa lagi kalau bukan bu Wulan. Tapi tidak ada Kiano dalam gendongannya.


"Assallamuallaikum bu." Vania mencium punggung tangan bu Wulan.


"Wa'allaikumsalam Van. Sudah selesai lemburnya? Itu Kiano sudah tidur nantk kalau dia haus pasti akan bangjn sendiri."

__ADS_1


"Asi nya bu?"


"Oh, itu...jangan khawatir, beljm lama tadi ibu sudah memberikannya. untung masih ada stok asi nya.Kiano itu bayi yang sangat anteng. Mungkin dia mengerti jika bundanya sedang bekerja. Pintar sekali putramu itu Van."


Vania merasa lega ternyata stok asi nya masih cukup dan putranya tidak rewel.


"Van, lebih baik kamu bersih-bersih dulu mumpung anakmu tidur!"


"Iya bu." Vania segera beranjak pergi ke kamarnya


Tal berapa lama setelah Vania mandi terdengar suara tangisan Kiano. Ia segera melangkah keluar namun, baru saja akan membuka pintu sudah ada bu Wulan didepan pintu dan tengah menggendong putranya yang menangis. Dengan sigap Vania langsung meraih Kiano kedalam dekapannya dan membawanya masuk kedalam kamar di ikuti bu Wulan di belakangnya.


Bu Wulan memperhatikan Vania yang tengah menyusui bayinya.Sungguh ia begitu bahagia dengan kehadiran Vania dan Kiano di hidup nya. Ia tidak merasa sendiri lagi. Bu Wulan sudah menganggap Vania dan Kiano sebagai putri dan cucu nya sendiri.


"Bu–." Vania terdiam ia ragu ingin mengatakannya dan merasa tidak enak terlalu sering merepotkan wanita baik itu.


"Hem–iya ada apa Van? Katakanlah...apa ada yang ingin kamu katakan pada ibu."


"Maaf ya bu, Aku selalu saja merepotkan ibu."


"Kamu masih saja sungkan seperti itu pada ibumu ini. Kiano adalah cucu ku dan tentu saja tidak akan pernah keberatan merawat dan menjaga Kiano. Sudah, jangan terlalu sungkan sama ibu. Ibu tidak suka dan sedih mendengarnya."


Sesuai dengan kesepakatan mereka kemarin.Sore, usai jam kerja Vania dijemput oleh Bobby dan Vania langsung dibawa ke sebuah butik ternama untuk membeli gaun pesta, sepatu dan juga perhiasan sebagai penunjang penampilan Vania agar terlihat sempurna. Setelahnya mereka ke salon dan Vania di make over oleh MUA yang telah berpengalaman dan benar saja setelah selesai, Vania terlihat berbeda bahkan dirinya sendiri hampir tak mengenalinya. Begitu pun Bobby sampai tercengang melihat penampilan Vania.yang sangat-sangat cantik tak kalah dengan para artis, Vania bahkan tampak lebih cantik dari pada mereka.


"Apakah ini benar-benar diriku?" Vania melihat dirinya di cermin dan tak percaya dengan penampilannya saat ini.


"Iya, Nona ini adalah anda dan Nona Vania adalah wanita tercantik yang pernah saya rias. Saya bahkan tidak terlalu sulit merias anda karena Kecantikan alami nona Vania sudah terpancar meakipun tanpa sentuhan make up. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Tuan Bobby, benar kan Tuan?."


Bobby menggelengkan kepalanya ketika tersadar dari keterpanaannya melihat Vania yang sangat cantik mempesona. Boss nya pasti akan terkejut melihatnya.

__ADS_1


"Ekhem–ayo kita berangkat sekarang, Nona.Tuan Dariel sudah menunggu kita."


Vania menjawab dengan anggukkan kepala. Mereka pun segera berangkat menuku ke sebuah apartemen mewah untuk menjemput Dariel. Dan benar saja, laki-laki itu tengah berdiri di depan lobby apartemen sepertinya sudah tak sabar menunggu kedtangan mereka.


"Maaf Tuan, kami datang terlambat karena jalanan agak macet." Bobby sedikit menundukkan kepalanya meminta maaf pada boss nya.


"It's ok. Ayo sebaiknya kita segera berangkat karena–." Ucapannya terhenti ketika melihat Vania yang sedang duduk manis di sampingnya. Mata Dariel mengerjap bebrapa kali memastikan akan penglihatannya. Ada bidadari yang terpamoang nyata di hadapannya. Sungguh, Dariel masih tak percaya jika, wanita yang sedang bersamanya itu adalah Vania. Salah seorang karyawannya di bagian cleaning service. Semua orang yang melihatnya pasti tidak akan mengenalinya dan tak menyangka jika itu adalah Vania.


Suasana ballroom hotel sudah tampak ramai. Ya, tahun untuk pertama kalinya diputuskan bahwa acara tersebut akan diadakan di sebuah hotel mewah berbintang lima. Kedatangan pasangan Dariel dan Vania menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka tampak mencolok dengan penampilan yang tampak sempurna. Yang pria seperti seorang pangeran tampan dan si wanita bak seorang putri kerajaan yang sangat cantik dan mempesona bagi siapa saja yang memandangnya.


"Selamat datang Tuan Tuan Lawrence dan Nona." Salah seorang tamu penting langsung menyambut kedatangan mereka.


Dariel menggandeng mesra tangan Vania menuju kesalah satu meja lalu, laki-laki itu menarik sebuah kursi untuk Vania dan mempersilahkan sang gadis untuk duduk.


"Kamu tunggulah sebentar disini, aku mau menyapa kedua orang tuaku!"


"Baik Tuan."


Sepasang mata menatap tajam kearah Vania. Tangannya mengepal kuat. "Jadi itu wanita yang katanya kekasihmu, Dariel. Tapi, kenapa wajahnya seperti tidak asing? Aku seperti pernah melihatnya tapi, dimana ya?"


Wanita itu tersenyum menyeringai sebuah rencana licik akan segera dilakukannya."Hei kamu, kesini!." Wanita itu memanggil salah seorang pelayan yang tengah membawa berbagai minuman di atas nampan. Ia lalu membisikkan sesuatu dan pelayan itu pun mengangguk dan mengerti.


"Permisi Nona, ini minuman yang telah di pesan oleh Tuan Lawrence untuk anda." Vania agak ragu untuk meminumnya. Namun, pelayan tersebut mengatakan bahwa minuman tersebut tidak mengandung alkohol. Vania.pun percaya dan karena sejak tadi tenggorokannya terasa kering akhirnya ia pun langsung meminumnya.


Hampir lima belas menit-an Dariel menyuhnya menunggu. Entah mengapa tiba-tiba saja kepala Vania terasa pening."Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing ya?"


Vania beranjak dari duduknya dan melangkah perlahan menuju ke belakang. "Dimana ya letak toiletnya? Akh...kenapa pandanganku terasa gelap beginii–?"


GREPP

__ADS_1


"Vania–?"


Bersambung


__ADS_2