Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
54.Permintaan Mama Helen


__ADS_3

Betapa terkejutnya Wiira dan Shinta menyadari jika diidepan pintu kamar telah berdiri beberapa orang yang tengah menatap mereka penuh curiga. Apalagi posisi mereka yang ambigu, Wira berada tepat diatas tubuh Shinta. Membuat pikiran siapapun yang melihat ber-travelling ria.


Terutama Mama Helen dan Papa Bisma yang tak menyangka jika putra bungsu mereka berani berbuat hal tak senonoh pada gadis polos yang sudah mereka anggap seperti putri mereka sendiri, meskipun Shinta adalah anak dari mantan art mereka.


"Astagfirullah, Wira. Kamu apakan anak gadis orang? Kesini kamu, ikut kami dan kamu juga Shinta!"


Wira yang tidak di beri kesempatan untuk membela diri menurut saja ketika digiring oleh orang tuanya kedalam rumah utama. Nanti saja ia akan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Begitupun Shinta, gadis muda itu mengikuti langkah para majikannya. Sepertinya sebentar lagi ia akan di pecat dan diusir dari kediaman Ghazala karena telah berbuat hal yang tak pantas di rumah mereka.


"Habislah aku, pasti aku bakal dipecat dan ibu juga akan merasa malu dan kecewa." Batin Shinta nelangsa merasa telah berbuat kesalahan yang sangat memalukan.


Kini keduanya telah siap disidang oleh Papa Bisma dan Mama Helen. Shinta duduk disebelah Wira namun, agak berjarak. Mama Helen mendekat pada sang suami lalu, membisikkan sesuatu. "Pa, kayaknya ini kesempatan kita untuk memaksa Wira agar cepat menikah. Mama setuju jika Shinta jadi menantu ke dua kita."


Papa Bisma menautkan kedua alisnya menatap Mama Helen lalu kemudian mengangguk. "Ehem–nah, Wira. Sekarang coba kamu jelaskan apa yang tadi kami lihat dan apa yang telah kalian lakukan?"


Wira yang sejak tadi menatap gadis disampingnya yang hanya tertunduk dalam diam mengalihkan pandangannya kearah sang Papa. "Iya, Pa.Apa yang barusan kalian lihat tidak seperti apa yang Papa dan Mama pikirkan. Kami sama sekali tidak melakukan suatu apa pun. Apalagi berbuat tak senonoh di rumah ini.


Lagi, Wira melirik Shinta yang masih menundukkan kepalanya. "Hei kamu, Ayo ngomong...malah diam saja. Bilang pada pada Mama dan Papa kalau aku tidak ngapa-ngapain kamu!"


Shinta akhirnya mengangkat kepalanya dan melihat kearah Wira yang tengah menatapnya tajam lalu, ia beralih pada kedua majikannya yang juga tengah menatapnya penasaran ingin mendengar kesaksian dari versi Shinta.


"Sebelumnya saya mohon maaf pada Tuan dan Nyonya. Sebenarnya saya juga tidak ingat apa yang telah terjadi pada diri saya. Justru saya sangat terkejut telah berada di kamar sedangkan seingat saya terakhir kali masih berada di pesta teman saya. Maaf, Tuan Muda Wira yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


Sontak mata Wira melotot pada Shinta, bagaimana tidak. Apa yang dikatakan oleh gadis itu tentu saja membuatnya seakan-akan menjadikannya tersangka utama. Bisa-bisanya gadis berlagak seperti tak mengingat apapun justru Wira lah yang menyelamatkannya.


"Kenapa kamu malah bicara seperti itu? Sudah jelas aku tidak terjadi apa-apa diantara kita. Bahkan pakaian yang kita kenakan masih utuh berarti tuduhan itu tidak benar."

__ADS_1


Melihat Wira yang mulai tersulut emosi, Papa Bisma pun segera menengahi. "Baiklah, berhubung kita sama-sama tidak tahu apa yang telah terjadi diantara Wira dan Shinta. Maka, kita akan membicarakannya lagi nanti disuasana yamg lebih tenang. Nanti sore Papa akan menyuruh Liam mengajak bi Arum ke sini dan kita akan membahas permasalahan ini lebih lanjut. Menjaga jika sesuatu terjadi pada Shinta." Ujar Papa Bisma tak bisa di tolak.


"Maksudnya apa Papa pakai acara mendatangkan bi Arum segala.Bukankah kesalah pahaman ini sudah selesai, kami tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan. Tanyakan langsung pada Shinta kalau perlu di visum sekalian."


"Lagian hei kamu...apa tidak merasakan perbedaannya, apa?" Wira menunjuk-nunjuk Shinta dengan kesal.


Shinta jadi ketakutan melihat tatapan menghunus Wira kepadanya.Gadis muda itu tidak mengerti apa maksud dari perkataan anak majikannya itu. Ia belum paham sampai ke sana. Makanya Shinta hanya diam tak berani menjawab.


"Jangan begitu Wira. Bagaimana pun Shanti anak gadis orang yang dititipkan oleh ibunya disini.Mama nanti yang tidak enak jika terjadi sesuatu pada Shinta. Mama harap kamu mengerti ya,nak. Ini sebegai bentuk tanggung jawab Mama pada bi Arum." Mama Helen mengusap-usap punggung Wira.


Menghela nafas panjang, kemudian Wira pun beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi menuju ke kamarnya yang berada dilantai atas." Terserah kalian saja. Kita buktikan nanti kebenarannya."


Seharian ini Shinta sama sekali tak bersemangat. Sepulang dari kampus ia langsung mengurung diri dikamarnya. Kepalanya pening memikirkan kejadian pagi tadi. Shinta mencoba mengaingat-ingat apa yang telah terjadi saat berada di pesta Rendy. Namun, yang ia ingat terakhit kali saat mau menyusul temannya Tari yang berada di toilet. Setelah itu ia sudah tak mengingat apa-apa lagi. "Aduh, kok aku sama sekali ngak ingat apa-apa ya? Tuan muda Wira sepertinya benar-benar sangat marah padaku." Shinta menelusupkan wajahnya diatas bantal.


Drrrtt ddrtt ddrtt


"Shinta, ada apa tiba-tiba Mama menyuruh kami datang? sebenarnya ada apa, kamu ngak bikin masalah kan, Shin. nanti mbak dan bi Arum yang akan menanggung malu."


Vania yang mendapatkan kabar dari suaminya perihal undangan Mama Helen langsung menghubungi adiknya. Sebab Liam mengatakan kalau pertemuan sore nanti menyangkut soal Shinta.


Di cerca dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkannya., Shinta jadi bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ini hanyalah kesalah pahaman saja tapi, kenapa Mama Helen dan Papa Bisma menganggapnya seperti masalah besar. Shinta jadi bingung harus bagaimana.


"A–aku juga ngak tahu mbak. Aku bingung gimana menjelaskannya. Aku takut...tuan muda Wira sangat marah padaku, mbak. Apa lebih baik aku ikut tinggal dirumah mbak saja ya?" Shinta malah merengek meminta pindah kerumah sang kakak.


Jawaban Shinta membuat Vania semakin yakin jika telah terjadi sesuatu pada adik sepupunya itu. "Ya sudah, nanti saja kita bicarakan dan rundingkan bersama-sama.Ada apa sih sebenarnya.... Kamu ini ada-ada saja sih, Shin. Ya sudah sampai ketemu nanti sore."

__ADS_1


"Iya mbak."


Tok tok tok


Ketika masih bergelut dengan pikirannya, terdengar suara ketukkan pintu kamarnya. Shinta pun segera beranjak turun dari atas tempat tidurnya lalu, membuka pintunya.


Kriett


"Iya, bi Darmi. Sebentar lagi saya akan kedapur. Apa sudah mau mulai memasak untuk makan malam nanti?" Bi Darmi salah satu art baru yang juga sebagai pengganti bi Arum memanggil dan Shinta mengira jika mereka akan bersiap untuk memasak untuk makan malam keluarga lengkap Ghazala. Ya, makan malam nanti seluruh anggota keluarga akan berkumpul.


"Bukan, Shin. Itu...Nyonya memanggil kamu di gazebo taman belakang."


"O begitu, iya bi aku akan kesana sekarang."


Setelah menutup kembali pinyu kamarnya, Shinta pjn segera bergegas menuju ke tempat dimana Mama Helen menunggunya.


"Maaf, apa nyonya memanggil saya."


"Oh iya, mari sini duduklah dulu Shin!" Mama Helen menepuk-nepuk sisi kursi yang kosong disebelahnya.


"Begini Shinta, aku mau menanyakan sesuatu padamu. Tepatnya sih meminta sesuatu dan aku harap kamu akan mengabulkan permintaanku ini."


Shinta tersenyum lalu mengangguk." Silahkan nyonya, memangnya anda mau menanyakan tentang apa?" Shinta bertanya balik pada sang majikan.


"Kamu mau kan menikah dengan Wira?"

__ADS_1


"Apa?"


Bersambung


__ADS_2